
"Pempek dan Gerbang Rawa"
Anindita5353|Bersambung
- Jumlah kata
- 969
- Popular
- 100
- Subscribe
- 1
- Jumlah kata
- 969
- Popular
- 100
- Subscribe
- 1
Sinopsis
"Di tepi Sungai Musi, di kedai pempek keluarga yang sudah berdiri sejak lama, tinggal seorang pemuda bernama Jaya. Hidupnya terasa biasa saja—bangun pagi, membantu orang tua memasak pempek, dan melayani pelanggan. Sampai suatu hari, saat membersihkan ruang bawah tanah yang belum pernah dibuka selama puluhan tahun, dia menemukan batu kecil berbentuk seperti buah palem yang mengeluarkan cahaya lembut saat disentuh. dan Gerbang Rawa"Sejak itu, Jaya mulai melihat hal-hal yang tidak terlihat oleh orang lain: makhluk mirip manusia dengan kulit berwarna hijau tua yang berkeliaran di tepi rawa, burung besar dengan bulu berwarna emas yang hinggap di atas pohon aren, bahkan suara-suara yang menyapa dirinya dengan bahasa kuno yang tidak pernah dia pelajari. Ternyata, batu itu adalah kunci untuk membuka gerbang ke dunia paralel bernama "Negeri Serumpun Rawa"—kerajaan yang menjaga keseimbangan alam dan budaya Palembang. Kini, kekuatan gelap bernama "Ratu Gurun" ingin menghancurkan gerbang itu agar dunia manusia dan alam gaib saling tercampur dan hancur. Sebagai keturunan terakhir dari penjaga gerbang, Jaya harus belajar menguasai kekuatan warisannya, bekerja sama dengan teman-teman baru dari kedua dunia, dan menemukan rahasia tersembunyi yang terkait dengan resep pempek legendaris keluarga yang menjadi sumber kekuatan perlindungan. Bisakah Jaya menyelamatkan kedua dunia sebelum terlambat?
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1: Rumah Kosong di Jalan Kali Besar
Palembang, musim hujan membuat jalanan licin dan udara terasa menggigil. Rina baru saja pindah ke rumah tua yang diwariskan oleh pamannya yang meninggal tiga bulan lalu. Rumah itu terletak di ujung Jalan Kali Besar, jauh dari keramaian kota, dengan pekarangan yang penuh rerumputan tinggi dan tembok pagar yang mulai mengelupas.
"Sangat besar untuk seorang diri," ucapnya sambil membuka pintu utama yang mengeluarkan suara derak menusuk keheningan malam.
Setelah mengatur beberapa kotak barang, Rina memutuskan untuk beristirahat. Namun saat jam menunjukkan pukul 12 malam tepatnya, dia mendengar suara seperti orang sedang menangis dari arah kamar belakang. Suaranya lembut pada awalnya, kemudian makin keras hingga menggema di seluruh rumah.
Rina meraih senter dan bergerak perlahan ke arah kamar tersebut. Pintu kamar terkunci erat, tapi suara menangis jelas berasal dari dalam. Ketika dia mencoba memutar gagang pintu, kayu yang sudah tua tiba-tiba retak, dan pintu terbuka dengan sendirinya.
Di tengah kamar kosong, sebuah kain putih tergantung di langit-langit. Angin sepoi-sepoi membuatnya bergoyang seperti seseorang yang sedang berdiri di sana. Rina menyorot senternya ke arah kain tersebut—dan melihat wajah wanita dengan rambut panjang yang menutupi sebagian wajahnya, mata merah menyala seperti bara api, sedang menatapnya dengan tatapan mematikan.
"Kamu seharusnya tidak datang ke sini..." bisiknya dengan suara yang seperti gesekan batu.
Rina tidak bisa bergerak. Kakinya seperti terpaku di lantai kayu yang dingin. Wanita itu perlahan-lahan melangkah mendekat, dan Rina melihat bahwa tangannya tidak memiliki jari—hanya tulang yang terbuka dan berkeringat cairan keruh.
Pada saat yang sama, telepon di saku Rina berdering keras. Bunyi deringan itu memecahkan kekuatan yang membuatnya tidak bisa bergerak. Dia berlari keluar dari kamar dengan cepat, mengambil tasnya, dan melarikan diri keluar rumah tanpa melihat ke belakang. Di luar, hujan sudah turun deras, menyiram seluruh tubuhnya dan menyembunyikan jejaknya di tanah licin.
Ketika dia berhenti di warung kecil yang masih terbuka beberapa blok jauhnya, pemilik warung Pak Joko melihat wajahnya pucat seperti kain kafan. "Anak muda, kamu tidak baik-baik saja. Apa yang terjadi?"
Rina ingin menjawab, tapi hanya bisa menunjuk ke arah rumahnya sambil terengah-engah. Pak Joko mengernyitkan kening dan menggelengkan kepala. "Rumah itu sudah kosong selama lima tahun, nak. Tidak ada yang tinggal di sana sejak keluarga yang tinggal di situ menghilang tanpa jejak..."
Bab 2: Jejak Lupa
Keesokan harinya, Rina datang ke kantor kecamatan untuk memeriksa dokumen rumah tersebut. Petugas yang menangani, Bu Siti, dengan wajah cemas mengambil berkas lama dari lemari belakang.
"Rumah milik keluarga Wijaya dulu," katanya dengan suara pelan. "Suami, istri, dan anak perempuan mereka menghilang tepat pada tanggal 12 November lima tahun yang lalu. Hanya ada barang-barang mereka yang tertinggal, tidak ada jejak sama sekali. Beberapa orang yang mencoba menyewa rumah itu selalu keluar pada malam pertama dan tidak pernah kembali lagi."
Rina melihat tanggal di berkas—12 November. Dan hari ini adalah 11 November.
Meskipun takut, rasa ingin tahu membuat Rina memutuskan untuk kembali ke rumah itu. Dia membawa beberapa barang yang diperlukan, termasuk kalung berlian yang diberikan pamannya sebelum dia meninggal. Pamannya pernah berkata, "Kalung ini akan melindungimu dari segala sesuatu yang tidak bisa dilihat mata manusia."
Saat malam tiba, Rina menyiapkan lilin di seluruh ruang tamu dan duduk menunggu. Jam menunjukkan pukul 12 malam, dan suara menangis muncul lagi—namun kali ini lebih dekat dari sebelumnya. Dia melihat bayangan wanita dengan rambut panjang bergerak di sepanjang tembok.
Rina mengeluarkan kalung dari lehernya. Seperti ada kekuatan yang menarik, kalung mulai memancarkan cahaya keemasan yang lembut. Bayangan itu berhenti dan mulai bergetar.
"Kamu... kamu punya kalung itu..." suara wanita itu terdengar lebih lembut, bahkan penuh kesedihan.
"Dengan siapa kamu?" tanya Rina dengan suara gemetar tapi tegas.
"Saya adalah Maya Wijaya," jawabnya. "Suami saya mencuri kalung itu dari keluarga kamu beberapa tahun yang lalu. Dia berpikir kalung itu bisa membuat kita kaya raya, tapi malah membawa kutukan ke rumah ini. Setiap tahun pada tanggal 12 November, kutukan itu akan kembali dan mencari orang yang memiliki kalung itu..."
Sebelum Maya bisa melanjutkan, suara langkah kaki berat terdengar dari atas tangga. Seorang pria dengan wajah penuh dendam muncul, mengenakan baju hitam yang sudah lusuh. Matanya merah menyala lebih terang dari mata Maya.
"Itu kalung saya!" serangnya dengan suara menderu.
Bab 3: Malam yang Menentukan
Rina menyadari bahwa pria itu adalah suami Maya, Bambang Wijaya. Dia menggenggam kalung erat dan mundur perlahan. Cahaya dari kalung semakin terang, membuat Bambang tidak bisa mendekat.
"Maya, bantu aku!" teriak Bambang. "Dengan kalung ini, kita bisa kembali hidup seperti dulu!"
"Tidak lagi, Bambang," ucap Maya dengan suara penuh kesedihan. "Kutukan ini sudah lama kita derita. Sudah saatnya kita meminta maaf dan melepaskan semuanya."
Bambang marah besar dan mencoba menerobos cahaya kalung. Saat dia menyentuhnya, kilatan cahaya terang muncul dan membuat seluruh rumah bergoyang. Rina menutup mata karena terkilau. Ketika dia membukanya kembali, Bambang sudah hilang. Hanya tersisa Maya yang berdiri di depan dia dengan wajah yang sudah tidak lagi menyeramkan.
"Kalung itu seharusnya kembali ke keluarga kamu," kata Maya. "Saya dan suami kami telah terkurung di rumah ini karena kesalahan kami. Sekarang dengan kamu mengembalikan kalung ke tempatnya, kutukan bisa terputus."
Maya perlahan-lahan menghilang seperti kabut pagi. Cahaya kalung memudar dan kembali menjadi biasa. Saat matahari mulai muncul dari balik langit, Rina melihat bahwa seluruh rumah tampak bersih dan terawat, tidak seperti sebelumnya yang terlihat kumuh dan tua.
Keesokan harinya, berita menyebar di sekitar daerah bahwa rumah tua di Jalan Kali Besar tiba-tiba tampak baru lagi. Beberapa orang bahkan melihat keluarga Wijaya berjalan keluar dari rumah dan menghilang ke arah matahari terbit—seolah mereka akhirnya bisa pergi dengan damai.
Rina memutuskan untuk tinggal di rumah itu. Setiap tahun pada tanggal 12 November, dia akan menaruh kalung di meja tengah ruang tamu dan memberikan doa untuk keluarga Wijaya. Dan meskipun rumah itu sekarang nyaman dan hangat, terkadang pada malam hari dia bisa mendengar suara tawa anak kecil yang ceria—seolah anak perempuan keluarga Wijaya masih bermain di sekitar pekarangan yang kini sudah rapi dan indah.
Daftar bab
1 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Volume 1 · Volume 1
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.








