
RANA DAN BIOSKOP KEMATIAN
vallan miracle|Bersambung
- Jumlah kata
- 90.5K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 11
- Jumlah kata
- 90.5K

vallan miracle|Bersambung
RANA DAN BIOSKOP KEMATIAN Genre: Horor • Misteri • Supernatural • Tragedi Rana adalah seorang siswi SMA yang percaya bahwa sahabat adalah orang yang paling bisa dipercaya. Namun kepercayaan itu hancur ketika Vina, teman perempuan yang selama ini dekat dengannya, mengajaknya pergi ke sebuah pabrik kosong dengan alasan ingin membicarakan sesuatu. Di tempat itu, Rana dikhianati. Tiga teman sekolahnya membuatnya kehilangan kesadaran dan melakukan tindakan yang melanggar batas terhadap dirinya. Malam tersebut berubah menjadi tragedi, dan Rana meninggal dunia masih mengenakan seragam sekolahnya. Tetapi kematian bukan akhir bagi Rana. Ketika membuka mata, Rana berada di sebuah bioskop tua yang telah lama ditinggalkan. Semua pintu terkunci. Lorong-lorongnya gelap. Kursi penonton dipenuhi bayangan manusia yang tidak memiliki wajah, sementara layar besar di depan terus menayangkan potongan kejadian dari malam terakhir Rana. Setiap tengah malam, sebuah film baru diputar. Anehnya, film tersebut selalu memperlihatkan seseorang yang pernah menyakiti atau mengkhianati orang lain. Rana kemudian mengetahui bahwa bioskop itu dikenal sebagai Bioskop Kematian, tempat arwah orang-orang yang meninggal dengan membawa penyesalan terjebak sebelum menemukan jalan keluar. Namun ada satu aturan yang tidak pernah boleh dilanggar: Jangan duduk di kursi paling belakang ketika lampu bioskop padam. Karena kursi itu bukan untuk penonton. Kursi itu untuk orang yang akan mati berikutnya. Sementara itu, Vina dan tiga siswa yang terlibat mulai mengalami teror aneh. Mereka mendengar suara Rana di lorong sekolah, melihat sosok berseragam di kaca jendela, dan menerima tiket bioskop bertuliskan nama mereka sendiri. Ketika Vina akhirnya menemukan bioskop terbengkalai tersebut, layar utama menyala tanpa listrik. Di layar itu muncul Rana. Ia masih mengenakan seragam sekolahnya. Rana menatap lurus ke arah Vina dan berkata: “Filmnya belum selesai.” Sejak malam itu, Vina menyadari bahwa untuk keluar dari Bioskop Kematian, ia harus menghadapi satu hal yang selama ini paling ia takuti: kebenaran tentang apa yang terjadi pada Rana.
Rana adalah seorang siswi SMA yang tidak pernah merasa dirinya istimewa. Setiap pagi ia datang ke sekolah dengan seragam putih abu-abu yang selalu rapi, rambut hitam sebahu yang diikat sederhana, dan tas yang sudah beberapa tahun menemaninya. Ia bukan siswi yang terkenal, bukan pula seseorang yang selalu menjadi pusat perhatian. Nilainya cukup baik, sikapnya sopan, dan ia lebih suka menghabiskan waktu di perpustakaan daripada berkumpul di tempat ramai. Bagi sebagian siswa, Rana mungkin hanya salah satu wajah yang mereka lihat setiap hari di lorong sekolah. Namun bagi Vina, Rana adalah sahabat yang sudah dianggap seperti saudara sendiri. Mereka pertama kali dekat ketika kelas sepuluh. Saat itu Rana pernah membantu Vina mencari buku yang tertinggal di perpustakaan. Sejak hari tersebut mereka hampir selalu bersama. Mereka makan siang bersama, mengerjakan tugas bersama, pulang sekolah bersama, bahkan sering berbicara melalui pesan sampai larut malam. Rana merasa nyaman ketika berada di dekat Vina karena ia tidak perlu berpura-pura menjadi orang lain. “Kalau suatu hari semua orang meninggalkanmu, aku tetap akan ada,” kata Vina suatu sore ketika mereka duduk di bangku belakang sekolah. Kalimat sederhana itu selalu diingat Rana. Karena itulah ketika hidup mulai terasa berat, orang pertama yang dicari Rana adalah Vina. Rana memang memiliki keluarga yang menyayanginya, tetapi ia jarang menceritakan masalah sekolah kepada mereka. Ia takut membuat orang tuanya khawatir. Berbeda dengan Vina yang selalu mendengarkan ceritanya sampai selesai. Setidaknya itulah yang selama ini Rana percaya. Pagi itu sekolah terasa seperti biasanya. Suara sepatu memenuhi lorong, siswa saling bercanda, guru berjalan membawa buku, dan bel pertama terdengar dari gedung utama. Rana berjalan menuju kelas sambil memegang dua buku di dadanya. Dari kejauhan ia melihat Vina melambaikan tangan. “Rana!” panggil Vina. Rana tersenyum lalu berjalan menghampirinya. “Kamu sudah sarapan?” tanya Vina. “Sudah. Kamu?” “Belum.” “Kamu jangan sering begitu. Nanti sakit.” Vina tertawa kecil. “Makanya aku punya kamu.” Rana ikut tertawa. Bagi Rana, percakapan sederhana seperti itu sudah cukup membuat paginya terasa menyenangkan. Ia tidak pernah membayangkan bahwa beberapa jam kemudian kepercayaannya kepada Vina akan berubah menjadi luka yang tidak mungkin diperbaiki.
Hari-hari Rana berjalan dengan rutinitas yang sama. Belajar, istirahat, mengerjakan tugas, kemudian pulang. Namun dalam beberapa minggu terakhir, Rana mulai memperhatikan perubahan kecil pada Vina. Sahabatnya itu lebih sering melihat ponsel secara diam-diam dan terkadang berhenti berbicara ketika Rana datang. Jika Rana bertanya, Vina selalu mengatakan tidak ada apa-apa. Rana mencoba tidak memikirkannya. Ia percaya kepada Vina lebih daripada kecurigaannya sendiri. Suatu siang ketika jam istirahat, Rana duduk di kantin sambil memakan nasi goreng. Vina duduk di depannya, tetapi kali ini ia terlihat gelisah. “Ran,” katanya pelan. “Hm?” “Nanti setelah pulang sekolah kamu ada acara?” Rana menggeleng. “Tidak ada. Kenapa?” Vina diam sebentar sebelum tersenyum. “Aku mau mengajak kamu ke suatu tempat.” “Ke mana?” “Tempat biasa saja. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan.” Rana menatap wajah Vina. “Kenapa harus setelah sekolah?” “Aku tidak bisa cerita di sini.” Jawaban itu membuat Rana sedikit penasaran. “Memangnya penting?” “Penting.” Vina kemudian menggenggam tangan Rana di atas meja. “Aku cuma mau bicara dengan sahabatku.” Mendengar kalimat itu, keraguan Rana menghilang. “Baiklah. Tapi jangan sampai terlalu malam.” “Tidak akan.” Vina tersenyum. “Aku janji.” Rana membalas senyum itu tanpa mengetahui bahwa janji tersebut akan menjadi awal dari malam paling buruk dalam hidupnya. Setelah pelajaran terakhir selesai, sebagian besar siswa langsung pulang. Rana memasukkan buku ke dalam tas lalu menunggu Vina di depan kelas. Beberapa menit kemudian Vina datang. Namun Rana langsung menyadari bahwa Vina tidak sendirian. Tiga siswa laki-laki dari kelas lain berdiri tidak jauh darinya. Rana mengenal mereka karena mereka cukup sering terlihat bersama Vina, meskipun Rana tidak pernah benar-benar dekat dengan mereka. “Mereka ikut?” tanya Rana. Vina mengangguk. “Iya. Mereka juga mau ikut.” Rana mengerutkan kening. “Bukannya kamu bilang cuma kita berdua?” Vina tersenyum kaku. “Awalnya memang begitu, tapi tidak apa-apa. Mereka cuma teman.” Rana memandang ketiga siswa itu satu per satu. Salah seorang dari mereka hanya tersenyum, sementara dua lainnya terlihat tidak terlalu peduli. Ada perasaan aneh yang muncul di dada Rana, tetapi ia kembali mengingat semua perkataan Vina selama ini. Ia percaya kepada sahabatnya. “Kalau begitu, kita mau ke mana?” tanyanya. “Nanti kamu tahu,” jawab Vina.
Mereka meninggalkan sekolah ketika matahari mulai turun. Jalanan semakin sepi dan suara kendaraan perlahan terdengar jauh. Rana berjalan di samping Vina sambil sesekali bertanya ke mana mereka akan pergi. Namun Vina selalu memberikan jawaban yang sama. “Sebentar lagi sampai.” Setelah beberapa waktu, mereka berhenti di depan sebuah bangunan tua yang sebagian dindingnya sudah dipenuhi tanaman liar. Rana memandang tempat tersebut dengan heran. “Ini di mana?” tanyanya. Vina tidak langsung menjawab. Salah satu dari tiga siswa tadi membuka pagar kecil yang sudah berkarat. “Masuk saja,” katanya. Rana tidak bergerak. “Aku pikir kita mau bicara.” Vina mendekatinya. “Memang. Masuk dulu, Rana.” Untuk pertama kalinya sejak mereka berangkat, Rana merasa tidak nyaman. Tempat itu terlalu sunyi. Bangunan tersebut terlihat seperti pabrik lama yang sudah lama tidak digunakan. Jendela-jendelanya pecah, dindingnya kusam, dan pintu besinya berkarat. Rana menoleh ke belakang. Jalan yang mereka lewati tadi terlihat kosong. “Vina, aku tidak suka tempat ini.” Vina memegang lengannya. “Jangan takut. Aku ada di sini.” Kalimat itu seharusnya membuat Rana tenang. Anehnya, justru membuat perasaan tidak enak semakin kuat. Namun Rana tetap mengikuti Vina masuk ke dalam. Mereka melewati ruangan besar yang dipenuhi debu dan barang-barang lama. Ketiga siswa itu berjalan beberapa langkah di depan mereka. Rana semakin gelisah. “Vina, sebenarnya kita mau melakukan apa?” tanyanya lagi. Vina menatapnya beberapa detik. “Aku akan menjelaskan semuanya.” “Sekarang?” “Sebentar lagi.” Mereka akhirnya berhenti di sebuah ruangan yang pintunya masih bisa ditutup. Salah seorang siswa membawa beberapa minuman. Rana langsung menggeleng ketika ditawari. “Aku tidak mau.” “Santai saja,” katanya. “Cuma minuman.” Rana kembali menatap Vina. Sahabatnya itu hanya diam. “Vina?” panggil Rana. Vina menghela napas lalu berkata, “Minum saja sedikit. Setelah itu kita bicara.” Rana masih ragu, tetapi akhirnya menerima karena ia percaya kepada orang yang berdiri di sampingnya. Ia tidak tahu bahwa keputusan kecil itu akan mengubah seluruh hidupnya.
Beberapa saat kemudian kepala Rana mulai terasa berat. Suara di sekelilingnya terdengar semakin jauh. Ia mencoba berdiri, tetapi tubuhnya terasa lemas. “Vina...” panggilnya pelan. Vina menatapnya tanpa mengatakan apa-apa. “Aku... kenapa?” Rana berusaha memahami keadaan. Ketiga siswa yang tadi bercanda kini terlihat berbeda. Tidak ada lagi senyum biasa di wajah mereka. Rana mulai ketakutan. Ia mencoba berjalan menuju pintu, tetapi langkahnya tidak stabil. “Vina, tolong...” Suaranya semakin pelan. Vina tetap diam. Saat itu Rana akhirnya memahami satu hal yang paling menyakitkan. Ia bukan sedang bersama sahabatnya. Ia sedang berada di tempat yang sengaja dipilih untuk menjebaknya. Air mata mulai mengalir di wajahnya. “Kamu tahu tentang ini?” tanyanya. Vina menundukkan kepala. Tidak ada jawaban. Bagi Rana, diamnya Vina sudah cukup menjadi jawaban. Kepercayaan yang ia bangun selama bertahun-tahun runtuh hanya dalam beberapa detik. Di luar, langit mulai berubah gelap. Hujan pertama turun mengenai atap pabrik yang sudah tua, menghasilkan suara berisik yang menutupi suara Rana. Ia terus memanggil nama Vina, berharap sahabatnya berubah pikiran dan menolongnya. Tetapi Vina tetap berdiri di sana. Malam itu Rana belum mengetahui bagaimana semuanya akan berakhir. Ia hanya tahu bahwa orang yang paling ia percaya telah menjadi orang yang membuatnya berada di tempat tersebut. Dan ketika suara pintu besi tertutup di belakangnya, Rana menyadari bahwa untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia benar-benar sendirian.
73 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.