
Mandala Tarung
Akzara Mahyendra|Bersambung
- Jumlah kata
- 96.2K
- Popular
- 229
- Subscribe
- 27
- Jumlah kata
- 96.2K
- Popular
- 229
- Subscribe
- 27
Sinopsis
Bagas adalah seorang mahasiswa yang hidupnya sangat monoton, ia tenggelam dalam fantasy oleh buku-buku yang ia baca. Pada waktu bangun dari tidurnya, tiba-tiba ia terbangun di tubuh seorang raja Raden Dharma Abinaya. Bagas harus memilih, mempertahankan kerajaan yang di ambang kehancuran, atau mencari jalan kembali ke dunianya?"
Ulasan
5 ulasan
Putri Tanjung
16/7/26 04:45
Dari seorang Bagas yang punya banyak beban tiba-tiba saja berpindah jaman pada tubuh seseorang yang berkuasa dan terpandang. Keren, semangat thor
rhya17
16/7/26 04:38
Wwiihh mantaap, ketika bangun ada di tubuh orang lain, hhmm seru ceritanya , apakah dia akan keluar dr tubuh itu atau malah selama nya yaa? jd penasaran
Bab 1
Hujan mulai muncul di kota Yogyakarta sore ini, kota dengan pemandangan dan ciri khas sangat unik. Lampu kendaraan memantul di jalanan basah, sementara kendaraan berlalu-lalang tanpa henti. Di sebuah kawasan Sleman, berdiri bangunan kost yang sangat kecil.
Di dalam kamar seorang laki-laki yang sederhana, Bagas Eko Putra, pria bermur 17 tahun duduk sendirian di tepi ranjang sambil membuka lembaran-lembaran buku fantasi yang ia baca. Novel fantasi kisah jawa yang selalu membuat ia antusias dan bersemangat. Bahkan ia selalu tidak mempedulikan ponselnya yang berdering sejak tadi.
"Siapa sih? Ganggu lagi baca aja deh!" gerutunya, ia menggaruk kulit kepalanya yang tidak gatal. Jam ponselnya menunjukkan pukul 01:00, dan seharusnya malam ini ia tidur, karena besok mata kuliah akan di mulai pukul 07:00 pagi, dan getaran di ponselnya ialah alaram untuk ia segera tidur. Suara kipas angin berdecit pelan memenuhi ruangan. Bagas menghela nafas panjang, ia menarik selimutnya, menaruh buku novelnya dan menarik tali kipas angin di atas kepalanya.
"Aku harus tidur malam ini...!" ujarnya. Beberapa menit ia hanya membolak-balikkan badannya di tempat tidur yang pipih itu.
"Aku ga bisa tidur...!" sahutnya.
"Kenapa aku tidak bisa tiduurr...?!" pikirannya terus berisik.
"Haahh...hidupku sungguh monoton...! Berangkat kuliah, lalu kerja, lalu kembali ke kost...monoton sekali..!" omelnya.
"Aneh, kenapa rasanya hidup ku kosong banget...?!" Lelah sekali kalau harus berkuliah, lalu bekerja banting tulang untuk memenuhi kebutuhan adiknya yang masih berumur 15 tahun. Ia harus membiayai sekolah adiknya, dan mencukupi kebutuhan orang tuanya yang pas-pas an. Gajinya sebagai pegawai mini market saja tidak cukup dan itu di bawah UMR. Dia selalu berfikir tentang masa depan yang tidak jelas, dan tidak ada habisnya seperti berjalan di sebuah lorong gelap nan panjang tak berujung.
Bahkan sedikit gajinya ia sisihkan untuk membeli novel-novel kesukaannya, ini saja sudah di nilai boros dan menghabiskan uangnya bagi kedua orang tuanya. Bagas hanya terbaring dengan lemas di kasur nya, tangannya yang panjang mengusap-usap dahinya, matanya terus mengerjap-ngerjap memikirkan sesuatu, sambil memandang ke atas atap kamar kostnya yang sempit. Ia menyembulkan kakinya keluar dari tempat tidur, dan berdiri.
"Ah gawat, aku tidak bisa tidur...banyak yang ku pikirkan..." matanya mengedar di ruangan kamarnya, matanya tertuju pada novel-novel nya yang tergeletak di atas meja.
"Mungkin aku harus membaca satu bab lagi, baru aku bisa tertidur....?" ia meraih novelnya dan membuka pintuk kamarnya.
Malam ini udara kota Sleman tampak hening, hanya hujan yang berisik, diiringi angin yang dingin, dan kepadatan kendaraan yang mulai sepi. Bagas membuka halaman pertengahan novelnya, ia mulai hanyut dalam cerita yang selalu ia nikmati itu.
"Andai saja aku masuk dalam cerita ini, dan berperang dengan menggunakan sihir magis yang mewah..." celetuknya.
PING!! PING!!
Telefonnya mulai bergetar lagi, nampaknya kini membuat Bagas geram. Ia berjalan dengan emosi ke dalam kamar kostnya dan meraih ponselnya.
"Kali ini siapa lagi sih?! Selalu saja mengganggu...!" pekiknya.
Rupanya itu pesan whatsapp dari ibunya yang tercinta. Bagas membuka pesan itu dan mulai membacanya.
Bagas, bagaimana keadaan mu? Adikmu besok harus membayar uang SPP sekolah, dan Ayah butuh dana untuk membuka warung, kamu ada uang...?
"Haahhh....aku harus bagaimana ini...?" keluh Bagas. Dirinya langsung lemas, ketika membaca pesan itu, lagi-lagi ia mengusap dahinya yang kini berkeringat cemas. Darimana lagi dirinya harus mencari uang, gajinya saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dirinya, apalagi harus mencarikan uang untuk kebutuhan orang lain.
Pikirannya sangat kalut malam ini, bahkan genderang gendang yang sayup-sayup lirih, tak terdengar di telinganya. Pikirannya mulai terdistraksi, dia pikir suara itu hanya di dalam kepalanya yang berisik. Suara genderang semakin kencang.
"Su-suara apa itu..?!" sahutnya heran. Matanya terperangah, ia mencari sumber suara-suara aneh itu. Matanya mendadak berat sekali, ia pun menjatuhkan tubuhnya yang kurus di kasurnya, menarik selimut tipisnya lalu tidur.
Suara genderang perang semakin lama semakin keras, Bagas menutupi telinganya, suara itu sangat berisik, namun matanya sangat berat. Udara kamar berubah panas, nafas Bagas mulai memburu, matanya juga semakin berat, dan ia tertidur seketika. Lampu kamarnya berkedip-kedip pelan,suara gamelan jawa memutari isi pikiran Bagas. Tubuhnya tidak bisa di gerakkan, seperti terjatuh pada jurang tiada batas yang gelap dan dingin. Terdengar suara seseorang yang berat menggema, seperti dari tempat yang sangat jauh darinya.
"LINDUNGI MANDALA TARUNG!!" kencang sekali.
"BOOOMMMM!!!"
Terdengar suara ledakan yang sangat kencang, memekakan telinga, puing-puing bangunan yang rontok dan roboh dan suara gelak tawa seorang wanita yang melengking.
Mata Bagas terbuka seketika, ia berada di sebuah atap kamar yang sangat mewah dan megah, yang terbuat dari ukiran kayu yang sangat rapi. Terdepat tirai tipis di sekeliling tempat tidur yang ia tempati, kasur yang sangat empuk, nyaman dan ada beberapa patung-patung kecil terbuat dari kayu dan emas menghiasi kamar itu.
"Di-dimana aku...?" Bagas tersentak dari mimpi buruknya. Ia meraba wajahnya lama, nampak keheranan dan ia beranjak dari tempat tidurnya yang mewah. Sebelah kirinya ada dinding yang terdapat kaca berukuran 100 sentimeter, nampak besar untuk ukuran kaca biasa. Ia melihat wajahnya di kaca itu, dan ia terkejut luar biasa.
"ARGH...?! Si-siapa ini..?! Kenapa aku tampak berbeda...?" sahutnya keheranan.
Pria di hadapannya seorang pria yang sangat tampan. Pria itu mengenakan pakaian adat kerajaan Jawa yang sangat klasik, dengan mahkota emas bernama Jamang, kalung dada, kain oranye kecoklatan yang menjuntai di bahu sampai lengannya, beberapa aksesoris, kain jarik di kakinya, dan keris di sampingnya. Dan nampaknya pria itu seorang raja ningrat.
"Lu-luar biasa...!" ujar Bagas keheranan. Matanya sibuk melihat apa yang ia kenakan lekat-lekat. Tubuh pria itu juga tinggi 180 sentimeter, berotot, dan nampak sangat gagah.
Beberapa orang mengenakan pakaian Jawa, mengelilinginya dengan khawatir. "Paduka...!! Paduka sudah sadar...! Akhirnya...!" sahut mereka serempak. Kira-kira mereka berjumlah puluhan lebih, seseorang wanita yang mengenakan baju tabib juga masuk di antara mereka.
"Tabib keranaan kita memang sangat handal...! Syukurlah...!" imbuh mereka lega.
"Jadi, menang benar, aku raja...?" ujar Bagas melongo heran, matanya mengedar ke prajurit-prajurit itu.
"Ja-jadi kalian prajurit Mandala Tarung..?!"
"Ada apa denganmu, paduka...tentu saja anda raja kami yang sangat jenius!" ungkap seseorang pria paruh baya, ia memasuki kamarnya dengan pelan.
"Dan, a-anda ini adalah Joko Mahendra Jayadi..?? Penasehat kerajaan...?!" jawab Bagas.
"Ada apa denganmu, Raden Dharma Abinaya...??" ujar pria paruh baya itu keheranan. Seketika itu Bagas menyadari bahwa ini bukanlah mimpi, ini adalah kenyataan. Jiwanya masuk pada Raden Dharma Abinaya, tokoh dalam novel fantasi yang sering ia baca.
Daftar bab
90 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








