

Malam turun lebih cepat dari biasanya.
Jaka berdiri di depan rumah kayu sederhana yang telah ditempatinya sejak kecil. Tatapannya tertuju pada hutan di kejauhan. Di antara pepohonan yang gelap, kabut putih bergerak perlahan, semakin lama semakin tebal.
Sudah tiga malam kabut itu muncul. Namun malam ini berbeda. Kabut tersebut tidak menyebar ke seluruh hutan. Ia justru berkumpul di satu tempat, membentuk jalur panjang yang seolah-olah mengarah langsung ke sebuah bagian hutan yang selama ini tidak pernah berani didatangi penduduk desa.
Jaka menyipitkan mata.
Ada sesuatu yang terasa aneh.
Sejak kecil, ia selalu dilarang mendekati hutan itu. Orang-orang desa menyebutnya Hutan Kabut. Tidak ada yang tahu pasti apa yang berada di baliknya. Beberapa orang yang pernah mencoba masuk selalu kembali sebelum mencapai bagian terdalam.
Mereka mengatakan bahwa kabut di sana bisa membuat seseorang kehilangan arah.
Ada pula cerita bahwa orang yang terlalu jauh masuk ke dalam hutan akan mendengar suara-suara aneh yang memanggil namanya.
Jaka tidak pernah terlalu mempercayai cerita tersebut.
Sampai beberapa minggu terakhir.
Ia mulai mengalami mimpi yang sama.
Dalam mimpinya, Jaka selalu berdiri di depan gerbang batu yang sangat besar. Di balik gerbang itu terdapat sebuah kerajaan dengan menara-menara tinggi yang menjulang ke langit. Jalan-jalan batu membentang di antara bangunan tua, sementara bendera hitam dengan lambang burung bersayap terbentang di atas menara.
Anehnya, setiap kali terbangun, Jaka selalu mengingat satu hal.
Suara seseorang yang memanggil namanya.
"Jaka..."
Suara itu tidak pernah terdengar jelas.
Kadang terdengar seperti suara seorang laki-laki tua.
Kadang seperti suara seseorang yang masih muda.
Namun selalu ada perasaan yang sama setiap kali suara itu muncul.
Seolah-olah seseorang sedang menunggunya.
Malam ini, ketika ia memandang kabut, suara tersebut kembali terdengar.
Bukan dalam mimpi.
Melainkan tepat di belakangnya.
"Jaka."
Tubuh Jaka menegang.
Ia berbalik dengan cepat.
Tidak ada siapa-siapa.
Hanya rumahnya yang sunyi dan halaman yang diterangi cahaya bulan.
Pintu rumah masih terbuka. Tirai jendela bergerak pelan tertiup angin.
Jaka menatap ke sekeliling.
"Siapa?"
Tidak ada jawaban.
Ia melangkah beberapa kali mengitari halaman, tetapi tidak menemukan siapa pun.
Jaka menarik napas panjang.
"Mungkin aku cuma lelah."
Ia hendak masuk ke rumah ketika tiba-tiba sesuatu terasa panas di telapak tangannya.
Jaka berhenti.
Rasa panas itu semakin kuat.
Ia membuka tangannya.
Matanya langsung tertuju pada sebuah tanda aneh.
Sebuah lambang berbentuk burung dengan sayap terbentang muncul samar di kulit telapak tangannya.
Jaka terdiam.
Lambang itu persis seperti simbol yang selalu ia lihat dalam mimpinya.
"Apa ini?"
Ia mengusap telapak tangannya.
Tanda itu tidak menghilang.
Sebaliknya, cahaya tipis muncul dari garis-garis lambang tersebut.
Jaka mundur satu langkah.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa takut terhadap sesuatu yang bahkan tidak ia mengerti.
Namun rasa takut itu segera bercampur dengan sesuatu yang lain.
Keingintahuan.
Ia kembali menatap hutan.
Kabut masih berada di sana.
Anehnya, cahaya bulan yang biasanya mampu menerangi jalan desa seolah tidak mampu menembus kabut tersebut.
Jaka merasa ada sesuatu di balik sana.
Sesuatu yang berhubungan dengan dirinya.
Ia mencoba mengingat kembali mimpinya.
Gerbang.
Kerajaan.
Lambang burung.
Dan seorang laki-laki yang selalu berdiri jauh di balik gerbang.
Selama ini wajah laki-laki itu tidak pernah terlihat jelas.
Tetapi malam ini Jaka tiba-tiba mengingat satu hal.
Laki-laki itu pernah berkata kepadanya dalam mimpi.
"Kembalilah."
Jaka mengerutkan kening.
Kembali?
Ke mana?
Bukankah ia selalu tinggal di desa ini?
Ia tidak pernah merasa memiliki tempat lain.
Jaka mengambil jaket yang tergantung di dekat pintu.
Sebelum pergi, ia sempat menatap rumahnya.
Rumah itu kecil dan sederhana. Tidak ada sesuatu yang istimewa di dalamnya. Hanya tempat yang selama ini ia kenal sebagai rumah.
Namun malam itu, untuk pertama kalinya, rumah tersebut terasa asing.
Seolah-olah ada bagian dari hidupnya yang sengaja disembunyikan.
Jaka menutup pintu.
Kemudian berjalan meninggalkan rumah.
Langkahnya membawanya melewati jalan desa yang sepi.
Lampu-lampu rumah mulai padam satu per satu. Beberapa anjing yang biasanya menggonggong ketika seseorang lewat malam-malam justru diam.
Semakin jauh Jaka berjalan, suara kehidupan desa semakin menghilang.
Beberapa menit kemudian, ia tiba di batas hutan.
Pohon-pohon tinggi berdiri rapat di hadapannya.
Kabut menggantung rendah di antara akar dan batang pohon.
Jaka berhenti.
Ia teringat semua larangan yang pernah didengarnya.
Jangan masuk ke hutan.
Jangan mengikuti kabut.
Dan apa pun yang terjadi, jangan mencari kerajaan yang tidak pernah ada.
Jaka mengernyit.
Kerajaan yang tidak pernah ada?
Dari mana kalimat itu berasal?
Ia baru menyadari bahwa sejak kecil, ada sesuatu yang aneh mengenai larangan tersebut.
Tidak seorang pun pernah menjelaskan alasan sebenarnya.
Ketika ia masih kecil dan pernah bertanya kepada orang-orang desa, mereka selalu memberikan jawaban yang sama.
"Jangan pernah ke sana."
Tidak pernah ada penjelasan.
Tidak pernah ada cerita lengkap.
Seolah-olah semua orang mengetahui sesuatu, tetapi sepakat untuk merahasiakannya.
Jaka mengangkat tangannya.
Lambang di telapak tangannya kembali bercahaya.
Kabut di depannya bergerak.
Perlahan, terbentuk sebuah jalan sempit di antara pepohonan.
Jaka menatapnya lama.
Jalan itu seolah-olah baru saja dibuat khusus untuknya.
Ia menelan ludah.
Kemudian melangkah masuk.
Begitu kakinya melewati batas kabut, suara dunia luar seketika lenyap.
Tidak ada suara serangga.
Tidak ada suara angin.
Bahkan langkah kakinya sendiri terdengar begitu jauh.
Jaka menoleh ke belakang.
Jalan yang baru saja dilewatinya masih terlihat.
Tetapi desa sudah tidak tampak.
Hanya kabut putih yang memenuhi pandangan.
Ia mulai berjalan lebih dalam.
Semakin jauh ia memasuki hutan, semakin asing tempat itu terasa.
Pohon-pohon di sekelilingnya tampak jauh lebih besar daripada yang seharusnya. Beberapa memiliki batang berwarna kehitaman, sementara akar-akarnya menonjol seperti tangan yang mencengkeram tanah.
Ada beberapa tanaman yang belum pernah dilihat Jaka sebelumnya.
Daunnya berwarna pucat dan mengeluarkan cahaya samar.
Jaka menyentuh salah satunya.
Daun itu langsung menutup seperti makhluk hidup.
Jaka segera menarik tangannya.
"Aneh..."
Ia melanjutkan perjalanan.
Tidak lama kemudian, ia menemukan bekas jalan batu di bawah rerumputan.
Jaka berjongkok dan membersihkan permukaannya.
Sebuah pola terlihat di sana.
Lambang burung bersayap.
Jaka berdiri.
"Jadi ini bukan hutan biasa."
Ia mengikuti jalan tersebut.
Semakin jauh, semakin banyak batu-batu tua yang ia temukan.
Beberapa bahkan memiliki tulisan yang sudah hampir tidak terbaca.
Jaka mencoba membersihkan salah satunya.
Hanya satu kata yang masih terlihat jelas.
**Arunika.**
Jaka membaca kata itu perlahan.
"Arunika..."
Entah mengapa, kata tersebut terasa sangat familiar.
Seolah-olah ia pernah mendengarnya sejak lama.
Tiba-tiba terdengar suara ranting patah.
Jaka langsung menoleh.
Tidak ada apa-apa.
Ia menunggu.
Sunyi.
Kemudian terdengar suara langkah dari arah yang berbeda.
Jaka mundur.
"Siapa?"
Tidak ada jawaban.
Langkah itu berhenti.
Jaka memandang sekeliling.
Untuk beberapa detik, ia merasa seperti sedang diawasi.
Namun akhirnya tidak terjadi apa-apa.
Ia kembali berjalan.
Beberapa saat kemudian, sebuah batu besar berdiri di tengah jalan.
Pada permukaannya terdapat lambang yang sama dengan tanda di tangannya.
Jaka mendekat.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Ia mengangkat tangan.
Ada sesuatu dalam dirinya yang seolah memintanya menyentuh batu tersebut.
Begitu jarinya menyentuh permukaan batu, kepalanya tiba-tiba terasa berdenyut.
Dunia di sekelilingnya menghilang.
Sebuah gambaran muncul di pikirannya.
Gerbang besar.
Menara.
Api.
Orang-orang berlari.
Suara tangisan.
Suara pedang beradu.
Kemudian seorang laki-laki berdiri di depan sebuah istana.
Wajahnya tidak terlihat.
Namun suara laki-laki itu terdengar jelas.
"Jangan biarkan dia kembali."
Jaka terkejut.
Gambaran berubah.
Ia melihat seorang bayi.
Bayi itu berada dalam pelukan seseorang yang wajahnya tidak terlihat.
Kemudian terdengar suara perempuan.
"Bawa dia sejauh mungkin."
Gambaran kembali berubah.
Api.
Istana yang terbakar.
Bendera hitam dengan lambang burung bersayap jatuh dari menara.
Lalu semuanya gelap.
Jaka segera menarik tangannya.
Gambaran itu lenyap.
Ia terengah-engah.
Keringat dingin membasahi dahinya.
"Apa yang baru saja kulihat?"
Ia menatap batu itu.
Tidak ada perubahan.
Namun kini satu pertanyaan terus berputar di kepalanya.
Siapa bayi yang tadi dilihatnya?
Dan mengapa semua gambaran itu terasa begitu dekat dengannya?
Belum sempat ia memahami apa yang terjadi, terdengar suara gemuruh dari kejauhan.
Tanah di bawah kakinya bergetar.
Burung-burung hitam beterbangan dari atas pepohonan.
Kabut di hadapannya perlahan terbelah.
Jaka terpaku.
Di balik kabut itu berdiri sebuah gerbang batu raksasa.
Gerbang yang sama.
Gerbang yang selama ini hanya ia lihat dalam mimpi.
Namun sekarang, gerbang itu benar-benar ada di hadapannya.
Dua menara batu berdiri di kedua sisinya. Permukaan gerbang dipenuhi ukiran yang sudah tua, tetapi lambang burung bersayap di bagian tengah masih terlihat sangat jelas.
Jaka melangkah mendekat.
Di balik gerbang, sesuatu tampak bergerak.
Cahaya berwarna keemasan muncul dari kejauhan.
Kemudian Jaka melihatnya.
Sebuah kerajaan.
Menara-menara tinggi menjulang di balik kabut.
Atap-atap bangunan terlihat seperti bangunan dari zaman yang sangat berbeda dari dunia yang dikenalnya.
Jalan batu membentang menuju pusat kerajaan.
Di kejauhan, sebuah istana berdiri di atas bukit.
Jaka tidak bisa berkata apa-apa.
Kerajaan dalam mimpinya benar-benar ada.
Selama bertahun-tahun ia mengira semua itu hanya bunga tidur.
Ternyata bukan.
Jaka mengulurkan tangan ke arah gerbang.
Begitu jarinya menyentuh permukaan batu, seluruh lambang di tangannya menyala terang.
Cahaya menyebar dari telapak tangannya menuju ukiran gerbang.
Satu demi satu simbol di sepanjang permukaan batu mulai menyala.
Gerbang itu bergetar.
Kemudian terdengar suara berat dari baliknya.
"Putra kerajaan telah kembali."
Bersambung