

"Dokter Arlan! Tolong bed tiga! Pasien kecelakaan lalu lintas, laserasi luas di lengan kanan, pendarahannya belum berhenti!"
Teriakan Suster Rina dari balik nurse station memotong keributan IGD RS Medika Nusantara malam itu. Di atas bed tiga, seorang pria paruh baya meringis kesakitan sambil memejamkan mata, sementara perawat lain sibuk menekan kassa steril untuk menahan pendarahannya.
Jam digital di dinding menunjukkan pukul 22.15 WIB. Shift malam operan jam sepuluh baru saja berjalan lima belas menit, tetapi rasanya sudah seperti berada di tengah medan perang.
"Siap, Sus! Saya ambil set jahit dulu!" balas gue setengah berteriak.
Gue melirik pergelangan tangan kiri, memastikan jam digital hitam sudah terpasang rapi. Benda ini pegangan utama gue selama menjaga IGD. Di tempat di mana tiap detik berharga, keterlambatan kecil bisa berarti selisih antara hidup dan mati bagi seseorang.
Gue menyambar bak instrumen steril, membawa sepasang sarung tangan latex, lalu bergegas menghampiri bed tiga. Pasien seorang pria berusia sekitar empat puluh tahunan dengan luka robek sepanjang sepuluh sentimeter di lengan bawahnya. Blood pressure monitor menunjukkan angka 110/70. Konfigurasi vitalnya masih stabil, tapi lukanya kotor oleh pasir dan kerikil jalanan.
"Saya bersihkan dulu lukanya sebelum dijahit. Tahan sebentar, ya, Pak. Agak perih sedikit," ucap gue sembari mengalirkan cairan NaCl untuk membilas sisa kotoran.
"Aduh! Pelan-pelan, Dok! Sakit banget ini!" ucap pasien itu sambil meringis. Tubuhnya bahkan sampai melonjak kecil.
"Sabar, ya, Pak. Kalau tidak dibersihkan dengan benar nanti bisa infeksi parah," balas gue tenang. Tangan kanan gue bergerak cepat, memisahkan kotoran mikroskopis dari tepi jaringan kulit yang terbuka.
"Pastikan lagi enggak ada kotoran di dalam lukanya, Lan?" ucap Gilang yang kebetulan melintas membawa kantong cairan infus.
"Udah bersih, Lang. Tinggal gue irigasi sekali lagi terus dep kassa steril," jawab gue tanpa mengalihkan pandangan dari luka pasien.
"Sip, kelarin cepet. Tadi di luar ada konvoi motor bawa pasien trauma tumpul," imbuh Gilang memberi peringatan sebelum berlalu.
Di tengah fokus gue memegang jarum jahit dan needle holder, mendadak suasana IGD yang tadinya bising berubah menjadi senyap seolah-olah ada gelombang tekanan udara yang merosot tajam. Suara gelak tawa dua dokter residen junior di sudut ruangan mendadak terputus. Gesekan langkah kaki para perawat yang biasanya cekatan mendadak melambat.
Gue enggak perlu menoleh buat tahu siapa yang baru saja melangkah masuk melewati pintu IGD.
"Siapa yang bertanggung jawab atas penataan rekam medis di meja konsul malam ini?"
Suara itu bening, dingin, dan menusuk bagaikan mata pisau bedah yang baru diolah dari baja murni.
dr. Calista Rahagi, Sp.B. Konsulen bedah umum berparas cantik yang paling muda, paling genius, sekaligus paling ditakuti di seluruh jajaran staf rumah sakit ini. Di usianya yang baru menginjak tiga puluh tahun, dia bukan cuma memegang predikat lulusan terbaik, tapi juga sedang menempuh pendidikan sub-spesialis bedah digestif. Dia berdiri tegak dengan jas medis putih yang tak berkerut sedikit pun, rambut hitam lurus sebahunya terikat rapi. Tatapan matanya yang tajam bak elang sedang memindai seluruh sudut IGD.
Nggak ada satu pun dokter magang atau residen yang berani menatap matanya secara langsung. Semua orang mendadak pura-pura sibuk dengan pekerjaan dan rekam medis masing-masing.
Gue menelan ludah, berusaha menyelesaikan ikatan simpul benang jahit terakhir pada lengan pasien. Jangan menoleh, Arlan. Jangan cari penyakit.
Sayangnya, nasib buruk malam ini sepertinya sudah menyiapkan gue sebagai target utama.
"Dokter Arlan Pramudya!"
Langkah kakinya yang beriringan dengan ketukan sepatu hak tinggi berbunyi konstan mendekat ke arah bed tiga. Gue segera memutus benang jahit, menarik napas panjang, lalu berbalik dan berdiri secara perlahan. Gue menghadapnya dengan posisi tubuh tegak, meskipun jantung terus berdetak kencang seperti genderang perang.
"Ya, Dokter Calista?" sahut gue seraya berusaha menjaga intonasi suara agar tetap tenang.
Calista berdiri kurang dari dua meter di depan gue. Kedua lengannya bersedekap di dada. Tatapannya menelusuri penampilan gue dari ujung kepala sampai ujung kaki, memberi penilaian yang terasa sangat menghakimi.
"Kamu yang bertugas memilah berkas rujukan pasien trauma sore tadi sebelum pergantian shift?" tanyanya tanpa nada humor sedikit pun.
"Benar, Dok. Saya yang merapikan lembar rekam medisnya sebelum diserahkan ke ruang bedah," jawab gue jujur.
Calista mengeluarkan selembar kertas dari map tipis yang dipegang, lalu meletakkan ke atas troli instrumen di samping gue dengan gerakan kasar.
"Kamu menyebut kertas sampah ini sebagai laporan rekam medis?" tanyanya dengan nada meremehkan. "Pemeriksaan fisik awal tidak lengkap, urutan lampiran laboratorium terbalik, dan kamu bahkan lupa mencantumkan riwayat alergi obat pasien. Apa otakmu tertinggal di rumah saat berangkat shift malam?"
Sedikit desir panas mulai merambat ke leher gue. IGD sore tadi keos luar biasa dengan lima pasien darurat masuk bersamaan, dan gue mengerjakan berkas itu sambil menangani penjahitan luka salah seorang pasien. Tapi gue tahu betul, mencari alasan di depan Calista sama saja dengan menggali lubang kubur sendiri.
"Maaf, Dokter Calista. Tadi kondisi IGD sedang penuh dan saya—"
"Saya tidak butuh alasanmu, Dokter Magang," potong Calista cepat. Kata 'Dokter Magang' keluar dari mulutnya dengan nada seperti mendeskripsikan hama yang tidak berguna. "Di ruang bedah, ketidaktelitian kecil seperti ini bisa membunuh pasien. Kalau hal mendasar seperti menyusun dokumen saja kamu tidak becus, bagaimana kamu bisa dipercaya memegang pisau bedah?"
Beberapa perawat dan dokter residen di sekitar kami mulai saling berbisik pelan. Wajah gue terasa panas. Rasa malu dan gejolak emosi berputar hebat di dada. Sebagai calon residen yang selalu berusaha memberikan yang terbaik, dianiaya secara verbal di depan umum seperti ini benar-benar mengikis harga diri gue sampai ke batas terendah.
"Apakah ada kecacatan data lain yang belum saya benahi di lembar tersebut, Dok?" tanya gue berusaha seprofesional mungkin meski rahang gue mengetat.
"Hanya orang buta yang tidak melihat deretan kesalahan di lembar itu, Arlan," cibir Calista dingin. "Kamu mau beralasan apa lagi?"
"Tidak, Dok. Saya akan segera merevisinya sekarang," ucap gue pelan sambil menundukkan kepala dan mengepalkan jemari tangan kanan gue kuat-kuat di samping tubuh.
Calista menatap gue dingin untuk beberapa detik. Bibirnya yang mungil dan merah alami terkatup rapat dalam garis lurus yang tegas.
"Sepuluh menit," ujar Calista dingin. "Perbaiki laporan itu dan antarkan langsung ke meja saya di ruang konsulen. Jika ada satu kesalahan lagi, saya pastikan nilai evaluasi klinismu semester ini tidak akan pernah menyentuh angka kelulusan."
"Sepuluh menit dari sekarang, Dok?" tanya gue buat memastikan sambil melirik jam digital di tangan.
"Kamu punya masalah pendengaran? Atau stopwatch di tanganmu itu cuma pajangan?" balas Calista tajam sebelum berbalik.
Tanpa menunggu jawaban gue lagi, Calista melangkah pergi. Langkah kakinya terdengar ketus meninggalkan koridor IGD yang masih terdiam membisu. Begitu sampai di ambang pintu, suara Calista kembali menggema. "Sepuluh menit dimulai dari sekarang, Arlan! Cepat kerjakan atau kamu enggak bakalan saya luluskan!"
Gue berdiri terpaku di tempat. Pandangan gue tertuju pada lembar rekam medis di atas troli. Jam digital di pergelangan tangan kiri gue berdetak pelan, menunjukkan detik yang terus berjalan tanpa empati.
"Sabar, Lan. Lo tahu sendiri, kan, dia kalau ngomong emang enggak pake saringan," bisik Gilang yang mendadak muncul di samping gue sambil menepuk bahu karena merasa prihatin.
"Enggak pake saringan gimana, Lang? Dia itu kanebo kering nggak punya perasaan," desis gue dengan nada rendah. "Dari awal gue masuk ke sini, dia emang selalu nyari gara-gara. Bikin gue kesel setengah mampus!"
Gue menghela napas panjang sebelum menyerahkan tugas membalut luka pasien di bed tiga kepada Gilang. Lalu, beranjak ke tempat yang bisa meredam gejolak dalam dada gue.
Di dalam pantry, gue duduk di salah satu bangku dan memutar pulpen perak di jemari dengan sangat keras sampai sedikit kebas. Rasa benci dan kejengkelan meluap-luap memenuhi benak gue. Gue benar-benar enggak tahu kalau setelah ini jadi interaksi terakhir gue dengan Calista dalam kondisi yang normal.