

Joko adalah pemuda miskin yang tinggal di sebuah desa kecil yang dikelilingi hutan lebat. Sejak kecil ia hidup dalam kemiskinan bersama neneknya. Tak seorang pun benar-benar tahu dari mana asal-usul Joko. Orang-orang hanya mengenalnya sebagai cucu dari seorang nenek tua yang hidup sederhana di ujung desa.
Kini usia Joko sudah dua puluh tahun. Tanpa pendidikan yang layak, pemuda itu tumbuh besar hanya dengan mengandalkan kerja keras. Tubuhnya tinggi dan kuat, hasil dari bertahun-tahun bekerja di hutan.
Pekerjaan sehari-harinya adalah penebang kayu di bawah pimpinan mandor hutan bernama Kang Badrun.
Meski hidupnya sulit, Joko dikenal sebagai pekerja yang rajin dan cekatan. Ia jarang mengeluh dan selalu menyelesaikan tugasnya dengan baik.
Namun anehnya, banyak orang di desa itu tidak menyukainya. Entah karena iri, atau hanya sekadar memandang rendah kemiskinannya.
Joko sering dihina dan diperlakukan tidak adil. Padahal setiap tindakan dan perkataannya selalu disertai ketulusan hati. Namun Joko tidak pernah membalas mereka.
---
Pagi itu, kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan ketika Joko bersiap berangkat kerja.
"Nenek... Joko berangkat kerja dulu," ucapnya sambil mengenakan baju kerja yang sudah agak lusuh.
Neneknya yang sedang duduk di depan rumah mengangguk pelan. "Hati-hati di hutan, Le," pesan sang nenek dengan suara lembut.
"Iya, Nek."
Joko tersenyum lalu mengambil kapak dan gergaji miliknya sebelum berjalan menuju rumah Kang Badrun, tempat para penebang kayu biasanya berkumpul sebelum berangkat ke hutan.
Tak lama kemudian Joko sampai di halaman rumah besar milik Kang Badrun. Beberapa rekan kerjanya sudah lebih dulu berkumpul di sana.
Namun sebelum masuk ke halaman rumah, langkah Joko terhenti.
Di depan pintu berdiri seorang gadis cantik yang sangat dikenal di desa itu.
Sari. Putri Kang Badrun. Gadis yang sering dijuluki warga sebagai bunga desa.
Meski hanya seorang penebang kayu biasa, Joko tetap bersikap sopan. "Selamat pagi, Neng Sari," sapa Joko dengan ramah.
Namun Sari tidak membalas sapaan itu. Ia hanya menatap Joko dengan tatapan sinis. Matanya memutar malas, sementara kedua tangannya bersedekap di dada. "Nggak usah sok dekat sama aku," ucap Sari dingin.
"Aku tidak sudi kenal dengan pemuda miskin dan buta huruf seperti kamu."
Joko hanya tersenyum kecil. Tak ada kemarahan di wajahnya. Ia bahkan menggaruk kepalanya dengan polos, seolah kata-kata itu hanya angin yang lewat begitu saja. Ia sadar siapa dirinya. Menyapa Sari bukan karena berharap lebih. Ia hanya ingin menghormati putri mandornya. Tak lebih dari itu.
Saat itulah seorang pria lain datang menghampiri. Namanya Asep. Ia adalah salah satu pekerja yang paling tidak menyukai Joko.
Asep menyeringai sambil berdiri di samping Sari.
"Neng Sari... sebaiknya neng jauhi Joko," ucapnya sambil melirik Joko dengan sinis. "Pria seperti dia tidak pantas berada dekat neng."
Sari mengangguk dengan wajah angkuh.
"Tentu saja. Aku tidak selevel berteman dengan orang seperti dia," katanya. "Bapak saja yang terlalu bermurah hati mengizinkannya bekerja di sini."
Beberapa pekerja lain yang mendengar percakapan itu ikut tertawa kecil. Namun Joko tetap tenang.bIa tidak membalas sedikit pun.
Tanpa berkata apa-apa, Joko berjalan melewati mereka dan masuk ke halaman rumah Kang Badrun.
Sementara di belakangnya, Asep menatap punggung Joko dengan penuh kebencian.
"Hmph… lihat saja nanti," gumamnya pelan.
"Aku akan membuatmu menyesal bekerja di sini."
Pagi itu sekitar lima belas pekerja sudah berkumpul di halaman rumah Kang Badrun. Mereka bersiap berangkat ke hutan sebelah timur desa untuk menebang pohon-pohon yang sudah cukup tua.
Para pekerja berdiri sambil memeriksa kapak, gergaji, dan tali pengikat kayu.
Tiba-tiba suara berat Kang Badrun terdengar dari dalam rumah. "Joko! Kemarilah!"
Joko yang sedang berdiri bersama rekan-rekannya langsung menoleh.
Salah satu rekannya, Budi, menepuk bahu Joko. "Joko... jarang-jarang Kang Badrun memanggil anak buahnya tanpa alasan penting. Apa kamu melakukan kesalahan?" tanya Budi dengan nada penasaran.
Joko menggeleng pelan. "Aku juga tidak tahu, Budi."
Belum sempat mereka berbicara lagi, Asep tiba-tiba menyela dengan nada mengejek.
"Halah... paling kamu sudah melakukan kesalahan," katanya sambil menyeringai.
"Makanya Kang Badrun memanggilmu. Kalau tidak dipotong gaji, pasti kamu akan dihukum… atau malah dipecat."
Beberapa pekerja lain tertawa kecil mendengar ucapan Asep.
Namun Joko tetap tenang. Di dalam hatinya, ia merasa tidak melakukan kesalahan apa pun.
"Sudahlah, buruan temui Kang Badrun," kata Budi.
Joko mengangguk. Dengan langkah tenang ia berjalan menuju ruang kerja Kang Badrun.
Kang Badrun duduk di belakang meja kayunya yang besar. Ketika melihat Joko masuk, wajah pria paruh baya itu tampak ramah.
"Ada apa, Kang?" tanya Joko sopan.
Kang Badrun tersenyum tipis. "Aku sudah memperhatikan kinerjamu akhir-akhir ini," katanya. "Kamu bekerja dengan baik. Rajin, cekatan, dan tidak pernah mengeluh."
Joko hanya menunduk sedikit, merasa canggung mendengar pujian itu.
"Aku puas dengan hasil kerjamu," lanjut Kang Badrun. "Karena itu aku memberimu hadiah."
Ia mengambil sebuah amplop dari atas meja dan menyerahkannya pada Joko. "Anggap saja ini bonus kerja."
Mata Joko langsung membesar. "Beneran ini untuk saya, Kang?" tanyanya tidak percaya.
"Tentu saja. Ambillah."
Dengan tangan sedikit gemetar, Joko menerima amplop itu. Ia tidak pernah menyangka akan mendapat bonus seperti ini.
"Terima kasih banyak, Kang," ucapnya tulus.
Joko keluar dari ruangan Kang Badrun dengan hati berbunga-bunga. Namun Kang Badrun ternyata ikut keluar dan berdiri di depan para pekerja lainnya. "Rekan-rekan semua!" panggilnya lantang.
Semua pekerja langsung memperhatikan.
"Lihatlah Joko." Kang Badrun menepuk bahu pemuda itu. "Dia sangat rajin dan cekatan. Bahkan Joko tidak kenal lelah dalam bekerja."
Beberapa pekerja mulai saling melirik. "Karena itulah saya memberikan bonus bulanan untuk Joko."
Wajah para pekerja langsung berubah. Ada yang terkejut. Ada pula yang tampak tidak senang.
"Dan untuk kalian semua," lanjut Kang Badrun,
"siapa pun yang bekerja rajin seperti Joko… saya akan memberikan bonus yang sama."
Setelah berkata begitu, Kang Badrun kembali masuk ke rumahnya.
---
Namun kata-kata itu justru menimbulkan sesuatu yang buruk. Para pekerja mulai berbisik-bisik. Tatapan mereka kepada Joko berubah. Bukan lagi sekadar meremehkan.
Kini ada rasa iri dan dengki. Terutama dari Asep. Ia menatap Joko dengan wajah dingin.
"Sok hebat sekali dia," gumamnya.
Beberapa pekerja lain mendekat.
"Asep... sekarang dia jadi kesayangan mandor," kata salah satu dari mereka.
Asep menyeringai tipis.
"Itulah sebabnya kita harus menyingkirkannya."
"Bagaimana caranya?" tanya yang lain.
Asep menoleh ke arah hutan yang tampak gelap di kejauhan.
"Ada satu tempat yang bisa membuatnya tidak kembali."
"Hutan Larangan."
Beberapa pekerja langsung terdiam.
"Kamu gila?" kata salah seorang.
"Di sana ada harimau liar.
Asep tertawa pelan. "Justru itu."
Ia menatap Joko yang sedang berbincang santai dengan Budi.
"Kalau dia masuk ke sana… dia tidak akan pernah kembali."
"Apa, serius mau kirim dia ke sana?"