Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Getah Tak Pernah Mengering

Getah Tak Pernah Mengering

Ksatria Fana | Bersambung
Jumlah kata
27.4K
Popular
100
Subscribe
9
Novel / Getah Tak Pernah Mengering
Getah Tak Pernah Mengering

Getah Tak Pernah Mengering

Ksatria Fana| Bersambung
Jumlah Kata
27.4K
Popular
100
Subscribe
9
Sinopsis
PerkotaanSlice of lifePria MiskinMengubah NasibTransmigrasi
Di bawah pohon karet Tanjung Batu Kundur, Rizki kecil menyaksikan getah menetes bersama keringat dan batuk ayahnya. Dari sanalah ia berjanji: kuliah di UIN Suska Pekanbaru tanpa membebani orang tua. Dengan uang hasil jual getah yang pas-pasan, Rizki merantau. Ia diusir dari kos, kabur malam-malam membawa tas kresek, hingga akhirnya menjadi gharim di Masjid Raudhatul Jannah—tidur di sajadah dingin dan hidup dari sedekah. Di antara sujud dan air mata, ia bertanya, “Ya Allah, kapan ini berakhir?” Di masjid itu ia bertemu Aisyah—hangat, sederhana, dan terlalu terang bagi seorang anak petani karet yang tak punya apa-apa. Cinta tumbuh, tapi tak pernah berani diucapkan. Saat wisuda tiba, kabar itu menghancurkan segalanya. Bertahun-tahun kemudian, ketika hidup mulai membaik, masa lalu kembali mengetuk. Namun Rizki telah belajar: tak semua yang dicintai harus dimiliki. Sebuah kisah tentang perjuangan anak pulau, doa di mihrab sunyi, dan cinta yang memilih diam.
BAB 1 : Getah Pagi Terakhir

Pagi itu, Tanjung Batu Kundur terasa lebih sepi dari biasanya. Udara pagi masih dingin menusuk tulang, embun menempel tebal di daun-daun karet yang bergoyang pelan ditiup angin.

Getah putih susu yang menetes dari sayatan malam tadi terlihat seperti mutiara kecil di bawah sinar matahari yang baru muncul.

Rizki Pratama bangun sebelum azan subuh terdengar dari masjid kecil di ujung kampung. Ia sudah terbiasa bangun pagi-pagi sekali sejak kecil, membantu bapaknya menggarap kebun karet sebelum sekolah. Tapi hari ini berbeda. Ini adalah pagi terakhirnya di pulau kecil Karimun ini sebelum kapal cepat membawanya ke Pekanbaru.

Rumah panggung kayu milik keluarganya sudah tua dan agak miring. Atap sengnya berderit setiap angin kencang, tapi tetap kokoh menahan hujan deras musim barat.

Di dalam, lampu minyak tanah masih menyala redup karena listrik sering padam malam-malam. Rizki bangkit dari tikar pandan, melipat selimut tipis, lalu mengambil parang kecil yang sudah tumpul tapi masih tajam di mata pisau. Ia juga ambil mangkuk plastik bekas cat putih dan sarung lusuh yang selalu ia pakai untuk salat. Langkahnya pelan menyusuri tangga kayu yang berderit, tak ingin membangunkan ibunya yang masih tidur di kamar sebelah.

Di luar, bau tanah basah bercampur aroma getah segar langsung menyambut. Rizki berjalan menyusuri jalan tanah berlumpur yang licin karena hujan semalam. Melewati rumah-rumah tetangga yang masih tertutup rapat, hanya sesekali terdengar suara ayam berkokok atau anjing menggonggong jauh.

Kebun karet keluarganya berada di belakang kampung, sekitar 15 menit jalan kaki dari rumah. Pohon-pohonnya tak terlalu rapat, tapi cukup untuk memberi nafkah sehari-hari—atau setidaknya, dulu begitu.

Pak Hasan, bapak Rizki, sudah ada di sana sejak subuh. Ia jongkok di depan pohon karet nomor tiga dari kiri—pohon yang ia tanam sendiri waktu Rizki masih balita. Batuknya yang kronis terdengar pelan tapi rutin, seperti irama getah yang menetes. Asap obor malam tadi masih meninggalkan bau samar di bajunya yang lusuh. Sayatan malam sebelumnya sudah penuh getah putih susu yang mengalir pelan ke dalam mangkuk kecil yang digantung.

“Sudah bangun, Nak?” tanya Pak Hasan tanpa menoleh, suaranya serak karena batuk dan usia.

“Iya, Pak. Mau bantu garap dulu sebelum berangkat. Biar bapak bisa istirahat sebentar.”

Pak Hasan tertawa kecil, tapi batuknya ikut menyusul. “Istirahat apaan. Pohon ini masih kuat kasih getah. Kamu yang harus siap-siap naik kapal. Jam 10 kan berangkatnya?”

Rizki tak langsung menjawab. Ia mulai bekerja di pohon sebelahnya. Gerakan tangannya sudah sangat mahir—sayatan miring tepat 30 derajat, tak terlalu dalam agar pohon tak rusak, tapi cukup untuk membuat getah mengalir stabil. Setiap tetes getah yang jatuh ke mangkuk terasa seperti beban di dada Rizki.

Ia ingat betapa sering bapaknya pulang larut malam dengan baju bau asap obor, tangan penuh luka kecil dari duri semak atau goresan parang. Harga getah tahun ini lagi anjlok parah—kemarin cuma Rp6.500 per kilo setelah dipotong ongkos angkut ke pengepul di pelabuhan. Kadang bahkan lebih rendah, cuma cukup untuk beli beras, minyak goreng, dan obat batuk bapak.

Rizki ingat masa kecilnya: membantu bapak mengumpulkan getah pagi-pagi, lalu berlari ke sekolah dasar dengan baju bau karet. Tetangga sering bilang,

“Anak petani karet, nanti besarnya juga petani karet.” Tapi Rizki punya mimpi lain.

Ia ingin kuliah di UIN Sultan Syarif Kasim Riau, jurusan Pendidikan Agama Islam, supaya bisa jadi guru dan membantu orang tua tak lagi capek ngetes getah setiap malam.

Ibu Rizki, Bu Siti, muncul dari rumah membawa termos kopi hitam pekat dan sepiring pisang rebus dari kebun belakang. Wajahnya pucat, matanya sembab seperti habis menangis semalaman.

Semalam Rizki mendengar ibunya berdoa panjang di dapur sambil menghitung uang hasil jual getah.

“Makan dulu, Nak. Nanti di kapal cuma ada roti kemasan yang keras,” kata Bu Siti sambil menyodorkan pisang rebus yang masih hangat.

Rizki mengambil, tapi tak langsung makan. Ia memandang ibunya lama, melihat kerutan di dahi dan tangan yang kasar karena sering mengeringkan getah di para-para bambu.

“Bu… maaf ya kalau nanti aku jarang telepon. Pulsa di Pekanbaru mahal, dan aku tak mau bikin kalian khawatir kalau aku cerita susah.”

Bu Siti menggeleng pelan, tangannya gemetar memegang termos. Air matanya hampir jatuh, tapi ia tahan.

“Jangan mikirin itu, Nak. Yang penting kamu sehat, belajar sungguh-sungguh. Jangan kayak bapak ibu—capek seumur hidup ngetes getah malam-malam, tidur cuma tiga jam, bangun subuh lagi. Kami rela, asal kamu bisa punya masa depan yang lebih baik.”

Pak Hasan bangkit dari jongkokannya, menyeka keringat di dahi dengan lengan baju. Ia menatap barisan pohon karet yang membentang hingga ke pinggir pantai, di mana ombak terdengar samar.

“Rizki… bapak cuma punya satu pesan. Kalau di sana susah, tahan dulu. Jangan balik sebelum punya gelar sarjana. Biar bapak ibu bisa bangga bilang ke tetangga: anak kami sudah sarjana dari UIN Suska. Biar mereka tak lagi ngejek, ‘anak petani karet cuma bisa ngetes getah seumur hidup’.”

Rizki mengangguk, tapi matanya sudah panas. Ia tak mau menangis di depan mereka. Ia mendekat dan memeluk bapaknya dulu—peluk yang lama, kuat, seolah ingin menyimpan bau getah dan keringat itu selamanya. Lalu ia peluk ibunya, merasakan getar tubuh ibu yang menahan tangis. Bau minyak kayu putih dari rambut ibu bercampur aroma getah, membuat dada Rizki sesak.

“Terima kasih, Pak, Bu. Aku janji akan berjuang sekuat tenaga.”

Siang itu, dermaga Tanjung Batu ramai dengan penumpang yang mau ke daratan. Kapal cepat Karimun-Pekanbaru sudah menunggu, mesinnya menggeram pelan. Rizki naik dengan tas ransel hitam usang yang sudah menemani sejak SMA. Di dalamnya: ijazah SMA yang dilipat rapi, dua stel baju ganti, sarung salat, Al-Qur’an kecil edisi saku, dan dompet kain lusuh berisi Rp920.000—hasil jual getah dua bulan terakhir setelah dipotong ongkos angkut, beli obat, dan makan sehari-hari.

Kapal mulai bergerak meninggalkan dermaga. Rizki berdiri di dek belakang, memegang pagar besi dingin, memandang pulau yang semakin menjauh. Pohon-pohon karet di kejauhan masih terlihat samar seperti tentara hijau yang setia menunggu. Getah yang tadi pagi ia garap pasti sudah menetes lagi sekarang—pelan, tak kenal lelah, seperti perjuangan bapak dan ibunya yang tak pernah berhenti.

Angin laut menerpa wajahnya, asin dan dingin, membawa bau ikan asin dari kapal nelayan di kejauhan. Rizki berbisik pada dirinya sendiri, suaranya hampir hilang ditelan deru mesin dan ombak:

“Ya Allah… aku berangkat hari ini dengan getah ini sebagai modal awal. Tolong jaga bapak ibu di Tanjung Batu. Tolong beri aku kekuatan untuk bertahan di Pekanbaru, meski harus pindah kos berkali-kali, tidur di masjid, atau makan seadanya. Dan suatu hari nanti… biarkan aku pulang dengan ijazah di tangan, supaya bapak ibu bisa tersenyum tanpa khawatir lagi.”

Kapal melaju semakin cepat ke arah daratan Riau. Di belakang, Tanjung Batu semakin kecil hingga hilang di cakrawala. Di depan, Pekanbaru menanti—dengan kampus UIN Suska yang megah di Simpang Baru, gang-gang kos murah di Panam dan Air Hitam, malam-malam kabur dari pemilik kos yang marah karena telat bayar, dan mihrab masjid yang dingin sebagai tempat tidur sementara.

Rizki menutup mata sejenak, merasakan getar kapal di bawah kakinya. Bau getah masih samar menempel di tangan dan bajunya.

Itu adalah aroma rumah yang tak pernah benar-benar mengering, aroma yang akan menguatkan hatinya di tengah perjuangan panjang ke depan.

Lanjut membaca
Lanjut membaca