Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Lonceng di Ujung Kegelapan

Lonceng di Ujung Kegelapan

ArsyMJ | Bersambung
Jumlah kata
28.8K
Popular
100
Subscribe
7
Novel / Lonceng di Ujung Kegelapan
Lonceng di Ujung Kegelapan

Lonceng di Ujung Kegelapan

ArsyMJ| Bersambung
Jumlah Kata
28.8K
Popular
100
Subscribe
7
Sinopsis
FantasiIsekaiTeknologiMonsterDunia Gaib
​Aris mengira sebuah jam saku kuno milik kakeknya hanyalah benda antik biasa. Namun, satu putaran tuas yang salah menyeretnya keluar dari realita dan melemparkannya ke dalam labirin waktu yang mengerikan. Dari desa yang luluh lantak oleh wabah pes tahun 1666 hingga parit perlindungan Perang Dunia I yang penuh dengan prajurit mayat hidup, Aris harus berlari menghindari kejaran The Chronos Weaver—sang penjaga waktu bertopeng paruh burung yang menganggap keberadaannya sebagai parasit sejarah. ​Dalam petualangan yang menantang maut ini, Aris menyadari bahwa jam tersebut tidak digerakkan oleh mesin, melainkan oleh tumbal nyawa. Untuk bisa pulang, ia harus mempertaruhkan darah dan akal sehatnya. Namun, di dunia di mana waktu adalah lingkaran setan, garis antara "penyelamat" dan "monster" menjadi kabur. ​Saat Aris merasa telah berhasil kembali ke rumah, ia justru dihadapkan pada kenyataan pahit: bahwa "pulang" mungkin hanyalah tahap awal dari transformasi yang lebih gelap. Sebuah kisah tentang takdir yang terkunci, pengorbanan yang sia-sia, dan rahasia kelam di balik detak jam yang tidak pernah berhenti.
Lonceng di Ujung Kegelapan

Aris tidak pernah menyangka bahwa rasa penasarannya terhadap jam saku kuno milik kakeknya akan menyeretnya ke dalam mimpi buruk yang nyata. Jam itu tidak memiliki angka, hanya simbol-simbol aneh yang tampak berdenyut seperti jantung yang sekarat. Saat Aris memutar tuasnya di tengah hutan pinus yang berkabut, dunia di sekitarnya mendadak meliuk. Suara kicau burung berganti dengan jeritan parau yang membekukan darah.

Terjebak di Tahun 1666

​Pandangan Aris kembali fokus, namun hutan pinus itu telah berubah. Pohon-pohonnya kini hitam legam dan mengeluarkan bau daging terbakar. Di hadapannya, sebuah desa kecil nampak sunyi senyap. Aris berjalan pelan, namun langkahnya terhenti saat melihat puluhan mayat bertumpuk di tengah jalan, wajah mereka menghitam dengan tanda-tanda wabah pes.

​Tiba-tiba, bayangan hitam setinggi dua meter muncul dari balik kabut. Sosok itu mengenakan jubah kulit hitam dan topeng paruh burung yang panjang—seorang Plague Doctor. Namun, di balik lubang matanya, tidak ada manusia, hanya api merah yang menyala.

​"Kau bukan milik waktu ini," suara itu parau, terdengar seperti gesekan tulang di atas batu. Sosok itu bukan menyembuhkan, melainkan memanen jiwa. Ia membawa sabit besar yang berlumuran cairan kental hitam.

Kejar-kejaran Melintasi Garis Waktu

​Aris berlari sekuat tenaga. Ia mencoba memutar kembali jam sakunya, namun tuasnya macet. Setiap kali ia berhasil memutar paksa, realita di sekitarnya robek. Terlempar ke Tahun 1914

​Aris terhempas ke tanah yang becek. Bau tanah basah bercampur dengan karat besi dan pembusukan menyengat indra penciumannya. Ia berada di sebuah parit perlindungan yang sempit. Di atas sana, langit berwarna merah tembaga, tertutup asap ledakan yang tak kunjung henti.

​"Kenapa jam ini membawaku ke sini?!" Aris berteriak, namun suaranya tenggelam oleh dentuman artileri.

​Ia mencoba merangkak, namun tangannya menyentuh sesuatu yang dingin. Seorang prajurit duduk bersandar di dinding tanah, masih memegang senapannya. Namun, saat Aris melihat wajahnya, ia tersentak mundur. Prajurit itu tidak memiliki rahang bawah; lidahnya terjuntai panjang dan hitam, berdenyut mengikuti detak jantung jam saku di saku Aris.

​Tiba-tiba, suara kepakan sayap berat terdengar dari balik kabut gas klorin yang berwarna kuning kehijauan. Sang Penjaga Waktu—si Plague Doctor—muncul, berjalan tenang di atas kawat berduri seolah-olah hukum fisika tidak berlaku baginya.

​"Waktu adalah lingkaran yang sempurna, kecil," suara makhluk itu bergema langsung di dalam tengkorak Aris. "Dan kau adalah noda yang harus dihapus agar lingkaran itu tidak cacat."

​Aris memojokkan dirinya ke dinding tanah yang lembap. "Aku tidak sengaja! Ambil saja jam ini, biarkan aku pulang!"

​Sang Penjaga berhenti tepat di depan Aris. Ujung sabitnya yang hitam menggores pipi Aris, meninggalkan rasa dingin yang membakar.

​"Pulang?" Makhluk itu tertawa, suara yang terdengar seperti tumpukan tulang kering yang retak. "Kau sudah mati di waktumu sendiri sejak kau memutar tuas itu. Kau sekarang hanya gema. Kau adalah sisa-sisa napas yang tertinggal di ruang hampa."

​"Tidak... aku masih hidup!" Aris merasakan darah hangat mengalir di pipinya.

​"Apakah kau hidup?" Sang Penjaga mendekatkan topeng paruh burungnya ke telinga Aris. "Dengarkan baik-baik. Suara yang kau dengar dari jam itu bukan detak mesin. Itu adalah suara detak jantung ibumu yang kau curi saat kau lahir. Kau tidak menjelajahi waktu, kau sedang memakan sejarahmu sendiri."

​Perjuangan Menembus Batas

​Amarah dan ketakutan menyatu di dada Aris. Ia menyadari bahwa memohon tidak akan berguna. Saat sabit besar itu diayunkan untuk memenggal kepalanya, Aris melakukan hal yang nekat. Ia tidak memutar tuas jamnya, melainkan menghantamkan jam saku itu ke arah topeng sang makhluk.

​KRAK!

​Topeng keramik itu retak. Di baliknya bukan wajah, melainkan lubang hitam yang menghisap segala cahaya. Ledakan energi temporal melemparkan Aris ke dimensi lain—sebuah lorong panjang yang berisi jutaan pintu, masing-masing menampilkan momen-momen paling mengerikan dalam sejarah manusia.

​Ia melihat dirinya sendiri di masa depan, tua dan rapuh, sedang memutar jam yang sama di hutan pinus. Sebuah siklus.

​"Aku harus mematahkan rantainya," bisik Aris.

​Ia tidak lagi mencoba memutar jam untuk "pulang" ke rumah yang ia kenal. Ia memutar tuasnya ke arah berlawanan dengan seluruh tenaga, menghancurkan mekanisme internal jam tersebut tepat saat tangan hitam Sang Penjaga mencengkeram lehernya.

​Dunia meledak dalam warna putih yang menyakitkan.

​Saat Aris terbangun, ia berada di hutan pinus. Tapi ada yang salah. Warna daunnya terlalu hijau, langit terlalu biru, dan matahari tidak pernah tenggelam meski ia merasa sudah berjam-jam di sana.

​Ia berjalan pulang, namun rumahnya kosong. Tidak ada perabotan, tidak ada debu, hanya dinding putih bersih. Di tengah ruangan, sebuah cermin besar menanti. Aris mendekat. Di dalam cermin, ia melihat dirinya sendiri. Namun, bayangannya di cermin tidak bergerak mengikutinya. Bayangan itu perlahan mengenakan jubah hitam, lalu memasang topeng paruh burung ke wajahnya.

​Aris menyentuh lehernya yang memar. Di cermin, bayangan itu melakukan hal yang sama. Ia tidak berhasil pulang. Ia baru saja menyelesaikan masa magangnya sebagai penjaga waktu yang baru.

Celah di Balik Cermin

​Aris berdiri mematung di depan cermin besar itu. Bayangannya—sosok yang kini mengenakan jubah hitam dan topeng paruh burung—perlahan mengangkat tangan, menyentuh permukaan kaca dari sisi dalam. Dinginnya terasa nyata, merembat keluar menembus batas dimensi.

​"Ini bukan aku," bisik Aris, suaranya gemetar. Namun, di dalam kepalanya, jutaan suara dari masa lalu dan masa depan menyahut serempak: "Kau adalah penjaga yang dinanti. Kau adalah detak yang tersisa."

​Tiba-tiba, terdengar suara ketukan pelan dari pintu depan rumahnya yang kosong. Tok... tok... tok...

​Aris menoleh. Pintu itu perlahan terbuka, menampakkan cahaya hutan pinus yang terlalu terang di luar sana. Seorang pemuda melangkah masuk. Pemuda itu mengenakan jaket yang sama, memiliki gaya rambut yang sama, dan yang paling mengerikan—ia memegang sebuah jam saku kuno yang tampak baru dan berkilau di tangannya.

​Pemuda itu adalah Aris. Aris yang lain. Aris dari beberapa jam yang lalu sebelum semuanya dimulai.

Pertemuan Dua Garis

​Aris yang berada di dalam ruangan ingin berteriak, memperingatkan dirinya yang lain agar membuang jam itu dan lari sejauh mungkin. Namun, saat ia mencoba membuka mulut, yang keluar hanyalah suara kepakan sayap gagak. Ia menyadari satu hal yang mengerikan: ia tidak lagi berdiri di depan cermin. Ia adalah bayangan di dalam cermin itu.

​Aris yang baru masuk ke ruangan itu mendekat ke arah cermin dengan wajah penuh rasa ingin tahu. Ia melihat ke arah kaca, namun ia tidak melihat sosok bertopeng. Ia hanya melihat pantulan dirinya yang tampak bingung.

​"Kakek bilang jam ini bisa menunjukkan jalan pulang yang sebenarnya," gumam Aris yang baru itu sambil mulai memutar tuas jamnya.

​Di sisi lain kaca, Aris yang terjebak dalam jubah hitam mencoba menggedor dinding kaca yang tak kasat mata. Ia melihat tangannya sendiri kini telah berubah menjadi jemari panjang yang pucat dengan kuku hitam yang tajam.

​KREK.

​Tuas jam itu berputar. Cahaya putih mulai berpijar di tangan pemuda itu.

​Tepat sebelum realita di dalam ruangan itu meledak kembali, Aris yang bertopeng melihat sesuatu di lantai, di bawah kaki pemuda itu. Bukan bayangan manusia yang terpantul di sana, melainkan bayangan seekor burung pemakan bangkai yang sangat besar, yang sedang bersiap untuk menerkam.

​Keheningan yang Menyesatkan

​Dunia mendadak sunyi. Hutan pinus menghilang. Rumah kosong itu menghilang.

​Yang tersisa hanyalah jam saku yang tergeletak di atas tanah hutan yang lembap, detaknya kini terdengar sangat lambat... tik... tok... tik... Dan di kejauhan, di balik kabut yang tak pernah hilang, terdengar suara tawa kecil seorang anak-anak yang bercampur dengan isak tangis orang tua.

​Siapakah yang sebenarnya berhasil pulang? Ataukah "pulang" hanyalah sebuah jebakan yang diciptakan oleh waktu untuk menjaring jiwa-jiwa yang tersesat?

​Di permukaan jam saku yang retak itu, kini muncul satu angka baru yang sebelumnya tidak pernah ada. Angka nol.

Lanjut membaca
Lanjut membaca