

Jakarta tidak pernah benar-benar tidur. Ia hanya belajar beristirahat dengan cara yang aneh—menurunkan volume suara, meredupkan sebagian lampu, lalu membiarkan orang-orang yang masih terjaga mengisi ruang kosongnya.
Arka Pradana baru menyadari hal itu beberapa bulan terakhir.
Jam di layar ponselnya menunjukkan pukul 01.58 ketika ia memarkir motornya di depan sebuah kedai kopi kecil di Tebet. Jalanan tidak seramai biasanya, tapi juga tidak benar-benar sepi. Beberapa motor melintas pelan, sebuah taksi berhenti di ujung jalan, dan dari kejauhan terdengar suara kereta malam yang melintas menuju Manggarai.
Arka melepas helmnya dan menarik napas panjang.
Udara malam Jakarta tidak pernah benar-benar dingin, tapi di jam segini rasanya sedikit lebih ringan. Tidak sepadat siang hari.
Ia mendorong pintu kaca kedai.
Denting lonceng kecil di atas pintu berbunyi.
“Mas Arka.”
Suara itu datang dari balik mesin kopi. Rian, barista shift malam yang hampir selalu ada setiap kali Arka datang.
“Seperti biasa?” tanya Rian sambil tersenyum.
Arka mengangguk.
“Americano. Tanpa gula.”
Rian terkekeh pelan.
“Saya sudah tebak.”
Mesin espresso mulai bekerja. Suara biji kopi yang digiling terdengar seperti sesuatu yang menenangkan di ruangan kecil itu.
Kedai kopi itu tidak besar. Hanya beberapa meja kayu, lampu kuning yang redup, dan jendela kaca besar yang menghadap langsung ke jalan. Dindingnya dipenuhi poster-poster musik lama dan beberapa foto hitam putih Jakarta tempo dulu.
Arka berjalan ke meja sudut dekat jendela.
Meja itu sudah seperti miliknya sendiri sekarang.
Ia meletakkan tas ranselnya di kursi, lalu duduk sambil memandangi jalan di luar. Lampu kendaraan sesekali lewat dan memantul di kaca kedai seperti garis-garis cahaya yang bergerak cepat.
Jam dua pagi selalu terasa berbeda.
Di jam itu, kota seperti berhenti berpura-pura.
Tidak ada lagi orang yang berjalan tergesa-gesa menuju kantor. Tidak ada suara klakson yang saling menantang di lampu merah. Yang tersisa hanya orang-orang yang memang tidak bisa tidur atau tidak ingin tidur.
Arka termasuk yang kedua.
Rian datang membawa cangkir putih kecil dan meletakkannya di meja.
“Americano tanpa gula.”
Uap tipis naik dari permukaan kopi.
Arka mengangguk kecil.
“Terima kasih.”
Ia memegang cangkir itu dengan kedua tangan. Hangatnya merambat pelan ke telapak tangannya.
Tegukan pertama selalu sama.
Pahit.
Tapi bukan pahit yang menyebalkan. Lebih seperti pahit yang jujur.
Arka sudah lama berhenti menambahkan gula ke kopinya. Awalnya hanya karena kebiasaan di kantor—semua orang minum kopi hitam agar tetap terjaga saat bekerja. Tapi lama-lama ia menyadari bahwa ia menyukai rasa itu.
Pahit yang tidak perlu disembunyikan.
Ia membuka laptop dari tasnya. Layar menyala dan memantulkan wajahnya yang terlihat sedikit lelah.
Dua puluh lima tahun.
Di usia itu, hidup seharusnya sedang berjalan cepat. Setidaknya begitu yang selalu dikatakan orang.
Karier sedang naik. Masa depan masih luas. Semua kemungkinan masih terbuka.
Arka bekerja di sebuah agensi digital di kawasan Sudirman. Pekerjaannya adalah membaca data, menganalisis perilaku pengguna internet, lalu membantu perusahaan membuat strategi kampanye online yang lebih efektif.
Di kantor, jabatan itu terdengar keren: digital strategist.
Tapi kalau dijelaskan dengan jujur, pekerjaannya sebenarnya sederhana—membuat orang melakukan sesuatu yang bahkan mungkin tidak mereka rencanakan sebelumnya.
Membeli sesuatu.
Mengklik sesuatu.
Mempercayai sesuatu.
Kadang-kadang Arka merasa pekerjaannya seperti bermain catur dengan orang yang bahkan tidak tahu mereka sedang bermain.
Ia menatap layar laptopnya sebentar, lalu menutupnya lagi.
Malam ini ia tidak ingin bekerja.
Di ujung ruangan, seorang pria tua duduk di dekat jendela sambil membaca koran cetak. Koran itu terlihat agak kusut, seperti sudah dibaca berkali-kali.
Arka pernah melihat pria itu sebelumnya.
Beberapa kali.
Ia selalu datang sekitar jam dua, memesan kopi hitam, membaca koran selama beberapa menit, lalu pergi tanpa banyak bicara.
Arka tidak pernah tahu namanya.
Tapi entah kenapa, pria itu terasa seperti bagian dari kedai ini.
Seperti furnitur yang hidup.
Rian memutar musik pelan dari speaker kecil di dekat kasir. Lagu lama yang liriknya hampir tidak terdengar jelas.
Arka meminum kopinya lagi.
Ia memandangi jalan di luar sambil membiarkan pikirannya berjalan sendiri.
Biasanya, di jam seperti ini, ingatannya sering kembali ke rumah lamanya.
Ke ruang tamu kecil dengan sofa cokelat yang sudah mulai usang. Ke suara televisi yang selalu dinyalakan ibunya meski tidak benar-benar ditonton. Ke aroma masakan yang kadang masih ia rindukan tanpa alasan jelas.
Dan tentu saja…
Ke ayahnya.
Delapan tahun lalu, ayahnya pergi.
Tidak ada pertengkaran besar malam itu. Tidak ada drama seperti di film-film.
Ia hanya pergi bekerja seperti biasa… dan tidak pernah pulang lagi.
Awalnya mereka mengira ia hanya lembur.
Lalu satu hari berlalu.
Lalu dua.
Lalu seminggu.
Setelah itu, semuanya berubah menjadi pencarian yang tidak pernah menemukan jawaban.
Polisi pernah datang.
Pertanyaan diajukan.
Nomor telepon dihubungi.
Teman-teman lama dicari.
Tidak ada hasil.
Seolah seseorang menghapus ayahnya dari dunia.
Arka meneguk kopinya lagi.
Pahitnya terasa sedikit lebih kuat sekarang.
Tiba-tiba pintu kedai terbuka.
Denting lonceng kecil berbunyi.
Seorang perempuan masuk.
Arka tidak tahu kenapa, tapi ia langsung menyadari sesuatu: perempuan itu belum pernah ia lihat sebelumnya.
Ia mengenakan sweater abu-abu longgar dan membawa tas kain hitam. Rambutnya diikat sederhana di belakang, dan wajahnya terlihat sedikit lelah seperti seseorang yang sudah terlalu lama menatap layar.
Ia melihat sekeliling ruangan sebentar sebelum berjalan ke meja dekat jendela.
Rian menghampirinya.
“Mau pesan apa, Mbak?”
“Americano,” jawab perempuan itu pelan.
Arka hampir tersenyum.
Tanpa gula juga, sepertinya.
Perempuan itu membuka laptopnya setelah kopinya datang. Laptop tua dengan beberapa stiker yang warnanya sudah mulai pudar.
Ia mulai mengetik.
Berhenti.
Menghapus.
Mengetik lagi.
Arka memperhatikannya sekilas, lalu kembali menatap kopinya.
Beberapa menit berlalu.
Pria tua di ujung ruangan melipat korannya, berdiri perlahan, lalu berjalan menuju kasir.
Ia membayar kopinya dan sebelum keluar berkata sesuatu kepada Rian.
Suaranya pelan, tapi cukup terdengar.
“Kalau lampu kota suatu malam padam… semua orang akhirnya akan jujur.”
Rian hanya mengangguk kecil.
Pria itu keluar dari kedai.
Pintu kembali tertutup.
Arka mengerutkan kening sedikit.
Kalimat itu terasa… aneh.
Di meja jendela, perempuan itu berhenti mengetik.
Ia membuka buku catatan kecil dan menuliskan sesuatu dengan cepat.
Arka menatap jam di dinding.
02.09
Ia meminum sisa kopinya.
Di meja dekat jendela, perempuan itu mengangkat cangkirnya dan menyesap kopi.
Beberapa detik kemudian ia menghela napas pelan.
“Pahit banget.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Arka tertawa kecil tanpa sadar.
Perempuan itu menoleh.
Tatapan mereka bertemu.
Beberapa detik yang canggung.
Lalu perempuan itu tersenyum tipis.
“Maaf,” katanya. “Saya kira cuma saya yang cukup gila minum kopi pahit jam dua pagi.”
Arka mengangkat cangkirnya sedikit.
“Kalau pakai gula, rasanya bukan jam dua pagi lagi.”
Perempuan itu tertawa pelan.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Arka merasa malam ini sedikit berbeda dari biasanya.
Ia belum tahu kenapa.
Tapi entah bagaimana, ia merasa sesuatu baru saja dimulai.