

Ibra mengubah keputusannya last minute. Acara makan malam dengan bundanya batal karena ia pada akhirnya harus pergi menjemput ayahnya. Ibra hanya berpikir praktis. Ini hari kebebasan ayahnya setelah mendekam dalam penjara selama kurang lebih dua puluh tahun. Serindu itu dia dengan ayahnya. Ayah yang dijemput paksa oleh pihak berwajib berpakaian preman tengah malam saat usianya baru menginjak 8 tahun.
Itu kasus pembunuhan yang dilakukan oleh Narendra Hassel saat pengusaha itu berusia 55 tahun. Supirnya, Parto, berusia 22 tahun tewas terbunuh oleh hunusan pisau daging di dapur rumah mewahnya. Dari keterangan Narendra, Parto mau merampok rumahnya karena terpojok oleh kebutuhan biaya operasi caesar istrinya. Narendra membela diri hingga akhirnya Parto terbunuh. Ibra kecil sempat mendengar dari kamarnya yang berada di samping dapur jika supirnya meminta bagian dirinya dari apa yang Narendra peroleh dari perusahaan fiktif. Pada saat itu, Ibra tidak tahu apa itu perusahaan cangkang, fiktif, dan soal bagian si Parto. Ia hanya menyimpannya sendiri dan saat ditanyai penyidik, Ibra mengaku tertidur pulas.
“Apa ini?” tanya Naren di mobil. Ibra menyerahkan sekotak mi ayam klasik yang masih hangat untuk ayahnya.
“Mi ayam?” ucap ayahnya bersemangat saat membuka kotak mika beraroma andaliman itu.
“Aku pernah denger buku yang cerita soal makan mi ayam sebelum mati, yah.”
Ayahnya tertegun mendengarnya mengira ini mi ayam pertama dan terakhir yang ia dapatkan dari anak semata wayangnya. Ibra menyaksikan wajah cemas sang ayah sambil menahan tawa. “Bukan, yah. Mi ayam yang aku bawa ini seporsi sebelum menghadapi hidup yang baru. Bareng sama aku ya, yah?”
Seketika Narendra meletakkan sumpitnya lalu memeluk anak lelakinya. Derai airmata tak lama kemudian merembes di bahu Ibra. Narendra lalu melepaskan pelukannya usai menyadari aroma yag tak biasa dari mi ayam itu.
“Andaliman ini?”
Ibra mengangguk. “Ayah pasti belum pernah coba kan mi ayam pake bumbu andaliman. Mulai hari ini ayah akan aku ajak makan segala jenis mi ayam di luar penjara.”
“Tapi…ayah mau makan yang lain juga, boy…”
Ibra dan ayahnya tertawa bersama seraya menuju ke kediaman Ibra. Ibra sudah menyiapkan apartemen khusus untuk ayahnya. Ini apartemen kosong yang Ibra beli diam-diam dari hasil bekerjanya sebagai desainer interior. Hervita hanya tahu Ibra membuat patung lalu menjualnya ke banyak kolektor seni di dalam dan luar negeri dengan harga fantastis. Ia tidak tahu jika anak semata wayangnya sedang merencanakan sesuatu untuk bisa mengembalikan keluarganya seperti dulu lagi.
Setelah memastikan ayahnya merasa enjoy di apartemen, Ibra pergi untuk melapor ke bundanya. Tak disangka, tamparan keras mendarat di pipi Ibra yang semulus pualam. Ibra tak mengapa bundanya menamparnya karena ia tahu tidak izin untuk jemput ayahnya, namun ada Zaza di ruang makan itu.
“Beraninya kamu…siapa suruh jemput Narendra…” suara Hervita gemetar menahan amarah.
“Ayah, bun…dia ayah…mantan suami bunda tapi tetap ayah buatku…”
Zaza berkaca-kaca mendengar ucapan Ibra. Hervita lalu melayangkan tamparan ke pipi satunya lagi. Plaaak!!!
Zaza beringsut. Dia hendak bangkit dari kursinya tapi Aldan menahannya. Zaza menatap langsung ke mata Aldan. Aldan menatapnya dalam sambil menggeleng. Zaza gemetar di kursinya. Ibra pergi dari hadapan bundanya. Sementara itu, Hervita terduduk di kursinya masih marah.
“Udahlah, ka…jangan terlalu dipikirin. Nanti kakak sakit.” ujar Aldan. Hervita masih terdiam.
“Bukan gitu, Dan. Ini malam kan mau bahas soal pernikahan kalian. Ibra kakak tunggu dari kemarin. Lalu, last minute batalin. Kakak khawatir takut dia kenapa-napa di galeri, eh taunya…”
Ponsel Aldan berbunyi. Ia lantas bangkit menjauh untuk menerimanya. Zaza lihat ada kesempatan untuk menyusul Ibra. Tapi dia harus mengurus Hervita dulu.
“Ma, aku anter ke kamar ya…”
Hervita mengangkat kepalanya dan menurut. Setelah keluar dari kamar Hervita, Zaza lantas mengendap-endap menuju ke rooftop. Zaza melewati ruang makan dimana Aldan masih asyik menerima telepon dari Belza. Sudah biasa kakak Zaza menceritakan apapun pada Aldan. Bukan hanya soal Greg, pacarnya yang tidak direstui oleh ayah mereka. Everything … sampai Zaza pikir seharusnya mereka berdua saja yang bertunangan, bukan dia.
Setelah menaiki beberapa anak tangga, Zaza akhirnya bisa menatap punggung pria yang telah lama ditaksirnya itu. Saat Zaza hampir dekat, terdengar Ibra yang tertawa lepas berbicara dengan ponselnya. Belum pernah ia lihat Ibra sesenang itu.
“Iya yah…ini rooftop tempat dimana dulu ayah buatin aku tempat buat main layangan. Ayunannya aja masih ada tuh…ayah liat nggak?” Ibra mengarahkan ponsel ke arah area bermain. Di sana ada ayunan kayu estetik, perosotan, jungkat-jungkit, dan gazebo. Seketika Ibra berkaca-kaca. Dahulu ayahnya sering mendorong badannya mengikuti laju ayunan.
“Iya…dulu ayah sering main sama kamu di situ. Bareng bunda juga yang tau-tau bawain puding jeli…”
Ibra mendekat ke ayunan. Zaza berdiri melipir ke pinggir. Dia serius memperhatikan Ibra yang sedang flash back ke masa kecilnya. Menarik sekali. Sampai Zaza tak menyadari Aldan mendekat. Hanya beberapa langkah lagi sampai Aldan bisa memberikan back hug.
***
Maret, 2007
Tahun kedua Narendra Hassel dipenjara. Hervita sudah membulatkan tekad tidak akan menunggu suaminya sampai bebas. Ia harus bertahan hidup bersama anak semata wayangnya dan adik laki-laki satu-satunya. Hervita pun melayangkan surat gugatan cerai ke lapas. Hancur hati Narendra menerimanya. Ia mau tidak mau harus menandatangani surat tersebut beserta hak perwalian asuh Ibra yang saat itu masih berusia 9 tahun.
“Bun, ini kantor yang baru?” tanya Ibra saat itu. Betapa bangganya Hervita saat itu duduk sebagai komisaris perusahaan jual beli emas dan berlian. Usaha milik keluarga Hervita ini bisa bangkit kembali berkat aset yang dipunyai Narendra. Hervita berhasil merebutnya paksa dengan dalih untuk biaya hidup anak sampai ke perguruan tinggi. Semua aset dibuat balik namanya dengan nama Bu Her dan sebagian lainnya atas nama Ibra Hassel.
Hervita memberitahu Aldan jika aset atas nama Ibra masih disimpannya. Hervita baru akan memberi semuanya jika Ibra menikah dengan wanita pilihan Hervita. Aldan yang masih duduk di bangku SMP kelas 1 saat itu hanya tahu jika kantor yang sering didatanginya dulu saat weekend bersama orangtuanya telah berpindah tangan ke adik ibunya.
April, 2024
Tujuh belas tahun sejak Hervita mengambil semua aset mantan suaminya dan membesarkan perusahaan kecil yang hampir bangkrut milik mendiang kakaknya. Saat itu, Hervita bertemu lagi dengan Mervita dan suaminya. Orangtua Zaza dan Belza ini menghadiri pameran berlian yang diadakan oleh perusahaan Hervita.
“Senang sekali bertemu kembali dengan Ibu Mervita yang cantik dan bapak.” ucap Hervita didampingi Aldan sebagai manajer pemasaran.
Mervita dan Badrun Zajuli tidak begitu ingat dimana pernah bertemu Hervita. Itu terjadi karena Hervita mengoperasi sedikit tulang hidungnya, meruncingkan dagu, menyempitkan dahi, dan memangkas perutnya yang buncit. Hervita tumbuh jadi sosok yang elegan dan sedikit arogan. Ibra kurang menyukai bundanya sejak ambisi menguasainya tujuh belas tahun terakhir. Itulah mengapa Ibra mengambil Jurusan Seni Rupa agar ia tak perlu membantu bundanya di perusahaan.
“Maaf, Anda…”
Mervita tidak yakin walau ia sedikit mengenali suara Hervita. Hervita lantas tertawa geli. “Banyak yang bilang gitu…saya Bu Her, itu lho mantan penyandang nama Hassel.”
Badrun lantas meminggirkan istrinya untuk sedikit menjauh dari Hervita. “Maaf, kami masih harus melihat-lihat…”
“Ah, silakan melihat-lihat kreasi kami, Pak Badrun, Ibu Mervita…”
Pada saat itu, Badrun Zajuli langsung mengenali Hervita sebagai owner brand berlian ini. Pengusaha tambang itu luluh seketika. Ia bahkan menyerahkan istrinya yang sedikit lugu untuk ikut arisan sosialita bersama Hervita. Hingga akhirnya, Zaza dan Aldan bisa bertunangan. Hervita tahu Badrun tidak akan meluluskan niat Narendra yang pernah menginginkan perjodohan Ibra dan salah satu anak Badrun di kemudian hari.
Bagi Badrun, Narendra sudah ternodai dengan noda yang akan terus melekat. Namun, Aldan yang Hervita sodorkan adalah new face yang memukau. Badrun pikir jika terjadi sesuatu dengan Hervita, Aldan sebagai keponakan akan menggantikannya sebagai pimpinan. Ibra tak masuk hitungannya karena sudah memilih jalur yang berbeda.
Pertunangan Zaza dan Aldan terjadi saat Zaza berusia 20 tahun dan Aldan 28 tahun. Zaza anak penurut meskipun saat itu ia sedang suka dengan kakak kelasnya di kampus. Zaza pikir bertunangan saja sementara demi menyenangkan papinya. Tak disangka, Aldan begitu perhatian padanya dan hangat. Kehangatan yang jarang ia dapat dari papinya yang keras kepala dan kaku.
***
Zaza terus memperhatikan Ibra yang tampak asyik berinteraksi dengan ayahnya lewat video call. Terbersit dalam hati Zaza untuk lebih mengenal Narendra Hassel. Seorang ayah yang saat ia berusia tiga tahun bahkan sudah memilihnya sebagai calon pengantin bagi Ibra Hassel. Zaza berbalik badan. Saat itu, ia mendapati Aldan sedang menatapnya. Penuh cinta seperti biasa.
“Ka…kamu…dari tadi di situ?” Zaza merasa cemas jika Aldan bisa mengetahui pikirannya saat ini. Ia ingin mendekati Ibra kembali dengan intens agar bisa segera membatalkan pertunangannya dengan Aldan. Ia suka Ibra dari dulu bahkan saat sebelum ada Aldan di hidupnya.
Aldan tersenyum hangat. Seketika Zaza merasa bersalah namun di sisi lain ia ingin merangsek masuk ke pelukan pria dewasa itu. “Baru kok sayang…kamu mau nginep apa mau pulang?”
Aldan membentangkan kedua tangannya bersiap menyambut Zaza. Zaza hanya terpaku di tempat seolah berada di persimpangan. Ia ingin menoleh ke belakang memastikan Ibra tidak mengetahui keberadaannya. Namun, Ibra mendahului benaknya.
“Zaza? Aldan?” tanya Ibra dari kejauhan. Jejeran lampu yang menyala di rooftop dapat menangkap jelas bayangan dua orang pasangan itu. Aldan menghela nafas. Hanya Zaza yang bisa mendengarnya. Ibra mendekat ke Zaza. Dengan tatapan dingin dan seulas senyum yang dipaksakan, Ibra meminta maaf.
“Maaf tadi aku nggak bisa ikut makan malam. Eh, malah ngancurin momen ya?”
Aldan mendekat. Ia langsung menggamit lengan tunangannya. Ibra melihat dari ekor matanya. Degup jantungnya berantakan.
“It’s ok…ayahmu lebih penting.” ujar Aldan. Ibra terkejut dengan perkataan Aldan. Selama ini tak pernah ada pembahasan soal Narendra dalam kehidupan mereka bertiga di rumah Hervita.
“Bunda jadi marah gitu…”
“Yah, well…besok juga adem lagi. Udah santai aja, sob.” ucap Aldan sambil meremas pelan tangan Zaza yang kedinginan. Ibra merasakan panas menjalari dadanya hingga kepala.
Dia milikku…bukan milikmu…
Bersambung