Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
TEATER IMPIAN SENJA

TEATER IMPIAN SENJA

Rie Fierly | Bersambung
Jumlah kata
36.5K
Popular
100
Subscribe
15
Novel / TEATER IMPIAN SENJA
TEATER IMPIAN SENJA

TEATER IMPIAN SENJA

Rie Fierly| Bersambung
Jumlah Kata
36.5K
Popular
100
Subscribe
15
Sinopsis
18+FantasiIsekai21+GameIdentitas Tersembunyi
Di dunia game TEATER IMPIAN, setiap orang datang dengan harapan menjadi legenda. Namun sebagian besar, berakhir menjadi mimpi buruk bagi yang lain. SENopati abdi JAya, seorang Dreamer legendaris dikenal dengan nickname *SENJA* berdiri di puncak kekuatan di masa Close Beta. Para Dreamer menyebutnya satu nama yang sama. *Twilight Emperor*. Ketika TEATER IMPIAN resmi dibuka untuk seluruh dunia, SENJA kembali berjalan sendirian di kota awal. Di antara Dreamer pemula yang mudah ditipu, guild predator, dan distrik merah yang menjual ilusi pelarian… *ROZZA*, Dreamer pemula mengingatkan senja kepada Pacarnya yang mati tepat 2 hari sebelum peluncuran OPEN BETA. Legenda lama yang seharusnya sudah mati mulai bergerak lagi. Menjadi pemburu mimpi? atau menjadi mimpi buruk bagi semua orang.
Prolog Si Legendaris

Hutan di pinggiran Zona Tutorial Barat selalu terasa berbeda ketika malam turun di Theater of Dreams.

"ahh... hahh.. arrhhh!!!"

Sesosok tubuh pria yang berotot, membekap mulut dari gadis yang ada di hadapannya. Mata gadis itu terpejam, seakan enggan melihat wajah pria yang sedang menindihnya dengan tatapan penuh nafsu.

Mata yang terus terpaku ke bagian payudara yang sedang dia pilin dengan jari tangannya yang satu, sambil menjilat di sebelah bukitnya yang lain. "Mmmhh.. ahh."

Pria itu menindih dengan gerakan brutal maju dan mundur, hingga beberapa menit terlewat, suara gadis yang seakan tertahan karena perasaan takut sekaligus menahan sakit tekanan brutal dibagian pangkal pahanya.

Sekilas... terlihat ekspresi puas dibarengi teriakan lirih dari pria itu "arrghh... ahh.. ah". Wajah puasnya terlihat tanpa memperlihatkan iba sedikitpun. Kemudian dia berdiri, berbalik badan seraya keluar dari pintu depan bilik itu.

"Lumayan, ngilangin stres dikit" Ungkapnya sedetik setelah keluar dari ruangan kecil itu. "Giliran lo berdua tuh, gue udah." Katanya, bicara ke rekannya yang menjaga di depan bangunan itu.

"Mantaap, akhirnya kebagian juga jatah gue malem ini" Ucapnya sambil menjetik jari kepada rekannya, tanda ajakan untuk masuk berdua.

Kabut tipis merayap di antara batang-batang pohon hitam yang tinggi menjulang seperti tiang di museum tua. Dari sela dedaunan, cahaya langit biru retak dunia mimpi yang jatuh dalam serpihan lembut, membuat tanah lembap berkilau samar seperti kaca yang baru saja pecah.

Di tengah hutan itu, disebuah bangunan kecil. Lebih tepatnya… sebuah bilik kayu tua.

Bangunan itu terlihat seperti sisa pos penjaga yang sudah lama ditinggalkan sistem. Dindingnya miring, beberapa papan sudah retak, dan pintunya hanya tergantung setengah pada engsel yang berkarat.

Namun di dalam bilik sempit itu, tempat gadis yang ditinggalkan tadi, cahaya kristal kecil menyala redup.

Dan di sana… sekarang sudah ada tiga orang.

Seorang wanita berdiri dengan punggung bersandar pada dinding kayu, napasnya terdengar pelan namun tidak stabil. Rambutnya panjang jatuh ke bahu, sedikit berantakan, sementara matanya menatap dua pria di depannya dengan campuran ekspresi yang sulit dibaca.

Takut.

Pasrah.

Atau mungkin hanya lelah.

Salah satu pria berdiri sangat dekat dengannya. Tangannya bergerak perlahan membuka lagi kancing pakaian wanita itu satu per satu, yang belum sempat dia pakai ulang, tanpa terburu-buru, seolah sedang menikmati proses yang bagi mereka terasa seperti hiburan malam biasa.

Pria kedua tidak melakukan apa-apa.

Ia hanya duduk di kursi kayu kecil di sudut ruangan, bersandar santai sambil memperhatikan pemandangan di depannya dengan senyum tipis yang penuh kepuasan.

“Tenang aja,” katanya pelan, suaranya rendah.

“Di area ini nggak ada Dreamer lain.”

Wanita itu tidak menjawab.

Matanya sempat melirik ke pintu bilik yang setengah terbuka.

Hutan di luar terlihat gelap.

Sepi.

Tidak ada tanda bahwa ada orang lain di sekitar mereka.

Pria yang berdiri di depannya akhirnya berhasil membuka bagian terakhir dari pakaian luar wanita itu. Kain itu jatuh pelan ke lantai kayu dengan suara lembut.

Untuk sesaat, hanya bayangan tubuh mereka yang terlihat di dinding bilik, diterangi cahaya kristal kecil yang bergoyang pelan.

Siluet tiga tubuh yang saling mendekat.

Salah satu tangan pria itu naik menyentuh bahu wanita itu, lalu turun perlahan mengikuti garis tubuhnya. Sentuhan yang terlalu santai untuk sesuatu yang jelas bukan sekadar permainan biasa.

Wanita itu menarik napas dalam.

Bukan karena malu.

Bukan juga karena gairah.

Lebih karena ia tahu… menolak di tempat seperti ini tidak akan membawa hasil apa pun.

Pria yang duduk di kursi tertawa kecil.

“Gantian nanti, ya,” katanya santai.

Temannya hanya menjawab dengan dengusan pelan, tanpa menoleh.

Di dinding kayu, bayangan tubuh mereka mulai bergerak lebih dekat. Siluet tangan, bahu, dan rambut panjang wanita itu perlahan saling bertaut dalam cahaya redup yang bergoyang.

Napas mulai terdengar lebih berat.

Udara di dalam bilik sempit itu berubah hangat.

Di luar, angin hutan berhembus pelan melewati celah papan kayu.

Cahaya kristal bergoyang lagi.

Bayangan di dinding bergerak semakin rapat, semakin kabur, hingga bentuk tubuh mereka mulai sulit dibedakan satu sama lain.

Dan tepat ketika suasana di dalam bilik itu mencapai titik yang tidak lagi bisa disebut sekadar ketegangan…

cahaya kristal tiba-tiba berkedip.

Gelap menelan ruangan.

Di luar bilik, hutan di dunia Theater of Dreams kembali sunyi.

Namun jauh di antara pepohonan, seseorang berdiri diam dalam bayangan.

Seseorang yang sejak tadi memperhatikan.

Dan di atas kepalanya, notifikasi sistem kecil muncul dalam cahaya biru.

Dia menerobos masuk ke tengah ruangan bilik yang gelap, yang dia lihat seorang Dreamer pemula terduduk di tanah dengan tubuh gemetar. Rambut panjangnya menutupi sebagian wajah yang pucat, sementara seragam sekolah yang ia kenakan sudah kotor oleh debu dan bercak darah yang berpendar merah.

Dua orang yang sebelumnya berjaga menunggu diluar, dan satu orang yang tadi, Mengejar masuk kedalam bilik seolah tau akan terjadi pertarungan Dreamer yang berlagak pahlawan membela wanita.

Didalam bilik, Tangan gadis itu gemetar ketika mencoba menutup tubuhnya sendiri, seolah itu satu-satunya perlindungan yang masih ia miliki.

Di hadapannya sudah berdiri lima orang.

Mereka tidak terburu-buru.

Tidak gugup.

Tidak juga terlihat seperti orang yang sedang melakukan sesuatu yang salah.

Kelompok Dreamer itu justru tampak santai, seolah sedang berkumpul setelah menyelesaikan misi harian.

Nama kelompok mereka dikenal cukup luas di kalangan pemain lantai bawah.

Greedy Monday.

Bukan guild resmi—karena sistem Theater of Dreams memang tidak menyediakan fitur guild untuk pemain. Namun dalam praktiknya, kelompok seperti mereka berfungsi persis seperti mafia kecil yang menguasai wilayah tertentu.

Mereka adalah Dreamer Tier 3. Cukup kuat untuk menindas pemain baru, tapi tidak cukup kuat untuk bersaing dengan kelompok besar di pusat kota.

Beberapa dari mereka tertawa.

Salah satu anggota Greedy Monday menoleh kearah Pria tadi. Mantel hitam panjangnya bergerak perlahan tertiup angin tipis dunia mimpi. Rambut hitamnya jatuh sedikit menutupi mata yang tajam, sementara ekspresinya begitu tenang hingga hampir terlihat bosan.

Di atas kepalanya muncul notifikasi sistem kecil.

Dreamer Nickname : Senja

Pria itu berhenti beberapa meter dari mereka.

Matanya menyapu pemandangan di depannya dengan lambat.

Lima Dreamer bersenjata.

Dan satu wanita pemain pemula yang hampir kehilangan kesadarannya.

Tidak ada perubahan ekspresi di wajahnya.

Salah satu anggota Greedy Monday mengangkat dagunya.

“Oi.”

Nada suaranya malas.

“Lu nyasar ya?”

Tidak ada jawaban.

Pria itu hanya berdiri diam sejenak, seolah sedang memikirkan sesuatu yang sangat sederhana.

Kemudian ia berjalan mendekat.

Langkahnya ringan.

Tenang.

Terlalu tenang untuk seseorang yang sedang mendekati lima Dreamer Tier 3.

Pria yang tadi berjongkok akhirnya berdiri, menatapnya dengan tatapan kesal.

“Kalau mau lewat ya lewat aja.” teriaknya kesal. “Jangan ganggu urusan orang.”

Pria berjubah itu akhirnya berhenti beberapa langkah dari mereka. Matanya menatap kelima orang itu satu per satu. Seolah membaca sesuatu yang sudah sangat ia kenal.

Kemudian ia berkata pelan. “Greedy Monday.. ya?”

Kelompok itu sedikit terdiam.

“Lu kenal kita?” tanya salah satu dari mereka.

Pria itu menghela napas pendek, seperti seseorang yang baru saja membuka buku lama yang sudah pernah ia baca berkali-kali.

“Udah Tier tiga,” katanya datar.

“Formasi party berantakan.”

“Build senjata juga kacau.”

Salah satu anggota mereka langsung maju selangkah.

“Lu siapa—”

Kalimatnya tidak pernah selesai.

Karena dalam satu detik berikutnya, pria itu sudah tidak berada di tempat semula.

Gerakannya terlalu cepat untuk mata biasa.

Pisau hitam muncul di tangannya seperti bayangan yang tiba-tiba memiliki bentuk.

Tubuh Dreamer pertama bahkan belum sempat bereaksi ketika bilah itu melintas di lehernya.

Tubuh digitalnya terdiam sesaat.

Lalu pecah menjadi serpihan cahaya.

Notifikasi sistem muncul singkat di udara.

Dreamer Eliminated

Sunyi menyelimuti jalan itu selama setengah detik.

Lalu kekacauan meledak.

“AP—?!”

Salah satu anggota Greedy Monday baru sempat mengangkat senjatanya ketika pria itu sudah muncul di belakangnya.

Pisau hitam itu bergerak lagi.

Cepat.

Tepat.

Dua tubuh Dreamer pecah menjadi partikel cahaya hampir bersamaan.

Sekarang hanya tersisa dua orang.

Wajah mereka berubah pucat.

“LU TIER BERAPA?!”

Suara mereka terdengar lebih panik daripada marah.

Pria itu memutar pisau di tangannya perlahan, menatap mereka dengan mata yang masih setenang sebelumnya.

“Tier?”

Ia mengulang kata itu seolah sedang mencoba mengingat sesuatu yang tidak terlalu penting.

Sistem Tier memang baru diperkenalkan setelah server dibuka untuk publik. Namun bagi seseorang yang pernah hidup di masa lain di dunia ini…

Tier hanyalah label lucu.

Pria itu melangkah maju lagi. Langkahnya santai.

“Pokoknya gue pemain lama.” jelasnya.

Kedua Dreamer yang tersisa mundur tanpa sadar. Udara terasa lebih berat. Lebih dingin.

Pria itu menatap mereka dengan senyum tipis yang hampir tidak terlihat.

“Dan kalian…”

Ia berhenti tepat beberapa langkah dari mereka.

“…lagi berdiri di jalur farming gue.”

---

Lanjut membaca
Lanjut membaca