

Hujan turun sejak sore dan tidak pernah benar-benar berhenti. Pada salah satu gang di Kawasan Mampang Prapatan, air mengalir pelan di selokan sempit, membawa bau besi, daun busuk, dan sisa minyak goreng dari warung, yang satu per satu menutup rolling door.
Lampu neon memantul di genangan, membuat jalanan tampak seperti luka lama yang kembali dibuka dan dibiarkan basah.
Aji berjalan di bawah payung murah dengan rangka bengkok, menyusuri gang menuju kontrakan. Setiap langkahnya terdengar terlalu jelas.
Langkah Aji pelan. Tas ransel menggantung di bahu kiri, beratnya tidak seberapa, tapi tubuhnya terasa letih. Gang ini bukan tempat asing.
Ia mengenal bau got yang naik saat hujan, suara tawa anak-anak, dan obrolan orang dewasa yang terdengar setengah putus dari balik pintu. Hidup memang terus berjalan di sini, sempit, padat, dan tidak pernah benar-benar berhenti.
Malam seolah sengaja memperbesar bunyi, memastikan ia tidak bisa sepenuhnya menghilang.
Dari jendela-jendela sempit, televisi menyala tanpa suara. Wajah-wajah pembawa berita bergerak bisu, seakan kota sedang berbicara dengan bahasa yang tak lagi ia pahami.
Di ujung gang, sebuah mobil hitam terparkir tanpa lampu. Terlalu bersih untuk gang ini. Terlalu rapi. Aji memperlambat langkah. Ada dorongan untuk berbalik, tapi urung dilakukan. Ia menertawakan dirinya sendiri.
Jakarta penuh mobil hitam, katanya dalam hati. Namun ketika ia melewati kendaraan itu, tengkuknya meremang. Ia merasakan sesuatu seperti tatapan, bukan dari mata, melainkan dari keberadaan.
Ia membuka pintu kamar lalu menutupnya dengan cepat. Baru saat itulah ia menghela napas. Ruangan sempit itu menyambutnya dengan cahaya lampu neon yang berkedip sebentar sebelum stabil.
Kamar sempit itu lembap dan sunyi. Cat mengelupas membentuk garis-garis tak beraturan, seperti peta yang tak pernah selesai. Meja lipat, kasur tipis, kipas angin yang berdecit seperti batuk orang tua.
Aji menaruh ranselnya, menggantung jaket basah, lalu duduk di tepi kasur tanpa menyalakan lampu.
Gelap memberinya ilusi aman.
Teleponnya bergetar. Sekali. Pendek.
Aji menunggu beberapa detik sebelum meraihnya. Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan tak terjawab.
Ia membalik ponsel itu, meletakkannya telentang di meja, seolah benda itu bisa diawasi jika ditatap cukup lama.
Laptop dibuka. Layar putih menyilaukan. Kursor berkedip seperti denyut nadi. Aji mengetik satu kalimat, menghapusnya. Mengetik lagi, berhenti di tengah.
Aji hidup dari kata-kata orang lain, menulis dengan nama orang lain. Artikel motivasi, kisah sukses palsu, opini yang aman.
Tapi malam ini, ada dorongan untuk menulis sesuatu yang terlalu dekat dengan tubuhnya sendiri.
Ia menutup laptop.
Di luar, langkah kaki melintas. Terlalu pelan untuk orang terburu-buru. Terlalu berat untuk kucing. Langkah itu berhenti tepat di depan pintu. Diam.
Aji menahan napas.
Beberapa detik kemudian, langkah itu menjauh.
Ia berdiri, memeriksa kunci, lalu tersenyum tipis, senyum orang yang mencoba meyakinkan diri. Paranoia adalah pajak hidup urban, katanya dalam hati.
Sejam kemudian, ia keluar lagi. Hujan berubah gerimis. Sebelum naik bus, Aji singgah di warung kopi kecil di pinggir jalan. Bangkunya lengket, meja aluminiumnya penuh goresan.
Seorang pengamen lewat, menyanyikan lagu lama dengan suara parau. Televisi kecil di sudut warung menyiarkan berita tanpa suara: skandal, moral, dan wajah-wajah yang berpura-pura bersih.
“Kopi pahit,” kata Aji.
Ia duduk membelakangi jalan, tapi bayangan mobil hitam itu tetap muncul di pikirannya. Ia menyesap kopi. Pahit. Hangat. Menenangkan sebentar.
Aji menyalakan rokok, meski ia tahu tenggorokannya akan protes besok pagi. Asap naik pelan, bercampur uap hujan, membuat lampu jalan terlihat buram.
Di warung kopi ini, waktu selalu melambat, seakan kota memberi jeda singkat sebelum kembali menampar.
Ia memperhatikan tangan-tangannya sendiri. Ada getar kecil yang tidak ia ingat sebelumnya. Bukan dingin. Bukan kafein. Lebih seperti antisipasi yang tak punya nama.
Ia mencoba menelusuri asalnya, tapi pikirannya berkelok, berhenti pada wajah-wajah siang tadi: editor yang tak pernah menatap mata, narasumber yang berbicara setengah berbohong, dan satu pesan singkat dari klien yang meminta tulisan “lebih berani, tapi jangan menyebut nama.”
Keberanian yang aman. Kontradiksi paling laku di kota ini.
Dari bangku plastik, ia bisa melihat jalan besar Mampang Prapatan Raya. Lalu lintas tersendat, klakson beradu, dan di sela itu, kilatan cat hitam di kejauhan. Mobil itu melintas perlahan, terlalu pelan untuk sekadar lewat, terlalu cepat untuk benar-benar berhenti.
Aji mematikan rokok di asbak kaleng. Ia membenci kebiasaan menghitung: berapa detik mobil itu terlihat, berapa langkah ke halte, berapa banyak kebetulan yang masih bisa ia terima sebelum menyebutnya ancaman.
Teleponnya bergetar. Notifikasi media sosial. Tulisannya dibagikan ulang. Komentar bertambah. Ada pujian, tudingan, dan pertanyaan yang paling berbahaya: ini tentang siapa?
Aji tidak menjawab. Satu jawaban bisa membuka pintu yang tak bisa ditutup.
Bus yang ditunggunya mendekat. Rem berdecit. Pintu terbuka. Aji berdiri, merapikan jaket. Ia naik, bukan karena tujuan, melainkan karena dorongan untuk bergerak. Untuk berada di ruang di mana kebetulan bisa terjadi.
Di kursi depan, seorang perempuan duduk menghadap jendela. Kerudung hitam sederhana. Bahunya tegang.
Aji tidak menatap lama, tapi ia melihat bayangan wajahnya di kaca: tenang, terkunci, seperti seseorang yang terbiasa menahan rahasia.
Bus berhenti di dekat jembatan penyeberangan orang. Perempuan itu turun. Aji ikut turun, tanpa rencana yang jelas. Mereka berjalan sejajar. Lampu jalan membuat bayangan mereka saling tumpang tindih.
“Mas,” kata perempuan itu akhirnya. “Kita ke sana.”
Gang kecil. Gelap. Tidak benar-benar aman.
Aji ragu sepersekian detik, lalu mengangguk.
Kamar kos itu bersih tapi tak bernyawa. Lampu redup. Bau sabun murahan menempel di udara. Mereka berdiri berhadapan. Jarak di antara mereka tebal oleh sesuatu yang tak diucapkan.
Perempuan itu melepas penutup kepalanya dengan gerakan yang sangat lambat, nyaris ritmis. Helai-helai rambutnya jatuh tergerai, sedikit lembap oleh keringat atau sisa air, membingkai wajahnya yang menyimpan tatapan ganjil.
Ia tidak sedang menggoda, namun juga tidak membeku; matanya menelusuri wajah Aji dengan kalkulasi yang tajam, seolah sedang menimbang harga dari setiap inci kulit yang akan ia serahkan.
Aji mengulurkan tangan, ujung jarinya menyentuh punggung tangan perempuan itu, sebuah gestur peminta izin yang halus namun sarat akan tuntutan. Ia merasakan napas perempuan itu tertahan di tenggorokan, sebelum akhirnya bahunya yang kaku meluruh, mengendur dalam kepasrahan yang sunyi.
Sentuhan yang menyusul kemudian berlangsung tanpa urgensi, sebuah eksplorasi yang terlalu sadar dan terukur untuk disebut liar.
Aji membenamkan wajahnya di lekuk leher jenjang perempuan itu, menghisap aroma sabun yang bersih namun tajam, yang segera bercampur dengan aroma panas dari kulit yang mulai membara.
Di sana, ia menangkap suara desah yang tertahan, getaran halus di pita suara yang beradu dengan bibirnya, menciptakan sensasi yang menyakitkan sekaligus memabukkan.
Namun, di tengah gelombang sensorik itu, rasa bersalah yang akrab mulai merayap naik, sedingin es. Sebuah pengingat bahwa di kota ini, tubuh tidak pernah diberikan secara cuma-cuma; setiap sentuhan selalu membawa konsekuensi yang berat.
Ketika semuanya usai, keintiman itu menguap secepat embun. Mereka duduk di tepi ranjang dengan jarak yang sengaja diciptakan, punggung mereka saling memunggungi. Tidak ada pelukan untuk meredam dingin, tidak ada janji yang dibisikkan.
Perempuan itu kembali mengenakan penutup kepalanya, menyembunyikan kembali rambut dan lehernya. Aji memperhatikannya dalam diam, meski wajahnya tenang, jemari perempuan itu sedikit gemetar saat merapikan kainnya, sebuah retakan kecil yang menunjukkan bahwa meski interaksi telah usai, beban yang tersisa belum benar-benar hilang.
“Kita tidak boleh ketahuan,” katanya.
Aji tidak bertanya ketahuan oleh siapa.
Ia keluar lebih dulu. Gang kos sepi. Udara terasa berat. Di ujung jalan, mobil hitam itu kembali muncul, kali ini dengan mesin menyala pelan. Aji berhenti. Mobil itu bergerak perlahan, melintas, lalu menghilang di tikungan.
Teleponnya bergetar.
Nomor tak dikenal: Hati-hati menulis tentang tubuh.
Jari Aji dingin. Ia memasukkan ponsel ke saku dan berjalan cepat. Ia tidak menoleh sampai pintu kosan tertutup.
Malam semakin larut. Aji duduk di depan laptop lagi. Ia menulis. Tentang tubuh yang dijadikan gosip. Tentang moral yang dijual murah. Tentang kota yang menyukai skandal tapi membenci orang yang menuliskannya. Ia menghapus nama, menyamarkan detail, mengunci makna.
Tulisan itu tayang.
Telepon berdering. Ia angkat.
“Kami membaca,” kata suara datar di seberang. “Tidak semua tulisan perlu hidup.”
Aji menelan ludah. “Saya hanya menulis apa yang saya lihat.”
“Mas melihat terlalu dekat.”
Telepon terputus.
Aji mematikan lampu dan duduk dalam gelap. Di luar, hujan turun lagi. Langkah kaki melintas, berhenti sebentar di depan pintu, lalu menjauh.
Aji menutup laptop perlahan.
Di kota ini, ia baru saja menyentuh dua hal yang seharusnya tidak disentuh bersamaan: tubuh dan kebenaran.
Dan ia tahu, salah satunya akan menagih lebih dulu.