

"Besok, Rizky. Kalau jam dua belas siang tidak ada tiga puluh juta di rekening kami, anggap saja nama baikmu sudah terkubur bersama utang bapakmu."
Klik.
Rizky menatap layar ponselnya yang retak seribu. Getaran di tangannya bukan lagi karena amarah, melainkan sisa-sisa energi dari perutnya yang belum diisi sejak kemarin siang. Ia berdiri di depan mesin ATM yang mendengung pelan, sebuah kotak besi yang kini terasa seperti hakim garis hidup dan matinya.
"Coba lagi. Mungkin sistemnya sedang error," gumamnya, suaranya parau dan kering.
Ia memasukkan kartu debit yang sudah terkelupas lapisan plastiknya. Dengan jemari yang gemetar, ia menekan deretan angka PIN yang sudah ia hafal di luar kepala. Matanya terpaku pada layar kusam itu saat ia menekan pilihan Informasi Saldo.
Angka yang muncul membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.
Rp 7.420.
"Tujuh ribu rupiah..." Rizky tertawa getir, sebuah tawa yang terdengar lebih mirip sedu sedan. "Bahkan untuk membeli paket internet supaya bisa mencari kerja sampingan saja tidak cukup. Untuk menarik uang ini pun aku butuh setidaknya empat puluh tiga ribu lagi."
Seorang pria berseragam safari di belakangnya berdeham keras, menunjukkan rasa tidak sabar yang amat sangat. "Mas, masih lama? Kalau cuma mau numpang AC, di luar saja."
Rizky menoleh perlahan. Ia melihat pantulan dirinya di kaca pembatas ATM—seorang pemuda berusia dua puluh enam tahun dengan kemeja kantor yang sudah menguning di bagian kerah dan mata yang cekung.
"Maaf, Pak. Saya... saya baru saja selesai," sahut Rizky pelan.
"Lain kali cek saldo di aplikasi saja, Mas. Kasihan yang antre," cetus pria itu sambil melangkah maju, bahunya menyenggol lengan Rizky dengan kasar.
Rizky tidak membalas. Ia melangkah keluar dari bilik kecil itu, langsung disambut oleh udara lembap Jakarta yang sebentar lagi akan tumpah menjadi badai. Langit sore itu berwarna abu-abu pekat, semasanya dengan masa depannya.
Hanya tujuh ribu perak. Pikirannya terus berputar pada angka itu. Pikirannya melayang pada ibunya di desa yang baru saja menelepon tadi pagi, menanyakan apakah dia punya sedikit uang untuk membeli obat darah tinggi. Saat itu, ia hanya bisa berbohong dan mengatakan bahwa gajinya sedang diproses.
"Bohong. Semuanya bohong," bisiknya pada rintik hujan yang mulai turun.
Ia mulai berjalan menyusuri trotoar Sudirman. Sepatu pantofelnya yang sudah jebol di bagian sol membuat air dingin langsung meresap ke dalam kaus kakinya yang tipis. Setiap langkah terasa seperti menyeret beban berton-ton.
Kenapa harus aku?
Kenapa hidup harus sekejam ini pada orang yang hanya ingin bertahan jujur?
Lampu merah di persimpangan berganti hijau bagi pejalan kaki. Rizky melangkah dengan kepala tertunduk, mengabaikan dunia di sekitarnya. Pikirannya penuh dengan wajah penagih utang, wajah ibunya, dan tumpukan surat peringatan dari kantor yang mengancam akan memecatnya jika kinerjanya tidak membaik.
Tiba-tiba, sebuah cahaya putih yang amat menyilaukan menghantam matanya dari samping.
TIIIIIIIIIIIIIIT!
Suara klakson yang memekakkan telinga merobek keheningan hujan. Sebuah sedan mewah berwarna hitam legam meluncur kencang, membelah genangan air di aspal dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
"Woi! Cari mati lu ya?!" teriak seseorang dari balik jendela yang terbuka sedikit.
Rizky terpaku. Kakinya seolah tertanam di aspal. Ia menatap lampu depan mobil yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari lututnya. Untuk sesaat, ia merasa kecewa karena mobil itu berhasil mengerem tepat waktu.
CIIIIIIIIIIT!
Sedan itu berhenti dengan sentakan hebat. Seorang pria muda dengan rambut klimis dan setelan jas jutaan rupiah keluar dari kursi pengemudi. Ia tidak peduli pada hujan yang langsung membasahi pakaian mahalnya.
"Lu punya mata nggak, hah?!" bentak pria itu, wajahnya merah padam karena amarah. "Liat nih! Gara-gara lu ngerem mendadak, bumper depan gue bisa lecet kalau kena trotoar! Lu tahu berapa harga mobil ini?!"
Rizky menatap pria itu dengan pandangan kosong. "Mungkin... mungkin lebih baik kalau Bapak tidak mengerem tadi."
Pria kaya itu tertegun sejenak. Ia melihat kehancuran total di mata Rizky, sebuah kekosongan yang membuat bulu kuduknya berdiri. Namun, kesombongannya lebih kuat. "Gila lu ya? Dasar gelandangan mental lemah! Kalau mau mati jangan bikin susah orang sukses! Lu sanggup ganti rugi kalau mobil gue kenapa-napa?"
"Saya punya tujuh ribu rupiah di rekening," jawab Rizky dengan suara datar, hampir robotik. "Bapak mau ambil semuanya?"
"Sialan! Dasar sampah!" Pria itu meludah ke aspal yang basah. "Mati saja sana di pinggir jalan! Sampah masyarakat kayak lu memang nggak pantas hidup di Jakarta!"
Pria itu membanting pintu mobilnya dan memacu kendaraannya pergi, menyisakan cipratan air berlumpur yang membasahi seluruh tubuh Rizky dari kepala hingga ujung kaki.
Rizky berdiri diam di tengah hujan yang kini turun dengan derasnya. Ia merasa dingin, sangat dingin, hingga tulang-tulangnya terasa ingin retak. Rasa lapar yang tadinya menusuk kini berubah menjadi rasa mual yang hebat.
"Aku bukan sampah..." bisiknya. Ia mencoba melangkah, tapi lututnya lemas.
Dunia di sekitarnya mulai berputar. Lampu-lampu gedung tinggi di Jakarta berubah menjadi garis-garis cahaya yang tidak beraturan. Ia jatuh berlutut di atas aspal yang kasar. Telapak tangannya tergores, tapi ia tidak merasakan sakit. Rasa sakit di hatinya sudah mematikan segalanya.
Ibu... maafkan Rizky...
Saat kesadarannya mulai meredup, sebuah suara mekanis yang dingin dan jernih tiba-tiba bergema, bukan di telinganya, melainkan langsung di dalam pusat otaknya.
Ding!
Kecocokan Inang Ditemukan.
Analisis Kondisi: Keputusasaan Ekstrem (99%). Ambisi Tersembunyi (100%).
Saldo Finansial Terdeteksi: Rp 7.420. Status: Memprihatinkan.
Rizky mencoba membuka matanya yang berat. Di depannya, di tengah rintik hujan, sebuah layar transparan berwarna biru neon muncul melayang, seolah membelah realitas.
"Apa... ini halusinasi?" igau Rizky, suaranya tenggelam oleh suara guntur.
Menginisialisasi Sistem Takdir Jutawan...
Memproses Integrasi Jiwa... 10%... 45%... 90%...
Selamat, Rizky. Anda telah dipilih untuk mengubah tatanan takdir. Dunia ini bukan lagi tempat Anda menderita, melainkan taman bermain Anda.
Misi Inisialisasi: Terima Takdirmu.
Hadiah: Pemulihan Vitalitas Instan dan Paket Awal 'Aura Penakluk'.
Apakah Anda bersedia menyerahkan nasib lama Anda yang menyedihkan untuk menjadi penguasa takdir yang baru? (Y/N)
Rizky merasakan sebuah tarikan kuat dari layar biru itu. Di sisa-sisa kesadarannya yang hampir hilang, ia melihat sebuah pilihan yang tak mungkin ia tolak. Hidupnya sudah berakhir di ATM tadi; kini, sesuatu yang lain sedang menunggunya.
"Ya..." bisik Rizky, tepat sebelum kegelapan total menelannya. "Aku terima."
Integrasi Selesai.
Selamat Datang, Tuan Muda Takdir.