

Puluhan tahun di ibu kota, Bagas berhasil membuat namanya diperhitungkan di dunia kuliner. Ia bahkan memimpin dapur restoran ternama dan meracik menu yang masuk ulasan media. Namun, matanya masih saja memancarkan kesedihan.
Bagas kehilangan istri dan anaknya dua puluhan tahun lalu. Segala capaian dalam kariernya menjadi seketika tak berarti ketika ia tiba-tiba teringat pada mereka.
Malam itu, setelah berganti pakaian dan meninggalkan restorannya, Bagas berjalan sendirian menyusuri trotoar.
Ia menghela napas, mencoba menikmati udara segar setelah seharian bergelut dengan asap dan panas dapur.
Tiba-tiba, sebuah tubuh kecil menabraknya.
Tubuh Bagas yang telah berusia empat puluh delapan tahun terdorong sedikit ke samping. Langkahnya terhenti, lamunannya buyar seketika.
“Maaf, Paman.”
Suara itu kecil. Jernih.
Bagas menoleh. Anak itu mungkin baru empat tahun. Rambutnya diikat dua, pipinya memerah tersengat matahari. Gaunnya sederhana berwarna pink muda. Di tangannya, terdapat boneka beruang kecil.
Gadis kecil itu membuat dada Bagas terasa sesak. Tak mungkin tidak, anak ini mengingatkannya pada putrinya yang dulu meninggal itu.
Gadis kecil itu sudah berlari menjauh sebelum Bagas sempat berkata apa pun.
“Ibu!” teriaknya ke seberang jalan.
Bagas refleks menoleh mengikuti arah teriakan itu.
Lampu lalu lintas dari arah lain masih hijau. Kendaraan melaju kencang.
Dada Bagas mencelos. Itu berbahaya. Namun, tubuhnya yang telah menua dan melemah oleh waktu, terlambat bereaksi.
Anak itu sudah menginjak aspal ketika sebuah mobil hitam meluncur dari tikungan dengan kecepatan tinggi.
Ban mencicit. Klakson panjang memekakkan telinga.
“Nak!”
Bagas berlari tanpa berpikir.
Tangannya mencapai tubuh kecil itu, mendorongnya sekuat tenaga, melemparkannya keluar dari jalur kendaraan.
BRAK!
Benturan keras menghantam sisi tubuh Bagas hingga membuatnya terlempar dan berguling di aspal. Dunia terasa berputar.
Orang-orang berteriak. Langkah kaki berlarian. Seseorang memanggil ambulans.
Di tengah kekacauan itu, Bagas mendengar sesuatu yang membuat bibirnya bergetar.
Tangis anak kecil.
Anak tadi masih hidup.
Bagas sudah tidak sanggup tersenyum. Namun, ia merasa lega. Suara tangis itu sudah cukup baginya.
Pandangan matanya menggelap. Suara-suara perlahan menjauh, seolah ditarik keluar dari dunia. Dalam gelap yang kian menelan kesadarannya, dua wajah muncul.
Seorang perempuan dengan senyum lembut, dan seorang anak kecil yang selalu memanggilnya ... ayah.
Riana dan Naya. Istri dan putri semata wayangnya.
Dua orang yang meninggalkannya terlalu cepat. Dan semua itu karena ulahnya. Dialah yang membuat mereka pergi.
Air mata menetes dari pelupuk matanya.
Maaf.
Satu kata yang tidak pernah sempat ia ucapkan ketika mereka masih hidup.
Cepat, gelap menelan semuanya.
~
Bagas membuka mata. Perlahan.
Bau kayu tua dan udara lembap mulai tercium. Langit-langit dengan retakan panjang di sudutnya, serta lemari reyot berdiri di sudut kamar mulai tampak jelas terlihat.
Tempat ini ....
Bagas menelan ludah.
Ia mengenal tempat ini. Kamar lamanya di desa. Rumah peninggalan orang tuanya yang telah lama ia jual setelah tragedi itu.
Bagas mengangkat tangannya. Kulitnya kencang, tidak ada keriput dan juga bercak usia.
Jantungnya berdetak lebih cepat. Segera, ia bangkit dari ranjang dan duduk di tepinya.
Ia menatap pantulan di cermin lemari. Seorang pria muda tanpa uban menatapnya balik.
Wajah itu terlalu familiar.
Wajah dirinya ketika masih berusia dua puluhan tahun.
“Ini ... tidak mungkin,” gumam Bagas pelan.
Ini terlalu nyata untuk sekadar mimpi. Sesaat ia berpikir bahwa ini mungkin akhirat, hukuman atau anugerah terakhir sebelum segalanya benar-benar berakhir.
Namun sebelum pikirannya melangkah lebih jauh, sebuah suara dari luar kamar membuat tubuhnya menegang.
Suara roda koper diseret di atas lantai semen. Kemudian, diikuti suara anak kecil.
“Bu, Ayah belum bangun?”
Darah Bagas seakan berhenti mengalir.
Suara perempuan menyahut, tertahan dan tegang. “Diamlah.”
Hari ini ... Bagas tahu hari apa ini. Yaitu hari ketika hidupnya runtuh.
Bagas bangkit dan membuka pintu kamar.
Riana berdiri di ruang tamu, satu tangan menggenggam koper. Wajahnya pucat, matanya sembab seperti kurang tidur semalaman. Di sampingnya, Naya berdiri sambil memeluk boneka usangnya.
Begitu melihat Bagas, Riana refleks menarik Naya ke belakang tubuhnya. Seolah-olah Bagas adalah ancaman.
Hati Bagas terasa diremas. Pandangan matanya turun, melihat memar kebiruan di pergelangan tangan Riana.
Dadanya berdenyut nyeri. Suara teriakan dan bunyi gelas pecah kembali menggema di kepalanya.
Satu kalimat yang pernah ia lontarkan dengan penuh amarah, kembali ia dengar. “Kalau tidak tahan, pergi saja!” Dan Riana benar-benar pergi hari itu.
Di hari itu pula, mobil yang Riana dan anaknya tumpangi tergelincir di tikungan basah menuju ibu kota.
Bagas mengembuskan napas berat.
Ia pernah berhenti berjudi. Pernah bekerja keras, menjadi pelayan, juru masak, hingga akhirnya sukses menjadi penulis novel online.
Namun sayangnya, semua itu terlambat.
Selama itu, secara wujud Bagas memang masih hidup. Namun jiwanya ... sudah sejak lama mati sendirian bersama hilangnya dua perempuan di hidupnya.
Akan tetapi, kali ini ia kembali ke hari itu, hari sebelum semuanya terlambat.
“Kau mau aku pergi, kan?” Suara Riana kembali terdengar, dingin.
Bagas menggeleng samar.
“Sekarang, kamu akan mendapatkan keinginanmu itu,” lanjut Riana. “Biarkan aku dan Naya pergi dengan tenang. Jangan sakiti kami lagi.”
Bagas melangkah maju. “Tidak, Riana.”
Riana dan Naya melangkah mundur.
Melihat hal itu, Bagas pun berhenti.
Tanpa suara, tanpa teriakan, dan tanpa tangan terangkat ia menjatuhkan diri. Lututnya menghantam lantai semen.
Riana tertegun.
“Maafkan aku,” ucap Bagas dengan suara serak. “Karena judi, aku menghabiskan uang kita. Aku menyakitimu ... juga Naya.”
Ia mendongak. Matanya basah, tetapi sorotnya jujur. “Beri aku satu kesempatan, Riana. Aku tidak mau kehilangan kalian.”
Naya menatap bingung ayahnya. Takut. Asing.
“Bangun,” katanya kemudian. “Jangan buat sandiwara.”
Bagas menegaskan. “Aku tidak bersandiwara.”
Riana jelas tidak percaya. Bagaimana mungkin lelaki yang semalam melempar gelas ke dinding, pagi ini berlutut dan meminta maaf?
“Aku tidak peduli kau kerasukan apa,” katanya lirih. “Aku sudah lelah ....”
Bagas menunduk. Ia bingung bagaimana harus meyakinkan Riana. Ia tahu, perbuatannya selama ini memang tidak pantas dimaafkan.
Namun, setelah itu Riana menghela napas keras. “Tapi jika kau memang serius mau berubah ....”
Bagas mengangkat wajahnya.
“Aku beri kau waktu satu minggu untuk membuktikannya,” lanjut Riana. “Jika dalam satu minggu kau tidak berjudi dan bisa mencari uang dengan benar, tidak membentak apalagi memukul ... maka aku tidak akan pergi.”
Ia menatap Bagas lurus.
“Tapi kalau kau gagal .... Jangan pernah halangi aku dan Naya pergi. Tidak akan ada kesempatan lagi untukmu.”
Bagas mengangguk cepat. “Iya ... iya, Riana. Aku berjanji.”
Lalu, dengan suara yang lebih rendah—ragu—ia berucap, “Terima kasih ....” Dua kata yang selama ini tidak sempat diucapkan kepada Riana.
Bagas mengepalkan tangannya.
Satu minggu.
Kesempatan terakhir.
~
Pagi itu, Bagas berdiri di depan rumah tua peninggalan orang tuanya. Ia menatap jalan desa yang lengang.
“Aku harus bekerja,” gumamnya.
Untuk saat ini, menulis tidak akan cukup cepat dalam menghasilkan uang. Ia tahu itu. Jadi, ia akan memakai satu keahlian lain yang pernah menyelamatkannya di masa tergelapnya dulu.
Memasak.
Dan di kota kecil ini, jika ingatannya benar, maka ada sebuah restoran besar yang baru saja dibuka.
Bagas tersenyum tipis. “Semoga jalan ini berhasil.”