

Angin malam berhembus dingin di puncak Gunung Arkaviel, gunung tertinggi di benua Atheria. Awan hitam berputar perlahan di langit, menutupi cahaya bulan yang biasanya menerangi lembah-lembah luas di bawahnya. Malam itu terasa berbeda—lebih sunyi, lebih berat, seolah-olah dunia sedang menahan napasnya.
Di puncak gunung itu berdiri seorang pria tua berjubah kelabu.
Namanya Arkhavel.
Ia dikenal di seluruh negeri sebagai Sang Nabi Terakhir—seorang peramal yang konon bisa melihat masa depan melalui penglihatan yang dikirim para dewa. Rambutnya panjang memutih seperti salju, dan janggutnya menjuntai hingga dada. Di tangannya ia memegang tongkat kayu kuno yang dihiasi batu kristal biru di ujungnya.
Arkhavel sedang menatap langit.
Namun malam ini, langit tidak menampilkan bintang.
Hanya kegelapan.
Tiba-tiba kristal di tongkatnya mulai bersinar.
Cahaya biru bergetar, lalu berubah menjadi merah menyala.
Arkhavel langsung terkejut.
“Tidak… tidak mungkin…” gumamnya lirih.
Tubuhnya bergetar.
Lalu penglihatan itu datang.
Ia melihat bumi yang terbakar.
Kota-kota runtuh seperti pasir diterjang badai. Istana-istana megah bangsa manusia hancur menjadi puing. Hutan-hutan suci para elf terbakar habis. Gunung-gunung tempat bangsa orc hidup retak dan runtuh.
Jeritan manusia, elf, dan orc memenuhi langit.
Dan dari langit yang robek…
sesuatu muncul.
Gerbang raksasa dari api hitam terbuka di angkasa.
Dari dalamnya keluar ribuan makhluk mengerikan—kulit hitam seperti arang, mata merah menyala seperti bara, taring panjang dan sayap kelam seperti bayangan malam.
Iblis.
Pasukan iblis yang tak terhitung jumlahnya turun ke bumi seperti hujan kematian.
Di antara mereka berdiri satu sosok yang jauh lebih besar.
Makhluk itu memiliki tanduk raksasa melengkung, sayap yang menutupi langit, dan pedang hitam sepanjang menara kastil.
Setiap langkahnya menghancurkan kota.
Setiap ayunan pedangnya memusnahkan pasukan.
Namanya terukir dalam api neraka.
MALAKAR.
Raja para iblis.
Arkhavel melihat dunia tenggelam dalam darah.
Namun di tengah kehancuran itu… ia melihat sesuatu yang aneh.
Seorang pemuda.
Pemuda itu berdiri di tengah medan perang, memegang pedang besar. Tubuhnya penuh luka, tetapi matanya menyala seperti api keberanian.
Di belakangnya berdiri pasukan dari tiga ras.
Manusia.
Orc.
Elf.
Untuk pertama kalinya dalam ribuan tahun, mereka berdiri bersama.
Pemuda itu mengangkat pedangnya ke langit dan berteriak:
“Dunia ini tidak akan jatuh selama aku masih berdiri!”
Lalu penglihatan itu menghilang.
Arkhavel tersentak dan jatuh berlutut di atas batu.
Napasnya berat.
Keringat dingin membasahi wajah tuanya.
“Ini… ini bukan sekadar penglihatan biasa…”
Ia menatap kristal tongkatnya yang kini berwarna merah gelap.
Itu pertanda yang sangat buruk.
Kristal itu hanya berubah warna seperti itu ketika masa depan dunia berada di ambang kehancuran.
Arkhavel berdiri perlahan.
Matanya penuh ketakutan… namun juga tekad.
“Jika ramalan ini benar… maka dunia hanya punya sedikit waktu.”
Ia menatap ke arah selatan.
Di sana berdiri kerajaan manusia terbesar di dunia.
Kerajaan Valdoria.
Tempat seorang raja yang memiliki kekuatan untuk mempersiapkan dunia menghadapi ancaman.
Arkhavel mengangkat tongkatnya.
“Raja Aldric harus mengetahui hal ini.”
Angin malam bertiup lebih kencang, seolah membawa pesan buruk ke seluruh dunia.
Namun jauh di dalam hatinya, Arkhavel tahu satu hal yang paling mengganggunya.
Dalam penglihatan itu…
pemuda yang memimpin tiga ras bukanlah raja.
Bukan jenderal.
Bukan pula pahlawan terkenal.
Pemuda itu adalah seseorang yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Seorang pemuda dengan darah dua ras mengalir di tubuhnya.
Setengah manusia.
Setengah orc.
Dan entah mengapa…
Arkhavel merasa takdir dunia sedang menunggu pemuda itu.
“Siapakah kau…?” bisiknya pada angin malam.
“Penyelamat dunia… atau awal kehancuran yang baru?”
Langit tiba-tiba bergemuruh.
Petir menyambar cakrawala.
Dan jauh di utara…
di kedalaman bumi yang gelap…
sesuatu mulai bergerak.
Gerbang kegelapan yang telah tertutup selama ribuan tahun…
perlahan mulai retak.
Kegelapan akan segera bangkit.
Dan dunia belum siap.