
SI PENCURI HATI
Mithavic Himura|Bersambung
- Jumlah kata
- 53.4K
- Popular
- 536
- Subscribe
- 49
- Jumlah kata
- 53.4K
- Popular
- 536
- Subscribe
- 49
Sinopsis
"Aku bisa merubah kehidupan burukmu ini menjadi sebuah kehidupan yang banyak dinantikan oleh semua orang, tapi ada syaratnya, Shinjo Zenshin Erlangga. Syaratnya adalah, kau harus memakan hati perempuan yang suka padamu, apakah kau bersedia?" Ketika hidupnya terpuruk karena ia dicelakai orang yang tidak suka dengannya hingga membuat wajahnya cacat dan hal itu membuat semua orang jijik memandangnya. Sebuah tawaran menggiurkan diterima oleh Shinjo Zenshin Erlangga. Hidup menyenangkan dengan wajah yang kembali sempurna tapi melakukan persyaratan yang tidak biasa, atau tetap bertahan dengan wajah buruk rupanya dan selalu dipandang hina semua orang. Shinjo diberikan dua pilihan tersebut.
Ulasan
3 ulasan
Zill Reta
12/3/26 21:30
Aku mampir ke sini untuk membaca, salut meskipun sedang tidak sehat penulisnya produktif, ditunggu kelanjutannya, ditunggu video visualnya, aku penasaran Dai Demon itu makhluk gaib atau iblis, hehe sukses untuk bukunya
PILIHANGracie Chanz
3/7/26 03:51
Bagus bukunya😎aku suka, ciri khas author ini dalam menulis yang aku suka, adat timur khas kita itu selalu dijunjung tinggi, pemain utamanya enggak murahan, keren
1. WAJAH SHINJO DIRUSAK!
"Wajahku! Ada apa dengan wajahku? Apa yang kau lakukan pada wajahku!!"
Teriakan Shinjo disambut oleh tawa mencemooh seorang pria memakai topeng. Pria itu melepas topeng yang menutupi wajahnya dan melangkah mendekati posisi di mana Shinjo berada.
"Kau selalu membanggakan wajah tampanmu ini, kan? Sekarang, apa yang kau banggakan sudah aku lenyapkan! Selamat datang di dunia barumu, Shinjo! Kau tahu, ini adalah hari yang selalu kunantikan! Membuatmu sengsara seumur hidup!"
Pria itu bicara demikian seraya menepuk pundak Shinjo yang terikat di kursi.
Mendengar suara itu, Shinjo sudah tahu siapa yang sedang bicara dengannya. Meskipun wajahnya yang disiram air keras membuat kedua matanya juga tidak bisa melihat lagi, telinganya masih bisa mengetahui siapa yang sudah bicara seperti itu padanya.
Shinjo berusaha untuk membuat tangannya yang terikat bisa bebas. Namun, semua itu percuma karena semakin ia membuat pergerakan, semakin kuat tali tersebut mengikatnya.
"Paul, apakah kau yang melakukan semua ini? Kau menculikku, setelah itu kau menyiram wajahku dengan air keras?" tanya Shinjo seolah tidak percaya bahwa Paul yang melakukan perbuatan itu padanya.
Paul adalah seseorang yang diberikan oleh ayahnya sebuah kepercayaan. Keluarga Shinjo adalah salah satu keluarga terkaya di Samarinda.
Ayah Shinjo adalah salah satu bos perkebunan sawit terbesar di pulau Kalimantan tersebut. Sedangkan Paul adalah seorang pekerja yang awalnya hanya bekerja kasar di perkebunan sawit milik ayah Shinjo.
Seiring waktu, ayah Shinjo sangat percaya pada Paul karena menurutnya Paul sangat patuh dan sangat baik dalam melakukan pekerjaannya.
Rasa percaya ayah Shinjo semakin besar, hingga Paul diberikan kepercayaan untuk mengelola perkebunan sawit milik keluarga Shinjo di daerah lain.
Paul awalnya sangat senang karena kehidupannya sangat berkecukupan dan disegani karena ia dipercaya oleh ayah Shinjo.
Sampai akhirnya, Paul merasa kesal saat ternyata ayah Shinjo meminta dirinya patuh dengan Shinjo padahal Shinjo lebih muda darinya. Sebagai orang yang merasa lebih tua, Paul tidak terima. Meskipun Shinjo anak atasannya, tetap saja ia menganggap Shinjo anak kemarin sore yang seharusnya tidak perlu dipatuhi olehnya yang menurutnya lebih berpengalaman dalam mengelola perkebunan sawit.
Rasa kesal Paul semakin besar ketika makin beranjak dewasa, Shinjo semakin menarik perhatian kaum hawa.
Semua perempuan yang dijadikan target Paul untuk dijadikan kekasih, selalu menitip salam pada Shinjo tapi tidak ada satu pun yang ditanggapi oleh Shinjo hingga Paul muak lantaran berpikir Shinjo seperti itu untuk menghinanya.
Lalu pada akhirnya, Paul merencanakan penculikan untuk Shinjo dan merusak wajah Shinjo dengan air keras yang sudah jauh-jauh hari disediakannya.
Shinjo yang tidak menyangka orang yang dianggapnya baik ternyata manusia seburuk itu terkecoh lalu akhirnya masuk perangkap. Sampai kemudian, ia berakhir terikat di kursi itu, dengan wajah yang rusak karena air keras yang disiramkan Paul pada wajahnya.
"Ya. Aku Paul Anderson. Orang yang sangat dipercaya oleh ayahmu, Shinjo. Tapi mulai sekarang, hidup kalian akan aku buat terbalik. Jika dahulu aku di bawah kalian. Sekarang, aku yang di atas kalian! Aku pergi dulu. Jika kau beruntung kau bisa selamat dan ke rumah sakit untuk pengobatan wajahmu itu. Tapi, jika kau tidak beruntung kau akan mati di sini dengan mayat tanpa wajah!"
Panjang lebar Paul mengucapkan kalimat tersebut pada Shinjo. Ia tidak peduli Shinjo yang merasa kesakitan karena apa yang dilakukannya pada wajah pemuda berusia 25 tahun tersebut.
Hatinya puas melihat betapa wajah Shinjo rusak parah akibat air keras yang disiramkannya pada wajah Shinjo.
Pria bertubuh tinggi besar itu melangkah meninggalkan Shinjo yang semakin lama semakin tidak bisa bertahan dari rasa sakit yang menyerang wajahnya.
Sebisa mungkin Shinjo meminta Paul untuk melepaskannya. Namun, Paul tidak lagi menanggapi karena pria itu sudah pergi meninggalkan Shinjo begitu saja di kursi dalam keadaan terikat seperti tadi.
Tidak! Aku tidak boleh mati! Paul pasti akan melakukan sesuatu pada ayah dan ibuku! Aku harus cepat kembali ke rumah!
Saat Shinjo sudah merasa tidak berdaya karena rasa sakit yang diterimanya, sebuah kesadaran merasuk di benaknya. Ia tidak boleh menyerah begitu saja.
Kesadaran itu menumbuhkan semangat Shinjo untuk bertahan. Memikirkan kedua orang tuanya, Shinjo berjuang untuk melepaskan diri dari tali yang mengikat tubuhnya.
Sampai kemudian, sebuah aroma tercium di hidungnya. Aroma wangi yang aneh. Dikatakan aneh karena saat mencium aroma itu, sekujur tubuh Shinjo meremang.
"Siapa yang datang?" tanya Shinjo sembari berusaha untuk mengandalkan telinganya saja untuk mendeteksi pergerakan di depannya, jika memang ada seseorang yang datang di tempat ia sekarang tersekap.
Tidak ada sahutan. Namun, aroma itu semakin santer tercium di hidung mancung Shinjo.
"Tolong. Siapapun, kau. Tolong aku. Aku berjanji jika kau mau menolongku, akan kuberikan uang yang banyak untukmu!"
Kembali Shinjo bersuara. Meskipun tadi pertanyaannya tidak dijawab oleh siapapun. Matanya yang sekarang tidak bisa melihat lagi karena air keras itu benar-benar tidak mampu melihat apa pun walau hanya sedikit pergerakan saja.
Shinjo yakin jika ia tidak cepat ke rumah sakit, kedua matanya akan buta selamanya.
"Aku tahu kau ada di sekitar tempat ini. Siapa pun dirimu, tolonglah aku. Aku harus cepat ke rumah sakit. Aku tidak mau mati sekarang. Bisakah kau menolongku. Lepaskan ikatan ini dan bantu aku ke klinik terdekat untuk bisa mendapatkan pertolongan?!"
Tidak mau menyerah begitu saja, Shinjo kembali bicara karena ia yakin di hadapannya sekarang ada seseorang. Aroma itu adalah acuan Shinjo untuk membuktikan bahwa ia sekarang tidak sendiri di tempat tersebut.
Tidak ada pergerakan memang tertangkap pendengarannya. Namun, Shinjo sangat yakin ia sekarang tidak sendiri lagi setelah ditinggalkan begitu saja oleh Paul.
"Kematian adalah sesuatu yang tidak bisa ditunda. Kau memang harus mati dalam keadaan mengenaskan."
Sebuah suara terdengar di telinga Shinjo. Suara itu sangat dingin dan datar. Harusnya Shinjo ketakutan karena suara tersebut. Namun, mendengar ada orang lain di tempat ia sekarang diculik, Shinjo bukannya merasa takut.
Ia justru merasa senang dan memilki harapan untuk berusaha bertahan hidup jika orang itu berhasil dibujuknya untuk menolongnya.
"Tuan, tolong aku. Apa pun yang kau inginkan, aku akan memenuhinya. Aku punya banyak uang. Tolong bawa aku pergi dari tempat ini."
Sekali lagi Shinjo bicara. Berharap kali ini ia bisa membuat seseorang beraroma tidak biasa itu mau tersentuh lalu bersedia menolongnya.
Di tempat terpencil seperti sekarang. Shinjo tidak bisa mengharapkan bantuan orang lain. Jika ada seseorang yang datang menemukannya, Shinjo akan berusaha meminta pertolongan itu sebisa mungkin. Begitulah yang dipikirkan oleh Shinjo sekarang.
Akan tetapi, alangkah terkejutnya Shinjo ketika tiba-tiba saja, lehernya disentuh oleh sesuatu yang sangat runcing.
Bukan hanya disentuh, tapi juga ujung runcing itu menusuk permukaan kulit lehernya hingga Shinjo mengernyit menahan sakit karena ia merasa lehernya semakin dalam ditusuk!
Daftar bab
51 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








