

"Penggal kepalanya!" Teriak seorang pria dengan suara berat, namun tanpa ekspresi.
Pria itu adalah Kaisar kerajaan langit, memerintahkan seorang algojo untuk memenggal kepala seorang Jendral yang baru saja pulang dari medan perang.
"Paduka Raja, apa salah hamba?" teriak Sang Jendral seraya meronta mencoba melepaskan diri dari cengkraman kedua pria bertubuh besar yang mengapitnya.
Bukannya memberi jawaban, Kaisar justru mengibaskan tangannya, memberi isyarat agar perintah itu segera dilaksanakan.
Jendral Bisana terus saja meronta minta pengampunan. Juga menuntut alasan hukuman yang dijatuhkan padanya. Dia baru saja pulang dari medan perang, dia bahkan masih memakai baju zirah miliknya yang berlumuran darah. Bukannya mendapat penghargaan atas kemenangannya, Sang Jendral justru mendapat hukuman penggal tanpa alasan yang jelas.
"Kau masih tanya apa kesalahanmu? Bisana! Kau itu orang licik dan munafik. Tak layak menjadi orang kepercayaan Kaisar. Keluargamu sudah lebih dulu dipenggal karena kesalahanmu. Sekarang giliran kau terima hukuman!" ucap pria yang berdiri di samping singgasana Kaisar.
Tubuh Jendral Bisana sudah telungkup di atas bangku yang terbuat dari papan. Bukan hanya kaki dan tangannya, tubuhnya juga sudah terikat kuat. Dia mendongak, matanya menyipit, menatap wajah Kaisar yang selama ini dia layani dengan segenap jiwa raga.
Kaisar bahkan membuang pandangannya, seolah tak sudi menatap pria yang sudah mengorbankan nyawa untuknya dua tahun lalu, saat Kaisar berburu. Kaisar diserang oleh sekelompok orang tak dikenal. Untung Jendral Bisana datang tepat waktu dan Kaisar selamat. Meski Jendral Bisana hampir mati karena mendapat beberapa tusukan di perutnya.
Semua kebaikan, bahkan pengorbanannya seolah luruh . Terhapus oleh hujan semalam. Dihadapan pasukannya, Jendral Bisana dipenggal atas perintah Kaisar.
Dinginnya papan eksekusi di bawah lehernya, nyatanya berbanding terbalik dengan amarah yang membeku di dalam hatinya. Di sela napasnya yang memburu, Jendral Bisana tak lagi merasa takut. Ketakutan itu telah mati bersama dengan kabar pembantaian keluarganya. Sekarang yang tinggal di pembuluh darah hanyalah amarah yang menghitam.
Suasana menjadi hening saat kapak besar nan mengkilat itu akan diayunkan ke leher Jendral Bisana. Pria bertubuh kekar itu justru mengedarkan pandangannya, merekam wajah setiap orang yang telah membuatnya merasakan ketidak adilan ini. Termasuk Kaisar yang tengah duduk di singgasana dengan gagah.
Dalam hati Jendral Bisana bersumpah, " Demi darah keluargaku di tanah ini, aku bersumpah... Aku akan kembali meskipun harus merangkak dari neraka. Jika akhirat menolakku karena amarah ini, maka aku akan lahir kembali menjadi kutukan yang akan menghantuimu dan juga keturunanmu!"
Craaas!!
Lepasnya kepala Sang Jendral dari tubuhnya diiringi isak tangis dari pasukannya. Tubuh remuk mereka bercampur dengan hati yang hancur karena kehilangan sosok panglima perang yang mereka segani.
Rasa dingin pedang yang menebas leher Jendral Bisana kini tiba-tiba berubah menjadi sensasi tersedak yang luar biasa. Jendral Bisana menghirup oksigen dengan rakus, seolah-olah paru-parunya baru saja diciptakan kembali. Dia tidak lagi merasakan dinginnya meja eksekusi, melainkan lantai marmer yang dingin dan licin. Bau anyir darah dan debu yang tersiram air hujan kini berubah menjadi bau mi instan yang tumpah di dekat kepalanya.
"Dimana ini? Aku belum mati?" bisiknya. Suaranya terdengar lemah dan bergetar. Matanya bergerak liar memindai seluruh ruangan. Ruangan sempit yang asing, sangat berbeda dengan kamar di gubug miliknya.
Dia coba mengingat, hal terakhir yang membekas dalam ingatannya adalah dia dihukum oleh Kaisar di hadapan prajuritnya, tanpa tahu apa kesalahan yang sudah diperbuatnya. Dia mengepalkan tangannya saat kilatan memori tentang nasib keluarganya yang dibantai oleh Kaisar.
Dia mencoba berdiri, dan segera terhuyung. Tubuhnya saat ini terasa sangat ringkih dan lemah tanpa otot. Dia merangkak menuju cermin. Matanya membelalak saat melihat wajahnya melalui pantulan cermin. Bukan wajah penuh luka perang miliknya, melainkan pria asing dengan perut bulat. Berwajah pucat, bermata sayu dan tampak bodoh. Terdapat beberapa luka di tangannya.
"Makhluk mengerikan apa ini?" pekik Bisana tak percaya seraya memukul cermin.
Seketika gelombang ingatan menghantam kepalanya bagai gada perang. Ingatan milik si pemilk tubuh yang bernama Sagara, putra tidak sah dari Milyarder pemilik Utama Grup. Ingatan asing itu merayap ke dalam otaknya. Pria yang selalu dirundung dan manusia yang dianggap sampah oleh saudara tirinya. Sagara juga kerap kali mengalami penyiksaan dari mereka.
Bisana mencengkeram kepalanya yang terasa berdenyut nyeri. "Argh! Sial! Ternyata Tuhan sedang mempermainkanku! Kenapa mengirimkanku pada jiwa yang lebih rendah daripada budak," keluh Bisana.
Bisana belum bisa mencerna apa yang terjadi padanya dan si pemilik tubuh, pintu kamarnya dibuka oleh seseorang. Membuat Bisana mendongak menatap pria paruh baya yang berdiri diambang pintu dengan wajah datar. Kemudian melemparkan sebuah paper bag yang berisi pakaian.
"Pakai itu. Sebentar lagi ada orang yang datang jemput. Sebaiknya jangan buat dia menunggu. Orang rendahan sepertimu nggak layak membuang waktu orang yang sangat berharga." Pria paruh baya itu kemudian menutup pintu dengan keras.
"Aku berada di dunia macam apa ini? Dan apa yang sebenarnya terjadi pada diriku?" gumam Bisana pada dirinya sendiri.
***
Bisana yang terjebak di tubuh gempal Sagara tiba di sebuah hotel mewah di kota Riverside dengan mengenakan setelan jas berwarna hitam. Kemeja putihnya hampir meledak, terlihat dari kancing-kancingnya yang terlihat tegang. Belum genap sehari berada di tubuh Sagara, Bisana sudah merasa mual. Apalagi dengan perutnya yang bulat. Sangat berseberangan dengan dirinya yang seorang panglima perang.
Hari ini adalah hari dimana Sagara menghadiri jamuan makan malam. Sebuah acara rutin untuk Sagara dihina oleh kakak tirinya. Agar anak sah dari ayahnya terlihat lebih mulia.
Bisana melangkah memasuki ruang makan yang megah itu dengan langkah yang berbeda. Langkahnya tegap dengan dagu terangkat. Menunjukan kesan Sagara yang sangat berbeda.
"Oh, lihat siapa yang datang ini!" Suara bariton yang terdengar sombong menyambutnya. Pemilik suara itu adalah Tera—putra sulung Utama yang duduk di ujung meja seraya memegang gelas kristal berisi wine. "Si bodoh ini ternyata baru bangun dari mimpi indahnya," lanjutnya yang dibarengi dengan tawa mengejek.
Bisana tidak membalas. Matanya menyapu seluruh ruangan. Memindai satu persatu orang yang berada di ruangan tersebut. Tidak ada potongan ingatan yang muncul mengenai siapa orang yang dia temui kali ini. Yang dia tahu hanya sosok Tera adalah kakak tiri si pemilik tubuh.
Merasa tersinggung dengan sikap Bisana yang seolah mengabaikan Tera, pria itu kemudian berdiri. Setengah berlari ke arah Bisana yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri, kemudian menyiramkan wine ke wajah Bisana.
Tidak hanya itu, Tera juga mencengkram jas Bisana, menunjukan kekuasaannya. "Kau berani mengabaikanku?!" geram Tera. Matanya melotot seperti akan keluar dari tempatnya.
Bisana membalas tatapan Tera, membuat mata pria itu berkedut. Ada aura dingin yang membuatnya bergetar. Jika biasanya Sagara akan menunduk ketakutan saat melihatnya, namun kali ini Tera merasa ada yang berbeda dengan adik tirinya itu. Selain tatapannya berubah, juga tidak ada ketakutan dalam diri Sagara.
Bisana melepaskan cengkraman Tera, seraya berkata, "Kau tahu, di tempatku, sembarangan memegang seorang Jendral, bisa kehilangan kedua tangannya. Apa kau mau merasakannya?"