Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Jejak Tak Terlihat

Jejak Tak Terlihat

Elara Senja | Bersambung
Jumlah kata
34.5K
Popular
100
Subscribe
2
Novel / Jejak Tak Terlihat
Jejak Tak Terlihat

Jejak Tak Terlihat

Elara Senja| Bersambung
Jumlah Kata
34.5K
Popular
100
Subscribe
2
Sinopsis
PerkotaanSupernaturalDunia GaibSpiritualMisteri
Budi adalah pemuda biasa yang bekerja keras sebagai kurir di Jakarta demi membantu ekonomi keluarganya. Kehidupannya berubah total saat sebuah kecelakaan motor membuatnya koma selama tiga hari. Saat terbangun, ia menyadari bahwa ia bisa menghilang hanya dengan memikirkannya. Awalnya ketakutan, Budi perlahan mulai memanfaatkan kekuatannya untuk hal-hal sederhana: menghindari bos yang galak, membantu tetangga yang kecurian, hingga mencari tahu rahasia kecil di lingkungannya. Namun, kekuatan itu datang dengan tanggung jawab dan risiko yang mulai mengusik ketenangan hidup sederhananya.
1. Hari yang Sial

"Budi! Mau sampai kapan kau main-main di jalanan, hah?" Suara melengking Pak Doni dari seberang telepon nyaris membuat gendang telinga Budi pecah.

Budi menjepit ponselnya di antara bahu dan helm yang terasa semakin berat. Tangannya sibuk menahan keseimbangan motor matic tua yang gemetar di tengah kemacetan Jalan Gatot Subroto. "Maaf, Pak. Ini macetnya total. Ada perbaikan jalan di depan."

"Alasan terus! Lu tahu tidak, itu paket Pak Subroto isinya dokumen penting! Kalau jam dua belum sampai di mejanya, jangan harap bonus bulan ini turun. Paham?"

"Paham, Pak," sahut Budi pelan.

"Jangan cuma paham-paham saja! Kerja yang bener! Lu pikir cari uang gampang di Jakarta?" *Klik.* Sambungan terputus secara sepihak.

Budi menghela napas panjang, menghirup kepulan asap knalpot bus kota yang tepat berada di depannya. Panas matahari siang itu seolah menembus jaket hijaunya yang sudah kusam. Keringat mengalir deras dari pelipis, masuk ke mata, dan menciptakan rasa perih yang menjengkelkan. Ia menyeka wajahnya dengan punggung sarung tangan yang kasar.

"Sabar, Bud. Sabar. Demi Ibu," bisiknya pada diri sendiri.

Di sampingnya, seorang pengendara motor lain yang tampak sama lelahnya menoleh. "Sama, Mas? Bos ngamuk juga?"

Budi memaksakan senyum tipis di balik kaca helmnya yang baret. "Begitulah, Bang. Kejar setoran."

"Dunia emang makin gila, ya? Kita yang mati-matian di jalan, mereka yang tinggal teriak-teriak di ruangan AC," gerutu pria itu sambil menggeber gas motornya saat lampu hijau menyala.

Budi segera melaju, menyelip di antara celah sempit mobil-mobil yang saling berhimpitan. Pikirannya melayang pada lembaran resep obat ibunya yang terselip di dompet. Harganya terus naik setiap bulan, sementara gajinya sebagai kurir hanya cukup untuk bernapas pendek-pendek.

Sesampainya di sebuah kompleks perkantoran mewah, Budi bergegas turun. Ia membawa sebuah kotak berbungkus plastik cokelat dengan sangat hati-hati.

"Permisi, Pak. Paket untuk Pak Subroto dari PT Sentosa," ucap Budi pada satpam di lobi.

Satpam itu menatap Budi dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan pandangan meremehkan. "Taruh di sana saja. Biar nanti kurir internal yang antar ke atas."

"Tapi Pak, ini diminta langsung sampai ke tangan beliau sebelum jam dua. Sekarang sudah jam satu lewat empat puluh lima menit," protes Budi halus.

"Aturannya memang begitu, Mas. Kurir luar dilarang naik ke lantai atas. Sudah, taruh saja di meja itu." Satpam itu kembali asyik dengan ponselnya.

Budi terdiam sejenak. Ia melihat arlojinya yang retak. Hatinya mencelos. Jika paket ini tertahan di lobi dan Pak Subroto tidak menerimanya tepat waktu, Pak Doni tidak akan segan-segan memotong gajinya. Namun, berdebat dengan satpam ini hanya akan membuang waktu.

"Tolong ya, Pak. Ini benar-benar penting," kata Budi sekali lagi, mencoba mengetuk pintu simpati pria berseragam itu.

"Iya, iya! Nanti diantar. Cerewet banget sih!"

Budi berjalan keluar dengan perasaan tidak tenang. Ia kembali ke motornya, meneguk sisa air mineral yang sudah terasa hangat karena terpapar matahari. Kepalanya mulai berdenyut. Efek kurang tidur dan melewatkan makan siang mulai terasa.

Ponselnya bergetar lagi. Sebuah pesan singkat dari ibunya muncul di layar. *Bud, obat Ibu habis sore ini. Kalau belum ada uangnya tidak apa-apa, Ibu masih kuat kok.*

Hati Budi seperti diremas. Ia tahu ibunya berbohong. Ia tahu ibunya sering menahan sakit di dada agar tidak membebaninya.

"Harus cepat," gumamnya.

Ia menghidupkan mesin motor. Ada lima paket lagi yang harus dikirim ke daerah Jakarta Selatan. Budi memacu motornya lebih kencang dari biasanya. Ia melewati gang-gang sempit, mencoba mencari jalan tikus untuk menghindari kemacetan yang semakin menggila menjelang sore.

Di sebuah pertigaan yang cukup sepi, Budi melihat sebuah warung kecil di pinggir jalan. Aroma nasi uduk menyeruak, mengingatkannya pada Sari, gadis penjual nasi uduk di dekat kontrakannya yang selalu memberinya porsi lebih.

"Mas Budi! Kok buru-buru banget?" teriak seorang pemuda yang sedang duduk di warung itu. Ternyata itu kawan lamanya, dika.

Budi hanya melambaikan tangan tanpa mengerem. "Lagi ngejar waktu, Dik! Duluan ya!"

"Hati-hati, Bud! Jalanan lagi licin habis hujan tadi!" seru Dika.

Budi tidak terlalu memedulikan peringatan itu. Fokusnya hanya satu: menyelesaikan pengiriman hari ini dan membawa pulang uang untuk obat ibunya. Ia membelah jalan raya dengan kecepatan tinggi, menyalip truk kontainer dengan perhitungan yang sangat tipis.

"Ayo, Bud. Dikit lagi. Satu gang lagi dan sampai," ia menyemangati dirinya sendiri, meski pandangannya sesekali sedikit kabur karena pening.

Ia memasuki sebuah jalan yang menurun tajam. Di ujung jalan itu, sebuah tikungan buta menantinya. Tiba-tiba, dari balik tembok sebuah rumah besar, seekor kucing hitam melompat ke tengah jalan.

"Astagfirullah!"

Budi secara refleks menarik tuas rem sedalam-dalamnya. Roda motornya terkunci, berdecit keras di atas aspal yang masih lembap. Motor matic itu kehilangan kendali, bergoyang ke kiri dan ke kanan dengan liar.

Budi berusaha keras menyeimbangkan berat tubuhnya, tapi sudah terlambat. Ia membanting stang ke arah berlawanan untuk menghindari kucing itu. Di saat yang bersamaan, sebuah mobil SUV hitam melaju kencang dari arah berlawanan, mencoba menyalip sebuah angkot tanpa melihat ada motor yang datang dari arah depan.

Semuanya seolah berjalan dalam gerak lambat.

Budi melihat lampu depan mobil itu menyilaukan matanya. Ia mendengar bunyi klakson yang panjang dan memekakkan telinga. Ia sempat melihat wajah pengemudi mobil itu yang tampak panik, menjerit di balik kaca jendela yang tertutup rapat.

*Brakkk!*

Benturan keras itu tak terelakkan. Tubuh Budi terlempar dari jok motor, melayang di udara sebelum akhirnya menghantam kaca depan mobil tersebut. Kaca itu retak seribu, suaranya seperti kristal yang pecah berkeping-keping.

Dunia seolah jungkir balik. Budi merasakan tubuhnya terhempas kembali ke aspal dengan bunyi berdebam yang mengerikan. Ia terseret beberapa meter, jaket dan kulitnya terkoyak oleh kasarnya permukaan jalan. Motornya hancur, tergeletak beberapa meter darinya dengan mesin yang masih mengerang kecil sebelum akhirnya mati total.

Keheningan yang menyesakkan menyelimuti tempat itu selama beberapa detik.

Budi mencoba menggerakkan jarinya, tapi rasanya seperti lumpuh. Seluruh sendinya seolah terlepas dari tempatnya. Rasa nyeri yang teramat sangat mulai menjalar dari punggung hingga ke kepala, membuatnya ingin berteriak, namun suaranya tertahan di tenggorokan yang terasa penuh dengan cairan kental berbau anyir.

"Tolong...," bisiknya parau.

Ia melihat bayangan mobil SUV itu berhenti sejenak. Pintunya tidak terbuka. Tidak ada yang keluar untuk menolong. Sebaliknya, mesin mobil itu kembali menderu, bannya berputar cepat menciptakan suara decitan di aspal, lalu melesat pergi meninggalkan lokasi kejadian. Hit-and-run. Tabrak lari.

Budi terengah-engah. Napasnya terasa pendek dan berat. Ia mencium aroma bensin yang bercampur dengan bau tanah basah dan aroma besi dari darahnya sendiri yang mulai menggenang di bawah kepalanya.

Pandangannya mulai mengabur. Langit sore Jakarta yang semula berwarna jingga kemerahan perlahan-lahan meredup, berubah menjadi abu-abu, dan akhirnya menghitam sepenuhnya di tepian penglihatannya.

Ia teringat ibunya. Ia teringat obat yang belum sempat ia beli. Ia teringat Sari yang mungkin sedang menunggunya mampir untuk sekadar bertukar cerita.

"Ibu ... maafin Budi ...."

Suara-suara di sekitarnya mulai terdengar jauh dan samar. Seseorang berteriak di kejauhan. Langkah kaki yang berlari mendekat. Sirene yang meraung-raung dari kejauhan. Tapi semua itu terasa seperti mimpi yang semakin menjauh.

Budi merasakan dingin yang luar biasa mulai merayap dari ujung kakinya, menjalar ke seluruh tubuh. Kesadarannya seperti lilin yang tertiup angin kencang, berkedip lemah sebelum akhirnya padam sepenuhnya dalam kegelapan yang sunyi.

Lanjut membaca
Lanjut membaca