

Terminal bus Ambono beraroma solar dan debu kering. Simon Santoso turun dari bus antar kota dengan satu tas ransel kusam yang talinya hampir putus. Ia menyeka keringat di dahi, menatap deretan gedung pencakar langit yang tampak seperti taring raksasa yang siap menelan siapa saja.
Di saku celananya, sebuah cincin berbahan logam hitam legam terasa dingin menyentuh kulit pahanya. Cincin Naga Hitam. Warisan terakhir ayahnya sebelum meninggal di desa. Bersamaan dengan itu, sebuah bisikan samar, Mantra Maung Bodas, seperti terus berdenyut di belakang kepalanya, menunggu waktu yang tepat untuk dilepaskan.
"Woi, kalau jalan pakai mata!"
Seorang pria berseragam petugas terminal menyenggol bahu Simon dengan kasar. Simon terhuyung, namun ia tidak melawan. Ia hanya menunduk, menyembunyikan sorot matanya yang masih tampak polos.
"Maaf, Pak," ucap Simon singkat.
Pria itu meludah ke aspal, tepat di depan sepatu kets Simon yang sudah bolong di bagian depan. "Dasar gembel desa. Baru sampai sudah bikin sempit jalanan."
Simon tidak membalas. Ia terus berjalan menuju pintu keluar terminal. Tujuannya hanya satu: alamat yang diberikan oleh Bima, teman masa kecilnya yang sudah lebih dulu mengadu nasib di kota ini.
Saat ia sedang melihat peta di ponsel retaknya, sebuah mobil sedan mewah berhenti tepat di depan trotoar, menghalangi jalannya. Kaca mobil turun perlahan. Seorang wanita dengan kacamata hitam besar menatapnya dari balik kemudi.
Itu Rina Mahendra. Mantan kekasihnya saat masih di sekolah menengah.
"Simon? Benar ini kamu?" Rina melepas kacamata hitamnya. Matanya memindai Simon dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan meremehkan.
Simon terpaku sejenak. "Rina."
Rina tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat merendahkan. "Ya ampun, Simon. Ternyata kamu masih sama seperti dulu. Masih kumal, masih kelihatan susah. Sedang apa kamu di Ambono? Mau jadi kuli bangunan?"
"Aku cari kerja," jawab Simon datar.
"Dengar, Simon. Kota ini bukan tempat untuk orang yang cuma punya modal sabar. Di sini, kalau kamu tidak punya uang atau kuasa, kamu itu cuma debu. Lebih baik kamu pulang ke desa sebelum kota ini menghancurkanmu."
Tepat saat itu, seorang pria muda berjas rapi muncul dari sisi lain mobil. Kevin Hartanto. Ia merangkul bahu Rina dengan posesif.
"Siapa ini, Sayang? Pengemis baru?" tanya Kevin sambil tersenyum sinis.
"Cuma orang dari masa lalu yang tidak penting, Kevin. Ayo jalan, kita sudah terlambat ke pertemuan kolektor," ujar Rina sambil menaikkan kembali kaca mobilnya.
Mobil itu melesat pergi, meninggalkan debu jalanan yang mengenai wajah Simon.
Dada Simon berdenyut kencang. Bukan karena sedih, tapi karena amarah yang mulai mendidih. Di dalam saku celananya, Cincin Naga Hitam tiba-tiba terasa panas. Energi dingin mulai merambat dari jari tengahnya, menjalar ke seluruh aliran darah.
Gunakan energinya, Simon... Tunjukkan siapa predator sebenarnya.
Suara itu bergema di batinnya. Simon mengepalkan tangan. Aura di sekitarnya mendadak berubah berat. Seorang preman terminal yang tadinya berniat mencopet tas Simon tiba-tiba berhenti di jarak dua meter. Preman itu berkeringat dingin, merasakan tekanan mental yang luar biasa kuat meski Simon hanya berdiri diam.
Insting predator Simon mulai bekerja. Ia bisa merasakan rasa takut preman itu, kegelisahan orang-orang di sekitar, dan kekacauan emosi di terminal ini. Ia menarik napas dalam, meredam gejolak mantra yang mulai bangkit di dadanya. Belum saatnya.
Simon melanjutkan perjalanan hingga sampai di sebuah penginapan kelas bawah di pinggiran kota. Bangunannya tua dengan cat yang sudah mengelupas. Di depan pintu, seorang wanita dewasa dengan pakaian yang cukup berani sedang merokok sambil memperhatikan orang lewat. Ratna Dewi.
"Mau sewa kamar, Dek?" tanya Ratna. Suaranya serak-serak basah, matanya menatap Simon dengan penuh selidik, namun ada binar ketertarikan di sana.
"Iya, Mbak. Yang paling murah," sahut Simon.
Ratna mendekat. Ia bisa mencium aroma maskulin yang sangat kuat dari tubuh Simon, sesuatu yang tidak biasa untuk pemuda yang terlihat miskin. Ia mengembuskan asap rokoknya ke arah Simon, mencoba menggoda.
"Kamar paling murah di sini agak sempit. Tapi kalau kamu pintar membawa diri, Mbak bisa beri pelayanan ekstra," ujar Ratna sambil menyentuh dada Simon dengan ujung jarinya.
Simon menatap mata Ratna dengan tajam. Sesaat, mata Simon tampak berkilat hitam. Ratna tersentak, tangannya gemetar pelan. Ia merasa seperti sedang berhadapan dengan seekor macan yang sedang menyamar.
"Cukup berikan kuncinya, Mbak," kata Simon dengan nada rendah yang mendominasi.
Ratna menelan ludah. Ia yang biasanya bisa mengendalikan laki-laki mana pun di penginapan ini, tiba-tiba merasa tunduk. Tanpa banyak bicara, ia memberikan kunci kamar nomor 07.
"Lurus, belok kanan. Kalau butuh apa-apa, cari saja Mbak di kantor depan," ucap Ratna dengan nada yang jauh lebih sopan dari sebelumnya.
Simon mengambil kunci itu dan berjalan menuju kamarnya. Kamar itu hanya berisi satu kasur tipis dan sebuah meja kecil. Ia duduk di pinggir tempat tidur, lalu mengeluarkan Cincin Naga Hitam ke atas telapak tangannya.
"Rina, Kevin... Ambono akan mengingat namaku," gumam Simon.
Ia mulai merapalkan Mantra Maung Bodas. Aura putih tipis mulai menyelimuti tubuhnya, memperbaiki sel-sel ototnya yang lelah dan memperkuat struktur tulangnya. Luka lecet di kakinya menutup dalam hitungan detik.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Bima masuk.
Mon, malam ini ada lowongan jadi tukang parkir dan keamanan tambahan di Toko Emas Wijaya. Manager-nya lagi butuh orang cepat. Kamu mau coba? Namanya Bu Clara, orangnya agak galak, tapi gajinya lumayan.
Simon menatap layar ponselnya. Toko Emas Wijaya. Tempat yang sempurna untuk memulai pergerakan. Ia butuh akses ke kalangan elite, dan emas adalah pintu masuk yang bagus.
Ia bangkit berdiri, menatap cermin buram di sudut kamar. Wajahnya masih sama, namun sorot matanya sudah tidak lagi menunjukkan seorang pecundang dari desa. Ada otoritas yang mulai tumbuh di sana.
Simon keluar dari penginapan. Ratna yang masih duduk di depan memperhatikannya dengan tatapan penuh nafsu dan rasa penasaran. Simon mengabaikannya dan berjalan menuju alamat yang diberikan Bima.
Sesampainya di Toko Emas Wijaya, suasana tampak tegang. Beberapa pria berbadan besar sedang beradu argumen dengan seorang wanita cantik berstelan blazer hitam yang sangat rapi. Clara Wijaya.
"Saya sudah bilang, keamanan di sini tidak becus! Bagaimana bisa maling masuk ke area brankas semalam?" suara Clara terdengar dingin dan tegas.
"Maaf, Bu Clara. Mereka sangat profesional, kami kalah jumlah," jawab salah satu penjaga dengan menunduk.
Clara memijat pelipisnya. "Saya tidak butuh alasan. Saya butuh orang yang benar-benar bisa menjaga tempat ini."
Simon melangkah maju, melewati barisan penjaga yang gemetar. Ia berdiri tepat di hadapan Clara. Bau parfum mahal wanita itu menusuk indra penciuman Simon yang kini menjadi sangat tajam.
"Saya bisa menjaganya," ucap Simon tenang.
Clara menoleh. Ia menatap Simon dari atas ke bawah. "Kamu? Penampilanmu seperti gelandangan. Apa yang bisa kamu lakukan?"
Simon tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melemaskan sedikit kontrol atas aura maskulinnya. Tekanan di ruangan itu mendadak turun. Para penjaga berbadan besar tadi merasa lutut mereka lemas tanpa alasan yang jelas. Clara terdiam, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Ia merasakan dominasi yang murni dari pemuda di depannya.
"Saya tahu siapa yang mencoba masuk ke toko ini semalam hanya dari bau sisa keringat di pintu itu," bohong Simon, meski sebenarnya insting predatornya memang menangkap jejak energi yang tertinggal.
Clara menyipitkan mata. Ia merasa ada sesuatu yang berbahaya sekaligus menarik dari Simon. "Siapa namamu?"
"Simon. Simon Santoso."
"Baik, Simon. Kamu punya waktu satu malam untuk membuktikan ucapanmu. Kalau ada satu saja barang yang hilang, kamu masuk penjara. Kalau berhasil, kamu jadi kepala keamanan di sini."
Simon mengangguk. Ia melihat Clara berjalan pergi, namun ia tahu, wanita itu sempat menoleh sekilas untuk melihat punggungnya.
di depan toko emas Wijaya, simon menatap dari kejauhan, di sana dia melihat mobil hitam tanpa plat, di batin nya iya tau kalok itu , gangster kalajengking hitam, yang ketua nya, Darius black