

Malam itu udara terasa sangat berat dan lembap.
Raga tertidur di atas balai-balai bambu yang sudah reyot. Dalam lelapnya, dia berada di tepi telaga yang sunyi.
Di sana berdiri seorang gadis dengan kain yang melilit ketat, menonjolkan lekuk tubuhnya yang padat dan berisi.
Kulit kuning langsat gadis itu tampak berkilau seperti pualam tertimpa cahaya bulan.
Gadis itu adalah Sekar. Primadona desa yang kecantikannya membuat setiap pria menahan napas. Dalam mimpi itu, Sekar mendekat dengan tatapan mata yang sayu namun sangat menggoda.
Jemari Sekar yang lentik perlahan menyentuh dada Raga, memberikan sensasi panas yang menjalar hebat ke seluruh sarafnya.
Raga terbuai dalam gelombang gairah yang memuncak, merasakan sentuhan halus yang seolah nyata di atas kulitnya.
Napas Raga memburu saat kehangatan yang luar biasa menyelimuti tubuh.
Dalam keadaan setengah sadar antara mimpi dan nyata, tangan Raga merayap turun. Dia merasakan pusakanya sudah berdiri tegak, keras, dan berdenyut menuntut pelepasan.
Jemarinya mencengkeram erat miliknya yang menegang hebat itu, mengayunkan gerak seirama dengan bayangan tubuh Sekar yang semakin mendekat dalam benaknya.
Setiap gesekan membawa sensasi nikmat yang menyiksa, hingga puncaknya tubuh Raga menegang kaku dan dia tersentak bangun dengan napas tersengal serta peluh membasahi dahi. Dia terengah di kegelapan kamar, menatap langit-langit gubuknya yang bocor sambil merasakan sisa kenikmatan yang perlahan memudar.
Pagi harinya, sisa gairah itu berubah menjadi tekad yang nekat. Pemuda berusia dua puluh tahun itu merasa ini adalah saat yang tepat untuk menyatakan perasaan.
Meski dia hanya lulusan SMK Pertanian yang pengangguran, ada secercah harapan bahwa Sekar mungkin memiliki rasa yang sama.
Raga mencuci wajahnya, merapikan baju satu-satunya yang masih layak pakai, lalu berjalan menuju arah rumah Sekar dengan jantung yang berdebar kencang.
Namun, langkah Raga terhenti di ujung jalan. Dari halaman rumah Sekar, muncul sebuah motor besar yang mengkilap.
Di atasnya duduk Giman, anak juragan tanah paling kaya di desa mereka. Giman duduk dengan angkuh mengenakan pakaian rapi dan jam tangan emas yang berkilau.
Tak lama kemudian, Sekar keluar dengan senyum paling menawan yang pernah Raga lihat. Sekar naik ke boncengan Giman, melingkarkan tangannya erat di pinggang pria itu dengan sangat mesra.
Beberapa warga yang sedang duduk di pos ronda berseru sambil tertawa.
“Nah, itu baru serasi! Giman yang mapan sama Sekar yang ayu. Memang sudah pas!”
“Betul, Giman sama Sekar itu sudah dijodohkan dari bulan lalu. Tidak ada yang bisa menandingi mereka di desa ini!”
Raga terpaku di tempatnya berdiri. Harapan yang tadi pagi membumbung tinggi kini hancur berkeping-keping.
Bau asap motor Giman yang menyengat seolah mengejek hidungnya.
Dia hanya bisa menunduk, meremas jemarinya yang kasar. Kesialan seolah sudah mendarah daging dalam hidupnya.
Setelah semua harta kakeknya habis dan usahanya gagal, kini wanita yang dia impikan pun sudah menjadi milik anak juragan.
Raga merasa dunianya benar-benar gelap dan tidak ada lagi ruang bagi orang sial seperti dirinya di kampung ini.
**
Raga berjalan gontai menuju warung kopi di ujung jalan. Dia hanya ingin duduk sebentar untuk menenangkan jantungnya yang masih berdegup kencang.
Namun, baru saja dia menginjakkan kaki di teras warung, tawa meremehkan sudah menyambutnya.
“Eh, Juragan Sial datang!” seru seorang pemuda yang sedang asyik bermain kartu.
“Gimana sawahmu, Ga? Masih jadi hutan belantara? Sayang itu ijazah SMK Pertanian kalau Cuma buat pajangan di rumah reot.”
Raga hanya terdiam, memilih duduk di sudut paling gelap. Namun, mereka tidak berhenti.
“Wajar saja ternakmu mati semua. Kamu itu memang tidak punya tangan dingin. Apa pun yang kamu sentuh pasti hancur. Jangan-jangan nanti kalau kamu punya istri, istrimu juga ikut sial,” timpal yang lain sambil tertawa terbahak-bahak.
Raga menahan napas, tangannya mengepal erat di bawah meja. Dia merasa sangat kerdil.
Dia ingin membalas, tapi kenyataannya memang dia tidak punya apa-apa untuk dibanggakan. Dia merasa dirinya adalah produk gagal yang tidak berguna.
Tanpa memesan kopi, dia kembali berdiri dan berjalan pergi dengan kepala tertunduk, sementara suara tawa di belakangnya masih terdengar jelas menghina silsilah keluarganya yang kini habis tak bersisa.
Langkah kaki Raga membawanya pergi menjauh dari keramaian hingga matahari tenggelam sepenuhnya.
Tanpa sadar, dia sudah berada di area pinggiran yang jarang dilewati orang, di depan sebuah gubuk kayu yang tertutup rimbun pohon bambu.
Seorang kakek tua dengan wajah garang sedang duduk menyalakan api unggun kecil di sana.
“Mau apa kamu ke sini? Mau minta-minta?!” bentak kakek itu dengan suara parau yang sangat galak.
Raga yang sudah di puncak rasa frustrasi pun meledak. “Aku tidak minta-minta! Aku Cuma tersesat! Kenapa semua orang di dunia ini hobi sekali memaki saya seolah saya ini sampah?!”
Kakek itu justru tertawa mengejek, suaranya terdengar mengerikan di tengah sunyi malam. “Memang kamu sampah! Pemuda tidak punya nyali, Cuma bisa meratapi nasib! Pergi sana sebelum aku kepruk kepalamu pakai kayu ini!”
Kakek itu terus memaki Raga dengan kata-kata yang sangat kasar, menghina mental Raga yang lembek seperti bubur.
Namun, di tengah makiannya yang berapi-api, si kakek tiba-tiba terbatuk hebat. Wajahnya berubah pucat dan dia memegangi dadanya seolah tercekik. Tubuhnya limbung ke arah api.
Raga yang kaget melihat itu langsung membuang amarahnya. Dia melompat menangkap tubuh si kakek sebelum jatuh ke bara api.
Raga dengan sigap memijat punggung kakek itu dan memberinya minum dari kendi yang ada di dekat sana. Hanya Raga yang ada di tempat sepi itu untuk menyelamatkan nyawa si kakek yang nyaris pingsan.
Setelah napasnya kembali tenang, kakek itu menepis tangan Raga, meski tidak seganas sebelumnya. Dia menatap Raga dari ujung kaki ke ujung kepala dengan mata yang menyipit.
“Masih punya rasa kemanusiaan rupanya,” gumam kakek itu pedas. Dia bangkit dengan tertatih, masuk ke dalam gubuknya, lalu keluar lagi sambil melemparkan sebuah benda yang dibungkus kain hitam kusam.
“Ambil ini. Jangan banyak tanya kalau tidak mau aku ludahi mukamu. Simpan baik-baik di pinggangmu,” perintah si kakek dengan nada dingin.
“Aku kasihan sama kamu, sial sekali nasibmu.”
Raga membuka bungkusan itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya ada sebuah jimat dari kayu jati kuno berukir pola aneh yang tiba-tiba berdenyut panas begitu menyentuh kulit telapak tangannya.
“A-Apa ini?”