

Pada awal mula, ketika kehampaan masih membentang tanpa warna dan tanpa waktu, lahirlah cahaya pertama dari kehendak Sang Dewi Pencipta, Lumina. Cahaya itu berpendar lembut, lalu perlahan membentuk sosoknya di tengah kekosongan.
"Inilah awal dari segalanya," bisik Lumina, suaranya menggema di kehampaan. "Aku akan menenun kehidupan dari sunyi ini."
Dari hatinya yang berpendar bening, ia menenun realitas seperti seorang perajut kosmos, membentuk ruang, arah, dan denyut kehidupan. Dengan satu hembusan napas ilahinya, terciptalah bentangan langit dan dasar dunia yang kelak dinamakan Daimoria.
"Bangkitlah, dunia baru," ucapnya lembut.
Namun Lumina tidak bekerja sendirian. Ia memanggil Geni, dewa matahari yang berapi jiwa dan berkilau laksana inti bintang.
Cahaya merah keemasan muncul di hadapannya.
"Kau memanggilku, Lumina?" tanya Geni dengan suara hangat seperti bara.
"Aku membutuhkan cahaya yang hidup, sesuatu yang memberi energi pada dunia ini," jawab Lumina.
Geni tersenyum, lalu mengangkat tangannya.
"Maka biarkan apiku menjadi fajar pertama."
Dari telapak tangan Geni memancar bara suci yang menjadi matahari pertama, menggantung megah di langit muda. Panasnya mengusir dingin kehampaan, cahayanya menyentuh tanah yang masih sunyi.
"Lihatlah," kata Geni bangga, "dunia ini kini memiliki waktu."
Lumina mengangguk lembut. "Dan harapan."
Di sisi lain, Mardrheim, dewa laut yang agung dan dalam, muncul dari kabut biru.
"Aku merasakan dunia baru telah lahir," ucap Mardrheim dengan suara dalam seperti ombak.
Lumina menoleh kepadanya. "Dunia ini membutuhkan kedalaman. Bisakah kau memberikannya?"
Mardrheim mengangkat trisulanya. "Biarkan air menjadi napas kedua dunia ini."
Samudra pun tercurah, mengisi cekungan-cekungan bumi, berkilau biru gelap dengan misteri tak terhingga.
"Ombakku akan menjaga keseimbangannya," ujar Mardrheim.
Siderya kemudian muncul, langkahnya lembut seperti angin musim semi.
"Aku merasakan tanah ini masih kosong," kata Siderya.
Lumina tersenyum. "Sentuhlah ia, Siderya. Berikan kehidupan."
Siderya menundukkan diri dan menyentuhkan jemarinya ke tanah Daimoria.
"Bangkitlah, kehidupan," bisiknya.
Dari sentuhannya tumbuh hutan-hutan zamrud, padang bunga berwarna emas dan ungu, serta gunung-gunung yang menjulang megah.
"Indah..." gumam Geni.
"Hidup," tambah Lumina.
"Seimbang," ujar Mardrheim.
Bersama-sama, keempat dewa-dewi itu menyelaraskan ciptaan mereka.
"Dunia ini akan bertahan selama kita menjaga harmoni," kata Lumina.
"Dan aku akan menjaga cahaya tetap bersinar," jawab Geni.
"Aku menjaga kedalaman," ujar Mardrheim.
"Dan aku menjaga kehidupan," tutup Siderya.
Maka lahirlah Daimoria.
---
Setelah Daimoria berdiri megah, dunia itu berkembang. Manusia membangun kerajaan, elf menjaga hutan, dan dwarf menempa baja di gunung.
"Dunia ini berkembang dengan cepat," kata Siderya sambil memandang hutan.
"Mereka belajar mencipta," jawab Lumina bangga.
Namun jauh di balik dimensi, ranah kelam Infernox mulai bergejolak.
Di lautan api, Myrkael membuka matanya.
"Jadi... dunia itu telah berkembang tanpa aku," ucapnya dingin.
Para demon berlutut di hadapannya.
"Perintahkan kami, tuan," desis mereka.
Myrkael mengangkat tangannya.
"Aku akan menunjukkan pada mereka arti kegelapan."
Dengan ritual besar, langit Daimoria terbelah.
"Apa itu?!" seru para manusia.
Langit retak merah kehitaman.
"Kegelapan telah datang," kata Lumina pelan.
Pasukan demon turun seperti badai api.
"Serang!" teriak para demon.
"Hutan-hutan terbakar!" seru elf.
"Gunung berguncang!" teriak dwarf.
"Ini bukan badai biasa," ujar Mardrheim.
Siderya menatap tanah yang menghitam.
"Racun... ia menyebar."
Lumina menatap langit.
"Myrkael... kau akhirnya datang."
---
Di Bwanalanglandr, Lumina berdiri di taman bintang.
"Siderya... aku harus mengatakan sesuatu," ucap Lumina.
Siderya menatapnya.
"Apa yang terjadi, Lumina?"
Lumina memegang perutnya yang berpendar.
"Aku... mengandung."
Siderya terdiam.
"Siapa... ayahnya?" tanya Siderya perlahan.
Lumina menutup matanya.
"Myrkael."
Siderya terkejut.
"Dewa kegelapan?"
"Dulu ia bukan kegelapan," jawab Lumina lembut. "Ia adalah senja."
Lumina mengenang masa lalu.
"Mengapa kau selalu sendirian, Myrkael?" tanya Lumina dahulu.
"Karena aku berada di antara terang dan gelap," jawab Myrkael.
"Aku tidak melihatmu sebagai kegelapan," kata Lumina.
Myrkael tersenyum tipis.
"Dan aku melihatmu sebagai cahaya yang tidak menyilaukan."
Namun waktu memisahkan mereka.
"Aku tidak diterima di sini," kata Myrkael suatu hari.
"Jangan pergi," pinta Lumina.
"Jika aku tetap... aku akan menghancurkan keseimbangan," jawab Myrkael.
Ia pun pergi menuju Infernox.
---
Kembali ke masa kini.
Siderya memegang tangan Lumina.
"Anak ini... ia bisa menjadi harapan."
"Atau kehancuran," jawab Lumina.
"Apakah Geni harus tahu?" tanya Siderya.
Lumina menggeleng.
"Belum."
"Dan jika Myrkael tahu?"
Lumina memandang bintang.
"Maka perang yang lebih besar akan datang."
Siderya mengangguk pelan.
"Apa pun yang terjadi, aku akan berdiri di sisimu."
Lumina tersenyum lembut.
"Terima kasih, sahabatku."
Di langit Bwanalanglandr, bintang-bintang tetap bersinar.
Namun takdir baru sedang bertumbuh.
"Anakku..." bisik Lumina.
"Kau akan menjadi cahaya baru... atau bayangan terakhir."
Dan jauh di Infernox, Myrkael membuka matanya.
"Aku merasakan sesuatu..." katanya pelan.
Api di sekelilingnya bergetar.
"Cahaya... yang berasal dariku."
Myrkael tersenyum tipis.
"Menarik... sangat menarik."
Takdir Daimoria pun mulai bergerak.
Api di sekitar singgasana obsidian Myrkael berputar semakin liar, seolah menyambut bisikan takdir yang baru saja terbangun. Demon-demon penjaga menundukkan kepala lebih dalam ketika aura penguasa mereka berubah, menjadi lebih berat dan lebih dingin dari sebelumnya.
"Mengapa jantung Infernox bergetar, tuanku?" tanya salah satu demon dengan suara gemetar.
Myrkael berdiri perlahan, jubah bayangannya menjuntai seperti kabut malam.
"Ada kehidupan baru yang terhubung denganku," jawabnya pelan. "Sesuatu yang lahir dari cahaya... namun membawa bayanganku."
Ia melangkah menuju tepi jurang api yang mengelilingi istananya. Lava mengalir seperti sungai merah, dan langit Infernox berdenyut dengan kilat hitam.
"Jika itu benar..." lanjut Myrkael, "maka keseimbangan dunia akan berubah."
Para demon saling berpandangan.
"Apakah kami harus menyerang Daimoria sekarang?" tanya seorang jenderal demon yang berlapis baja hitam.
Myrkael mengangkat tangannya, menghentikan mereka.
"Belum."
Ia memejamkan mata, merasakan denyut lembut yang jauh, sangat jauh, namun jelas.
"Cahaya itu... masih lemah. Aku ingin melihat bagaimana ia tumbuh."
Sementara itu, di Bwanalanglandr, Lumina merasakan perutnya berdenyut lembut. Cahaya putih kebiruan berkilau sesaat, lalu meredup seperti napas yang baru lahir.
Siderya menatapnya dengan cemas.
"Apa kau merasakannya?"
Lumina mengangguk.
"Anak ini... sudah mulai menyentuh dunia."
Angin lembut berhembus di taman bintang, membawa kilau serbuk cahaya yang berputar di udara. Tanaman kosmik yang tumbuh di sekitar mereka ikut berpendar, seolah menyambut kehidupan baru itu.
"Dia kuat," ujar Siderya pelan.
Lumina tersenyum lembut, namun matanya menyimpan kekhawatiran.
"Kekuatan itu berasal dari dua dunia."
Tiba-tiba, sebuah bintang di langit Bwanalanglandr bergetar, lalu memancarkan cahaya lebih terang dari biasanya.
Siderya menatap ke atas.
"Itu bukan pertanda biasa."
Lumina mengikuti pandangannya.
"Bintang takdir..." bisiknya.
Cahaya dari bintang itu jatuh perlahan seperti hujan lembut, mengelilingi Lumina.
Di dalam perutnya, cahaya kecil berdenyut lebih kuat.
Dan untuk sesaat, bayangan gelap muncul di dalam cahaya itu — lalu menghilang kembali.