

Kamis, pukul 06.15 WIB
Deru mesin motor Toyota Kijang tahun 2005 mengganggu kesunyian pagi di Desa Penatih, dekat kawasan Gianyar Bali. Ban mobil menggeliat melalui jalan tanah yang penuh genangan air akibat hujan lebat yang turun hingga tengah malam. Bayu menyetir dengan teliti, mata terkunci pada jalan yang sempit di antara hamparan sawah hijau yang mengkilap karena embun pagi. Ia berusia 32 tahun, seorang jurnalis investigatif dari Jakarta yang baru saja menerima panggilan darurat dari pamannya, Pak Made, tiga hari yang lalu.
“Bayu, cepat datang ke desa. Rumah kita… rumah nenekmu ada yang salah.” Suara Pak Made masih menggemuruh di telinganya, penuh dengan getaran ketakutan yang jarang ia dengar. “Aku tidak bisa jelaskan, tapi sesuatu yang tidak baik sedang terjadi di sana. Beberapa warga melihat cahaya menyala di kamar atas padahal listriknya sudah diputus bertahun-tahun.”
Bayu mengerutkan kening saat gapura kayu rumah nenek mulai muncul di kejauhan, terpencil di antara pepohonan jati dan pisang yang tinggi. Rumah kayu bertingkat dua dengan atap ijuk itu pernah menjadi tempat ia menghabiskan setiap liburan sekolah – tempat di mana neneknya akan mengajaknya berjalan ke sawah, cerita tentang roh-roh penjaga alam, dan memasak lawar yang selalu membuat lidahnya bergoyang. Kini, tembok kayu yang dulu dicat putih bersih sudah menguning dan mulai mengelupas, sementara pagar bambu di depan rumah tampak roboh di beberapa bagian, ditutupi rerumputan tinggi yang tumbuh liar.
Ia memarkirkan mobil di halaman yang sudah tidak terawat lagi. Udara di sekitar rumah terasa jauh lebih dingin dibandingkan di luar desa – bahkan embun yang ada di daun-daun tampak lebih tebal dan berwarna sedikit kehitaman. Bayangan dari pohon jati besar di belakang rumah menjalar perlahan ke arah pintu utama, seolah tangan besar yang ingin menyelimuti seluruh bangunan.
“Pak Made!” Panggil Bayu sambil mendekati pintu kayu yang terbuka selebar seperempat. Tidak ada jawaban yang terdengar. Hanya suara kicauan burung yang aneh dari arah pepohonan belakang – suara yang tidak pernah ia dengar sebelumnya, seperti tangisan bayi yang menyatu dengan jeritan burung hantu. Ia mendorong pintu dengan hati-hati; suara berdecit dari engsel kayu yang sudah lapuk terdengar menusuk di dalam ruangan yang sunyi dan sepi.
Ruang tamu yang dulu penuh dengan furnitur kayu jati dan foto keluarga berjejer di dinding kini terlihat kumal dan sepi. Lapisan debu tebal setebal beberapa milimeter menutupi permukaan meja tamu dan kursi rotan yang mulai sobek. Di lantai, beberapa bingkai foto sudah terjatuh dan pecah, kaca yang masih menempel pada bingkai memantulkan cahaya pagi dengan cara yang membuat mata tidak nyaman. Yang paling membuatnya merasa geli adalah bau amis yang menyebar di setiap sudut ruangan – seperti bau ikan yang membusuk atau daging yang tidak tersimpan dengan benar, tapi tidak bisa ditemukan sumbernya.
Bayu berjalan melintasi ruang tamu menuju kamar tidur nenek yang terletak di bagian dalam rumah, melewati lorong yang sempit dan hanya diterangi oleh cahaya yang masuk melalui celah-celah dinding. Di dinding lorong, terdapat beberapa goresan hitam yang tidak jelas asalnya – bentuknya seperti jejak tangan yang mencoba meraih sesuatu atau bekas kapak yang digunakan untuk memukul dinding. Ia menyentuh salah satu goresan dengan ujung jarinya; permukaan kayu terasa licin dan dingin seperti es.
Pintu kamar nenek terbuka lebar, dan cahaya pagi yang masuk melalui jendela kayu menunjukkan kondisi yang sama memprihatinkan. Kasur kayu yang dulu selalu dirapikan dengan rapi kini berantakan – seprai putih yang sudah menguning terkulai ke lantai, dan bantal-bantal tersebar di mana-mana. Di atas seprai terdapat noda gelap berbentuk tidak teratur, warnanya seperti darah yang sudah mengering tapi masih memberikan kesan basah ketika dilihat dari dekat.
Di atas meja rias kayu yang penuh dengan debu, ia melihat sebuah buku catatan kulit yang masih terjaga dengan baik, tidak tertutup debu sama sekali. Sampulnya terbuat dari kulit binatang yang sudah menguning, dengan tulisan huruf-huruf kuno Bali yang ia tidak bisa baca dengan jelas. Di sekitar buku itu, terdapat lingkaran kecil yang dibuat dari apa yang tampak seperti tanah merah atau darah kental, dengan beberapa bunga kuning yang sudah layu di sekelilingnya.
Saat ia hendak mengambil buku itu dengan jari-jari yang sedikit gemetar, sebuah angin dingin tiba-tiba menerpa dari arah jendela – padahal tidak ada angin di luar rumah. Pintu-pintu di seluruh rumah mulai tertutup satu per satu dengan suara thump… thump… thump… yang keras dan berirama, hingga akhirnya hanya tersisa pintu kamar nenek yang masih terbuka. Bayu melihat ke arah pintu lorong; tirai kain yang biasanya menggantung di sana kini bergerak-gerak sendiri seolah ada orang yang berada di baliknya.
Ia meraih tongkat kayu yang berada di sudut kamar – sesuatu yang neneknya selalu tempatkan untuk menekan pintu agar tidak tertutup – dan mengangkatnya di depan dadanya sebagai alat pertahanan. Suara langkah kaki pelan mulai terdengar dari arah lorong belakang – tap… tap… tap… – seolah seseorang yang mengenakan alas kaki kayu sedang berjalan perlahan menuju kamarnya. Setiap langkah membuat lantai kayu bergetar dengan lembut, dan suara itu semakin dekat dengan sangat lambat, seolah pelaku sengaja ingin membuatnya merasa takut.
Bayu merasakan detak jantungnya semakin cepat, keringat dingin mengalir di pelipisnya dan membuat rambutnya menempel di kulitnya. Ia menekan punggung ke dinding kamar dan menatap pintu dengan mata yang melebar lebar. Suara langkah kaki berhenti tepat di luar pintu kamar nenek. Beberapa detik kemudian, tirai di lorong bergerak lagi – kali ini dengan lebih cepat, seolah ada angin kencang yang menerpa padanya.
Pintu kamar mulai terbuka perlahan tanpa ada yang menyentuhnya, engselnya tidak mengeluarkan suara sama sekali. Cahaya dari luar menjadi redup secara tiba-tiba, dan bayangan sebuah sosok tinggi muncul di ambang pintu. Bayu bisa melihat bentuknya seperti seorang pria dengan rambut panjang yang kusut dan menutupi sebagian wajahnya, mengenakan kain sarung putih yang sudah lusuh dan baju koko putih yang terdapat noda hitam di bagian dada dan leher.
“S-siapa kamu?” Tanya Bayu dengan suara yang hampir tidak terdengar, tongkat kayu masih terangkat tegang di depan dirinya.
Sosok itu tidak menjawab. Ia hanya berdiri diam di sana selama beberapa detik, tubuhnya sedikit bergoyang seolah diterpa angin. Kemudian, ia perlahan-lahan mengangkat tangan kanannya ke arah Bayu – tangan yang kulitnya pucat seperti mayat, dengan kuku yang panjang dan runcing seperti cakar binatang. Pada saat itu, Bayu melihat ada sesuatu yang keluar dari celah antara jari-jari sosok itu – segerombolan lintah berwarna hitam pekat yang mulai merayap perlahan ke arah lantai kayu, mengeluarkan suara gemericik yang menusuk telinga.
Tanpa berpikir panjang, Bayu berbalik dan melompat melalui jendela kamar yang tidak memiliki kawat pelindung. Tubuhnya menerjang rerumputan tinggi di belakang rumah, beberapa ranting kayu menusuk lengan dan wajahnya hingga membuatnya merasa sakit. Ia terjatuh di tanah yang lembap dan berlumpur, tapi tidak sempat merasa sakit karena ketakutan yang melumpuhkan seluruh tubuhnya.
Saat ia menoleh ke belakang untuk melihat apakah sosok itu mengikutinya, pintu kamar nenek sudah tertutup kembali dengan suara keras. Jendela yang baru saja ia lalui kini tampak tertutup rapat, dan tidak ada tanda-tanda sosok atau lintah yang keluar dari sana. Hanya bayangan yang tampak seperti orang yang berdiri di balik kaca jendela, menatapnya dengan mata yang tidak terlihat.
Bayu berdiri dengan terengah-engah, membersihkan lumpur dari wajah dan pakaiannya. Ia mengambil telepon genggam dari saku celananya untuk menghubungi Pak Made, tapi layar ponsel hanya menunjukkan sinyal nol. Bahkan jam digital di layar ponselnya tampak aneh – angka-angka berubah-ubah secara acak antara tahun 1998 dan 2026, dan kadang-kadang muncul angka tahun yang tidak mungkin ada, seperti 1876 atau 2101.
Ia memutuskan untuk tidak tinggal lama di situ dan berjalan cepat menjauh dari rumah nenek menuju arah rumah Pak Made yang terletak di bagian lain desa. Udara di sekitarnya terasa semakin dingin, dan setiap kali ia menoleh ke belakang, ia merasa bahwa ada sesuatu yang sedang mengikutinya – sesuatu yang tidak terlihat tapi membuat bulu kuduknya merinding dan kulitnya merasa seperti disentuh oleh tangan dingin.
Di kejauhan, suara lonceng dari pura desa mulai berkumandang dengan sangat keras dan terus-menerus. Suaranya tidak seperti lonceng yang biasa terdengar pada hari raya atau acara keagamaan – melainkan lebih seperti suara peringatan yang tajam dan menyakitkan telinga, seolah ingin memberi tahu semua orang bahwa bahaya besar sudah sangat dekat.
Bayu semakin mempercepat langkahnya, hati penuh dengan rasa takut tapi juga rasa ingin tahu yang mendalam. Ia tahu bahwa pulang ke desa kali ini bukanlah keputusan yang salah. Ada sesuatu yang salah dengan rumah neneknya, sesuatu yang telah tersembunyi selama bertahun-tahun dan kini mulai keluar ke permukaan. Dan ia merasa bahwa dirinya adalah satu-satunya orang yang bisa mengungkap rahasia itu sebelum terlambat.