

"Berapa harga harga dirimu? Sebutkan saja angkanya, akan saya bayar lunas!
Setelah itu, tinggalkan putri saya, karena saya tidak mau ada sampah mengotori silsilah keluarga dokter spesialis kami!"
Suara dr. Pramono memotong keheningan ruang tamu mewah itu seperti sembilu. Bara tertegun, masih dengan posisi setengah membungkuk, tangannya hampir meletakkan kotak beludru merah di atas meja kayu jati yang mengilap.
Di dalamnya, sebuah cincin emas sederhana, bukan perhiasan yang megah, bukan batu permata yang berkilau, hanya sebuah lingkaran emas yang ia beli dengan keringat hasil jaga malam di IGD selama setahun penuh.
Setiap lembar uang yang ia sisihkan, setiap shift tengah malam yang ia jalani tanpa keluhan, semua bermuara pada malam ini.
Bara menegakkan punggungnya perlahan. Ia menatap dr. Pramono dengan tenang.
"Om, saya datang...."
"Apa kamu bilang? Coba ulangi lagi gimana caramu memanggil saya tadi?"
"Om...."
"Lancang sekali kamu memanggil saya tanpa embel-embel dan gelar saya sebagai dokter spesialis jantung. Kau bukan siapa-siapa kami, hanya dokter rendahan yang beruntung bisa dekat dengan putri saya."
Bara mulai gemetar, tapi tetap berusaha tenang.
"Siap salah. Maaf atas kelancangan saya, Dok. Kedatangan saya menghadap Dokter Pram dan Dokte Sofia dengan niat baik. Saya mencintai Arini dan ingin meminangnya secara terhormat. Saya percaya dedikasi saya sebagai dokter akan mampu membahagiakannya."
Dr. Sofia, ibu Arini, tertawa sumbang. Wanita itu menyesap tehnya perlahan, menatap Bara seperti seorang kolektor yang sedang menilai barang rongsokan yang tersesat masuk ke galeri seni.
"Terhormat?" ulangnya, nadanya datar. "Kamu itu cuma dokter umum, Bara. Di rumah sakit, kamu itu cuma buruh medis yang lari-lari mengurus pasien BPJS. Sementara anak saya, Arini, dia sedang berjuang sebagai residen bedah. Dia punya masa depan yang gemilang. Kamu mau kasih makan apa? Gajimu bahkan tidak cukup untuk membeli satu tas bermerek miliknya."
"Tapi Dok, saya bekerja keras. Saya punya tabungan, dan saya yakin karier saya akan berkembang—"
"Karier apa?" potong dr. Pramono. Jurnal medis di tangannya diletakkan ke meja dengan dentuman keras. "Kasta kita berbeda. Dokter umum adalah kasta terendah di dunia medis bagi keluarga kami. Kamu tidak punya koneksi, tidak punya uang, dan tidak punya masa depan yang sebanding dengan Arini. Pergilah sebelum saya panggil sekuriti untuk menyeretmu keluar."
"Tapi, Dok, tidakkah Dokter pertimbangkan dulu niat baik saya ini?"
"Pergi! Saya tidak menerima calon menantu dari kasta rendahan sepertimu. Dan segera akhiri hubunganmu dengan putri saya."
"Dan jangan sekali-kali kamu berani menemui Arini lagi."
Hati Bara terasa seperti dihantam palu godam. Ia menatap kedua orang tua Arini dengan gemuruh di dada. Dia menyadari betapa kecil dirinya di mata mereka para penguasa rumah sakit tempatnya bekerja itu. Kepalan tangannya mengeras sempurna. Tidak. Dia tidak akan menyerah dengan mudah.
Setidaknya sebelum dia bertemu dengan Arini, dan mendengar dari wanita yang dia cintai itu untuk memintanya berjuang sekali lagi.
Ia membayangkan Arini yang sedang sibuk di bangsal bedah. Ia ingin segera menemui wanita itu, ingin mengajaknya bicara, dan memintanya untuk tetap teguh berjuang bersamanya mendapatkan restu ini. Ia ingin memberi tahu Arini bahwa ia sudah melangkah sejauh ini demi cinta mereka.
"Mungkin malam ini bukan malam keberuntunganku."
Bara mengambil kembali kotak cincinnya, lalu berjalan keluar menuju hujan yang kembali tumpah. Ia memacu motor tuanya menembus badai Jakarta menuju Rumah Sakit Medika Utama. Di kepalanya, hanya ada wajah Arini. Ia butuh penguatan. Ia butuh Arini untuk mengatakan bahwa status "dokter umum" tidak akan memisahkan mereka.
Sesampainya di rumah sakit, Bara segera menuju area residen bedah. Napasnya memburu, bajunya setengah basah, namun matanya mencari-cari sosok wanita yang sangat ia cintai itu. Ia melewati lorong-lorong sepi menuju ruang istirahat residen yang biasanya sunyi di jam pergantian sift seperti ini.
Langkah Bara melambat saat ia mendekati ruang jaga dokter spesialis bedah. Pintu kayu berat itu tidak tertutup rapat. Dari celahnya, sayup-sayup terdengar suara yang membuat sekujur tubuh Bara mendadak kaku. Itu bukan suara diskusi medis. Itu adalah suara napas yang memburu dan tawa rendah yang penuh gairah.
"Engghhhh... pelan-pelan, Dokter Adrian tidak akan ada yang mengganggu kita."
Dada Bara bergemuruh.
Dia melangkah mendekat, seolah ditarik oleh kekuatan gelap yang ingin menghancurkan apa saja yang menghalanginya untuk tetap maju. Melalui celah sempit itu, matanya menangkap pemandangan yang seketika membakar seluruh kewarasannya. Tangannya terkepal dikedua sisi tubuh, tanda kalau emosinya sudah berada di puncaknya.
Melalui celah pintu itu dia bisa melihat dengan sangat jelas. Di atas meja kerja yang dipenuhi tumpukan jurnal, Arini ada di atas sana dengan posisi setengah baring, di hadapannya dr. Adrian sedang mencumbu setiap inci kulit Arini dengan begitu rakusnya. Meninggalkan jejak basah dan kemerahan di permukaan kulit putih Arini.
"Aahhh... Iyah... di situ hisap yang kuat, Dokter...."
Desahan Arini memenuhi ruangan yang tak tertutup dengan sempurna itu. Kancing kemejanya sudah terbuka sebagian, menampilkan buah dadanya yang menyempul keluar sedang dinikmati dengan begitu rakusnya oleh dr. Adrian.
"Ahhh... Dokter ... terus... lebih dalam..." Arini mengerang, suaranya pecah oleh gairah yang meluap-luap. Jemarinya mencengkeram erat bahu Adrian, kuku-kukunya yang terawat menggores punggung pria itu.
"Kamu suka, Sayang? Bayangkan jika si miskin Bara yang melakukannya, dia pasti akan gemetar ketakutan melihat tubuh indahmu ini," ejek Adrian diselingi tawa rendah sembari terus memacu gerakannya.
"Mmhhh... Jangan sebut... ahh... jangan sebut nama menjijikkan itu... dia itu cuma alat bagi saya, Dokter... Ahhh! Dia... dia cuma dungu yang mau melakukan apa saja demi saya... cepat, masuki saya, Dokter. Saya sudah siap untuk dimasuki milik Dokter yang besar ini!" Arini berteriak pelan, napasnya tersengal-sengal, erangannya semakin kencang memenuhi ruangan itu.
Setiap desahan yang keluar dari mulut Arini terasa seperti siraman bensin pada api yang sudah berkobar di dada Bara. Darahnya berdesir panas, telinganya berdenging, dan matanya memerah karena amarah yang tak terbendung lagi. Kotak cincin di saku jaketnya ia remas hingga hancur. Wanita yang selama ini ia puja, wanita yang ia perjuangkan restunya hingga dihina seperti anjing, ternyata sedang bersenggama dengan rivalnya sambil menertawakan ketulusannya.
"Dengan senang hati, Sayang. Besiaplah, Arini. Saya pun sudah tidak sabar ingin memasukimu."
Dr. Adrian mulai melepas ikat pinggang dan menurunkan resleting celananya, kemudian mengarahkan kejantananya yang telah mengeras sempurna ke arah kewanitaan Arini yang sudah merekah di hadapannya.
Blesshhh
"Aahhhh... Adrian...."
Persetan dengan karier.
Persetan dengan kontrak kerja di rumah sakit ini.
Persetan dengan sopan santun.
Dengan satu sentakan penuh tenaga, Bara menendang pintu ruangan itu hingga menghantam dinding dengan dentuman yang menggelegar.
BRAKK!