

Surakarta selalu punya cara untuk tetap tenang meski hujan turun sederas ini. Di kota kecil yang masih kental dengan aroma tanah dan melati ini, aku membangun hidupku. Sebuah rumah besar dengan jendela-jendela tinggi, seorang istri yang sempurna, dan sebuah nama yang dihormati di galeri-galeri seni ternama.
Sebagai seorang pelukis, hidupku adalah tentang menangkap cahaya. Orang-orang menyebutku jenius karena aku bisa menghidupkan emosi di atas kain kanvas hanya dengan beberapa sapuan kuas. Setiap pameran yang kuadakan selalu penuh sesak. Wartawan mengejarku, kolektor berebut karyaku, dan di sampingku selalu ada Luna—istriku, seorang dokter yang lembut, yang selalu menatapku dengan binar bangga yang tak pernah padam.
Luna. Namanya saja sudah berarti rembulan, dan dia memang seperti itu tenang, bersinar lembut, dan selalu ada untuk menerangi bagian-bagian gelap dalam hidupku. Sebagai seorang dokter, dia memiliki ketenangan yang luar biasa. Dia adalah wanita yang membuatku merasa pulang setiap kali aku selesai dengan hiruk-pikuk pameran seni di Jakarta atau luar negeri.
Lima tahun kami menikah, dan bagiku, Luna adalah definisi aman. Dia adalah rumah yang tidak pernah menuntut, pelabuhan di mana aku bisa beristirahat dari bisingnya dunia. Aku sangat menyayanginya. Aku memastikan dia tidak kurang satu apa pun.
Tapi, ada satu sudut di hatiku dan satu sudut di gudang bawah tanah itu yang tidak pernah bisa kusentuh dengan logika.
Malam itu, listrik padam total. Kegelapan menyelimuti ruang tamu, menyisakan suara hujan yang menghantam atap. Aku duduk menunggu Luna yang sedang mencari lilin. Namun, saat dia muncul dari tangga gudang, langkah kakinya terdengar berat. Tidak ada cahaya lilin yang hangat, hanya ada tatapan yang lebih dingin dari air hujan.
"Di gudang," jawabnya singkat saat aku bertanya.
Hanya dua kata, tapi suaranya bergetar hebat. Jantungku mencelos. Aku tahu persis apa yang dia lihat di balik kain putih yang selama ini kujaga rapat-rapat.
"Kenapa tidak minta aku ambilkan? Aku bisa—"
"Memangnya kenapa? Kamu takut aku menemukan sesuatu?"
Senyum yang biasanya terpasang otomatis di wajahku kini mati. Aku melihat Luna gemetar. Wanita yang selama ini kujaga seperti porselen mahal, kini menatapku seolah aku baru saja merampas seluruh hidupnya.
"Kenapa? Selama ini kamu masih mengingatnya? Lukisan itu... lukisan itu bahkan masih tersimpan rapi di sana," ucapnya dengan suara pecah.
Aku terdiam. Jari-jariku saling menggenggam erat di atas sofa, menahan sesak yang mendadak menghimpit dada. Aku ingin berbohong. Aku ingin mengatakan itu hanya sisa masa lalu yang lupa kubuang. Tapi aku tahu, bau cat minyak di kanvas itu masih segar. Aku baru saja menyentuh wajah Karina di sana beberapa malam yang lalu.
Selama lima tahun pernikahan kami, aku selalu menggunakan alasan yang sama setiap kali Luna bertanya mengapa aku tak pernah melukisnya. "Kamu terlalu sempurna untuk dilukis, sayang. Keindahanmu tidak bisa ditangkap oleh kuas manapun." Itu adalah gombalan yang tulus sekaligus bohong yang paling pengecut.
Luna melangkah maju, mencengkeram kemejaku dengan tangan yang dingin. "Jawab! Apa kamu masih mencintainya? Apa selama ini aku... aku hanya bayangan bagimu? Apa kamu menikahiku hanya untuk pengganti dirinya? Jawab, Halden! Jawab!"
Teriakannya adalah belati yang menghujam tepat ke jantungku. Aku menatap matanya yang mulai digenangi air mata. Luna adalah segalanya yang kuinginkan secara sadar. Tapi di depan kanvas, kesadaranku sering kali kalah.
"Aku mencintaimu, Luna," kataku pelan, suaraku nyaris hilang ditelan bunyi guntur. "Tapi melukis... adalah tentang apa yang diingat hati. Bukan apa yang seharusnya kuingat."
"Jadi selama ini aku benar-benar hanya bayangan?" bisiknya, suaranya nyaris hilang ditelan bunyi guntur yang menggelegar di luar.
Aku melihat tangannya yang mencengkeram kemejaku perlahan lemas dan jatuh ke samping tubuhnya. Tatapannya yang dulu penuh pemujaan, kini berubah menjadi tatapan kosong yang menghancurkanku lebih dari ribuan kritik pedas dari kurator seni manapun.
Aku teringat bagaimana setiap pagi dia menyiapkan kopi untukku, bagaimana dia selalu mengingatkanku untuk istirahat saat aku terlalu lama di studio, dan bagaimana dia selalu menjadi orang pertama yang bertepuk tangan di setiap pameranku. Dia adalah penonton setiaku, tapi aku justru menjadikannya orang asing di dalam mahakarya pribadiku.
"Luna, duniaku dengan Karina sudah berakhir sejak lama. Lukisan itu... itu hanya caraku berdamai dengan masa lalu yang tidak pernah selesai dengan cara yang baik," aku mencoba menjelaskan, mencoba memperbaiki sesuatu yang sudah hancur berkeping-keping.
"Berdamai?" Luna tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat getir. "Kamu menyebutnya berdamai sementara kamu melukis setiap detail matanya, setiap lengkung senyumnya, sementara wajah istri yang menemanimu tidur setiap malam bahkan tidak pernah menyentuh ujung kuasmu?"
Dia benar. Argumenku terdengar sangat dangkal. Sebagai pelukis, aku tahu bahwa apa yang kita tuangkan di atas kanvas adalah apa yang paling banyak menyita ruang di kepala kita. Dan selama lima tahun ini, ruang itu secara diam-diam masih dihuni oleh hantu masa lalu, sementara Luna dibiarkan berdiri di luar pintu studio, menunggu untuk diizinkan masuk ke dalam dunia batinku.
Aku duduk kembali di sofa, menyembunyikan wajah di telapak tanganku. Jemariku bergetar. Aku merasa seperti pecundang terbesar di Surakarta malam ini. Aku telah memberikan Luna segala kemewahan, status, dan kasih sayang permukaan, tapi aku gagal memberikan inti dari siapa diriku yang sebenarnya.
"Aku mungkin istrimu," suara Luna terdengar jauh, seolah dia sudah mulai melangkah pergi meski fisiknya masih di depanku. "Tapi aku sadar sekarang... aku tidak pernah hidup di dalam lukisan hatimu."
Mendengar itu, dadaku terasa sesak, seolah ada ribuan beton yang menghantamku sekaligus. Aku ingin menjelaskan bahwa cintaku padanya nyata, tapi bagaimana aku bisa membuktikannya jika bukti fisik dari "ingatan hatiku" justru menunjukkan wajah wanita lain?
Malam itu, di tengah kegelapan rumah kami, aku menyadari satu hal yang terlambat: Aku tidak pernah benar-benar mencintai Luna dengan utuh. Aku mencintainya sebagai tempat berteduh, tapi tidak sebagai sumber inspirasi. Dan bagi seorang seniman, tidak dijadikan inspirasi oleh orang yang dicintainya adalah bentuk penolakan yang paling menyakitkan.
Aku hanya bisa terdiam saat melihat Luna berbalik, meninggalkan ruang tamu, meninggalkan aku bersama lilin yang mulai meredup dan bau cat minyak yang kini terasa seperti racun yang mematikan.