Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Kamera Ajaib Perubah Nasib

Kamera Ajaib Perubah Nasib

Rara25 | Bersambung
Jumlah kata
96.5K
Popular
1.9K
Subscribe
235
Novel / Kamera Ajaib Perubah Nasib
Kamera Ajaib Perubah Nasib

Kamera Ajaib Perubah Nasib

Rara25| Bersambung
Jumlah Kata
96.5K
Popular
1.9K
Subscribe
235
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalMengubah NasibHarem21+
Sebagai balasan atas rasa pedulinya, Dhika mendapatkan kamera dari seorang pengemis tua, kamera itu bukan kamera biasa melainkan kamera ajaib pengganda benda yang dipotret. Alhasil hidup Dhika berubah drastis, dari seorang pecundang yang dipecat menjadi miliarder. Uang dan wanita datang dalam hidupnya. Apakah Dhika menemukan pelabuhan terakhirnya dari sekian wanita? atau menjalani hidup bahagia dengan semua wanitanya?
Kamera Ajaib

Plak

Sebuah berkas mendarat di depan Dhika.

Pria itu terkejut mendapatkan perlakuan yang kurang mengenakkan itu dari atasannya.

"Ada apa, Pak?" Tanya Dhika bingung.

"Ada apa, ada apa! Lihatlah pekerjaan kamu! Masa iya tiga bulan tidak mampu menjual satu unit pun! Kamu ini kerja atau bersantai-santai." Nafas Pak Direktur memburu, dia sangat marah melihat kinerja Dhika yang terus menurun.

"Kan sudah saya bilang Pak, harganya terlalu mahal untuk kawasan ini, coba diturunkan lagi harganya." Dhika mencoba memberikan saran.

Bukannya diterima sarannya justru ditolak mentah-mentah. Bahkan dia dibandingkan dengan salesman yang lain.

Rio yang merupakan manager datang membawa berkas, rekan kerja Dhika yang lain mampu menjual sepuluh unit.

"Lihat, mereka mampu menjual banyak unit! Mau alasan apa lagi kamu!"

Dhika hanya melongo mendengar itu, setaunya harga jual di kawasan ini dua puluh lima persen lebih mahal dari harga yang ditawarkan tapi mengapa rekan kerjanya sanggup menjual sepuluh unit?

"Sudahlah Pak, pegawai nggak berkompeten dibuang saja, untuk apa kita memberi uang makan, uang bensin, insentif kalau kerjaannya nggak becus begini." Rio menambahkan api membuat Direktur memecat Dhika tanpa pesangon, bahkan tidak ada gaji juga untuk bulan ini, totalnya tiga bulan dia tidak digaji.

"Dhika mulai saat ini kamu dipecat tanpa pesangon dan gaji."

"Apa? Dipecat tanpa pesangon dan gaji?" Netranya masih menatap kedua atasannya itu.

"Kerjamu nggak becus mau pesangon dan gaji? Jangan ngimpi." Sahut Rio.

Dengan hati kecewa Dhika keluar ruangan Direktur, dia berjalan keluar dengan terus menggerutu.

"Dasar pelit, seharusnya ada uang pesangon! Selama tiga tahun ini aku sudah bekerja keras untuk mereka!"

Dhika mendorong pintu kantor dengan kasar, langkahnya berat saat menuruni anak tangga gedung berlantai tiga itu.

Beberapa bulan ini dia mondar-mandir menawarkan unit rumah ke sana ke sini, tapi tidak satu pun berhasil terjual. Dan hasilnya? Dipecat tanpa pesangon, dan tanpa ucapan terima kasih. Sungguh miris!

Karena lelah, Dhika berhenti di depan gedung, memandang motor butut kesayangannya yang terparkir miring di pojok. Mesin tua itu bahkan ikut terlihat lelah, seolah tahu bahwa pemiliknya baru saja kehilangan pekerjaan.

Dhika menghela nafas panjang lalu duduk di bangku taman kecil di depan gedung. Dia merogoh tasnya dan mengeluarkan sebungkus roti isi coklat. Satu-satunya bekal yang dibawa hari ini. Perutnya keroncongan sejak tadi siang, tapi entah kenapa dia belum juga memakannya.

Saat dia baru saja membuka bungkusan itu, sudut matanya menangkap sesuatu.

Di ujung bangku yang sama, duduk seorang kakek tua. Tubuhnya ringkih, bajunya lusuh, dan satu tangannya mencengkeram perutnya erat-erat. Wajahnya mengernyit menahan sesuatu.

"Nak, Kakek lapar, boleh minta rotinya?" Kakek itu menatap Dhika.

"Kakek mau makan?"

Dhika memandang roti di tangannya, satu-satunya makanan yang dia punya. Dompetnya sendiri sudah tipis, hari ini pun belum makan siang. Tapi melihat wajah kakek itu, perutnya terasa lebih lapang dari seharusnya. Cacing-cacing yang sedari tadi protes seolah mengerti.

Dia mengulurkan roti coklat itu tanpa banyak pikir. "Ini, Kek. Makan dulu."

Kakek itu memandang roti di tangan Dhika, lalu menatap wajah pemuda itu dengan ekspresi yang sulit dibaca.

Perlahan, senyum tipis mengembang di bibirnya.

"Terima kasih, Nak." Suaranya pelan dan hangat.

Tiba-tiba kakek itu berdiri, tangannya merogoh kantong kain usang yang tergantung di bahunya. Dia mengeluarkan sesuatu dan menyodorkannya ke arah Dhika.

Sebuah kamera. Jadul sekali, modelnya seperti kamera film dari era delapan puluhan. Bodinya dari logam, warnanya hitam kusam karena usia.

"Ini untuk kamu, Nak. Sebagai ucapan terima kasih. Karena kamu begitu tulus dan baik. Padahal tadi ada beberapa orang sebelum kamu, namun tidak ada dari mereka yang mau memberi makan kakek."

Dhika menggeleng cepat. "Tidak usah, Kek. Saya tidak butuh kamera."

"Ambil saja." Kakek itu tetap mengulurkan tangannya. "Ini bukan kamera biasa. Potret benda yang kamu inginkan lalu usap layarnya, maka benda yang sama akan muncul."

Dhika nyaris tertawa. Mana mungkin kamera tua jelek begini memiliki kehebatan seperti itu, ini dunia nyata bukan dunia fiksi, tapi sebelum dia sempat menolak lagi, kakek itu sudah mengalungkan tali kamera di tangan Dhika.

Tidak enak menolak pemberian sang Kakek, akhirnya Dhika mengucapkan terima kasih. Hitung-hitung buat hobi kecil saja, memotret langit atau jalanan.

Dhika menatap kamera itu, "Ngomong-ngomong apa kakek dulu seorang fotografer?"

"Loh? Kemana sih Kakek?" Dhika terkejut saat mendapati kakek tua itu kini tidak ada lagi di sampingnya. Kepalanya berputar ke kiri dan ke kanan. Namun tak ada sosok berpakaian lusuh di mana pun.

Tidak ada langkah kaki yang terdengar menjauh. Jalanan di depan gedung itu ramai seperti biasa, tapi tidak satu pun dari orang-orang yang lalu lalang itu menyerupai kakek tadi.

Tak mau ambil pusing, Dhika kemudian mengambil sisa satu lembar roti coklat itu dari bungkusnya. Dia meletakkannya di atas bangku, lalu mengangkat kamera ke arah roti itu.

Mencoba apakah benar kamera itu masih bisa menangkap gambar.

Cekrek…

Dhika mengernyit. Lalu mengusap layar kamera tersebut.

Ajaib, di atas bangku, yang tadi hanya satu lembar roti, kini ada dua.

Dia menatapnya lama, menggosok matanya kemudian menatap lagi.

Dua lembar roti, sama persis. Ukurannya sama, bentuknya sama, bahkan posisinya berdampingan seperti hasil fotokopi mesin.

"Kamera ini benar-benar bisa menggandakan barang?"

Roti itu digandakan, dia melihatnya sendiri. Rotinya nyata, dan bisa dipegang.

Dhika kembali memegang kamera tua itu di tangannya, pikirannya tidak bisa lepas dari apa yang baru saja dia saksikan. Ia sambil berjalan melanjutkan langkahnya. Dia membolak-balikkan di tangannya. Ringan. Tidak ada merek yang tercetak di bodinya, tidak ada nomor seri, tidak ada apa-apa. Hanya logam hitam kusam yang dingin di telapak tangannya.

Saat Dhika menunduk, matanya menangkap sebuah dompet tergeletak di trotoar. Tampak tebal dan terlihat mahal.

Dhika melirik ke kiri dan ke kanan. Tidak ada orang yang terlihat panik kehilangan sesuatu. Jalanan ramai seperti biasa, orang-orang berlalu lalang tanpa ada yang menoleh ke bawah.

Tanpa pikir panjang dia memungutnya.

Tangannya meraba isi dompet itu dari luar sebelum dia membukanya.

Dia menatap kamera dan dompet itu bergantian.

Sebuah ide menyusup masuk ke pikirannya. Dia meletakkan dompet itu di atas trotoar dan mengangkat kamera.

Cekrek

Setelah mengusap layar kamera, dua dompet kini ada di atas trotoar.

Dhika mengambil kedua dompet itu, lalu membuka dompet hasil gandaan itu.

Matanya membulat melihat isi di dalam dompet tersebut.

"Ya ampun, ini sih rejeki nomplok namanya," gumamnya pelan.

Lanjut membaca
Lanjut membaca