Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Hotel Black Swan

Hotel Black Swan

Dian D'nJell | Bersambung
Jumlah kata
25.1K
Popular
100
Subscribe
7
Novel / Hotel Black Swan
Hotel Black Swan

Hotel Black Swan

Dian D'nJell| Bersambung
Jumlah Kata
25.1K
Popular
100
Subscribe
7
Sinopsis
18+HorrorHorrorMisteriDunia Gaib
Jacob mewarisi hotel tua peninggalan kakek buyutnya yang diyakini memiliki kutukan setelah seorang pengunjung wanita tewas bunuh diri. Rumor itu semakin menguat ketika pemilik hotel, kakek buyut Jacob, meninggal di sana. Banyak yang percaya kematiannya ada hubungannya dengan arwah wanita yang tewas bunuh diri itu. Demi membangun hotel warisan itu, Jacob pun mencoba segala cara untuk menghapus kutukan itu. Namun ternyata itu tidak semudah yang ia kira. Karena teror mengerikan justru mengejarnya. Akankah Jacob mampu mempertahankan Hotel Black Swan yang terkutuk dan mengerikan itu?
Jacob Alexander Jacobis

“Jauhi Hotel itu! Itu adalah Hotel terkutuk!”

Suara pria paruh baya itu terdengar menggebu-gebu, namun ekspresinya begitu suram dan penuh dengan ketakutan. Sang putra, yang tidak menyangka bahwa ayahnya akan berkata seperti itu, merasa tidak habis pikir.

Tapi bukan tanpa alasan ia melakukan itu. Semua itu berawal dari sebuah warisan yang tidak bisa dihindari oleh keluarga Jacobis. Sebuah warisan yang malah menciptakan teror dan ketakutan pada penerimanya.

Tapi tidak demikian dengan Jacob. Sebagai keturunan terakhir dari keluarga Jacobis ia bahkan begitu bersemangat ketika menerima warisan itu. Sebuah Hotel yang sudah terbengkalai selama berpuluh-puluh tahun di sebuah Pulau yang terpencil.

Jacob Alexander Jacobis. Ya, itu adalah diriku yang selama ini dianggap CEO paling diktator dan arogan di muka bumi. Aku sama sekali tidak percaya dengan yang namanya mistis dan takhayul. Karna itu aku sama sekali tidak percaya bahwa Hotel yang diwaariskan padaku itu mengandung sebuah kutukkan.

Aku sama sekali tidak peduli apapun tanggapan orang terhadapku. Karna bagiku, yang terpenting dalam hidup ini hanyalah kesuksesan. Jika semua orang bahkan Ayahku menganggap warisan itu adalah sesuatu yang harus dihindari, maka menurutku itu adalah sebuah aset bagus yang harus kukembangkan.

Mungkin aku terkesan sangat arogan dan bertangan dingin. Aku bahkan sama sekali tidak peduli dengan urusan asmara meski kini usiaku telah menginjak tiga puluh tahun. Apalah arti usia bagi mereka yang memiliki harta dan kekuasaan. Aku bisa mendapatkan apapun yang kuiginkan hanya dengan jentikan jari.

Termasuk, para jalang yang bersedia melakukan apapun demi uang. Lagipula, aku cukup tampan dengan wajah bergaris tegas dan tubuh tinggi nan atletis yang kumiliki. Jangankan jalang yang memang murahan, para gadis dari kalangan elite pun bersedia melakukan apapun untukku.

Selain itu, siapa yang tidak kenal dengan keluarga Jabobis? Kami adalah salah satu keluarga yang sangat diperhitungkan di kalangan Elite London. Bukan tanpa alasan, semua itu karna Jacobis corp menguasai hampir seluruh bidang industri di pasar global.

Tapi kami tidak begitu saja mendapat nama besar dan kesuksesan itu. Semua itu berwal dari kerja keras leluhur Jacobis. Bahkan dari sanalah masalah tentang warisan ini dimulai. Dari sebuah usaha pertama yang dirintis oleh Kakek buyutku yang tertua.

Ia mulai merintis bisnis pertamanya dengan membangun sebuah Hotel yang diberi nama Hotel Black Swan. Sebuah Hotel yang berdiri pasa masa sekitar tahun 1945. Hotel yang sangat terkenal pada masanya itu akhirnya menjadi tempat yang sangat ditakuti oleh hampir semua orang karna sebuah tragedi yang terjadi di sana.

Sebuah pembunuhan beruntun diduga menjadi biang dari kengerian Hotel itu. Karna beredar isu bahwa arwah seorang wanita yang tewas dalam teragedi itu telah menghantui Hotel dan semua orang yang ada di dalamnya.

Termasuk kakek buyut sang pemilik Hotel yang tewas secara misterius. Karna kakek buyut belum memiliki keturunan maka Hotel Black Swan berpindah tangan pada adik laki-lakinya yang bernama Nathan.

Sayangnya kakek Nathan tidak berminat untuk meneruskan bisnis Hotel itu dan membiarkannya terbengkalai begitu saja. Maka sejak itu, Hotel Black Swan pun terus diwariskan secara turun temurun pada keturunan kakek Nathan termasuk diriku.

Awalnya, ayahku pun mendapat mandat sebagai pewaris Hotel Black Swan.

Sayangnya ia tidak bersedia menerimanya. Tapi warisan tetaplah warisan dan tidak bisa dialihkan pada pihak selain garis keturunan.

Karna ayah menolak menerima warisan itu, maka kakek pun memberi syarat bahwa putra ayah yang tidak lain adalah aku, wajib menerima warisan itu entah suka ataupun tidak. Tapi ayah tidak rela jika aku menerima warisan itu.

Ia menganggap aku akan mengalami nasib buruk jika menerima Hotel itu. Karna menurut ayah, kakek pun dihantui oleh hal-hal misterius sebelum kematiannya. Maka sampai saat ini ia terus bersikeras agar aku melupakan tentang ide membangun ulang Hotel Black Swan.

Karna itulah aku dan ayahku mulai sering bertengkar dan kami terus berselisih paham tentang Hotel Black Swan. Seperti yang terjadi hari ini ketika aku sedang sibuk dengan banyaknya pekerjaanku di sebuah meeting.

Tapi ayah dengan keras kepala terus membahas tentang Hotel Black Swan.

Hari itu tiba-tiba ponselku terus berdering dan ternyata itu adalah panggilan dari Ayah. Aku berusaha mengabaikan panggilan itu tapi para rekan bisnisku semakin tidak nyaman karna suara dering yang sangat mengganggu itu. tak punya pilihan akhirnya kuputuskan mengangkat telpon ayah.

“Ayah? Aku sedang rapat sekarang. Bisakah kita bicara nanti saja?” kataku pelan.

Tapi entah kenapa tak seperti biasanya Ayah menolak dan meminta bicara sekarang juga. Ayah Bilang ada hal penting yang harus ia katakan padaku dengan segera.

“Hal penting apa yang ingin Ayah katakan sampai harus mengganggu rapatku?” kataku pada Ayah.

“Ini tentang Kakekmu, Jack! Ayah tidak mau tau pokoknya kamu harus pulang sekarang!” kata Ayah kemudian memutus sambungan telpon begitu saja.

Astaga! Ada apa dengan Ayah? Tidak biasanya Ayah bersikap kaku seperti ini. Apalagi sampai memintaku untuk membatalkan sebuah rapat penting. Dan aku sangat penasaran karna tadi Ayah bilang ini berhubungan dengan Kakek?

Terpaksa kuakhiri rapat ini meski aku belum memutuskan perusahaan mana yang akan kupilih untuk bekerjasama.

Jadi kukatakan saja pada mereka, “Maaf Tuan-Tuan. Dengan sangat menyesal saya harus akhiri pertemuan hari ini. Akan saya pikirkan semua proposal yang kalian tawarkan, dan kuhubungi kalian jika sudah kuputuskan.”

Tanpa membuang waktu, aku pun segera pulang sementara itu kuminta Isabel untuk naik taxi dan kembali ke kantor. Dan benar saja, sesampainya di rumah ternyata Ayah sudah menungguku dengan raut wajah yang terlihat tegang.

“Ada apa Ayah? Hal penting apa yang akan Ayah katakan?” tanyaku.

Tanpa mengatakan apapun, Ayah memintaku untuk ikut bersamanya ke ruang Kerja Ayah. Aku pun duduk di sebuah sofa yang ada di ruang kerja Ayah. Sementara itu Ayah mulai membuka lemari kayu tua yang sejak awal sudah ada di ruangan itu dan mulai mencari sesuatu di antara tumpukkan file.

Hingga akhirnya Ayah membawa setumpuk file tapi aku tidak mengerti kenapa beberapa dari file yang dibawa Ayah terdapat album foto. Dan benar saja, Ayah menunjukkan sebuah album foto usang yang menurutku sudah sangat tua itu.

Seingatku, baru kali ini Ayah menunjukkan album itu padaku. Dan aku juga tidak tau kenapa selama ini Ayah masih menyimpannya dengan baik.

Ketika membuka sampul album berdebu itu, masih terlihat jelas sebuah foto kuno seorang pria menggunakan setelan kelabu dan di sampingnya berdiri seorang pria lain yang berambunt pirang. Mereka berdua terlihat tersenyum bahagia di depan sebuah bangunan. Dan bisa kubaca dengan jelas sebuah tulisan yang terpampang di depan bangunan itu.

“Hotel Black Swan.” Itulah yang tertulis di sana. Tapi aku bingung kenapa Ayah menunjukkan foto itu padaku? Bahkan, aku sama sekali tidak kenal siapa kedua orang dalam foto itu.

“Dia adalah Daniel Alexander Jacobis. Kakek buyutmu, dan di sampingnya adalah Nathan Alexander Jacobis,”

“Ya, tapi kenapa Ayah tunjukkan foto tua itu?”

“Kenapa kau masih belum juga paham. Jika saja Kakek Daniel tidak membangun Hotel itu, maka dia pun tidak akan tewas dengan mengenaskan! Apa kau mau mati seperti yang yang dialami kakek buyutmu itu?!”

Apa?! Menggelikan sekali. Aku tidak mengerti kenapa Ayah sangat ketakutan hanya karna mewarisi sebuah Hotel? Lagipula menghubungkannya dengan kematian kakek itu tidaklah bijak. Semua orang pasti akan mati bukan?

Aku bahkan tidak habis pikir dengan cara berpikir Ayah yang masih percaya dengan takhayul dan sebuah kutukan. Di zaman seperti ini semua itu bahkan hanyalah dongeng saja.

“Okay, kita lupakan kenapa Kakek tidak memberikan Hotel itu pada Ayah tapi malah ia berikan padaku. Menurutku, tidak ada yang salah dengan Hotel itu ‘kan Ayah?”

“Asatga, kau ini! Sudah Ayah bilang ‘kan kalau Hotel Black Swan adalah sebuah kutukan. Lihat dan baca jurnal ini! Kau akan paham kenapa Ayah tidak suka dengan warisan itu!” kata Aayah seraya melemparkan sebuah jurnal tua padaku.

Ayah pun akhirnya berdiri dan mengambil segelas red wine lalu kembali berkata, “Asal kau tau awalnya Kakekmu sudah menyerahkan warisan itu pada Ayah. Tapi Ayah menolaknya dan Kakekmu memberi syarat bahwa suka atau tidak anakku harus menggantikanku dan menerima warisan itu.”

“Baiklah. Aku tau Ayah pasti cemas karna rumor kutukan itu bukan. Tapi bukankah itu tidak berpengaruh, toh hal yang wajar menerima warisan turun temurun dari leluhur?”

“Jika saja itu benar. Tapi kenyataannya setiap yang menerima warisan itu pasti akan menerima kutukannya juga! Dan Ayah tidak mau kau mengalami hal itu juga! Jadi mengertilah Jacob!”

Lanjut membaca
Lanjut membaca