Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Tabib Sakti dan Permata Pemikat Wanita

Tabib Sakti dan Permata Pemikat Wanita

Junn_Badranaya | Bersambung
Jumlah kata
47.2K
Popular
537
Subscribe
154
Novel / Tabib Sakti dan Permata Pemikat Wanita
Tabib Sakti dan Permata Pemikat Wanita

Tabib Sakti dan Permata Pemikat Wanita

Junn_Badranaya| Bersambung
Jumlah Kata
47.2K
Popular
537
Subscribe
154
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalHaremPewarisSupernatural
Mengisahkan perjalanan seorang pemuda bernama Satya Bima, dengan Mustika Ratna Asmara yang mampu memikat setiap wanita hingga jatuh ke pelukannya!
Bab 1

Gerimis jatuh membasahi tanah merah di lereng pegunungan Desa Embun Pagi. Kabut tipis merayap rendah, membelit batang-batang pohon pinus yang menjulang seperti pilar-pilar raksasa yang menyangga langit.

Di atas sebuah batu cadas yang menjorok ke jurang, Satya Bima berdiri mematung. Angin gunung yang dingin menusuk hingga ke tulang, namun ia seolah tak merasakannya.

Pakaian pemuda itu sederhana, hanya mengenakan kemeja kain kelabu yang sudah agak pudar warnanya dan celana hitam praktis.

Wajahnya tenang, setenang permukaan telaga di puncak gunung, namun sorot matanya menyimpan sesuatu yang jauh lebih gelap.

Ada luka yang belum mengering di sana, sebuah memori yang terkunci rapat di balik kedisiplinan batin yang ia tempa selama belasan tahun.

Hari ini, Satya akan pergi meninggalkan penjara sekaligus suaka yang telah melindunginya selama lima belas tahun terakhir.

"Satya."

Suara itu terdengar berat dan berwibawa, namun mengandung kelembutan seorang ayah.

Satya berbalik. Di hadapannya berdiri Eyang Surya Raksa. Sang Tabib Agung Langit itu tampak semakin renta, jubah putih gadingnya berkibar pelan.

Namun meskipun begitu, binar di matanya masih tajam, seolah mampu menembus lapisan sukma siapa pun yang ia tatap.

Eyang Surya Raksa melangkah mendekat, lalu mengulurkan sebuah kotak kayu tua dengan ukiran sulur yang rumit.

Di dalamnya, tergeletak sebuah kalung dengan liontin permata berwarna merah redup yang seolah bernapas.

Mustika Ratna Asmara!

"Ini milik Ibumu," ucap Eyang Surya pelan. "Ditemukan melingkar di lehernya saat tragedi itu terjadi. Aku menyimpannya hingga kau dirasa cukup kuat untuk memikul bebannya."

Satya menatap mustika itu. Ingatannya berdenyut perih, namun tangannya tetap stabil saat menerima kotak tersebut.

"Batu ini akan membuka banyak pintu, Satya," lanjut Eyang Surya dengan nada peringatan yang dalam.

"Tapi juga akan mengundang banyak bencana. Jika hatimu rapuh, dia akan menghancurkanmu. Jika jiwamu teguh, dia akan menempamu. Ingat, takdir tidak pernah memberi kita pilihan, dia hanya memberi kita ujian."

Satya menunduk hormat sambil menyentuh tangan sang guru untuk terakhir kalinya.

"Aku akan ingat, Eyang. Setiap luka memiliki alasan, dan setiap perjalanan memiliki akhir."

Enya Surya Raksa mengangguk pelan.

"Waktumu sudah tiba. Pergilah dan hadapi dunia yang keras ini!"

"Baik, Eyang."

Satya memberi hormat untuk yang terakhir kalinya, lalu dia melangkahkan kaki dan mulai menapaki jalan setapak turun gunung.

Bersama dengan itu, pikiran Satya tidak terkendali. Ia terlempar kembali ke malam kelam lima belas tahun silam.

Desa Embun Pagi yang biasanya damai saat itu berubah menjadi neraka. Bau kayu terbakar dan anyir darah memenuhi udara. Satya yang baru berusia sepuluh tahun terbangun karena jeritan ibunya yang memecah malam.

Melalui celah pintu kamar yang sedikit terbuka, ia melihat pemandangan yang menghancurkan dunianya.

Sosok-sosok berpakaian hitam bergerak secepat bayangan, senyap namun mematikan. Ayahnya, seorang pria yang selalu tersenyum, jatuh tersungkur.

Dadanya ditembus oleh senjata aneh berbentuk segitiga bengkok yang berkilat perak di bawah cahaya api.

Ibunya, dengan sisa tenaga terakhir, menarik Satya ke balik lemari tua dan memeluknya begitu erat hingga dia bisa merasakan detak jantung ibunya yang melambat.

"Jangan bersuara, nak ... teruslah hidup dengan baik." bisik ibunya sebelum napasnya terhenti.

Hanya ada tiga hal yang tertinggal di ingatan Satya malam itu, luka senjata berpola aneh yang menghancurkan dada ayahnya.

Aroma tajam dupa yang bercampur dengan bau logam karat, dan sebuah simbol samar di lantai rumah mereka yang berbentuk lingkaran berlapis tiga yang tampak seperti mata.

Simbol itulah yang menjadi bahan bakar dendamnya, sekaligus hantu yang selalu muncul dalam tiap tidurnya.

Beberapa jam kemudian, Satya sudah berdiri di pinggir jalan raya Kota Valthera. Jika gunung adalah keheningan yang bicara, maka Valthera adalah kebisingan yang tuli.

Gedung-gedung pencakar langit mencakar awan, lampu-lampu neon berkedip agresif, dan ribuan kendaraan berderu menciptakan simfoni kekacauan.

Satya merasa seperti orang asing dari planet lain. Namun kedatangannya ke kota ini bukan tanpa alasan.

Eyang Surya sengaja mengirimnya untuk menyembuhkan seorang sahabat lama, seorang tokoh medis besar yang kini tengah sekarat.

Langkahnya membawa Satya ke depan sebuah bangunan megah yang didominasi kaca dan baja, Valthera Prime Medical Center.

Saat Satya melangkah masuk, ia disambut oleh aroma disinfektan yang tajam dan kesibukan yang dingin.

Di lobi yang luas itu, ia tanpa sengaja bersinggungan dengan seseorang yang berjalan terburu-buru.

Bruakk!!!

Tumpukan berkas rekam medis berhamburan ke lantai marmer.

"Ah, maaf!" sebuah suara feminin yang tegas namun merdu terdengar.

Satya berjongkok untuk membantu memunguti kertas-kertas itu. Di saat yang sama, seorang wanita dengan jas putih dokter juga membungkuk.

Tangan mereka bersentuhan sesaat saat meraih lembar kertas yang sama.

Degg!!!

Di balik pakaiannya, Mustika Ratna Asmara tiba-tiba bergetar halus dan menyebarkan gelombang hangat yang menjalar ke seluruh saraf Satya.

Satya mendongak dan terpaku. Di depannya berdiri seorang dokter muda. Rambut hitam panjangnya terikat rapi, membingkai wajah yang luar biasa cantik namun memiliki sorot mata sedingin es.

Dia adalah Elara Virel.

Elara juga terdiam. Dadanya tiba-tiba berdebar tanpa alasan yang jelas. Selama beberapa detik yang terasa sangat lama, ia merasa dunianya seolah berhenti berputar.

Tatapannya tertahan pada mata tenang Satya, mata yang tidak ditemukan pada pria-pria metropolis mana pun yang ia kenal.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Satya pendek.

Elara tersadar dan segera menarik tangannya dan berdiri, lalu merapikan jas dokternya dengan gerakan kaku.

"Aku baik-baik saja. Seharusnya kau melihat jalan, bukan melamun di tengah lobi," ucapnya ketus, mencoba menutupi kegugupan aneh yang baru saja ia rasakan.

Satya hanya mengernyit tipis. Ia tidak menyadari bahwa getaran mustika tadi adalah tanda bahwa sebuah benang takdir baru saja terikat secara permanen.

"Siapa kau?" tanya Elara saat melihat Satya justru mengikutinya menuju lift khusus.

"Aku mencari Tuan Wijaya. Aku diutus oleh seseorang untuk mengobatinya," jawab Satya tenang.

Elara menghentikan langkahnya, lalu menatap Satya dari atas ke bawah. Dari baju lusuh hingga sandal gunung yang dipakai pemuda itu.

"Mengobati? Tuan Wijaya berada di bawah perawatan tim ahli kami. Kami memiliki peralatan paling canggih di negeri ini. Dan kau datang dengan pakaian seperti itu dan mengaku bisa melakukan apa yang puluhan profesor gagal lakukan?"

Senyum sinis menghiasi bibir Elara. "Dengar, pemuda desa. Di sini kami menggunakan sains, bukan delusi atau jampi-jampi. Pulanglah sebelum aku memanggil keamanan."

Ucapan Elara terdengar tajam, tapi Satya tidak tersinggung. Ia menatap gadis itu dengan tatapan yang seolah bisa membaca pikiran wanita itu.

"Sains kalian hanya bisa melihat apa yang nampak. Tapi penyakit Tuan Wijaya berada di tempat yang tidak bisa dijangkau oleh cahaya lampu bedah kalian." jawabnya penuh percaya diri.

Lanjut membaca
Lanjut membaca