Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Pewaris tahta Earth 347

Pewaris tahta Earth 347

Lonwolf | Bersambung
Jumlah kata
154.1K
Popular
100
Subscribe
9
Novel / Pewaris tahta Earth 347
Pewaris tahta Earth 347

Pewaris tahta Earth 347

Lonwolf| Bersambung
Jumlah Kata
154.1K
Popular
100
Subscribe
9
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalReinkarnasi21+Identitas Tersembunyi
Tahun 1944.Hujan turun membasahi tanah Eropa yang hancur oleh perang.Seorang wanita berdiri di depan sebuah makam sederhana tanpa nama. Gaun hitamnya berkibar diterpa angin malam. Wajahnya tetap tenang, meskipun matanya menyimpan kesedihan yang telah bertahan terlalu lama.Di belakangnya berdiri seorang pria berambut hitam dan seorang wanita berambut merah kecokelatan.Mereka bertiga hanya terdiam."Kita terlambat lagi..." ucap wanita itu lirih.Tidak ada yang menjawab.Karena mereka semua mengetahui kenyataan yang sama.Selalu terlambat.Selalu satu langkah di belakang.Pria itu menatap batu nisan di hadapannya."Usianya bahkan belum tiga puluh tahun."Wanita berambut merah mengepalkan tangannya."Sudah berapa kali?""Terlalu banyak untuk dihitung."Keheningan kembali menyelimuti mereka.Bukan sekali.Bukan dua kali.Bukan satu abad.Selama ratusan tahun mereka terus mencari orang yang sama.Seorang pemuda yang selalu terlahir kembali dengan nama berbeda.Wajah berbeda.Kehidupan berbeda.Namun nasib yang sama.Selalu mati muda.Selalu menghilang sebelum mereka berhasil menjangkaunya.Tahun 1453.Mereka terlambat.Tahun 1191.Mereka terlambat.Tahun 79.Mereka terlambat.Untuk sesaat, dunia seolah berhenti bergerak.Lalu sebuah cahaya kecil muncul di atas makam.Cahaya itu melayang ke langit malam sebelum menghilang di antara bintang-bintang.Ketiga sosok itu menatap ke arah yang sama.Mereka mengenali cahaya itu.Karena mereka telah melihatnya berkali-kali.Jiwa yang sama.Jiwa yang terus kembali.Pria itu menarik napas panjang."Dia akan lahir lagi."Wanita berambut merah mengangguk pelan."Dan kita akan mencarinya lagi."Wanita pertama menatap langit yang gelap.Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, senyum tipis muncul di wajahnya."Ya.""Karena suatu hari nanti...""...kami akan menemukanmu lebih dulu." Dan tanpa ia sadari, dunia kembali bergerak menuju takdir yang telah menunggunya selama ribuan tahun.
Bab 1. Titik Balik.

Namaku Nando Vernando Suntala.

Di mata dunia, aku hanyalah seorang pemimpin perusahaan.

Seorang pengusaha.

Seorang pria yang dianggap berhasil.

Tak ada yang tahu, betapa sedikit dari hidupku yang benar-benar milikku sendiri.

SG Grub hanyalah nama. Topeng. Alasan yang kutawarkan pada dunia agar mereka berhenti bertanya.

Aku membangunnya dengan tangan sendiri—tapi bukan untuk kejayaan.

Melainkan untuk menunggu waktu.

Aku selalu tahu… hidupku tidak akan sesederhana yang terlihat. Sejak kecil, ada sesuatu di dalam diriku yang terasa berbeda. Seperti suara yang tak pernah berbicara, tapi selalu mengawasi.

Dan semuanya bermula dari pria tua itu.

Aku masih empat tahun saat pertama kali bertemu dengannya. Wajahnya sudah renta, matanya dalam—seolah mampu melihat jauh melampaui diriku.

Ia tak banyak bicara. Tapi saat ia menatapku, aku merasa…

seperti sedang diingatkan akan sesuatu yang pernah kulupakan.

Dua puluh tahun berlalu tanpa kabar.

Aku tumbuh. Belajar. Bertahan.

Dan saat akhirnya takdir bergerak kembali…

Ia mengambil ayahku lebih dulu.

Mei, 18 2016

Aku berdiri di luar rumah, sebelum melangkah masuk.

Aku tahu, begitu kakiku melewati ambang pintu itu…

hidupku takkan pernah sama.

“Akhirnya kakak sampai…”

Suara-suara menyambut terdengar samar. Aku melihat Mama—tubuhnya tampak lebih kecil dari terakhir kali kulihat. Bahunya gemetar, langkahnya tak lagi pasti.

Aku ingin berlari.

Ingin memeluknya.

Ingin mengatakan semuanya akan baik-baik saja.

Tapi kakiku berat.

Seperti ada sesuatu yang menahanku—bukan dari luar…

melainkan dari dalam diriku sendiri.

Aku berjalan di belakang, menunduk.

Setiap langkah terasa seperti pengakuan atas kesalahanku.

Empat tahun, Nando.

Empat tahun kamu memilih jauh.

Empat tahun kamu pikir masih punya waktu.

Dan sekarang… waktu itu sudah habis.

Saat aku melihat tubuh ayahku, dunia seperti berhenti bergerak.

Ia terlihat tenang. Terlalu tenang.

Seolah hanya tertidur.

Bangun, Pa…

Ini cuma mimpi, kan…

Aku bersimpuh.

Tanganku gemetar. Nafasku patah.

“Pa… Nando pulang…”

Kata-kata itu terdengar asing di telingaku sendiri.

Pulang ke mana, kalau orang yang membuat rumah terasa seperti rumah… sudah tak ada?

“Maaf, Pa…”

Maaf karena aku lebih sibuk mengejar sesuatu yang bahkan aku sendiri tak sepenuhnya mengerti.

Maaf karena aku pikir aku kuat—padahal aku hanya lari.

Aku menangis.

Bukan seperti pria dewasa.

Bukan seperti pemimpin.

Tapi seperti anak kecil…

yang terlambat pulang.

Aku mendengar Mama menangis histeris di sampingku. Suaranya seperti pisau—menusuk, mengiris, dan tak memberiku ruang untuk bernafas.

Kalau saja aku di sini…

Kalau saja aku pulang lebih cepat…

Tapi penyesalan tak pernah menghidupkan kembali yang telah pergi.

Aku ingin berteriak.

Ingin menyalahkan dunia.

Ingin menghancurkan sesuatu.

Namun yang kulakukan hanya duduk diam, menahan badai di dalam dada.

Aku harus kuat.

Bukan karena aku mampu—

tapi karena Mama tidak punya siapa-siapa lagi selain aku.

Saat jenazah ayahku ditutup, aku merasa seperti melihat pintu terakhir dalam hidupku ikut tertutup.

Tak ada jalan kembali.

Malam itu, setelah semua orang pergi, rumah terasa seperti cangkang kosong.

Aku duduk sendiri.

Diam.

Kenangan datang satu per satu—suara ayahku saat menasihati, tawanya, caranya memandangku dengan bangga meski aku jarang pulang.

Apa kamu bangga padaku sekarang, Pa…

atau justru kecewa…

Aku menatap langit.

Gelap.

Hanya satu-dua bintang yang bertahan.

Seperti aku.

Dan entah kenapa, di balik kesedihan itu…

ada sesuatu yang bergerak pelan di dalam diriku.

Bukan amarah.

Bukan dendam.

Melainkan panggilan lama—

sebuah beban yang belum bangkit sepenuhnya.

Aku menutup mata.

Dan untuk pertama kalinya sejak kecil…

aku merasa,

kehilangan ini bukan akhir.

Melainkan awal.

Malam itu aku tertidur tanpa benar-benar tidur.

Kesadaranku tenggelam perlahan—

bukan ke dalam mimpi biasa,

melainkan ke tempat yang terasa terlalu nyata untuk disebut bunga tidur.

Aku berdiri di sebuah padepokan kuno.

Bangunannya terbuat dari kayu tua berwarna gelap, pilar-pilar besar dipenuhi ukiran yang tak kukenal namun terasa… akrab. Lentera-lentera minyak tergantung diam, apinya membeku dalam nyala biru pucat.

Udara sangat dingin.

Bukan dingin yang menusuk kulit—

melainkan dingin yang langsung merayap ke tulang dan napas.

Aku menoleh.

Di tengah pelataran, seorang rekan murid tergeletak di tanah batu. Tubuhnya kaku, kulitnya pucat kebiruan. Asap putih keluar dari pori-porinya—tebal, lambat, dan ekstrem, seperti hawa beku yang tak berasal dari dunia ini.

Aku berlutut di sampingnya.

“Bangun…”

suaraku terdengar berat, seperti tertahan udara beku.

Tak ada respon.

Tanah di bawah telapak tanganku mulai memutih, dilapisi lapisan es tipis yang menyebar perlahan.

Saat itulah aku menyadarinya.

Energi.

Aku bisa merasakannya—

di sisi kananku… dan sisi kiriku.

Berbeda.

Berlawanan.

Yang kanan terasa padat, panas, dan menekan—

seperti inti yang ingin keluar.

Yang kiri terasa dingin, luas, dan memanggil—

seperti kabut yang ingin menelan.

“Tarik…”

sebuah suara bergema.

Aku menoleh cepat.

Tak ada siapa-siapa.

Suara itu tidak datang dari satu arah,

melainkan dari segala penjuru—

dan sekaligus dari dalam kepalaku.

“Tarik energi kanan dan kirimu…”

Aku menutup mata, naluriku bergerak lebih cepat dari pikiranku.

Tanganku terangkat.

Energi kanan berdenyut keras.

Energi kiri merayap perlahan.

Namun sebelum keduanya menyatu—

“Lepaskan saja…”

Suaranya berubah.

Lebih lembut.

Lebih dalam.

“Ikut denganku…”

“Tak perlu menahan…”

“Tak perlu berjuang…”

Udara di sekitarku menggelap. Asap dingin dari tubuh murid itu semakin tebal, membentuk siluet-siluet samar—seperti tangan-tangan yang mengulurkan diri.

Aku membuka mata.

Dadaku berdebar.

Kalau aku lepaskan…

kalau aku ikut…

Ada ketenangan di sana.

Tidak ada sakit.

Tidak ada kehilangan.

Tapi justru karena itu—

“Tidak.”

Suaraku bergetar, tapi tegas.

“Aku tidak ikut.”

Tekanan langsung meningkat.

Energi kiri mencoba menarikku—

bukan dengan paksa,

melainkan dengan bujukan.

Energi kanan bergolak, liar, hampir tak terkendali.

Genggamanku mengepal.

“Aku tidak akan menyerah,” bisikku, gigi terkatup menahan sakit.

“Aku tidak akan meninggalkan mereka.”

Aku menarik lebih keras.

Tubuhku gemetar. Nafasku berat. Pelataran padepokan retak halus di bawah kakiku.

Energi kanan akhirnya mengalir penuh ke telapak tanganku.

Padat.

Panas.

Berat.

Bukan cahaya.

Bukan api.

Melainkan inti—

sebuah kekuatan yang terasa… seharusnya milikku.

Asap dingin di sekitar murid itu bergetar.

Untuk sesaat, tubuhnya tidak lagi membeku.

Suara itu menghilang.

Keheningan jatuh seperti palu.

Aku menatap tanganku sendiri.

Dan tepat sebelum aku sempat bertanya—

Semua runtuh.

Aku terbangun.

Nafasku terengah. Punggungku basah oleh keringat dingin.

Tanganku—

tangan kananku—

masih mengepal.

Dan meski kamar gelap dan sunyi…

telapak tanganku terasa hangat.

Tidak ada cahaya aneh.

Tidak ada suara.

Tidak ada apa pun yang bisa membuktikan bahwa sesuatu barusan terjadi.

Namun aku masih merasakan hangat di tangan kananku.

Bukan panas—

melainkan sisa genggaman. Seperti baru saja memegang sesuatu yang hidup… lalu dilepaskan.

Aku menatap telapak tanganku dalam gelap.

Jika kehilangan ini adalah harga untuk membangunkannya—

aku menelan ludah, dada terasa berat.

maka dunia belum siap mengetahui

apa yang sebenarnya telah bangun bersamaku malam ini.

Malam yang Bergerak Perlahan

Rumah Wisnu & Wulan

Malam turun pelan di rumah Wisnu dan Wulan.

Lampu ruang keluarga diredupkan. Televisi sudah lama dimatikan, menyisakan keheningan yang hangat. Aroma teh hangat masih tersisa di udara.

Vero duduk di sofa, bersandar tenang. Tidak banyak bicara, tapi matanya menyimpan sesuatu—pikiran yang tidak diucapkan. Lily merapikan gelas, kebiasaan kecil setiap kali pikirannya penuh.

Wisnu duduk di kursi tunggal, membaca dokumen tanpa benar-benar membaca. Wulan berdiri di dekat jendela, memandang ke luar.

“Kakek dulu,” ujar Vero pelan tanpa menoleh,

“kalau malam suka diam lama.”

Wulan tersenyum kecil.

“Iya… seolah lagi nunggu kita ngerti.”

“Sekarang kita udah ngerti,” sambung Lily lirih.

“Tapi ceritanya malah makin berat.”

Wisnu menutup map.

“Karena cerita itu belum selesai.”

Vero menoleh.

“Kalau Nando muncul… dia nggak akan datang ribut.”

Wisnu mengangguk.

“Justru itu yang bikin kita harus hati-hati.”

Hening kembali turun.

Tidak ada pembahasan panjang. Tidak ada keputusan keras.

Tapi di rumah itu, semua tahu—sesuatu sedang bergerak.

Rumah Pras & Ayu

Di sisi lain kota, rumah Pras dan Ayu masih terang.

Ayu membuka map foto lama di meja. Tangannya berhenti di satu foto: Kei—keponakannya—tersenyum sambil menggendong anak kecil, berdiri di samping suaminya.

“Dia nggak pernah lemah,” ucap Ayu lirih.

“Kalau dia pergi sejauh ini… pasti ada alasannya.”

Baim duduk di lantai, tablet di tangannya menampilkan peta wilayah Jakarta dan sekitarnya.

“Jejaknya rapi,” kata Baim tenang.

“Bukan orang yang kabur. Tapi orang yang memilih menjauh.”

Pras berdiri di dekat jendela.

“Berarti pencarian kita harus pelan.”

“Dan jangan bawa emosi,” sambung Baim.

“Kalau Kei merasa ditekan… dia akan pindah lagi.”

Ayu menutup map.

“Kalau nanti kita ketemu…”

Baim menoleh.

“Jangan tanya kenapa dia pergi.

Tanya… apa dia masih mau pulang.”

Sunyi.

Keputusan tidak diumumkan keras-keras.

Tapi malam itu, pencarian resmi dimulai kembali.

Pertemuan dengan Trio Nomina

Restoran yang dipilih Wisnu tidak ramai.

Lampu kuning lembut. Jarak antar meja cukup jauh. Tempat yang aman untuk percakapan yang tidak ingin didengar orang lain.

Pras, Ayu, Wisnu, dan Wulan duduk berhadapan saat Trio Nomina datang.

Kevin paling depan—tenang, terukur.

Emely di sampingnya—lembut tapi waspada.

Cristin terakhir—langkah ringan, mata tajam.

Ayu meletakkan foto-foto di tengah meja.

“Kami hanya ingin tahu,” katanya pelan,

“di mana mereka sekarang.”

Kevin menatap foto Kei.

Cristin memejamkan mata.

Emely menarik napas dalam.

Beberapa detik berlalu—hening yang berat.

Cristin membuka mata.

“Yang ini,” katanya menunjuk foto anak kecil,

“sudah dewasa.”

Ayu tercekat.

Kevin menyentuh pelipisnya.

“Kami tidak diizinkan memberi detail.”

Wulan mengangguk cepat.

“Kami hanya minta petunjuk.”

Emely berbicara lembut.

“Dua orang dewasa di foto masih berada di sekitar Jakarta.”

Pras menegakkan badan.

“Sedangkan yang satu,” lanjut Kevin,

“sudah berada di luar Pulau Jawa.”

Wisnu menghela napas pelan.

“Berarti benar.”

Cristin menatap satu per satu wajah mereka.

“Orang yang kalian cari… tidak ingin ditemukan sembarang orang.”

“Tapi akan ditemukan?” tanya Ayu lirih.

“Jika waktunya tepat,” jawab Kevin.

“Dan niatnya murni.”

Hening kembali jatuh.

Sebelum pergi, Cristin meninggalkan satu kalimat:

“Mulailah dari pinggiran Jakarta.

Kota yang bersebelahan dengan ibu kota.”

Trio Nomina pergi tanpa menoleh.

Dan saat pintu restoran menutup, keempat orang dewasa itu tahu satu hal:

Pencarian ini bukan sekadar menemukan orang hilang.

Ini tentang mendekat tanpa merusak.

Penutup Bab

Di tiga tempat berbeda, malam berjalan dengan ritmenya sendiri.

Di rumah Wisnu dan Wulan—kenangan lama kembali bernapas.

Di rumah Pras dan Ayu—nama Kei tak lagi sekadar foto.

Di luar sana—seseorang sedang bergerak, sadar bahwa masa lalu perlahan mendekat.

Dan di antara semua itu,

takdir mulai menyusun ulang langkah-langkahnya.

Tanpa suara.

Tanpa tanda besar.

Tapi pasti.

Lanjut membaca
Lanjut membaca