

Hujan deras mengguyur Jakarta, tapi Arka Dirgantara tidak punya kemewahan untuk berteduh. Jaket kurirnya yang sudah luntur warnanya kini basah kuyup, menempel erat di tubuhnya yang kurus. Bau keringat bercampur air hujan menguap, menciptakan aroma tidak sedap yang membuat orang-orang di lobi apartemen mewah itu menutup hidung.
Arka menunduk, mencoba menyembunyikan wajahnya. Bukan karena malu dengan seragamnya, tapi karena wajahnya sendiri. Jerawat meradang yang merah dan penuh bekas luka menutupi hampir seluruh pipi dan dahinya. Di dunia yang memuja penampilan, Arka adalah sebuah kesalahan visual.
"Maaf, paket untuk Nona Maya di lantai 25," suara Arka serak, menyerahkan sebuah kotak kecil yang ia bungkus dengan plastik agar tidak basah. Kotak itu berisi sebuah kalung perak murah, hasil tabungannya selama tiga bulan bekerja lembur. Hari ini adalah ulang tahun Maya, kekasihnya.
Resepsionis cantik di depannya menatap Arka dengan pandangan jijik, seolah-olah Arka adalah tumpukan sampah yang bisa menularkan penyakit hanya dengan dipandang. "Letakkan saja di sana. Dan tolong, lewat pintu belakang kalau keluar. Kamu membuat lantai ini kotor."
Arka hanya bisa mengangguk pelan. Baru saja ia berbalik, pintu lift terbuka. Jantung Arka seolah berhenti berdetak.
Seorang gadis cantik dengan gaun merah yang elegan keluar dari sana. Itu Maya. Tapi dia tidak sendiri. Lengannya melingkar erat di lengan seorang pria tinggi, tampan, dan mengenakan setelan jas seharga motor Arka.
"Maya?" panggil Arka spontan.
Langkah gadis itu terhenti. Ia menatap Arka dari ujung kaki hingga ujung kepala. Ekspresinya bukan senang, melainkan malu yang luar biasa.
"Arka? Ngapain kamu ke sini?" suara Maya ketus.
"Aku... aku mau kasih kado ulang tahunmu. Ini kalung yang kamu inginkan waktu itu..." Arka menyodorkan kotak kecil tadi.
Pria di sebelah Maya, Rian, tertawa terbahak-bahak. "Maya, ini kurir yang sering kamu ceritakan itu? Astaga, aku kira kamu bercanda soal wajahnya yang mirip permukaan bulan."
Rian melangkah maju, merebut kotak dari tangan Arka dan membukanya. "Kalung perak imitasi? Arka, Arka... bahkan anjing peliharaanku saja pakai kalung emas murni."
*PLAK!*
Rian melemparkan kalung itu ke lantai, tepat di atas genangan air bekas sepatu Arka.
"Maya, apa ini benar?" suara Arka bergetar. "Kenapa kamu bersama dia?"
Maya menghela napas panjang, menatap Arka dengan tatapan dingin yang belum pernah ia lihat sebelumnya. "Arka, ayolah. Sadar diri. Kita sudah dewasa. Cinta tidak bisa membeli skincare untuk wajahmu, cinta tidak bisa membayar apartemen ini. Aku sudah bosan hidup susah bersamamu. Kita putus."
"Tapi Maya, aku kuliah sambil kerja demi kita..."
"Demi kita atau demi dirimu sendiri?" potong Maya tajam. "Rian baru saja memberiku mobil sebagai hadiah ulang tahun. Sedangkan kamu? Kamu hanya memberiku kalung murahan yang bahkan tidak berani aku pakai di depan teman-temanku. Pergilah, Arka. Kamu memalukan."
Rian mengeluarkan dompetnya, mengambil beberapa lembar uang seratus ribuan, lalu melemparkannya ke wajah Arka. "Ini untuk ongkos bensin dan biaya obat jerawatmu. Jangan ganggu pacarku lagi, pecundang."
Keduanya berjalan pergi, meninggalkan Arka yang mematung di tengah lobi. Uang-uang itu jatuh ke lantai yang basah. Orang-orang di sekitar mulai berbisik, ada yang menertawakan, ada yang mengambil video dengan ponsel mereka.
Arka memungut kalungnya yang sudah kotor. Ia berjalan keluar dengan dada sesak. Di bawah guyuran hujan, ia jatuh terduduk di trotoar. Dunianya hancur. Dikeluarkan dari kampus karena tak mampu bayar, dihina karena fisik yang buruk, dan sekarang dikhianati oleh satu-satunya orang yang ia cintai.
"Kenapa... kenapa dunia tidak adil?" Arka berteriak pelan, air matanya menyatu dengan air hujan.
Tiba-tiba, sebuah cahaya keemasan yang hanya bisa dilihat olehnya muncul di depan mata.
**[Ding! Keputusasaan Terdeteksi.]**
**[Kriteria Terpenuhi: Inang telah mencapai titik terendah dalam hidup.]**
**[Mengaktifkan: SISTEM KEBERUNTUNGAN TAK TERBATAS!]**
Arka tersentak. "Suara apa itu?"
**[Sistem ini akan mengubah setiap kesialan Anda menjadi keberuntungan absolut. Apakah Anda bersedia mengikat kontrak?]**
Tanpa pikir panjang, Arka berteriak di dalam hatinya. *"Ya! Aku ingin berubah! Aku ingin mereka menyesal!"*
**[Kontrak Berhasil!]**
**[Hadiah Pemula: Bonus Keberuntungan 10.000%.]**
**[Misi Pertama: Pergilah ke gerai lotre di seberang jalan. Keberuntungan sedang menanti Anda.]**
Arka menatap ke seberang jalan. Ada sebuah toko kecil yang menjual kupon undian berhadiah. Dengan sisa tenaga dan uang pemberian Rian yang tadi ia pungut sebagai bentuk penghinaan, Arka melangkah masuk.
"Beri aku satu kupon paling murah," kata Arka pada penjual lotre yang sedang mengantuk.
Si penjual memberikan kupon sisa yang sudah tertekuk di sudut meja. "Ini yang terakhir. Tidak ada yang mau membelinya karena nomornya dianggap sial."
Arka mengambilnya. Ia menggosok bagian penutup nomornya dengan gemetar.
**[Ding! Keberuntungan Aktif!]**
Mata Arka membelalak. Nomor yang muncul adalah **07-07-07-07**. Sesaat kemudian, layar televisi di toko itu menampilkan pengumuman pemenang utama malam ini.
*"Selamat kepada pemenang hadiah utama sebesar 10 Miliar Rupiah dengan nomor undian... 07-07-07-07!"*
Si penjual lotre melompat dari kursinya, ponselnya terjatuh. "Ti-tidak mungkin! Nomor sial itu menang?"
Arka terdiam. Jantungnya berpacu kencang. Sepuluh miliar? Dalam sekejap, ia bukan lagi kurir miskin. Tapi sistem belum selesai.
**[Ding! Anda telah memenangkan hadiah utama! Keberuntungan Anda memicu fungsi tambahan: Transformasi Fisik.]**
**[Memulai pembersihan racun dan regenerasi sel kulit...]**
Tiba-tiba, tubuh Arka terasa panas. Rasa gatal yang luar biasa menjalar di wajahnya. Ia segera berlari ke arah cermin besar di sudut toko. Di depan matanya sendiri, jerawat-jerawat meradang itu mengering dan rontok seperti debu, digantikan oleh kulit yang mulus, bersih, dan cerah.
Struktur wajahnya berubah menjadi lebih tegas, hidungnya lebih mancung, dan matanya memancarkan daya tarik yang magis. Dalam hitungan detik, kurir buruk rupa itu menghilang, digantikan oleh pria setampan model papan atas dunia.
Arka menyentuh wajahnya yang kini halus. Ia menatap pantulan dirinya dengan tidak percaya.
"Maya, Rian..." Arka tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat memikat namun dingin. "Permainan baru saja dimulai."