

Langit Sungai Geringging sore itu mendung. Awan kelabu menggantung rendah di atas atap-atap seng yang berkarat, seakan ikut menahan beban yang tak terucap. Di sebuah warung pinggir jalan yang hanya beratap terpal biru pudar, dua orang siswa SMP duduk bersila di bangku panjang bambu. Di hadapan mereka, sepiring mi goreng dan segelas es teh manis menjadi saksi bisu percakapan yang mengalir begitu saja, tanpa beban.
Yusri menyuap mi ke mulutnya perlahan. Wajahnya biasa saja tidak terlalu tampan, tidak pula jelek. Hidungnya mancung, matanya sipit, kulitnya sawo matang. Tapi siapa pun yang pernah melihatnya tersenyum akan mengerti mengapa bibir itu mampu meluluhkan hati siapa saja. Senyumnya manis. Manis seperti gula aren yang baru disadap, manis seperti pagi yang masih utuh sebelum debu dan kebisingan datang mengusik.
Tapi sore itu, senyum itu jarang muncul.
“Kau kenapa, Ri?” tanya Yasril di sampingnya. Rambut ikalnya tertiup angin, wajah tampannya menyunggingkan senyum yang selalu berhasil mencairkan suasana. “Dari tadi diam aja. Padahal kau sekarang kan terkenal suka bercanda.”
Yusri tidak menjawab. Matanya menerawang ke jalan beraspal yang retak-retak, tempat beberapa ekor ayam kampung berlarian kejar-kejaran. Sebulan terakhir ini dia memang berubah. Dari siswa pendiam yang gampang tersinggung dan tidak bisa diajak bercanda, Yusri menjelma menjadi anak yang suka bolos, suka mencari lawan dari sekolah lain, dan yang paling mengejutkan,kini dia yang paling keras bercanda di antara teman-temannya.
Tapi tidak sore ini.
“Tiga bulan lagi kita lulus,” kata Yusri akhirnya, suaranya datar.
“Iya, terus?”
“Aku merasa... aku bukan lagi diriku yang dulu.”
Yasril mengerutkan kening. Dia mengenal Yusri sejak kelas satu. Mereka selalu satu kelas,dari 7A, 8A, hingga sekarang 9A. Yasril tahu betul bagaimana teman terbaiknya itu dulu: pendiam, mudah tersinggung, dan tidak pernah mau diajak bercanda. Jika ada yang menggoda, Yusri hanya akan diam lalu pergi. Tidak pernah marah. Tidak pernah membalas.
Yasril adalah satu-satunya orang yang berhasil menembus tembok itu. Bukan karena dia istimewa, tapi karena dia tidak pernah menyerah. Setiap hari dia mendekati Yusri, setiap hari dia melontarkan lelucon yang awalnya hanya dibalas dengan tatapan kosong. Hingga suatu hari, Yusri tersenyum. Dan Yasril tahu, sejak saat itu, persahabatan mereka tidak akan pernah sama lagi.
“Kau kenapa berubah jadi begini?” tanya Yasril hati-hati. “Dulu kau pendiam, sekarang kau suka cari masalah. Dulu kau gampang tersinggung, sekarang kau malah yang paling keras bercanda.”
Yusri menghela napas. “Aku capek, Ril.”
“Capek apa?”
“Capek jadi orang yang dianggap lemah. Capek dilihat sebelah mata. Semua orang di sekolah ini tahu kita siswa SMP 4 Suger. Sekolah kecil. Sekolah pinggiran. Dibandingkan sekolah lain, kita selalu dianggap kelas dua.”
SMP Negeri 4 Sungai Geringging yang akrab disebut Suger oleh warga sekitar memang sekolah dengan jumlah siswa sangat banyak. Setiap tahun, lebih dari tiga ratus siswa baru membanjiri lorong-lorong sempit sekolah itu. Tapi jumlah tidak pernah berbanding lurus dengan kualitas. Setidaknya, itulah yang selalu dikatakan orang-orang.
“Makanya kau cari lawan di sekolah lain?” tanya Yasril.
“Bukan.” Yusri memainkan sendok di tangannya. “Aku hanya ingin membuktikan sesuatu. Bahwa kita tidak bisa dianggap remeh.”
Yasril terdiam. Dia mengerti. Selama tiga tahun bersekolah di Suger, dia juga merasakan pandangan miring dari siswa sekolah lain. Tapi dia memilih untuk tersenyum dan mengabaikannya. Tampan dan ramah adalah senjata utamanya. Dengan senyum dan rambut ikalnya yang khas, Yasril bisa lolos dari banyak masalah.
Tapi tidak dengan Yusri.
“Kau tahu,” kata Yusri tiba-tiba, “aku kadang iri sama kau.”
“Iri? Kenapa?”
“Kau punya segalanya. Wajah tampan, rambut ikal yang disukai cewek, sifat ceria. Sementara aku...”
“Wajahmu biasa aja, memang,” potong Yasril sambil tersenyum, “tapi senyummu manis. Itu lebih dari cukup.”
Yusri tersenyum. Senyum manis yang Yasril bicarakan itu akhirnya muncul juga. Tipis, tapi hangat.
“Dasar,” gumam Yusri sambil menggeleng.
Mereka tertawa bersama. Tawa kecil yang hanya milik dua sahabat yang sudah terlalu lama saling mengenal.
Tak berselang lama, suara motor berderum kencang memecah keheningan sore. Dua motor berhenti di depan warung, masing-masing ditumpangi dua orang, satu motor lagi berisi tiga orang. Total lima orang. Mereka mengenakan seragam putih abu-abu dengan atribut lengkap,SMA 1 Taipan.
Yasril dan Yusri saling pandang sebentar, lalu kembali pada mi goreng mereka. Bukan urusan mereka.
Kelima siswa SMA itu masuk ke warung dengan langkah percaya diri. Mereka memesan mi goreng dan es teh, duduk di meja yang tak jauh dari tempat Yasril dan Yusri. Awalnya mereka makan dengan tenang, tertawa kecil di antara mereka, membicarakan sesuatu yang tidak jelas.
Tapi ketika makanan mereka habis, suasana berubah.
Salah seorang dari mereka,yang tampak paling besar, dengan rambut cepak dan rahang tegas berdiri dan berjalan mendekati meja Yusri dan Yasril. Teman-temannya mengikuti.
“Hei, dek,” kata pemuda itu. Namanya Robi, siswa kelas 11 SMA 1 Taipan yang terkenal sebagai preman sekolah. “Kalian bayarin makan kita, ya.”
Yusri mengangkat kepala, menatap Robi dengan mata datar.
“Ngapain kami bayar?” jawab salah satu siswa SMP yang kebetulan juga sedang makan di warung itu. Dia bukan teman Yasril atau Yusri, tapi ikut angkat bicara. “Yang makan kan elu, bang. Bukan kita.”
“Iya,” tambah yang lain. “Buka kita. Ngapain kami yang bayar?”
Robi menyipitkan mata. Dia terbiasa dengan perlawanan, tapi tidak biasanya dari anak-anak SMP kelas teri.
Sementara itu, Yusri dan Yasril tetap duduk santai. Yasril bahkan menyruput es tehnya dengan tenang, seolah tidak ada apa-apa. Yusri mengamati dari balik kelopak matanya yang sipit.
“Kalian dengar itu?” Robi menoleh ke teman-temannya. “Anak-anak SMP sekarang berani banget.”
Dia berbalik lagi, lalu dengan gerakan tiba-tiba meninju meja kayu di hadapan Yusri dan Yasril. Bunyi debam menggelegar, membuat gelas es teh Yasril hampir tumpah.
Tapi sebelum situasi memanas, seorang pemuda dari balik meja kasir berteriak, “Ngapain ribut di sini?!”
Itu Zainal, anak pemilik warung, Ibu Wati. Zainal baru berusia dua puluh tahun, bertubuh kurus tapi tegas. Dia keluar dari balik meja, menatap Robi dengan mata tajam.
“Bayar aja cepat, gausah betikah lu,” kata Zainal.
Robi menoleh, matanya menyala. “Kau ngomong apa?”
“Kubilang bayar. Gausah nyari masalah di warung nyokap gue.”
Teman-teman Robi mulai mendekat. Lima lawan satu.
“Kurang ajar, lu,” Robi mendekati Zainal. “Anak penjaga warung sok berani.”
“Kurang ajar siapa?” Zainal tidak mundur. “Anak sekolah gak tau etika. Makan gak mau bayar, mau mukul anak SMP pula.”
Zainal mengangkat tangan, bermaksud menampar Robi sebagai peringatan. Tapi Robi lebih cepat. Dia menangkis, lalu meninju wajah Zainal. Satu pukulan keras membuat Zainal tersungkur ke lantai tanah.
Teman-teman Robi langsung mengeroyok.
Melihat itu, sesuatu dalam diri Yusri meledak.