

Terik matahari Ibukota siang itu rasanya sanggup melelehkan aspal Pasar Induk Tanah Abang. Namun, siksaan sesungguhnya bagi Jaka bukanlah cuaca ekstrem tersebut, melainkan tumpukan karung beras seberat lima puluh kilogram yang terus menindas pundak tipisnya tanpa henti sejak azan subuh berkumandang.
"Woi, Jaka! Lelet amat lo jalan, astaga! Udah makan jatah kuli paling banyak, tenaga lo malah kayak siput keseleo! Buruan angkut sisa karung ke truk!"
Teriakan melengking dari Koh Abun, sang mandor gudang yang galak, meledak menembus bisingnya pasar. Jaka hanya bisa menelan ludah kasar. Peluh membasahi kaus partai belelnya, mencetak tulang rusuknya yang kurus. Udara pengap gudang membuat napas pemuda dua puluh empat tahun itu tersengal parah.
"Ampun, Koh Abun! Pundak gue rasanya mau copot! Istirahat lima menit ngapa, minum air putih doang!" rengek Jaka, menurunkan karung terakhir dengan bantingan keras.
"Minum, minum! Kerjaan belum beres banyak bacot! Lo mau gue potong gaji hari ini?! Sana balik angkut lagi!" bentak Koh Abun semena-mena.
Jaka menghela napas menahan sumpah serapah. Namun, tepat ketika ia membalikkan badan dan meregangkan lengannya yang kaku, sebuah anomali yang sama sekali tidak masuk akal terjadi.
Tiba-tiba, kedua telapak tangannya terasa luar biasa panas. Bukan karena gesekan karung kasar, melainkan hawa panas yang seolah memancar langsung dari dalam sumsum tulangnya sendiri. Rasa panas itu dengan cepat berubah menjadi sensasi berdenyut ritmis. Seakan ada aliran listrik bertegangan rendah yang mengalir bebas dan berkumpul di ujung-ujung kesepuluh jarinya.
"Aduh, anjir... apaan nih? Kenapa nih tangan gue?" gumam Jaka tertahan.
Pemuda udik itu berjongkok di samping ban truk, menatap kedua telapak tangannya yang kapalan. Tidak ada luka. Namun, denyutan magis di balik kulitnya terasa begitu hidup, membuat urat-urat halus kebiruan di pergelangannya menonjol selaras dengan detak jantungnya.
"Ngapain lo jongkok di situ, Kucel?! Kesurupan penunggu aspal?!" omel Koh Abun dari kejauhan.
"I-iya, Koh! Ngiket tali sepatu doang!" balas Jaka panik.
Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat. Paling urat kecetit kurang minum. Ntar juga ilang dibawa tidur, batinnya polos. Pemuda itu kembali berlari ke gudang, sama sekali tak menyadari bahwa momen itu adalah awal kebangkitan kekuatan supranatural di tubuhnya.
***
Pukul sepuluh malam. Langit Jakarta berubah kelam pekat.
Jaka menyeret langkah gontainya memasuki lorong sempit Kosan Karangwangi, bangunan indekos berlantai dua berdinding tripleks. Bau obat nyamuk bakar bercampur aroma got mampet langsung menyambutnya. Sambil menenteng kresek hitam berisi nasi bungkus, langkah Jaka mendadak terhenti tepat di depan kamar kos nomor empat.
Itu kamar Maya, janda kembang beranak satu yang pesonanya selalu sukses membuat bapak-bapak pos ronda menelan ludah. Biasanya kamar itu sunyi jika Maya kerja shift malam di pabrik garmen, namun malam ini terdengar sesuatu yang ganjil.
"Nghh... aduh... Tuhan... sakit banget... tolong..."
Suara rintihan parau itu disusul bunyi napas tersengal penuh keputusasaan. Bulu kuduk Jaka refleks meremang berdiri.
"Mbak Maya?" panggil Jaka ragu-ragu, mengetuk pintu tipis itu. "Mbak? Lo di dalam? Lo nggak kesurupan siluman buaya Ciliwung, kan?"
Hanya terdengar suara barang plastik jatuh, disusul erangan yang jauh lebih keras dan menyayat hati.
"Mbak Maya! Woi, lo kenapa di dalam?!" Insting kepanikan Jaka mengambil alih. Ia menggedor pintu lebih keras.
"J-Jak... tolongin gue, Jak... dorong aja, pintunya nggak dikunci..." balas suara lirih yang bergetar hebat.
Tanpa berpikir panjang, Jaka memutar kenop pintu berkarat itu. Hawa pengap menerpa wajahnya. Kresek nasi bungkusnya meluncur jatuh ke lantai saat Jaka membelalakkan matanya lebar-lebar.
Pemandangan di depannya luar biasa memprihatinkan. Maya hanya mengenakan daster tipis bermotif macan tutul yang basah kuyup oleh keringat dingin, mencetak jelas lekuk tubuhnya yang sintal. Wajah cantiknya pucat pasi, matanya memerah beringas menahan tangis frustrasi. Sang janda meringkuk di atas kasur kapuk, kedua tangannya mencengkeram erat dadanya sendiri seolah berusaha menahan tulang rusuknya agar tidak hancur. Napasnya berbunyi mengi, layaknya orang kehabisan oksigen.
"Ya Allah, Mbak Maya! Lo kenapa?! Muka lo udah kayak zombie!" jerit Jaka panik. Ia buru-buru menutup pintu rapat-rapat, ngeri daster tetangganya itu memancing keributan warga di luar.
Maya mendongak susah payah. Tatapannya putus asa, namun sisa-sisa kegarangannya masih menyala.
"Dada gue, Jak... rasanya kayak dihantam beton bertulang!" jerit Maya bergetar, meremas ujung dasternya. "Sarafnya ketarik semua! Ini kram parah, bangsat! Napas aja rasanya kayak ditusuk ribuan jarum karatan!"
Jaka menelan ludah. Maya memang bekerja gila-gilaan menunduk menjahit kain di pabrik. Tak heran jika postur tubuhnya hancur dan otot pektoralis-nya kram akut.
"Terus hubungannya sama gue apa, Mbak?! Panggil ambulans lah! Jangan mati lemas di kamar ini, ntar gue yang dituduh macem-macem!" balas Jaka histeris, menyilangkan kedua tangannya.
"Ambulans bayar pakai daun, hah?!" bentak Maya menggeram nyeri. "Puskesmas tutup! Kalau gue ke UGD elit, bisa habis jutaan! Duit dari mana gue, anjir?!"
Maya merosot lemah di tepi kasur, menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga air matanya tumpah.
"Gue denger lo sering mijetin kuli keseleo di pasar," mohon Maya dengan suara melemah. "Tolongin gue, Jak. Sembuhin saraf gue. Lemesin otot dada gue sekarang juga. Gue bisa mati sesak napas kalau urat ini nggak diurai."
Mata Jaka nyaris melompat keluar. Pemuda itu mundur hingga menabrak dinding tripleks.
"Gila lo, Mbak! Sinting! Pijat kuli panggul sama mijat dada orang jantungan beda server, anjir! Lagian gue cowok, masa disuruh mijet area sensitif lo?! Digorok warga gue kalau ketahuan!" tolak Jaka mentah-mentah.
"Gue nggak peduli lo cowok atau siluman! Nyawa gue taruhannya!" Maya mengerang makin keras. "Lo mau bayaran berapa?! Nanti gue bayar nyicil! Tolongin gue, Jak. Teken titik simpulnya, gue udah nggak kuat..."
"Nggak! Nggak bisa, Mbak! Otak gue ntar error mendadak! Mending gue beliin lo balsem sakti di warung aja! Lo tunggu, jangan mati dulu!" Jaka buru-buru berbalik, berniat kabur dari situasi yang mengancam akal sehatnya itu.
Namun, Jaka meremehkan insting survival janda yang sedang meregang nyawa. Sebelum ia sempat memutar kenop pintu, tangan Maya melesat dengan gerakan refleks yang sangat cepat.
"Bantuin gue, Kucel... sekarang!"
Dengan satu sentakan nekat, Maya menarik lengan Jaka. Ia memutar tubuh pemuda itu dan tanpa ragu sedetik pun, menempelkan telapak tangan Jaka yang kapalan itu tepat dan kuat di atas area pangkal dadanya yang kaku sekeras batu.
Waktu seakan berhenti berdetak. Mata Jaka membelalak sempurna, napasnya tertahan. Namun, sebelum ia sempat memekik panik, anomali gila terjadi. Tepat saat kulit tangannya bersentuhan langsung dengan kulit Maya, hawa panas magis dan denyutan listrik dari pasar tadi meledak bangkit kembali.
Mata Maya membesar, terkejut merasakan sengatan aneh yang meresap ke balik kulitnya. Napas janda itu seketika tertahan, menatap tajam ke dalam mata Jaka.
"Tangan lo... ahhh... kenapa tiba-tiba panas banget rasanya, Jak?! Urat gue... pijat dada gue sekarang juga, bangsat!"