

Hujan turun seperti tak ingin berhenti. Air membasahi kaca jendela minimarket tempat Arga berteduh, membuat pemandangan jalanan di luar terlihat buram dan aneh. Suara petir sesekali menggelegar, memecah kesunyian malam yang sudah terlalu larut.
Arga melirik jam tangan miliknya.
23.30.
"Menyebalkan," umpatnya pelan.
Ponselnya sudah mati total karena kehabisan baterai. Dompetnya hanya menyisakan uang pas untuk ongkos pulang. Ojol? Tidak ada satu pun aplikasi yang bisa diakses. Angkot? Sudah pasti tidak ada yang berani lewat di daerah sepi ini saat hujan badai begini.
Satu-satunya harapan hanyalah stasiun kereta api tua yang terletak sekitar seratus meter dari tempatnya berdiri. Konon, ada kereta komuter terakhir yang lewat tepat pukul dua belas malam untuk mengantar penumpang yang "kesulitan".
Arga menghela napas panjang, menaikkan ritsleting jaketnya hingga ke dagu, lalu berlari kecil menembus hujan menuju gerbang stasiun.
Suasana di sana sungguh tak masuk akal.
Stasiun yang biasanya berisik, kini terasa seperti bangunan terbengkalai berabad-abad lamanya. Bau apek bercampur bau besi berkarat menusuk hidung. Lampu-lampu neon bergantung miring, berkedip-kedip tak beraturan, menciptakan bayangan yang seolah bergerak sendiri di dinding.
"Permisi! Masih ada kereta ke arah kota?" teriak Arga ke arah pos penjagaan.
Seorang pria tua dengan seragam lusuh mendongak perlahan. Wajahnya keriput, namun matanya tajam dan gelap, seolah bisa menembus pikiran Arga. Pria itu tidak langsung menjawab. Ia menatap Arga dari ujung kepala hingga kaki dengan tatapan aneh—bukan tatapan curiga, melainkan tatapan... iba.
"Mau ke mana, Nak?" Suara pria itu serak dan berat.
"Pulang, Pak. Saya harus sampai rumah sebelum subuh. Katanya ada kereta terakhir jam 00.00?"
Pria tua itu tersenyum tipis. Senyum yang tidak menyenangkan. "Ada memang. Tapi... kereta itu tidak menjual tiket, Nak. Dan penumpangnya... mereka tidak membayar dengan uang."
Arga mengerutkan kening. "Maksud Bapak apa? Gratis?"
"Bukan." Pria itu menggeleng pelan. "Kereta itu datang bukan untuk mengantar orang pulang ke rumahnya. Ia datang untuk menjemput orang-orang yang waktunya sudah habis. Jam 00.00... itu bukan jadwal keberangkatan, itu batas akhir antara dunia hidup dan kematian."
Napas Arga tercekat. Udara di sekitarnya tiba-tiba terasa jauh lebih dingin, menusuk sampai ke tulang sumsum.
"Bapak lagi main film horor ya?" Arga mencoba tertawa, meski suaranya terdengar gugup. "Saya buru-buru, Pak. Kalau ada kereta saya naik saja."
Tanpa menunggu jawaban, Arga berlari menuruni tangga menuju peron. Ia tidak peduli dengan omongan aneh orang tua tadi. Mungkin orang itu gila atau sekadar ingin menakut-nakuti orang.
Namun, saat kakinya menginjak lantai peron, jantung Arga seakan berhenti berdetak.
Kabut.
Kabut putih tebal turun begitu cepat, menyelimuti rel kereta hingga hilang tak terlihat ujungnya. Dunia di sekitarnya seolah lenyap, tertelan oleh kesunyian yang mencekam.
23.55.
Lima menit lagi.
Tiba-tiba...
TIN...!!!
Suara peluit panjang terdengar. Bukan peluit modern yang nyaring, melainkan suara berat, dalam, dan bergema seperti terompet kematian. Diikuti suara dentang besi yang memekakkan telinga.
KREK... KRAK... KREK... KRAK...
Getaran tanah terasa di bawah kaki Arga. Dari balik kabut yang pekat itu, muncul sebuah bentuk raksasa yang bergerak mendekat.
Arga membelalakkan matanya.
Itu bukan kereta listrik atau gerbong modern yang biasa ia lihat.
Itu adalah Kereta Uap.
Badannya hitam legam, catnya mengelupas dan berkarat. Asap putih mengepul tinggi dari cerobongnya, bercampur dengan kabut malam. Roda besi besarnya berputar perlahan namun pasti, mengeluarkan bunyi yang begitu nyata namun terasa seperti berasal dari mimpi buruk.
Kereta itu berhenti tepat di hadapan Arga. Pintu-pintu gerbong terbuka dengan sendirinya, mengeluarkan bunyi besi berkarat yang melengking.
Tidak ada masinis. Tidak ada kondektur. Tidak ada satu pun petugas.
Dari dalam, cahaya kuning pucat memancar keluar. Cahaya yang tidak memberikan kehangatan, justru terasa mati dan dingin.
"Hei! Apakah ini kereta ke Kota?" teriak Arga, mencoba memberanikan diri.
Tidak ada jawaban. Hanya angin yang berhembus kencang, menerbangkan rambut Arga.
Arga menoleh ke belakang. Stasiun, lampu-lampu, dan pos penjagaan tadi... sudah hilang.
Yang ada hanya kegelapan dan kabut tanpa ujung.
Panik mulai merayapi dadanya. "Ini trik apa sih?!"
Kereta itu seolah memberi waktu sebentar, lalu pintunya perlahan mulai menutup.
CLING!
Naluri bertahan hidup mengambil alih. Jika tetap di sini, ia akan hilang ditelan kabut ini selamanya. Setidaknya di dalam kereta ada orang lain.
Tanpa pikir panjang, Arga melompat masuk.
Kakinya mendarat di lantai kayu yang berderit.
Seketika, seluruh udara di paru-parunya seakan tersedot keluar.
Gerbong itu penuh sesak.
Penumpang duduk rapi di kedua sisi. Ada pria dengan jas kuno dan topi tinggi, wanita dengan kebaya antik dan wajah pucat, anak kecil, bahkan tentara dengan seragam zaman perang.
Semua diam.
Mereka duduk tegak, menatap lurus ke depan dengan mata kosong. Wajah mereka pucat pasi, kulitnya berwarna kelabu seperti mayat. Tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang berkedip. Hening. Mencekam.
Arga menelan ludah. Keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya meski udara sangat dingin.
Jangan panik, Arga. Jangan panik. Ini cuma pesta kostum. Ya, pasti ini acara misteri atau apa.
Ia berjalan tertatih menuju satu-satunya kursi kosong yang ada di paling ujung gerbong. Setiap langkah kakinya terasa berat. Saat ia berjalan melewati barisan penumpang itu...
Satu per satu.
Mereka memutar kepalanya serentak ke arahnya.
Gerakannya kaku, lambat, dan tidak manusiawi. Seperti boneka yang tali penariknya ditarik secara bersamaan. Mata mereka menatap Arga, kosong namun penuh tuntutan.
Arga mempercepat langkahnya, hampir berlari, lalu mendaratkan tubuhnya di kursi kosong itu dengan napas memburu.
Pintu kereta tertutup rapat dengan bunyi GEDUBUK! yang membuat seluruh gerbong bergetar.
Kereta mulai bergerak. Melaju memasuki kegelapan.
Arga memejamkan mata, berusaha menenangkan detak jantungnya yang mau copot. Ia mengingat pesan neneknya yang dulu sering ia abaikan: "Jangan pernah pulang naik kendaraan tepat tengah malam, Nak. Karena di jam itu, setan juga sedang keliling mencari teman."
"Teman baru ya?"
Suara berat dan dingin terdengar tepat di sebelah telinga kanannya.
Arga tersentak hebat dan langsung menoleh.
Duduk di sebelahnya adalah seorang pria muda berpakaian rapi, wajahnya tampan namun sangat pucat. Pria itu tersenyum, memperlihatkan giginya yang putih bersih.
"K-kamu siapa?" tanya Arga terbata.
"Aku penghuni lama di sini," jawab pria itu santai. Ia mencondongkan tubuhnya, "Kamu kelihatannya panik sekali. Baru pertama kali naik Kereta Arwah ini?"
"Kereta... apa?"
"Kereta Arwah. Kereta terakhir jam 00.00," pria itu terkekeh pelan, tawanya terdengar datar dan hampa. "Kamu tahu nggak kenapa kereta ini ada? Karena di dunia ini, banyak jiwa yang tersesat, banyak orang yang mati tapi nggak sadar kalau mereka sudah mati. Mereka masih ingin pulang."
Arga gemetar hebat. "Aku masih hidup! Aku mau turun! Berhenti!!" ia berteriak ingin berdiri, tapi kakinya terasa seperti terpaku ke lantai. Tidak bisa bergerak sama sekali.
Pria di sebelahnya menepuk bahu Arga perlahan. Tangannya dingin seperti es batu.
"Duduk dulu, Teman. Kamu pikir kenapa kamu bisa naik ke sini? Kereta ini nggak sembarangan mengambil penumpang. Hanya mereka yang... waktunya sudah habis yang bisa melihat dan menaikinya."
"Enggak! Aku baru umur dua puluh tahun! Aku belum mati!" Arga membantah dengan air mata yang mulai menggenang.
Pria itu tersenyum semakin lebar, hingga mulutnya terbelah tak wajar.
"Lihat ke luar jendela, Arga."
Arga menurut, menatap kaca buram di sebelahnya.
Di sana, terbayang pantulan wajahnya sendiri. Tapi bukan wajahnya yang biasa. Wajahnya di cermin itu pucat, kelabu, dan lehernya terlihat memiliki luka melingkar hitam pekat... seolah pernah dicekik atau digantung.
Dan di belakang pantulannya... terlihat tubuhnya sendiri tergeletak tak bergerak di bawah hujan deras, tepat di depan stasiun tadi, tertabrak truk yang melaju kencang saat ia berlari menyeberang.
"Kita..." suara pria itu berubah menjadi serak dan mengerikan, "sudah sama-sama mati, Bodoh."
TIN...!!!
Peluit panjang berbunyi lagi. Kereta melaju semakin kencang, menerobos dimensi hitam, membawa Arga menyadari bahwa ia bukan lagi penumpang yang ingin pulang...
Ia adalah salah satu dari mereka.
Dan perjalanan abadi ini... baru saja dimulai.