Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Ekspedisi Mistik: Kutukan Gelang Keturunan Ketujuh

Ekspedisi Mistik: Kutukan Gelang Keturunan Ketujuh

keenan | Bersambung
Jumlah kata
71.5K
Popular
100
Subscribe
8
Novel / Ekspedisi Mistik: Kutukan Gelang Keturunan Ketujuh
Ekspedisi Mistik: Kutukan Gelang Keturunan Ketujuh

Ekspedisi Mistik: Kutukan Gelang Keturunan Ketujuh

keenan| Bersambung
Jumlah Kata
71.5K
Popular
100
Subscribe
8
Sinopsis
PerkotaanSupernaturalDunia GaibPerangIblis
Radit Permana hanya memiliki satu tujuan: lulus dari Universitas Terbuka dan menjadi guru seperti mendiang ibunya. Namun, warisan ayahnya berupa gelang misterius keturunan ketujuh menyeretnya ke dalam dunia gelap yang penuh perjanjian iblis. Sebagai kurir khusus yang menjangkau pelosok Indonesia, Radit terjebak dalam misi berbahaya mengantar paket-paket yang tak tersentuh agen logistik biasa. Di setiap wilayah yang ia datangi, ia harus menghadapi entitas gaib lokal dan jawara silat yang mengincar kekuatannya. Gelang tersebut memberinya kemampuan melihat sisa umur dan penyakit, namun juga daya pikat tak terbendung yang menguji moralitasnya di hadapan banyak wanita. Berbekal ilmu Silat Monyet Sakti, Radit berjuang mencari cara memutus rantai kutukan iblis sebelum ia kehilangan seluruh nyawanya dalam perjalanan panjang yang tak berujung.
Warisan di Balik Bingkai Usang

Bau tanah basah sisa hujan semalam masih menguar kuat, bercampur dengan aroma kemenyan yang menempel tipis di dinding-dinding anyaman bambu rumah. Radit Permana duduk bersila di atas dipan kayu yang berderit pelan setiap kali ia menarik napas panjang. Matanya yang memerah dan dihiasi kantung hitam menatap kosong ke arah ruang tamu berukuran sempit di depannya. Kemarin, di ruangan itulah ayahnya dibaringkan untuk terakhir kalinya sebelum diantar ke liang lahad.

Kini, di usianya yang baru menginjak delapan belas tahun, Radit benar-benar sebatang kara. Ibunya, seorang perempuan tangguh yang mewariskan padanya ilmu bela diri rahasia, telah berpulang saat Radit baru berusia sepuluh tahun. Kini ayahnya menyusul, meninggalkannya di rumah sederhana yang terletak di pinggiran desa terpencil—sebuah wilayah yang ironisnya hanya berjarak lima puluh kilometer dari hingar-bingar megapolitan, namun terasa seperti berada di dimensi yang berbeda.

Radit mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tidak punya waktu untuk berlarut-larut dalam duka. Perutnya berbunyi samar, mengingatkan bahwa beras di gentong tanah liat dapur sudah mencapai dasarnya. Pemuda itu bangkit, tubuhnya yang ramping namun padat—hasil tempaan keras latihan fisik bertahun-tahun—terasa sedikit kaku. Ia melangkah menuju meja kayu kusam di sudut ruangan, tempat sebuah bingkai foto keluarga berdiri miring.

Di dalam foto itu, ayah dan ibunya tersenyum ke arah kamera, sementara Radit kecil berdiri di tengah dengan wajah cemberut. Jari Radit menyentuh permukaan kaca yang berdebu. Saat ia mengangkat bingkai itu untuk membersihkannya, sesuatu terasa longgar di bagian belakang. Papan penutup bingkai itu bergeser, dan sebuah benda kecil jatuh menimpa punggung tangannya sebelum menggelinding ke lantai dengan bunyi gemerincing yang aneh.

Benda itu adalah sebuah gelang. Warnanya hitam kelam, seolah terbuat dari besi tempa atau perunggu bakar, dengan ukiran aksara kuno yang meliuk-liuk seperti cacing tanah di sepanjang permukaannya. Radit mengernyit. Ia menunduk dan memungut gelang tersebut.

Begitu kulitnya bersentuhan dengan logam dingin itu, sebuah sengatan listrik statis menjalar naik dari ujung jarinya hingga ke pangkal lengan. Radit terkesiap dan hampir menjatuhkannya, namun entah kenapa jari-jarinya menolak terbuka. Ada semacam daya tarik magnetis yang aneh, sebuah resonansi yang membuat pusaran Tenaga Dalam Atma di dasar perutnya bereaksi. Ilmu Silat Monyet Sakti yang diturunkan ibunya mendadak bergolak, seolah merespons ancaman—atau sebuah panggilan.

Dalam benaknya, samar-samar terdengar suara serak yang seakan berasal dari dasar sumur yang gelap. *"Pewaris ketujuh... waktunya telah tiba."*

Radit menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Halusinasi karena kurang tidur," gumamnya pada diri sendiri. Namun, dorongan di tangannya begitu kuat. Tanpa sadar, ia menyarungkan gelang hitam itu ke pergelangan tangan kanannya. Klik. Logam itu menyusut dengan sendirinya, mengunci erat pergelangan tangannya seolah telah menemukan inang yang tepat. Rasa dinginnya memudar, digantikan oleh kehangatan berdenyut yang selaras dengan detak jantungnya.

Tidak ada ledakan cahaya. Tidak ada badai petir. Hanya keheningan yang mencekam, disusul oleh perasaan mual yang luar biasa. Radit jatuh berlutut, memegangi dadanya. Ia merasa seolah ada selang tak kasat mata yang baru saja ditusukkan ke pembuluh darahnya, mulai mengisap sesuatu yang sangat berharga. *Lelaku Nyawa*, begitu istilah kuno yang pernah ibunya sebutkan secara sekilas saat bercerita tentang kutukan darah keluarga. Radit kini memahaminya secara harfiah. Gelang ini memakan umurnya.

"Bangsat..." umpat Radit dengan gigi gemeretak. Ia memaksakan diri untuk duduk bersila, mengubah posturnya menjadi kuda-kuda dasar Silat Monyet Sakti. Ia mengatur napas—tarik dari hidung, putar di diafragma, tekan ke bawah perut. Ia memanipulasi aliran darah dan berat tubuhnya, mengalihkan tekanan mematikan dari gelang itu agar tidak langsung menyerang meridian jantungnya, melainkan menyebarkannya ke jaringan otot-otot luar.

Butuh waktu setengah jam hingga napasnya kembali normal. Keringat dingin membasahi kaus oblongnya yang lusuh. Saat ia membuka mata, dunia terlihat sedikit berbeda. Ada kabut tipis keabuan yang mengambang di udara, dan pendengarannya menjadi jauh lebih tajam. Gelang di tangannya kini kembali diam, tampak seperti aksesoris murahan dari pasar malam.

"Aku harus hidup. Aku harus kuliah. Aku harus jadi guru," mantra itu meluncur dari bibir Radit, menjadi jangkar kewarasannya di tengah situasi gila ini.

Tiga hari berlalu sejak penemuan gelang itu. Radit telah menghabiskan sisa tabungan ayahnya untuk mendaftar di Universitas Terbuka. Sistem kuliahnya yang fleksibel adalah satu-satunya jalan bagi Radit untuk mewujudkan cita-citanya menjadi pengajar tanpa harus terikat jadwal harian. Namun, untuk membayar biaya semester depan dan sekadar makan, ia butuh pekerjaan. Bukan sembarang pekerjaan, melainkan pekerjaan yang bisa menerimanya tanpa ijazah tinggi dan bersedia memberikan upah cepat.

Sebuah selebaran lusuh yang tertempel di tiang listrik pasar desa menjadi petunjuknya. "DIBUTUHKAN KURIR KHUSUS. LOGISTIK CAKRA BUANA. Tahan Banting, Bersedia Dinas Luar Kota (Bahkan Luar Peta). Gaji Besar."

Kata 'Luar Peta' terdengar tidak masuk akal bagi orang awam, tapi bagi Radit, yang sejak kecil diajari ibunya bahwa dunia ini tidak hanya terdiri dari apa yang terlihat oleh mata telanjang, selebaran itu adalah sinyal yang jelas. Ada faksi-faksi di Nusantara ini yang beroperasi di luar batas nalar. Wilayah 'Titik Buta' yang tidak bisa dilacak GPS. Dan mereka butuh pengantar barang.

Siang itu, matahari bersinar terik, seolah ingin memanggang aspal jalanan. Radit berdiri di depan sebuah kompleks pergudangan tua di ujung timur kota. Tidak ada plang nama perusahaan yang megah, hanya sebuah pintu besi berkarat dengan tulisan 'Cakra Buana' yang dicat sembarangan menggunakan piloks merah.

Ia mendorong pintu itu. Engselnya menjerit keras. Alih-alih gudang kosong atau tumpukan paket e-commerce, Radit disambut oleh lobi bernuansa kayu jati gelap dengan ukiran Jepara yang rumit. Udara di dalam ruangan itu sedingin es, padahal tidak ada satu pun pendingin ruangan yang terlihat. Aroma yang menguar bukanlah bau kardus atau plastik bubble wrap, melainkan perpaduan antara kopi hitam kental, tembakau, dan... bau tanah kuburan basah.

Di balik meja konter, duduk seorang pria paruh baya dengan kemeja batik lusuh. Pria itu botak di bagian tengah kepalanya, namun memelihara kumis tebal yang menjuntai. Ia sedang menghisap rokok klembak menyan yang asapnya mengepul membentuk pola-pola aneh di udara.

"Radit Permana?" Suara pria itu berat dan serak, memecah keheningan sebelum Radit sempat membuka mulut.

Radit melangkah maju, menjaga kewaspadaannya. Langkahnya ringan, tanpa suara—sebuah refleks dari teknik Langkah Angin aliran monyet saktinya. "Benar, Pak. Saya datang untuk mengisi lowongan kurir khusus."

Pria itu, yang papan namanya di meja bertuliskan 'Darmo', menatap Radit dari atas ke bawah. Matanya yang kuning keruh berhenti lama pada pergelangan tangan kanan Radit. Darmo tersenyum miring, memperlihatkan gigi-giginya yang menghitam akibat nikotin.

"Masih muda. Delapan belas tahun, ya? Yatim piatu. Fisik terlatih... aliran Kera? Ah, bukan urusanku." Darmo mengisap rokoknya lagi. "Kau tahu apa arti 'Kurir Khusus' di Cakra Buana, Nak? Kami tidak mengantar panci pesanan ibu-ibu atau skincare bocah. Paket kami... punya nyawa, punya kutukan, atau punya tuah. Kami mengantar barang dari orang-orang yang tidak mau tersorot, ke tempat-tempat yang tidak ada di Google Maps."

"Selama bayarannya sesuai, saya tidak peduli apa isi paketnya atau ke mana saya harus mengantarnya," jawab Radit tegas. Nadanya tidak bergetar sedikit pun.

Darmo terkekeh. Ia menarik sebuah laci dan melemparkan sebuah map cokelat ke atas meja. "Buka. Baca. Tanda tangani kalau kau berani."

Radit membuka map tersebut. Kertas di dalamnya terasa tebal, mirip perkamen tua. Perjanjian kerjanya cukup singkat, namun klausulnya gila. "Pihak Kedua (Kurir) bertanggung jawab penuh atas paket menggunakan nyawa sebagai jaminannya. Pihak Pertama (Cakra Buana) tidak bertanggung jawab atas kerusakan mental, intervensi gaib, atau kematian yang terjadi di Titik Buta."

Radit mengambil pena murah yang tergeletak di meja. Namun, sebelum ujung pena menyentuh kertas, gelang di pergelangan tangannya bereaksi. Logam hitam itu berdenyut panas, sangat panas hingga menembus dagingnya. Radit mengertakkan gigi, menahan erangan yang hampir lolos dari tenggorokannya. Urat-urat di tangan kanannya menonjol, berubah warna menjadi kehitaman sejenak.

Bersamaan dengan itu, pandangan Radit berkedip. Kemampuan Mata Takdir, fitur pertama dari kutukan gelang itu, bangkit secara paksa. Selama sepersekian detik, ruangan lobi itu berubah. Radit tidak lagi melihat dinding kayu, melainkan pusaran energi yang bertabrakan. Dan ketika ia menatap Darmo, ia tidak melihat pria berkumis, melainkan sesosok bayangan raksasa dengan mata merah menyala yang bersembunyi di balik tubuh pria itu. Di atas kepala Darmo, melayang deretan angka bercahaya redup: 04 Tahun, 2 Bulan, 11 Hari. Sisa umur pria itu.

Tak hanya itu, bercak kehitaman tebal terlihat di area dada kiri Darmo dalam pandangan Radit—sebuah penyakit gaib atau kutukan yang bersarang di jantungnya.

Radit memejamkan mata kuat-kuat. Ia kembali mengatur napas, memusatkan Tenaga Dalam Atma ke matanya untuk memutus aliran energi gelang tersebut. Napasnya terengah saat ia membuka mata kembali. Ruangan sudah kembali normal. Darmo menatapnya dengan alis terangkat.

"Ada masalah, Nak?" tanya Darmo, nada suaranya sedikit geli, seolah ia tahu persis apa yang baru saja dialami Radit.

"Tidak ada," desis Radit. Ia langsung menggoreskan tanda tangannya di atas perkamen tersebut. Begitu tinta menyerap ke dalam serat kertas, kertas itu sejenak memancarkan cahaya merah redup sebelum kembali normal. Kontrak batin telah terbentuk.

Darmo menepuk meja dengan riang. Ia menyodorkan sebuah kunci motor yang sudah berkarat dan sebuah telepon genggam jadul yang terlihat sangat tebal. "Selamat bergabung di Cakra Buana. Motor operasionalmu ada di gudang belakang. Jangan remehkan penampilannya, mesinnya sudah diisi dengan resonansi pusaka yang bisa menembus batas distrik Titik Buta."

Radit menerima barang-barang itu, memasukkannya ke dalam saku jaketnya. "Kapan saya mulai?"

Darmo tersenyum semakin lebar. Ia merogoh ke bawah meja dan mengangkat sebuah kotak kayu kecil yang disegel dengan tali rami yang direndam darah kering. Bau anyir seketika memenuhi ruangan. Kotak itu diletakkan di hadapan Radit. Gelang di tangan Radit kembali berdenyut, kali ini bukan karena rasa sakit, melainkan sebuah respons... kelaparan.

"Malam ini," ucap Darmo dengan suara pelan yang menggema di ruangan sunyi itu. "Antar kotak ini ke Desa Randu Alas. Lewati Jalur Selatan Raya, belok kiri tepat saat jam menunjukkan pukul dua belas malam di tikungan Pohon Beringin Kembar. Kalau kau belok sebelum atau sesudah jam dua belas tepat... kau hanya akan menemukan jurang."

Radit menatap kotak kayu itu. Jantungnya berdebar kencang, perpaduan antara adrenalin dan ketakutan instingtual. Ia baru saja melangkah masuk ke dalam dunia gelap yang selama ini disembunyikan dari peradaban modern. Di saat yang sama, di sudut terdalam pikirannya, sebuah tawa berat dan menyeramkan terdengar menggemakan keheningan batinnya. Iblis Kala Jagat di dalam gelangnya telah terbangun sepenuhnya, menanti kelengahan sang pewaris ketujuh.

Radit meraih kotak itu. "Aku berangkat."

Lanjut membaca
Lanjut membaca