Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Siapa Dalang Di Balik Kematian ibu?

Siapa Dalang Di Balik Kematian ibu?

Chez Cinamon | Bersambung
Jumlah kata
36.2K
Popular
100
Subscribe
0
Novel / Siapa Dalang Di Balik Kematian ibu?
Siapa Dalang Di Balik Kematian ibu?

Siapa Dalang Di Balik Kematian ibu?

Chez Cinamon| Bersambung
Jumlah Kata
36.2K
Popular
100
Subscribe
0
Sinopsis
HorrorHorrorBalas DendamIdentitas TersembunyiMisteri
Malik yang sedang berada di luar negri tiba tiba saja tersentak kaget ketika mendengar kabar ibunya yang tiba tiba meninggal karna penyakit serangan jantung,meski Malik tau ibunya tidak pernah memiliki riwayat jantung. kepulangannya ke indonesia untuk mencari kebenaran mengenai kabar tersebut.Apakah benar ibunya meninggal karna penyakit atau karna ada seseorang yang membunuhmu. simak ceritanya sampai selesai
bab 1

"Assalamualaikum, mas Maaf mengganggu. Ada yang ingin aku sampaikan."

Sebuah pesan singkat di kirimkan oleh sosok wanita yang sangat aku cintai.

"Katakan saja, sayang," aku yang sedang bersiap untuk melaksanakan shalat subuh terhenti sejenak saat membaca pesan tersebut karna tidak biasanya Sekar, istriku yang baru ku nikahi 4 bulan yang lalu bangun dini hari begini.

"Emh, itu... anu mas. ibu meninggal."

Bak Sambaran petir, tanganku gemetar hebat ketika membaca pesan yang baru di kirimkan oleh sekar.

"Apa? Ibu meninggal? Innailaihi wa innailaihi rojiun."

Kabar barusan cukup menggetarkan seluruh tubuhku. Ada banyak sekali pertanyaan yang berputar di dalam kepala. Tanpa membalas pesan dari Sekar, aku segera mengecek jadwal penerbangan dari Qatar ke Indonesia.

Aku sekarang sedang berada di negara Qatar (duha) karna urusan pekerjaan. Perusahaan tempatku bekerja memutasi 5 orang karyawan ke negara tersebut untuk melakukan kerja sama. Salah satu yang di pilih adalah aku.

Kurasakan waktu berjalan lebih lambat dari biasanya. Aku telah duduk di bangku bandara setelah selesai mengemasi pakaian. Jadwal keberangkatan masih satu jam lagi.

Beberapa kali ku coba menghubungi sekar, tapi nomor yang di tuju sudah tidak aktif. Mungkin ia sedang sibuk mempersiapkan serangkaian untuk pemakaman ibu.

Pikiranku melayang di beberapa hari yang lalu, saat itu aku sedang melakukan panggilan video call.

"Assalamu'alaikum. Eh bu kok matanya lebam?" tanyaku saat video call kemarin.

Ibu tampak melirik ke arah lain, kemudian dengan sorot mata yang berkaca-kaca menjawab,

"Iya, ibu sedang sakit mata. Sudah dulu ibu mau shalat. Assalamualaikum"

Sesingkat itu pembicaraan kami tanpa sempat aku menanyakan kabarnya.

"Sekar, tolong jenazah ibu jangan di apa-apakan dulu sebelum aku tiba di rumah"

Aku mengirimkan voice note kepada sekar sebelum melangkahkan kaki menaiki pesawat.

"Kami akan menunggu kedatanganmu, Mas" aku membaca balasan singkat dari Sekar sebelum menonaktifkan ponsel.

Setelah 10 jam perjalanan udara, akhirnya aku tiba juga di bandara indonesia. Lekas aku memesan taksi online untuk pulang ke rumah.

Sepanjang jalan, Air mata tak kunjung berhenti. Meski sudah berusaha menahannya agar tak jatuh, tapi cairan bening ini tetap saja lolos dari pelupuk mata.

Sesampainya di rumah, aku melihat bendera putih telah berkibar di depan rumah. Beberapa warga juga turut mengucapkan belasungkawa saat aku turun dari mobil.

Dengan langkah gontai, aku menerobos masuk ke dalam rumah, melewati warga yang sedang duduk lesehan di ruang tamu.

Aku jatuh tersungkur di hadapan sosok jenazah yang sedang terbaring kaku, hanya ditutupi oleh kain tipis.

"Sekar, apa yang terjadi kenapa ibu tiba-tiba meninggal?" Aku mencoba bertanya meski dengan suara terpekik nyaris tak terdengar.

Sekar yang ikut duduk di sampingku menjawab dengan gelagapan.

"Em, i-itu a-anu mas..."

"Katanya ibumu terkena serangan jantung!" Tiba -tiba mertuaku yang entah datang dari mana menyela. Aku mendongak dengan mata yang memerah.

"Serangan jantung? Ta-tapi ibu tidak punya riwayat penyakit jantung!" Aku berusaha mengingat-ingat, tapi memang benar begitu. Selama ini ibu tidak pernah bercerita ataupun mengeluh mengenai jantungnya.

Mata ibu mertuaku seketika membola

"Tapi memang begitu diagnosa dari dokter," sahutnya.

"Kalau begitu, mana surat diagnosanya?" Aku menelisik setiap inci wajah sosok wanita paru baya yang bediri di depanku, memperhatikan setiap ekspresi yang dia tunjukan.

"Kami lupa mengambilnya."

"Bagaimana bisa kalian lupa?" Kembali ku layangkan pertanyaan padanya. Aku ingin menyelidiki lebih dalam, tapi sekarang aku sedang dalam masa berkabung.

"Mas, sudah sekarang jenazah ibu akan segera di mandikan. Aku akan membawa kopermu ke dalam kamar," ujar Sekar mereka seolah mengalihkan pembicaraan, sekarang pun memang bukan waktunya untuk berdebat.

Rasa kebingungan menjalar memenuhi ruang hati. Seperti ada yang janggal atas kematian ibu. Apalagi saat melihat memar di wajahnya. Apa yang sebenarnya terjadi? apa yang ibu mertuaku dan sekar sembunyikan dariku?

Aku pasti akan menyelidiki semuanya.

*

*

*

"Tunggu! Jenazah ibu jangan di mandikan dulu!" sergahku pada sosok wanita yang bernama Bu Tuti. Ia adalah pemandi jenazah di kampung ini.

"Mas, apa yang kamu katakan? Kamu jangan ngelantur, Tukang mandinya sudah menunggu dari tadi" cerca sekar.

"aku butuh bukti tentang riyawat penyakit jantung ibu, sekar. Tiga bulan aku ke negara tetangga, ku percayakan ibuku padamu. Tapi kenapa kamu tidak pernah bilang tentang penyakit ibu?

"Dan selama beberapa bulan ini, tidak mungkin ibu tidak melakukan pengobatan. Apa ibu tidak kamu bawa berobat?" Tanyaku penasaran.

"Malik, Kami baru tau setelah ibumu meninggal" kini mertua kembali menyela.

"Sungguh? Kalian baru tau?" Aku mengangkat sebelah alisku, menatap mereka berdua dengan tajam.

"Kalau memang benar begitu, mari kita buktikan dengan melakukan visum atau bisa juga kita mendatangkan dokter forensik ke sini. Aku butuh bukti agar bisa melepas kepergian ibu dengan legowo."

"Jangan halangi kepergian ibumu dengan hal-hal yang tidak bermutu. Kasihan beliau," ujar ibu mertuaku dengan ekspresi yang dibuat-buat.

"Jadi ini gimana, pak? Apakah jenazahnya sudah siap di mandikan? Karna setelah ini saya ada panggilan di tempat lain. Karna disini yang dahulu menjemput saya. Makanyaa saya duluankan," ucap pemandi jenazah. Aku melihat raut kebingungan bercampur rasa khawatir di wajahnya.

"Mohon tunggu sebentar lagi, Bu. saya harus mencari kebenaran tentang penyakit ibu saya karna setau saya, ibu saya tidak punya riwayat penyakit jantung," mohon ku padanya.

"Malik," panggil seseorang dengan suara yang familiar.

"Bibi," aku menoleh ke arah sumber suara. Dia adalah bibi Tuti, saudara ibuku. Beliau datang bersama suaminya, Paman Ridwan.

"Ini, surat diagnosa dari dokter. tadi Bibi mengambilnya sebentar ke rumah sakit," ia memberikan selembar kertas berwarna putih, bukti diagnosis penyakit ibu.

Lututku terasa semakin lemas saat membaca kata demi kata dalam secarik kertas tersebut.

"Apakah ini benar, Bi?" Tanyaku dengan suara parau. Kenapa ibu menyembunyikan hal sebesar ini dariku.

"Tentu saja, Data itu akurat karna Bibi pernah beberapa kali menemani ibumu ke rumah sakit. Beliau menyuruh bibi untuk merahasiakan nya darimu," Terang Bibi Tuti.

Akan tetapi aku merasa masih ada yang janggal. selama ini ibu tidak pernah merahasiakan apapun dariku, Bahkan hal sekecil apapun akan selalu ia ceritakan padaku.

"Malik, kamu yang tabah. Ikhlaskan kepergian ibumu. Kami disini sudah berusaha menjaganya dengan baik, tapi apa daya Sang Kuasa lebih mencintai Beliau," mertuaku menepuk-nepuk pundakku, Akan tetapi, aku merasa kata-katanya terdengar tidak tulus.

"Aku sudah mengikhlaskan kepergian ibu, akan tetapi aku akan tetap melakukan visum," jawabku mantap.

"Aduh... kalau harus menunggu lagi, maaf saja aku sudah tidak bisa. Saya masih ada panggilan di tempat lain yang sudah menunggu," Keluh pemandi jenazah.

"Hari sudah semakin sore, sementara jenazah meninggal sedari subuh. Apa kamu masih ingin mengulur-ulur waktu? Siapa yang akan menguburkan nya saat malam hari? Tidak akan ada yang mau, Malik. Jikapun ada, kita harus menunggu sampai esok pagi. Maka kasihani ibumu!. Bahkan dalam agama pun kita di wajibkan untuk menguburkan jenazah sesegera mungkin" Ujar Bibi Tuti.

Aku di landa kebimbangan. Di satu sisi aku ingin mendapatkan bukti yang akurat, sedangkan di sisi lain aku juga kasihan dengan jenazah ibu jika harus terlambat di kuburkan.

"Kamu pilih saja, kami tidak akan melarang. Akan tetapi, jika kamu tega pada ibumu, maka panggil saja dokter forensik dan lakukan visum seperti yang kamu mau," Sambung Bibi, membuat pikiranku semakin berkecamuk.

"Mas, aku mengerti perasaanmu. Mungkin kamu masih syok dengan kematian ibu yang mendadak makanya kamu tidak terima. Aku tau kamu pasti merasa sangat kehilangan. Akan tetapi, ada baiknya kamu mencoba mengikhlaskan semuanya," Ujar Sekar seraya memelukku.

"Mas tenang saja, masih ada aku di sini. Aku akan selalu menemanimu," sambungnya lagi

"Jadi bagaimana? Apa kamu masih mau melakukan visum? Sekarang sudah pukul 4 sore. Jika kamu terus memperlambat waktu, maka hari akan beranjak malam," Tukas Bibi Tuti.

Aku masih merasa tidak ikhlas, tapi apa yang Bibi katakan benar adanya. Hari akan semakin gelap.

"Baiklah kalau begitu! Tapi...aku ikut memandikan jenazah ibu."

Lanjut membaca
Lanjut membaca