

Suara knalpot motor memecah pagi bahkan sebelum bel sekolah berbunyi. Alea Nayantara menoleh pelan dari balik ojek yang baru saja berhenti di depan gerbang SMA Bina Remaja. Alisnya langsung mengernyit saat melihat sekelompok cowok berseragam abu putih berdiri di pinggir jalan sambil tertawa keras. Asap rokok bercampur debu jalanan memenuhi udara pagi.
Beberapa guru terlihat pura-pura tidak peduli.
“Ini sekolahnya… sepi juga ya, Pak,” gumam Alea pelan.
Pak ojek malah terkekeh kecil.
“sepi? Belum lihat jam pulang nanti, Neng.”
Alea tersenyum canggung. Jujur saja, ini jauh berbeda dari sekolah lamanya di kota. SMA Bina Remaja terlihat lebih tua, lebih berisik, dan entah kenapa terasa seperti tempat yang selalu menyimpan masalah.
Baru beberapa langkah masuk gerbang, suara teriakan tiba-tiba menggema dari arah lapangan belakang.
“WOI! ANAK GARUDA DATENG!”
Brak!
Satu kursi plastik melayang.Murid-murid yang tadi santai langsung berhamburan. Alea refleks mundur kaget.
“Astaga…ada apa nih" Pikir alea.
Dari kejauhan, puluhan cowok berlari sambil membawa kayu dan helm. Teriakan saling balas memenuhi udara pagi.
Tawuran
Di hari pertamanya sekolah.
“Pinggir! Pinggir!” teriak seseorang.
Alea yang panik malah terpeleset karena tasnya sendiri.
Buk!
Sebelum tubuhnya benar-benar jatuh ke tanah, seseorang menahan lengannya Cengkeramannya kuat ,Alea langsung mendongak dengan cepat.
Seorang cowok tinggi berdiri di depannya dengan wajah datar dan napas sedikit memburu. Seragamnya berantakan, dasinya longgar, dan ada luka kecil di sudut bibirnya.
Dan tidak lupa juga Tatapan matanya yang sangat tajam.
“Kalau takut, jangan berdiri di tengah jalan.”Suara cowok itu rendah dan dingin.
“Ma… makasih.”Alea langsung menarik tangannya pelan.
Cowok itu tidak menjawab, dia hanya menoleh ke arah keributan, lalu mengambil helm hitam yang tergeletak di dekat gerbang.
“Sa! Cepet!”
Teriakan seseorang memanggilnya. Cowok itu berjalan pergi begitu saja tanpa melihat Alea lagi.
Namun sebelum benar-benar pergi, langkahnya berhenti sebentar. Lalu dia kembali menoleh ke arah alea.
“Lo murid baru?” Alea mengangguk kecil.
Cowok itu mendecih pelan.“Salah pilih sekolah.”
Dan detik berikutnya, dia berlari menuju kerumunan tawuran, Alea terpaku di tempat.
Entah kenapa… ucapan cowok tadi malah membuat suasana sekolah ini terasa semakin asing.
“Mahesa Adikara lagi…” Seorang siswi di dekat Alea menghela napas panjang.
“Ketua Barisan Senja emang gak pernah bisa diem.” ucap siswi itu lagi.
Alea menoleh bingung.“Barisan Senja?”
Siswi itu mengangguk.“Tongkrongan paling ribut di sekolah ini.”
Alea kembali melihat ke arah lapangan belakang yang kini penuh suara teriakan, Untuk pertama kalinya sejak pindah ke kota kecil ini, Alea mulai merasa hidup SMA-nya mungkin tidak akan berjalan biasa saja.
Bel sekolah akhirnya berbunyi nyaring di tengah kekacauan yang belum benar-benar reda.
Beberapa guru sibuk membubarkan murid-murid yang masih berdiri menonton di pinggir lapangan. Ada yang tertawa, ada yang merekam diam-diam, bahkan ada yang masih meneriakkan nama tongkrongan masing-masing.
Alea masih berdiri kaku sambil memeluk tali tasnya erat.
“Lo murid baru, ya?” Suara cewek di sampingnya membuat Alea menoleh cepat.
Siswi berambut pendek dengan wajah manis itu tersenyum kecil.
“Aku Intan.”
“Alea…”
Intan langsung mengangguk paham.
“Baru datang langsung lihat tawuran. Selamat datang di SMA Bina Remaja.” Nada suaranya terdengar seperti bercanda, tapi Alea malah makin bingung.
“Ini emang biasa?”
“Banget.” Intan menarik tangan Alea pelan agar menjauh dari keributan.
“Kalau anak Barisan Senja sama anak SMA Garuda udah ketemu, pasti ribut.”
Alea kembali menoleh ke belakang.
Beberapa cowok masih saling dorong meski guru olahraga sudah berteriak menyuruh mereka berhenti. Dan di antara kerumunan itu, Alea kembali melihat cowok tadi.
Mahesa Adikara.
Cowok itu berdiri paling depan dengan tatapan tajam dan tangan penuh luka kecil. Seragam putihnya kusut, sementara dasi hitamnya menggantung asal di leher.
Alea tidak mengerti kenapa orang seperti dia bisa terlihat begitu… tenang di tengah kekacauan.
“Udah, jangan dilihatin terus,” celetuk Intan sambil menyenggol bahu Alea.
“Hah?”
“Bahaya kalau suka sama Esa.”
Alea langsung membulatkan mata.
“Apa sih?! Aku gak—”
Intan malah tertawa kecil.
“Semua cewek awalnya juga gitu.”
Mereka mulai berjalan memasuki gedung sekolah yang cat temboknya mulai pudar dimakan usia. Suara kipas angin tua terdengar berdecit dari dalam kelas-kelas beberapa siswa duduk santai di atas meja,Ada yang tidur, Ada yang main gitar di pojok kelas. Dan ada juga yang sibuk meneriakkan yel-yel tongkrongan.
SMA ini benar-benar berbeda dari bayangan Alea.
Saat sampai di depan kelas XI IPS 2, langkah Alea perlahan terhenti. Di kursi paling belakang dekat jendela, Mahesa Adikara duduk sambil memainkan korek api di tangannya.
Cowok itu mengangkat kepala pelan, Tatapan mereka bertemu lagi. Untuk sesaat, kelas terasa sunyi.
Lalu Esa menyeringai tipis. “Kita sekelas ternyata.”
Dan entah kenapa…
kalimat sederhana itu malah membuat jantung Alea berdetak sedikit lebih cepat.
“Alea, ayo masuk,” bisik Intan pelan.
Alea buru-buru mengalihkan pandangannya dari Esa lalu berjalan menuju bangku kosong di tengah kelas. Namun bahkan setelah duduk, dia masih bisa merasakan tatapan beberapa murid mengarah kepadanya. Mungkin karena dia murid baru, Atau mungkin karena tadi sempat bicara dengan Mahesa Adikara.
“Woi, Esa,” suara seorang cowok terdengar dari belakang.
“Tumben gak lanjut tawuran.” Cowok berambut agak ikal yang duduk di atas meja itu tertawa lebar. Namanya Bagas Bimantara setidaknya itu yang Alea dengar dari murid lain.
“Capek.” Esa malas menjawab.
“Boong,” sahut cowok lain sambil menyandarkan tubuh ke kursi.
“Pasti gara-gara ada murid baru.”
Satu kelas langsung ribut.
“Heh! Bisa aja lu!”
“Anjay, Esa!”
Alea langsung salah tingkah sendiri.
“Berisik.”ucap Esa sambil melempar penghapus ke arah mereka tanpa ekspresi.
Bukannya diam, mereka malah makin tertawa. Untuk pertama kalinya sejak masuk kelas, Alea sadar sesuatu. Anak-anak yang tadi terlihat menyeramkan di lapangan ternyata tidak seseram itu saat berada di kelas. Mereka tetap remaja biasa ,berisik, jahil, dan suka bercanda bodoh. Walaupun tetap saja… aura mereka berbeda.
Pintu kelas tiba-tiba terbuka keras. Seorang guru perempuan masuk sambil membawa map tebal.
“SUDAH SEMUA?!”
Kelas langsung sunyi seketika. Alea sampai sedikit terkejut melihat perubahan suasana yang begitu cepat. Guru itu berjalan ke depan kelas dengan wajah lelah.
“Ibu baru tinggalin sebentar, kalian udah bikin masalah lagi.”
Tidak ada yang menjawab.
“Kamu.”
Beliau menunjuk Esa.
“Setelah pelajaran selesai, ke ruang BK.”
Esa menghela napas panjang.
“Iya, Bu.”
“Dan jangan lupa ajak teman-teman kamu.”
Bagas yang tadi tertawa langsung menunduk pura-pura sibuk membuka buku. Satu kelas menahan tawa. Bahkan Alea tanpa sadar ikut tersenyum kecil. Namun saat matanya kembali bertemu dengan Esa, senyum itu perlahan hilang.
Cowok itu sedang menatap ke arah jendela. Tatapannya kosong Seolah pikirannya berada jauh dari kelas ini.
Dan anehnya…
Di tengah keributan satu kelas, Mahesa Adikara justru terlihat seperti orang paling kesepian di ruangan itu.