

Guntur Bhawana. Pemuda kurus berusia 25 tahun itu menyeka keringat yang bercampur air hujan di dahinya dengan punggung tangan yang gemetar. Tubuhnya letih luar biasa.
Sejak pukul delapan pagi tadi, ia dipaksa melahap rute-rute ‘neraka’ yang sengaja disusun oleh Bambang, seniornya yang juga bertugas sebagai koordinator kurir di Lazuardi Express tempat Guntur bekerja.
Jarak antar paket yang nyaris semuanya tidak masuk akal, membuat Guntur bahkan tak sempat beristirahat untuk sekedar makan siang. Sejak tadi, perutnya hanya diisi oleh air mineral bekalnya saja hingga kini terasa perih melilit.
Sebuah peti kayu jati tua sepanjang dua meter, lengkap dengan pelindung yang kokoh, teronggok di dalam mobil box kantor. Peti itu terlihat sangat besar, kontras dengan tubuh Guntur yang memang kurus dan tampak ringkih.
"Kenapa diam saja, Hah?! Cepat berangkat! Keburu malam, dasar lelet!” bentakan suara parau itu memecah lamunan Guntur.
Guntur menoleh. Di sana, di bawah kanopi kantor yang teduh, berdiri Bambang. Pria itu sedang menghisap rokok dengan santai, perut tambunnya menyembul di balik seragam yang tidak dikancing rapi.
Di sampingnya, beberapa kurir lain tertawa cekikikan, seolah tugas Guntur mengurus peti berat itu adalah tontonan komedi yang menghibur.
"Ati-ati, Gun. Itu barang kolektor kelas kakap. Kalau lecet dikit aja, gajimu setahun juga nggak akan cukup buat ganti rugi," timpal seorang kurir dengan nada meremehkan.
"Itu juga kalau kamu masih kuat cari gaji di sini," sahut yang lain.
Tepat saat tawa rekan-rekannya meledak, seorang gadis dengan seragam ekspedisi yang tampak rapi melintas menuju area parkir motor. Itu Rani. Langkahnya terhenti sejenak, matanya yang tajam melirik ke arah Guntur yang sedang dipojokkan.
Jantung Guntur mencelos. Gadis itu adalah satu-satunya alasan Guntur masih sering merasa salah tingkah di kantor ini, sekaligus sumber luka terdalamnya.
Rani menatap wajah Guntur yang kusam dan dipenuhi jerawat memerah dengan tatapan jijik yang sangat kentara.
"Masih aja jadi beban," gumam Rani tanpa rasa iba sedikit pun. Suaranya cukup keras untuk memancing tawa kurir lain semakin menjadi-jadi.
Guntur sontak teringat kata-kata Rani setahun lalu saat ia mengutarakan perasaannya di belakang gudang.
"Ngaca dong, Gun. Aku itu butuh laki-laki yang punya masa depan dan fisik yang kuat, bukan orang penyakitan yang mukanya rusak dan cuma bisa jadi pesuruh kayak kamu."
Menyaksikan Rani menonton kesialannya sekarang membuat rasa malu Guntur memuncak sampai ke ubun-ubun. Dunia seolah sengaja ingin menelanjangi sisa-sisa harga dirinya di depan wanita yang pernah ia puja.
“Bukannya buruan berangkat malah bengong!” sentak Bambang membuyarkan pikiran Guntur akan Rani.
"Tapi Bang..." Guntur masih mencoba membela diri, suaranya serak karena dehidrasi. "Rute saya hari ini jauh semua, saya bahkan belum sempat makan. Dan peti ini berat banget. Serius, bang... nggak ada yang bisa bantu?” Ia menatap mereka satu per satu, berharap ada secercah kemanusiaan di mata mereka. Tapi nihil.
Bambang meludah tepat ke tanah dekat kaki Guntur, tatapannya dingin dan penuh kebencian. Ia tidak suka pada Guntur. Pemuda yang hanya tahu bekerja tanpa pernah mau ‘menyetor’ muka atau memuji muluk-muluk kekuasaannya seperti kurir yang lain.
"Bantu? Heh, sadar diri dong. Udah untung nggak dipecat bulan lalu gara-gara telat antar paket! Lupa?!"
Bambang melangkah maju, menghembuskan asap rokok tepat ke wajah Guntur.
"Sekarang pilih: bawa peti itu ke alamatnya sekarang, atau taruh seragammu di mejaku dan angkat kaki. Nggak usah banyak gaya kalau cuma punya ijazah SMA dan badan kurus kering begitu. Masih banyak orang di luar sana yang antre mau kerja di sini!”
Guntur menunduk dalam-dalam. Kata-kata itu menghantamnya lebih keras dari pukulan fisik. Tangannya mengepal, kuku-kukunya memutih menahan amarah dan hinaan yang membuncah di dadanya.
Namun itu hanya sesaat. Kepalan itu kembali melemas, perlahan-lahan.
Ia butuh pekerjaan ini. Rekeningnya benar-benar kering setelah seluruh tabungannya ludes untuk biaya pengobatan almarhumah ibunya.
Menjadi yatim piatu di kota besar tanpa koneksi membuatnya tak punya ruang untuk melawan.
Ia tahu, namanya punya arti petir yang menggelegar. Namun di kantor ini, ia hanyalah 'Guntur Tanpa Petir'. Seorang pemuda yang mudah diintimidasi karena tak punya siapa-siapa untuk membelanya.
Guntur pun menutup pintu box mobil dengan sisa tenaga yang ada. Ada bau aneh yang menyeruak dari celah peti itu; seperti bau tanah basah setelah pemakaman, bercampur sesuatu yang manis namun busuk.
Saat tangannya tak sengaja menyentuh permukaan kayu peti tadi, rasanya sedingin es, padahal cuaca sedang gerah dan lembab karena hujan.
Ia melirik sekali lagi ke arah rekan-rekannya. Mereka masih cekikikan, saling berbisik tentang rumor bahwa peti itu 'berpenunggu'. Mereka semua takut, dan mereka sengaja menumbalkan Guntur untuk tugas ini karena tahu Guntur tak akan bisa menolak.
"Sudah! Cepat berangkat! Antar ke Griya Pusaka Arcapada. Ingat, masuknya lewat pintu belakang. Kalau sampai salah, awas kamu!" perintah Bambang sebelum ia melenggang masuk ke dalam kantor yang ber-AC, meninggalkan Guntur sendirian dalam rintik hujan yang mulai menderu.
***
Mobil box tua itu meraung, mendaki jalanan menanjak menuju kawasan perbukitan sunyi di batas kota, tempat di mana Griya Pusaka Arcapada berada.
Semakin jauh Guntur berkendara, gedung-gedung beton berganti dengan pepohonan rimbun yang seolah-olah sengaja menjorok ke jalan, berusaha menelan jalur aspal yang sempit.
Griya Pusaka Arcapada bukanlah museum yang dibuka untuk umum. Tempat itu adalah bangunan tua bergaya kolonial yang diubah menjadi museum pribadi oleh seorang kolektor artefak kuno yang eksentrik.
Penduduk sekitar mengenalnya sebagai tempat yang ‘tidak beres’, tempat di mana benda-benda yang seharusnya tetap terkubur justru disimpan dan disayang-sayang.
Langit berubah gelap. Guntur tiba di depan gerbang besi besar yang berkarat. Entah kenapa suasana tempat itu terasa aneh.
Seorang penjaga tua dengan wajah pucat dan mata yang tampak keruh hanya menunjuk ke arah jalan samping menuju pintu belakang tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Guntur pun melaju menuju ke bagian belakang bangunan itu, lalu memarkirkan mobil di area bongkar muat yang sepi.
Tanpa menunggu, ia pun membuka box belakang mobil itu.
Seorang pria paruh baya lainnya muncul dari balik pintu besi yang berat. Matanya tajam, menatap peti di belakang mobil Guntur dengan binar yang tidak wajar.
"Kamu kurirnya?” tanyanya dengan nada heran, seolah mempertanyakan kenapa Lazuardi Express mengirim kurir yang terlihat ringkih begini untuk mengurus paket yang begitu besar sendirian. “Masuk. Bawa petinya ke ruang bawah tanah. Sektor C,” ucapnya kemudian, tak mau ambil pusing.
“Sektor C itu di mana, Pak?” tanya Guntur yang memang sama sekali belum pernah mengantar barang kesana.
Pria itu menunjuk lurus ke dalam, “Turun saja lewat lift itu langsung ke gudang koleksi di basement.”
"Saya ke sana sendirian, Pak?" Guntur menelan ludah, menatap pintu masuk gedung yang gelap gulita seolah siap menelannya hidup-hidup itu.
”Banyak tanya kamu! Itu ada troli barang di sana. Kamu pakai aja,” ucapnya tanpa benar-benar menjawab pertanyaan Guntur tadi. “Cepat! Prosedur identifikasi harus segera dilakukan sebelum tengah malam," jawab pria itu dingin lalu berbalik pergi, membiarkan Guntur pergi sendiri menuju pintu besi yang terbuka sedikit.
Guntur menarik napas panjang, mencoba mengusir rasa takut yang mulai merayapi tengkuknya.
Setelah susah payah memindahkan peti itu, ia mulai mendorong troli besi yang berderit nyaring karena karat, membawa peti itu ke Sektor C sesuai permintaan.
Sesampainya di dalam gedung, setiap kali roda troli berputar, suaranya menggema di lorong yang sunyi, menciptakan ilusi seolah-olah ada langkah kaki lain yang mengikuti iramanya dari kegelapan.
Guntur pun mempercepat langkahnya. Ia tak mau berlama-lama di situ.
Ia kemudian memasuki lift barang tua yang bergerak sangat lambat. Suara kabel baja yang bergesekan terdengar seperti rintihan panjang yang tersiksa.
Saat pintu lift terbuka, udara dingin yang menusuk tulang langsung menyambutnya. Suhu di tempat itu jauh lebih rendah daripada di luar.
“Mungkin karena ini di bawah tanah,” gumam Guntur menenangkan diri sendiri.
Ruang bawah tanah itu luas, remang-remang, dan dipenuhi dengan bau tajam bahan kimia serta debu yang menyesakkan.
Di kanan-kiri lorong, tampak berbagai barang seni yang diselimuti kain putih. Ada patung-patung tanpa kepala, cermin besar yang permukaannya tertutup noda hitam, hingga tumpukan kotak-kotak kayu dengan berbagai ukuran.
"Sektor C... Sektor C..." gumam Guntur, mencoba menguatkan jantungnya yang kian berdegup kencang.
Hingga kemudian, ia sampai di sebuah ruangan besar di ujung lorong yang hanya diterangi oleh satu lampu bohlam yang berkedip-kedip. Sebuah tulisan di atas pintu menunjukkan kalau Guntur sudah sampai pada tujuannya.
Di tengah ruangan itu terdapat meja panjang dari besi solid, tempat biasanya koleksi baru dibersihkan dan diidentifikasi.
Guntur mengerahkan seluruh tenaganya. Otot-otot lengannya yang kecil menegang hingga bergetar saat menggeser peti itu sedikit demi sedikit dari troli ke atas meja.
BRAK!
Peti itu mendarat di meja besi dengan suara keras yang memekakkan telinga.
Guntur terengah-engah. Tangannya mati rasa dan telapaknya lecet di beberapa bagian.
Saat ia hendak berbalik untuk segera pergi dari tempat yang membuat tengkuknya meremang itu, telinganya menangkap sesuatu yang membuat darahnya serasa membeku.
Sreg... Sreg...
Itu bukan dari ruangan tempat ia berdiri. Suara itu berasal dari dalam peti.
Guntur mematung. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia bisa mendengar detaknya di telinga sendiri.
"Mu-mungkin hanya posisinya yang geser karena aku kurang pas naruhnya," bisiknya, mencoba mencari logika di tengah sesuatu yang ia sendiri pikir mustahil.
Namun kemudian, suara hantaman terdengar. Pelan, berirama, tapi sangat jelas.
Duk. Duk. Duk.
Suara itu jelas berasal dari arah dalam tutup peti yang masih rapat.
Guntur mundur selangkah, kakinya terasa lemas seperti agar-agar hingga ia jatuh terduduk begitu saja di lantai semen yang dingin. Matanya tak bisa lepas dari peti kuno itu.
Tiba-tiba, ukiran rantai di sekeliling peti itu tampak berpendar redup dengan warna merah darah yang mengerikan.
Suasana di ruang bawah tanah itu mendadak berubah menjadi sangat berat, seolah-olah ada tekanan tak kasat mata yang menindih bahu Guntur.
"Tolong... buka..."
Sebuah suara bisikan, serak dan sangat tua, merambat masuk ke dalam kepala Guntur. Suara itu tidak masuk melalui telinga, melainkan bergaung langsung di dalam pusat kesadarannya, dingin dan penuh penderitaan.
Guntur ingin lari, tapi tubuhnya terkunci oleh rasa takut yang murni. Dan saat itulah, penutup peti yang seharusnya berat itu mulai bergetar hebat.
Salah satu paku kuno yang menahan penutup itu perlahan terlepas, terlempar, dan berdenting di lantai, tepat di depan kaki Guntur yang gemetar.
Lampu di atas kepala Guntur mulai berkedip-kedip tidak stabil sebelum akhirnya padam total dengan suara letupan kecil.
Kegelapan pekat menyergap, membuat ruang bawah tanah itu seketika terasa mencekam.
Guntur panik. Ia berusaha berdiri dengan kaki gemetar, namun gerakan yang tergesa-gesa itu justru membuat ponsel di genggamannya terlepas dan jatuh ke lantai.
"Sial!" umpatnya kalap. Ia segera berlutut, meraba-raba lantai semen yang dingin dengan napas memburu. Begitu jemarinya menyentuh sudut ponsel, ia segera menyambar dan menyalakan fitur senternya.
Cahaya putih tajam membelah kegelapan, dan tepat di depan matanya, hanya berjarak sejengkal dari sana, sesosok wajah tua keriput mirip mumi yang sudah mengering, sedang menatapnya. Mulut makhluk itu terbuka sangat lebar, memperlihatkan rongga gelap berbau anyir yang seolah hendak melepaskan teriakan histeris.
Guntur terperanjat hebat. Secara refleks dan penuh ketakutan, ia melayangkan tendangan keras ke arah dada makhluk itu sambil berteriak sekuat tenaga, “Aaa!! Pergi kau setan keriput!”
Akibat sentakan keras tersebut, sebuah benda bulat serupa mutiara bercahaya terlontar keluar dari mulut makhluk itu. Benda itu melesat lurus, masuk tepat ke dalam mulut Guntur yang sedang menganga, dan langsung tertelan begitu saja.