Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Kurir Biasa di balik Retakan Kota

Kurir Biasa di balik Retakan Kota

Al-Wafa | Bersambung
Jumlah kata
23.3K
Popular
100
Subscribe
0
Novel / Kurir Biasa di balik Retakan Kota
Kurir Biasa di balik Retakan Kota

Kurir Biasa di balik Retakan Kota

Al-Wafa| Bersambung
Jumlah Kata
23.3K
Popular
100
Subscribe
0
Sinopsis
PerkotaanSupernaturalMonsterSistemUrban
Di sebuah kota yang tidak benar-benar tidur, ada seseorang yang menyambung hidupnya hanya dari bongkahan paket. Dia bernama Arga Wicaksana yang kesehariannya hanya sebagai seorang kurir. Hari demi hari, malam demi malam terasa sangat berat bagi seseorang yang hanya fokus pada keterikatan sistem duniawi. Hingga suatu malam, hidupnya berubah karena sebuah retakan. Retakan itu semakin lama semakin melebar hingga membuatnya penasaran untuk mendekat. Ketika dia menyentuh retakan itu, dirinya secara tidak sadar telah berada pada bagian lain dari tempat awal dia berpijak. Sejak saat itu, Arga tahu bahwa kota ini tidak sesepi yang dia pikirkan. Sistem kehidupan membuatnya berfikir lebih jauh, hanya untuk bisa bertahan hidup, atau malah membuatnya menjadi monster yang menguasai sistem tersebut.
Bab 1 KURIR BIASA DAN RETAKAN PERTAMA

Malam di sebuah kota yang tidak benar-benar sepi.

Lampu jalan memancarkan warnah putihnya di atas aspal yang saat itu masih terasa lembab setelah hujan sore hari.

Pohon-pohon yang berdiri tidak begitu rapat di tepi jalan, serta gedung-gedung tinggi yang berdiri seperti bayangan raksasa terasa menatap ke bawah membuat suasana malam itu terasa begitu dingin.

.

Namun bagi Arga, malam justru adalah awal tuntutan dari pekerjaan yang sedang dijalaninya.

Jaket kurir warna hitam yang dia kenakan sudah tipis dimakan waktu. Serta motor tuanya yang membawa kantung kresek berisi paket makan terasa semakin berat, meski isinya tinggal dua paket terakhir.

Helm full face yang penuh dengan goresan dan juga masker hitam membantunya menutupi wajahnya yang kedinginan.

.

Motor tuanya berhenti di lampu merah, yang membuatnya bisa menghela nafas, sambil dia melihat ke arah dua bungkus paket makanan yang tersisa.

Kurang 1 order.

Saldo Rp43.000.

"Kalau dapat satu orderan lagi..., besok bisa makan agak enak", gumamnya pelan.

Hidup yang dia tempuh sebenarnya bukan hidup yang buruk, tapi karena hidupnya menuntunnya untuk terus berjalan. Pagi sampai siang jadi kurir paket kilat, sore sampai malam jadi kurir makanan.

Di kota yang retak oleh ketimpangan, yang bertahan bukan yang paling kuat, tapi yang paling bisa memanfaatkan setiap kesempatan.

Lampu jalan yang awalnya merah, kini berubah menjadi kuning, lalu hijau.

Arga melaju mengendarai motornya melewati jalanan kota menuju alamat pengiriman terakhir malam itu.

Apartemen Skyloop Tower, yang berada di distrik pusat bisnis.

Siapapun tahu, gedung itu menjulang tinggi dan terlalu mewah untuk tukang paket seperti Arga.

Setelah memfoto dan menyerahkan paketnya di lobby, Arga keluar sambil melihat aplikasinya.

Tidak ada order masuk. Dia mendecak kecil.

"Hadeeeh... nggak ada bonus masuk".

Arga lalu memutuskan untuk pulang dengan melewati jalan di samping distrik yang mengarah ke belakang Apartemen Skyloop tadi, dimana jalan pintas tersebut biasa digunakan para kurir untuk menghindari kemacetan para pekerja di sore hari.

Gang-gang yang dilewati Arga selalu terasa berbeda.

Lebih sepi...

Lebih dingin...

Lebih Gelap...

Lampu jalan layaknya hanya hiasan kecil berwarna putih yang kadang hidup mati bergantian.

Gedung apartemen tersebut nampaknya sangat besar, hingga Arga baru saja sampai di belakangnya.

Saat itulah tiba-tiba motor yang dikendarainya mati.

"Lho, kok mati?"

Dia mencoba starter lagi.

.

Tidak menyala, dia starter lagi.

.

Tetap tidak menyala.

Akhirnya dia menuntun motornya menepi tepat di belakang gedung apartemen, sambil menarik nafas panjang.

|

|

|

"Nggak punya pengertian banget ini motor!"

.

Saat dia coba untuk melihat tangki bensin, dia mendengar suara.

KREAAAK---!

Bukan kaca retak, bukan juga celananya yang sobek. Itu seperti ada retakan hitam tepat di depannya, tembok belakang gedung apartemen itu tiba-tiba ada garis panjang.

Hitam, makin lama makin terbuka lebar, makin terlihat seperti kabut keluar dari dalamnya tapi tidak begitu tebal.

Sontak Arga kaget, hingga membuatnya sedikit lari menjauh.

Suasananya seperti saat membuka freezer dan keluar asap dingin dari dalamnya.

"Apa-apaan ini...?"

Tetap...

Tidak bergerak...

Tapi itu mulai melebar dan membesar.

Hingga ke bentuk akhirnya selesai.

Hanya seperti sebuah black hole, tapi itu hanya seukuran tinggi dua kali manusia dewasa, dan lebarnya sama seperti ketika satu orang membentangkan kedua lengannya.

Karena diliputi rasa penasaran, Arga sejengkal demi sejengkal mulai mendekat.

Lebih dekat...

.

Ketika sampai pada mulut retakan tersebut, Arga mencoba menyentuhnya dengan jari-jari tangannya.

Namun tiba-tiba...

ZUUUPPP...!

"Sial-!"

Sebelum jemarinya berhasil meraih apapun untuk dipegang, Arga merasa seperti tersentak ditarik ke depan.

Suara kendaraan kota mendadak mulai hilang, tergantikan oleh suara dengungan berat dari dalam retakan.

Dan dalam sepersekian detik, dia langsung terhisap masuk ke dalam retakan tersebut.

Ketika sudah di dalam retakan itu, Arga terperangah dengan yang dilihatnya.

"Apa ini?"

"Gua?"

"Dimana ini?"

"Lubang tadi mana?"

"Sial banget hari ini kayaknya!"

"Padahal aku tahu, kalau eksistensi lubang itu sangat menakutkan, tapi malah aku dekati."

Sebelum dia bisa bernapas lega, Arga sadar ada sosok yang melihatnya dari kejauhan sekitar 50 meter.

Sosok itu hitam, tinggi tapi bungkuk, dengan lengan yang sangat panjang sampai menyentuh tanah.

Dengan mata merah menyala, Arga dan sosok itu saling bertatap mata.

Sontak, Arga langsung teriak.

"Apa itu saaaaat?."

Secara insting, dan tanpa pikir panjang, Arga langsung lari kearah punggungnya.

Tanpa disangka, sosok itu ternyata juga mengejarnya.

Cepat.

Sangat cepat.

Hingga hanya sekejap sudah di belakang Arga.

SRAAAT--!

Lengan sosok itu mengayun mengenai pinggang Arga, yang membuatnya langsung terlempar sangat jauh hingga menghantam tembok yang terbuat dari tanah.

BRAK!

Sambil bangun karena panik, dia memegang pinggangnya.

"Akkkhhhhh"

Tapi itu tidak terlalu sakit, karena adrenalinnya sedang tinggi, dan juga sistem pertahan otomatis ditubuhnya juga aktif.

Dia melihat sosok itu.

Secara sadar sosok itu kembali menerjangnya, namun Arga dengan sigapnya mengambil cutter di dalam tas selempangnya yang digunakan untuk memotong tali paket yang ditumpuk banyak.

SRET!

Dia mengayunkan cutter itu sekuat tenaga ke arah atas kepalanya, karena sosok tersebut lebih tinggi darinya.

Satu ayunan yang penuh presisi membuat leher dari sosok tersebut terkena sayatan, walaupun tidak begitu dalam.

Jeritannya kesakitannya terasa sangat menakutkan bagi Arga.

Tiba-tiba terdengar suara yang muncul dikepala Arga.

[ANOMALY CONTACT DETECTED]

[USER COMPATIBILITY: 98%]

[SYSTEM AWAKENING IN PROGRESS...]

"Haaa"

"Apa...?"

Hologram putih transparan dengan tulisan hitam muncul di depan matanya.

Seperti menu STATUS di dalam game.

[SYSTEM BERHASIL DIAKTIFKAN]

Player, Arga Wicaksono

Class Awal: Courier

Trait: Survival Instinct

Skill Pertama: Quick Route Lv. 1

Misi Pertama: Bertahan hidup dari anomali retakan

Reward: ???

Penalty Gagal: Mati

Dengan helm yang masih terpasang, Arga melihat tempat itu berubah, seperti ada jalur khusus, dimana ada garis merah yang mengarah ke sosok anomali retakan tersebut.

Insting Arga langsung mengikuti garis tersebut yang mengarah ke leher bekas sayatan cutter pertama.

Dan SRET...!

Anomali retakan tersebut roboh.

.

.

.

MISI SELESAI

Reward: Skill Dash

.

Arga menarik nafas panjang, tangannya gemetar.

Cutter ditangannya terjatuh.

Adrenalinnya kembali normal.

Dia terjatuh memegang pinggangnya yang menghantam tembok gua.

"Aduuuuh..."

Pikirannya penuh untuk bisa menjelaskan semua insiden ini.

Retakan black hole.

Gua misterius.

Makhluk dari retakan.

Tulisan sistem.

Skill seperti game.

Dan jalur garis yang membantunya mengalahkan sosok tersebut.

.

Dia melepas helm dan masker yang dikenakannya, lalu duduk bersandar di tembok-tembok gua.

.

Dia akhirnya hanya tertawa kecil.

"Hebat... hidupku yang sudah susah ternyata bisa jadi lebih gila."

.

Saat lelahnya sudah mulai hilang, dan ketenangannya kembali, tiba-tiba ada notifikasi masuk dari ponselnya.

Arga menatap layar ponselnya.

Ternyata notifikasi bintang lima dari paket makanan terakhirnya.

.

Retakan black hole tadi muncul lagi.

Tapi dia tahu, yang ini adalah pintu keluar.

.

Dia tersenyum sambil berdiri, lalu beranjak keluar.

.

Suara dikepalanya kembali terdengar.

[MAIN QUEST UPDATED] Temukan asal mula retakan kota.

Bab pertama dunia baru telah dimulai.

.

Malam itu, dia sadar.

Dia bukan lagi sekedar kurir.

Dia baru saja menjadi pemain dalam sesuatu yang lebih besar dari hidupnya.

Dan kota ini...

ternyata benar-benar retak.

-

Lanjut membaca
Lanjut membaca