Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Pusaka Pembangkit Tenaga Wanita

Pusaka Pembangkit Tenaga Wanita

Forgetriz | Bersambung
Jumlah kata
42.5K
Popular
545
Subscribe
109
Novel / Pusaka Pembangkit Tenaga Wanita
Pusaka Pembangkit Tenaga Wanita

Pusaka Pembangkit Tenaga Wanita

Forgetriz| Bersambung
Jumlah Kata
42.5K
Popular
545
Subscribe
109
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalHaremKultivasi21+
(WARNING 21++) Namaku Bagja. Kehidupanku hancur berkeping-keping saat aku menyadari bahwa tubuhku menyimpan energi murni yang berasal dari dimensi lain. Gelarku adalah Pembangkit Tenaga, sebuah "Wadah Energi" hidup penyimpan kekuatan. Namun ada syarat yang gila: energiku hanya bisa dibangkitkan melalui Penyatuan atau sentuhan dan ikatan batin dengan para Ksatria Wanita.
Bab 1

Namaku Bagja

Jika kamu membaca ini, mungkin aku sudah tak sempat menjelaskannya langsung. Dan mungkin, cepat atau lambat, kamu akan berdiri di tempatku sekarang.

Aku hanya seorang mahasiswa biasa yang berusaha bertahan hidup, dengan segala tekad kuat untuk mengubah nasib. Keinginan buta itu menuntunku menembus hutan-hutan paling sunyi di ujung pulau ini—mencari jalan pintas dari warisan tersembunyi kakekku.

Awalnya, aku pikir aku akan menemukan pusaka cincin atau harta karun yang bisa membalikkan keadaanku. Namun, aku malah tersesat diarea terpencil dengan sebuah candi yang terbengkalai.

Maka dengarkan ini baik-baik

"SALAM SUKSES LUAR BIASA"

Jangan pernah menyerah! Proses tidak akan mengkhianati hasil! Ingat, kesuksesan butuh pengorbanan dan mental baja!

Jika kamu membaca pesan ini,

kamu juga adalah Bagja.

Itulah yang kutuliskan dalam pesan ke sebuah grup WA bertajuk "Komunitas Sukses Usia Muda". Yang Isinya cuma spam promosi training bisnis berbayar, quotes motivasi halu yang dicopas dari Google, dan pamer flexing dari influencer-influencer bodong yang batang hidungnya saja belum pernah kulihat langsung.

Sampai hujan badai menghantam pelataran Candi.

Aku tertawa getir, menertawakan kebodohanku sendiri. Setengah berharap ada yang membalas pesanku dengan panik, setengah lagi sadar bahwa kemungkinan besar tidak ada yang memperdulikannya.

Badanku menggigil di bawah gapura batu yang rapuh. Angin malam ini sangat dingin. Di tanganku, aku menggenggam erat lempengan logam hitam dari kakek. Tidak ada tanda-tanda harta karun sama sekali.

Ponsel di sakuku bergetar hebat. Pak Ranto, bapak kos.

"Bagja! Mana uang sewamu?!" teriaknya memekakkan telinga.

"B-beri saya waktu dua hari lagi, Pak," balasku gemetar.

"Bayar malam ini atau barangmu kubuang ke jalan!"

Klik.

Panggilan diputus sepihak.

Aku menatap layar ponselku yang retak. Dompetku kosong melompong. Benda hitam di tanganku ini sama sekali tidak bisa dimakan, apalagi dipakai untuk membayar sewa. Harapanku hancur berkeping-keping.

Dalam keputusasaan, kuarahkan senter ponselku ke permukaan lempengan logam itu. Ada deretan aksara kuno yang ukirannya mengingatkanku pada salah satu halaman di buku catatan kakek. Tanpa sadar, bibirku mengeja rentetan huruf yang samar-samar bisa kubaca dari ingatan bualan kakek,

"Sukma manunggal... wesi aji... tangi."

Tiba-tiba, logam di tanganku memanas. Bukan sekadar hangat. Benda itu mendidih.

Retakan cahaya biru muncul di permukaannya. Berdenyut gila dan semakin menyilaukan mata. Lalu, tanpa peringatan... meledak!

BLAAR!

Tidak ada serpihan tajam yang menusuk kulit. Logam kuno itu berubah wujud menjadi gumpalan energi murni, melesat menembus udara, dan menghantam lurus masuk ke dalam ulu hatiku!

Aku jatuh berlutut di atas batu candi. Mulutku terbuka lebar, meraup udara kosong. Rasanya seperti menelan lahar hidup. Pendar biru menyala terang dari balik kemejaku yang basah.

Suara robekan kain yang luar biasa keras memekakkan telinga. Aku mendongak.

Langit malam di atasku terbelah.

Cahaya ungu pekat menyembur dari celah dimensi gila di balik awan badai. Seekor monster jatuh berdebum menghantam aspal pelataran. Wujudnya seperti serigala raksasa, tapi tubuhnya murni terbuat dari asap hitam pekat. Matanya merah darah. Kuku tajamnya memercikkan bunga api saat mencakar bebatuan candi.

Aku membeku.

Kakiku kaku seperti dipaku .

Tiga hari yang lalu. Tepat di hari ulang tahunku.

Sebuah paket usang tanpa nama pengirim tergeletak begitu saja di depan pintu kamar kosanku. Saat kubongkar, isinya sama sekali bukan hadiah perayaan. Hanya ada sebuah lempengan logam hitam kuno berbentuk segi enam, selembar peta rapuh, dan sebuah buku catatan lusuh.

Buku itu penuh dengan coretan tangan kakekku tentang ilmu kebatinan—sesuatu yang seumur hidupku kuanggap sebagai bualan omong kosong, sekadar dongeng mistis untuk menakut-nakuti anak kecil.

Namun, mataku terpaku pada peta tersebut. Terdapat sebuah tanda silang merah yang menunjuk ke titik spesifik di pelataran Candi. Pikiranku yang sedang kalut langsung menyimpulkan satu hal yang logis: Harta karun. Kakek pasti menyembunyikan sesuatu yang bernilai tinggi untukku.

Aku sangat membutuhkannya. Hidupku sudah terlalu pelik dan menyedihkan.

Kecelakaan maut sewaktu aku kecil—tepat di perjalanan pulang dari klinik setelah aku disunat—tidak hanya merenggut nyawa ayah dan ibuku dengan tragis, tapi juga menghancurkan masa depanku sebagai laki-laki normal. Benturan parah pada saraf selangkangan dan trauma luar biasa di hari nahas itu membuatku cacat permanen. Seumur hidup, aku kehilangan kemampuanku untuk ereksi.

Mungkin, pikirku saat itu, harta karun ini bisa membuatku kaya raya hingga bisa membiayai pengobatan medis terbaik untukku.

Setidaknya,itulah yang kuyakini sampai langit di atasku terbelah lagi dan muncul kilatan merah dari celah langit yang sama.

BLAAM!

Seorang wanita menghantam tanah dan berguling keras tepat di depanku.

Dia mengenakan zirah tembaga yang menempel pas di lekuk tubuhnya, mengekspos garis tubuh yang luar biasa proporsional dan menggoda meski di tengah kekacauan. Ukirannya rumit dan kuno. Rambut hitamnya diikat kuncir kuda yang kini berantakan dihajar badai. Dia memegang sebilah keris. Napasnya terengah-engah, membuat dadanya naik-turun dengan ritme cepat, sementara tatapan matanya luar biasa tajam dan terfokus pada monster di depannya.

Aku terpaku. Bukan hanya karena teror monster di depanku, tapi karena sebuah sensasi ajaib nan asing yang tiba-tiba menyengat pangkal tubuhku.

Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan sialan belasan tahun yang lalu, aku merasakan sesuatu bergerak di balik celanaku. Berkedut pelan melawan udara dingin, lalu... terasa sedikit tegang.

Mustahil, batinku menjerit liar. Benda matiku bereaksi?!

Namun aku tidak punya waktu memikirkan keajaiban gila itu.

"Energiku habis..." ucap wanita itu. Kakinya goyah saat dia berusaha berdiri.

Monster asap itu menggeram brutal. Rahangnya terbuka lebar, melompat menembus hujan menerkam leher wanita itu.

Didorong oleh rasa panik dan debaran aneh di bawah perutku, lahar biru di dalam dadaku bergolak tak terkendali. Rasa takutku yang melumpuhkan seketika lenyap, digantikan oleh sebuah insting bertahan hidup yang mematikan dan asing.

Aku berlari menembus badai.

"Awas!" teriakku.

Aku melompat. Telapak tanganku menyentuh langsung bahunya yang terbalut zirah tembaga dingin sesaat sebelum taring monster itu merobek lehernya.

Seketika, panas di ulu hatiku tersedot keluar dengan sangat buas! Aliran energi biru membanjiri sirkuit tubuh wanita itu bagai bendungan raksasa yang pecah.

Mata wanita itu membelalak kaget. Pupil matanya berkilat keemasan. Zirah tembaganya seketika meledak memancarkan aura cahaya biru yang menyilaukan.

"Energi murni..." gumamnya takjub.

Dia tidak membuang sedetik pun. Dengan kecepatan yang tidak masuk akal, tubuhnya melesat ke udara. Kerisnya menebas kegelapan malam badai.

Gelombang api biru raksasa melesat, membelah monster asap itu tepat di tengah!

Monster itu melolong nyaring kesakitan sebelum hancur menjadi abu putih yang langsung disapu tak bersisa oleh angin badai.

Pelataran Candi kembali sepi. Hanya menyisakan deru hujan.

Wanita itu mendarat perlahan. Uap panas mengepul dari zirahnya. Dia memutar tubuhnya perlahan, lalu berjalan mendekatiku.

Gerakannya tak terlihat mata manusia normal. Tiba-tiba saja, punggungku sudah menabrak batu candi, dan ujung kerisnya yang masih membara panas sudah menempel ketat di leherku. Kulitku mendesis terbakar.

Tatapan matanya mengunci pandanganku. Sangat dalam. Sangat dingin.

"Siapa namamu?" tanyanya dengan nada datar.

"Bagja," jawabku pelan. Entah kenapa, tatapanku tidak goyah menatap mata keemasannya, sementara debaran di bawah perutku masih tersisa.

"Aku Sekar."

Lanjut membaca
Lanjut membaca