

"Tenang sekali rasanya duduk sambil membaca setiap lembaran buku yang ada" Suara tenang terdengar di sudut kamar seorang pria.
Pria muda berkaca mata itu selalu menyendiri di pojok kamarnya sambil menyelesaikan bacaan dari setiap lembaran buku yang ia baca, dengan suasana yang hening.
Andra, nama yang di berikan oleh orang tuanya. Andra sering kali menghabiskan waktunya untuk belajar dan mencari inspirasi di sudut kamar tempat ia merasa nyaman dan tenang untuk berpikir.
"Ketenangan ini membuatku semakin semangat untuk belajar dan berpikir" ucapnya sambil menatap ke arah jendela kamar. Dia memang tidak suka keramaian dan tempat yang terlalu berisik, hal itu membuatnya sering kali tidak fokus karena ia sudah terbiasa tanpa ada seorangpun di dekatnya.
"mah.. pah.. aku merindukan kalian, aku berjanji akan selalu kuat dan melanjutkan hidupku dengan baik" gumamnya di dalam hati, dia tidak menyangkal kalau ia memang sedih setelah kepergian kedua orang tuanya, tetapi dia selalu menguatkan diri agar tidak terlihat rapuh, karena ia tau orang tuanya juga akan sedih kalau melihat dirinya selalu tenggelam dalam kesedihan.
Dunianya memang tidak baik-baik saja setelah orang tuanya tiada, Andra sempat sangat terpuruk dan setelah kejadian itulah dia selalu menutup diri dan terlihat seperti anak yang hilang arah. Di balik itu semua, Andra mencoba bangkit dan melanjutkan hidupnya sebaik mungkin. Andra selalu membaca buku, sudah puluhan buku yang ia baca untuk menghabiskan waktu luangnya yang memang tidak pernah ia gunakan untuk bersantai.
Andra berbicara dengan dirinya sendiri "aku akan menjadi orang yang sukses dan mempunyai banyak uang, tidak peduli orang di luar sana berkata apa yang penting aku bisa membuat orang tuaku bangga di sana". Sontak dirinya makin bersemangat menjalani hari walaupun hari-harinya di penuhi dengan buku di tangannya.
Andra yang terlihat introvert sering kali di anggap remeh oleh orang-orang di sekitarnya, penampilannya yang seperti anak kutu buku, berkaca mata, membuatnya di juluki si culun.
Sampai suatu ketika ia berjalan di sebuah keramaian dan bertemu dengan orang-orang.
"lihatlah, anak culun yang bawa buku kemana-mana, sok pintar banget ni orang" ucap seseorang yang sering kali membullynya. Ucapan itu tidak membuatnya merasa sedih karena memang Andra adalah anak yang tidak mementingkan apa yang orang lain katakan tentang dirinya.
"Emang dasar si kutu buku ini, heh kamu dengar tidak, pura-pura cuek gitu" Sontak si pembully yang lain membentaknya karena Andra tidak menghiraukan apa yang mereka katakan. "Kalian mau apa, aku hanya ingin lewat dan tidak mengganggu kalian sama sekali" Ucap Andra dengan tegas.
Orang-orang itu langsung mendorong Andra karena tidak terima melihat Andra terkesan berani kepada mereka. "Dasar anak yatim piatu" teriak si pembully, Andra langsung mengepal tangannya dengan wajah emosi, tetapi Andra memilih untuk pergi karena ia tahu bahwa jika ia tetap di situ emosinya akan meluap dan tidak terkontrol.
"hu hu hu...malah kabur, dasar anak culun" teriak si pembully itu dengan keras. "nanti kita kasi dia pelajaran lagi" suara dendam yang si lontarkan para pembully itu terdengar seperti ancaman bagi Andra.
Andra lari sambil menggenggam buku di tangannya "aku tidak boleh terpancing emosi cuma karena omongan nakal mereka" ucap Andra sambil meyakinkan dirinya untuk tetap tenang dan tidak menghiraukan para pembully itu. "orang tuaku mengajarkanku untuk tidak mudah emosi dan harus pandai mengontrol diri" Andra yang selalu mengingat pesan kedua orang tuanya sontak merasa tenang dan tidak memperdulikan orang-orang yang sudah menghinanya.
Andra pulang dan kembali ke sudut kamar melanjutkan bacaan bukunya. "Tempat ini memang paling tenang dan aman untukku". Ucap Andra sambil menghela nafas lega. Keheningan di sudut lorong kamarnya membuat beban dalam dirinya seketika hilang, Andra membuktikan bahwa kesunyian tidak selamanya menakutkan.
"Pagi hari yang cerah, apa yang harus aku lakukan hari ini?" Bertanya dengan penuh semangat di wajahnya, Andra bangun dengan wajah ceria. "Setelah sarapan,aku mau melanjutkan bacaanku kemaren" Ucapnya dalam hati sambil tersenyum.
Andra memang menghabiskan waktunya dengan membaca buku, berharap wawasan yang ia dapatkan bisa mengantarkannya kepada kesuksesannya kelak. "Dunia tidak menunggumu untuk terdiam, tetapi dunia menunggumu untuk bergerak" kata-kata penyemangat Andra di pagi hari.
"Hari ini sudah buku ke 30 yang aku baca, aku sangat bersemangat hari ini" Andra bersemangat karena dunia terasa damai ketika ia berhasil menyelesaikan bacaannya. Ketika orang lain sibuk dengan dunia luar yang penuh keramaian, Andra malah sibuk dengan dunianya yang penuh keheningan. Karena dengan itu ia merasa hidupnya lebih baik dan terarah dari pada menghabiskan waktu di luar yang penuh dengan ocehan orang-orang.
"Jika aku sukses nanti, aku akan membuat perpustakaan yang besar untuk orang-orang yang senang membaca" Niat hati Andra yang ingin menyalurkan hobinya ke orang lain supaya minat baca orang-orang lebih meningkat. "Tidak penting omongan orang di luar sana, aku akan tetap menjadi diriku sendiri tanpa harus memperlihatkan apa yang sedang aku usahakan" Ucap Andra dengan penuh yakin dirinya akan menjadi orang yang sukses di kemudian hari.
Sudut lorong yang memang Andra sediakan di kamarnya untuk tempat ia belajar dan membuka lembaran-lembaran bukunya, kini ia renovasi. Ia tambah buku-buku baru di lorong itu supaya ia lebih bersemangat untuk membaca. "Aku beri nama lorong ini, Lentera Berpikir karena tempat ini menggambarkan bahwa membaca adalah aktivitas yang menyalakan cahaya dalam pikiran" Andra sontak memberikan sebuah nama untuk tempat yang selalu menjadi ruang berpikirnya, tempat yang memiliki cahaya yang membuat hati tenang sehingga membuat Andra mudah untuk mendapatkan inspirasi.
Setiap hari lorong itu Andra rapikan dan selalu ada buku baru karena setiap buku yang selesai ia baca, ia pindahkan ke tempat khusus sehingga buku yang sudah di baca tidak bercampur dengan buku yang belum ia baca. "senang sekali rasanya memiliki perpustakaan kecil untuk diri sendiri" Ucap Andra dengan penuh bangga.
Andra mulai menyusun rencana untuk usaha yang akan ia kembangkan "aku harus mulai mengatur konsep, tidak apa-apa jika harus di mulai dari hal yang kecil, nanti jika aku selalu giat berusaha hal kecil yang aku kembangkan akan menjadi besar nantinya" Andra selalu yakin pada diri sendiri dan tidak memperdulikan omongan orang tentang dirinya.
"mama papa pasti bangga jika nanti aku berhasil membangun usahaku dari hasil kerja kerasku sendiri" Andra selalu ingat dengan orang tuanya, karena semasa kecil ia selalu di ajarkan untuk tidak mudah menyerah, apalagi goyah hanya karena omongan orang yang iri dengki terhadapnya.