Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Tuah Zamrud Si Oren

Tuah Zamrud Si Oren

Bagus Effendik | Bersambung
Jumlah kata
41.5K
Popular
100
Subscribe
38
Novel / Tuah Zamrud Si Oren
Tuah Zamrud Si Oren

Tuah Zamrud Si Oren

Bagus Effendik| Bersambung
Jumlah Kata
41.5K
Popular
100
Subscribe
38
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalHarem
Perhatian Cerita 21+ Joko hannyalah pemulung yang tinggal di sela-sela kardus kolong jembatan. Dunia mengenalnya sebagai pria buruk rupa yang berbau sampah. Sosok yang bahkan tak layak mendapatkan satu lirikan pun dari wanita. Satu-satunya teman setianya hannyalah Si Oren, kucing liar yang ia selamatkan dari kelaparan. Namun, saat bulan purnama tiba, sebuah rahasia langit terungkap. Si Oren bukanlah sekadar hewan, ia adalah dewa yang terbuang. Sebagai balas budi atas ketulusan Joko. sebuah cincin zamrud ajaib disematkan di jari manisnya. Dalam semalam, hidup Joko berubah total. Wajah kusam berganti paras tampan yang memikat sukma. Tubuh ringkih berubah menjadi atletis dan perkasa. Saldo rekening yang kosong kini tak lagi memiliki batas. Kini, Joko kembali untuk menaklukkan dunia yang dulu menginjaknya. Dari kolong jembatan menuju puncak kejayaan, ia membangun kerajaan bisnis barang bekas terbesar hingga menjadi juragan yang disegani. Tak ada lagi penolakan, hanya ada pengabdian dari istri tercantik di sisinya dan rumah mewah yang berdiri megah. Inilah kisah tentang takdir yang diputarbalikkan oleh kesetiaan dan sebutir batu zamrud.
Gang Warkop Pangku

Udara di sudut utara kota itu selalu terasa lengket dan berbau apak. Kombinasi dari selokan mampat yang dibiarkan bertahun-tahun. Asap knalpot kendaraan yang tua dan aroma parfum murah yang menyengat dari balik pintu-pintu kayu yang tertutup rapat. Ini adalah Lorong Kenanga, sebuah nama yang ironis untuk sebuah tempat yang lebih dikenal sebagai pusat penjaja nafsu bagi pria-pria hidung belang berkantong tipis.

Di tengah hiruk pikuk senja yang mulai menggelap. Sesosok tubuh kurus merayap pelan di antara kerumunan, itu Joko. Tubuhnya ringkih, bungkuk seolah memikul beban dunia yang tak kasat mata.

Kaosnya yang semula berwarna putih kini telah berubah menjadi abu-abu kecokelatan. Penuh lubang dan compang-camping akibat bergesekan dengan tumpukan sampah setiap hari.

Celana jeans yang ia pakai sudah putus di bagian lutut. Diikat dengan tali rafia di pinggang agar tidak melorot. Wajahnya, jika boleh jujur, adalah definisi dari kesialan. Kulitnya kusam, penuh jerawat batu yang meradang dengan hidung pesek dan mata yang selalu terlihat sayu. Seolah putus asa adalah makanan sehari-harinya.

Tampak di punggungnya yang lemah. Tergantung sebuah karung goni besar yang setengah penuh. Isinya bukan harta karun, melainkan botol plastik bekas, kaleng penyok, dan potongan-potongan kardus basah yang ia kumpulkan sejak pagi.

Tangannya yang kotor dan kasar mencengkeram erat sebuah galah besi kecil dengan ujung melengkung. Matanya melihat, memindai setiap sudut jalan, setiap tempat sampah. Mencari apa saja yang bisa ditukar dengan selembar uang receh.

"Woi, sampah! Jangan dekat-dekat sini! Bau!" teriak seorang pedagang asongan saat Joko melintas di depan dagangannya.

Joko tak menjawab, ia hanya menunduk lebih dalam. Mempercepat langkahnya yang pincang. Makian seperti itu sudah seperti musik latar bagi hidupnya. Jika ia berhenti untuk sakit hati setiap kali dihina, ia mungkin sudah mati sejak lama.

Hari ini adalah hari yang sial bagi Joko. Rongsokan di rute biasanya sudah habis diambil pemulung lain. Ia butuh uang untuk makan malam Si Oren. Kucing liar satu-satunya, temannya di gubuk kolong jembatan. Karena keputusasaan itu, Joko akhirnya melakukan sesuatu yang tak pernah ia berani lakukan sebelumnya. Ia melangkah masuk ke dalam Lorong Kenanga.

Lorong itu sempit dan gelap, diterangi lampu-lampu neon warna-warni, merah muda, biru, kuning redup yang dipasang di depan warung-warung kopi remang-remang atau sering disebut warga sekitar dengan warkop kopi pangku.

Joko, meskipun wajah dan tubuhnya terlihat lebih tua dari usianya, sebenarnya masih muda. Ia berada di puncak masa pubernya. Di bawah tumpukan baju kotor dan rasa lapar itu. Ada gejolak alami seorang pria muda yang merindukan belaian wanita di setiap malamnya. Selayaknya pria muda lain, Joko ingin menyentuh madu manis dari tubuh wanita.

Setiap kali ia melihat pria-pria kaya yang lalu lalang masuk ke lorong itu dengan mobil-mobil mewah yang diparkir di ujung gang. Pakaian necis dan wangi parfum mahal, hati Joko terasa pilu. Mereka berjalan dengan dagu terangkat. Seolah memiliki dunia dan yang paling membuat Joko sesak adalah saat melihat wanita-wanita yang mereka gandeng.

Wanita-wanita itu... mereka terlihat seperti dewi bagi Joko. Mereka berpakaian seksi, celana ketat yang menonjolkan lekuk tubuh dan atasan yang cenderung terbuka. Kulit mereka bersih, rambut mereka wangi.

Joko selalu bermimpi, suatu hari nanti, ada seorang wanita yang mau menatapnya dengan penuh cinta, bukan dengan tatapan jijik seperti yang biasa ia terima. Tapi ia tahu, dengan cermin retak di rumahnya dan karung goni di punggungnya. Mimpi itu lebih mustahil daripada turunnya salju di kota ini.

Dengan hati berdebar, Joko terus melangkah masuk ke dalam gang. Aroma parfum murah semakin menyengat, bercampur dengan bau alkohol dari beberapa warung. Ia menajamkan penglihatannya di kegelapan.

Matanya tertuju pada sebuah warung kopi remang-remang di sudut gang yang terlihat ramai. Di sana, di bawah lampu merah muda yang berkedip. Duduk beberapa pria hidung belang yang tertawa keras sambil merangkul wanita-wanita berpakaian minim.

Joko tertegun sejenak, matanya tertuju pada salah satu gadis yang sedang tertawa. Menopang dagunya dengan tangan yang lentik. Pakaiannya hanya berupa crop top hitam dan rok mini jin. Matanya berkilau dan meskipun Joko hanya bisa melihatnya dari kejauhan. Gadis itu terlihat sangat cantik dan menggairahkan.

Joko menelan ludah, hatinya terasa sesak oleh kombinasi rasa kagum dan kecemburuan yang mendalam. Kenapa aku tidak bisa seberuntung pria-pria itu? bisiknya dalam hati.

Ia sadar dirinya tak boleh berlama-lama. Lorong ini bukan tempat untuknya. Preman-preman penjaga gang sudah mulai menatapnya dengan pandangan curang. Joko memutuskan untuk berbalik arah, kembali ke jalan utama. Ia menghela napas, bersiap untuk mengangkat karung goninya yang terasa semakin berat.

Namun, di kegelapan gang yang penuh kejutan, takdir terkadang memiliki humor yang kejam. Tepat saat Joko hendak membalikkan tubuhnya dengan terburu-buru, ia tak menyadari bahwa seorang gadis, salah satu pekerja di warung kopi remang-remang itu, sedang berjalan dengan tergesa-gesa di belakangnya. Membawa nampan berisi gelas kopi kosong. Gadis itu tidak melihat Joko yang tiba-tiba berbalik dan Joko pun tak sempat menghindar.

DUK!

Mereka bertabrakan dengan keras. Nampan di tangan gadis itu terlempar ke udara, gelas-gelas kaca pecah berhamburan ke lantai beton lorong dengan suara berdenting nyaring. Tubuh Joko yang ringkih kehilangan keseimbangan. Gadis itu juga tak kuasa menahan benturan. Mereka berdua jatuh tersungkur ke lantai lorong.

Dalam hitungan detik yang terasa seperti keabadian. Posisi mereka mendarat di lantai adalah sesuatu yang tak pernah Joko bayangkan bahkan dalam mimpi terliarnya. Joko mendarat tepat di atas tubuh gadis itu.

Gadis itu terbaring di lantai gang yang kotor, matanya terbelalak karena terkejut dan marah. Posisinya membuat tubuh mereka sangat dekat berhadapan, berimpitan saling tindih. Wajah Joko yang kusam dan kotor berada hanya beberapa sentimeter dari wajah gadis itu yang halus dan penuh riasan.

Tapi kejadian itu tidak berhenti di situ. Sesuatu yang lebih buruk dan sekaligus paling beruntung dalam hidup Joko yang sial terjadi tanpa sengaja. Antara keberuntungan atau kesialan beda tipis jua.

Saat mereka terjatuh, kedua tangan Joko, dalam refleks keputusasaan untuk mencari pegangan agar tidak menghantam lantai lebih keras. Secara otomatis mencengkeram apa saja yang ada di depannya. Tangan kotor Joko mendarat telak dan meremas gunung kembar milik gadis itu dan, karena posisi jatuh yang tak beraturan, bibir Joko yang kering dan kotor tanpa sengaja menempel erat dengan bibir gadis itu.

Waktu seolah berhenti. Bibir Joko terasa hangat dan lembut, kontras dengan kotoran dan kerasnya hidup yang ia jalani. Aroma parfum murah gadis itu mendadak menjadi sangat jelas di hidungnya. Tangannya merasakan tekstur dua gundukan sensitif bagian depan tubuh gadis itu di balik pakaian tipisnya. Sebuah kepuasan hasrat yang tak terduga menjalari tubuh Joko. Meskipun itu terjadi dalam situasi yang paling buruk yang bisa dibayangkan.

Namun, momen emas itu hanya bertahan selama satu detik. Gadis itu, setelah berhasil mengatasi keterkejutannya. Langsung sadar akan apa yang sedang terjadi. Ia meraba tangan kotor Joko yang masih meremas gunung kembarnya dan merasakan bibir menjijikkan pria asing yang menempel di bibirnya.

"AAAAAGH!!! JIJIK!!! PREMAN! TOLOOONG!" teriak gadis itu dengan suara melengking penuh histeria. Ia mendorong tubuh Joko dengan sekuat tenaga, wajahnya merah padam karena amarah dan rasa jijik yang amat sangat.

Histeria gadis itu memecah keheningan Lorong Kenanga. Dalam sekejap, suasana menjadi heboh. Pria-pria hidung belang dari warung-warung kopi keluar, wanita-wanita pekerja lain ikut berkerumun. Mereka menatap Joko yang masih tersungkur di lantai, wajahnya panik dan kebingungan.

"Ada apa?! Siapa yang berani berbuat onar?!" teriak seorang pria berbadan tegap dengan tato di seluruh lengannya. Salah satu preman penjaga gang sambil berlari mendekat.

"P-preman... p-pemulung sampah ini! Dia... dia mau memerkosaku!" teriak gadis itu sambil menunjuk Joko, matanya berkaca-kaca karena marah.

"Dia pegang-pegang aku, dia cium aku! Tangannya kotor!"

Tatapan semua orang langsung tertuju pada Joko. Mata mereka penuh dengan hinaan dan amarah. Bagi mereka, Joko hannyalah sampah yang tak pantas menginjakkan kaki di lorong ini, apalagi menyentuh salah satu bunga di sana.

"Kurang ajar! Berani-beraninya kau, sampah!" teriak preman berotot itu. Tanpa peringatan, ia melayangkan tendangan keras ke perut Joko yang ringkih.

BUGH!

Joko tersentak, tubuhnya terlempar ke tumpukan material yang kebetulan ada di sana di sudut gang. Ia batuk darah rasa sakit yang luar biasa menjalar di seluruh tubuhnya. Tapi preman itu belum puas. Ia dan dua preman lainnya mulai mengeroyok Joko. Pukulan dan tendangan bertubi-tubi mendarat di tubuh Joko yang lemah. Wajahnya semakin babak belur, bibirnya pecah, matanya bengkak. Karung goninya terlempar menjauh, isinya berserakan di tanah yang kotor.

"Sampah seperti kau harus tahu diri! Jangan pernah mimpi sentuh barang di sini!" teriak salah satu preman sambil menginjak tangan Joko yang kotor, "Sekali lagi kau injak kaki di sini, kau mati!"

Di tengah siksaan itu, Joko menahan rasa sakit dengan gigi gemertak. Ia menatap gadis yang tadi ia tabrak. Gadis itu sedang ditenangkan oleh teman-temannya, tapi tatapannya pada Joko masih penuh dengan rasa jijik dan kemarahan. Ia meludahi tanah di dekat Joko, "Bau sampah! Dasar sampah menjijikkan!"

Dengan tubuh yang hampir lumpuh karena rasa sakit. Preman-preman itu akhirnya berhenti memukul. Mereka menyeret Joko keluar dari gang dengan kasar. Melemparnya seperti tumpukan sampah ke trotoar jalan utama yang ramai.

"Jangan pernah kembali, atau kau kami bakar!" teriak preman itu sebelum berbalik masuk ke dalam gang.

Joko tergeletak di trotoar, darah mengalir dari hidung dan bibirnya. Tubuhnya terasa seperti remuk total. Orang-orang yang lewat di jalan utama menatapnya sekilas dengan tatapan jijik atau kasihan, tapi tak ada yang berani mendekat atau menolong.

Di tengah rasa sakit yang luar biasa dan air mata yang mengalir di pipinya yang kusam, Joko meraba bibirnya yang pecah. Ia teringat akan kehangatan lembut bibir gadis itu yang tak sengaja ia cium. Kehangatan yang kontras dengan kekejaman dunia padanya.

Ia mengepalkan tangannya yang kotor dan penuh luka. Rasa perih di tubuhnya tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya akibat hinaan yang ia terima. Ia menatap pintu masuk Lorong Kenanga yang remang-remang, di mana preman-preman tadi menghilang.

Suatu hari... suatu hari nanti. Sebuah tekad yang belum pernah ada sebelumnya tumbuh di dalam hati Joko. Sebuah tekad yang lahir dari penderitaan yang tak tertahankan.

Suatu hari nanti... aku akan membeli tempat ini, bisik Joko dalam hati, suaranya parau oleh darah. Aku akan memiliki wanita-wanita tercantik di sana. Aku tidak akan lagi menjadi sampah. Aku akan menjadi pemilik dunia dan kalian... kalian akan berlutut di kakiku.

Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Joko perlahan bangkit berdiri. Ia melangkah pincang, meninggalkan Lorong Kenanga, menuju gubuknya yang kumuh di kolong jembatan. Tapi malam ini, di tengah kegelapan, matanya yang sayu kini menyimpan binar yang tajam dan berbahaya. Sebuah takdir yang gelap tapi megah sedang menunggu untuk terungkap di bawah bulan purnama.

Meong, meong, meong,

Kucing Oren kesayangannya sudah menungmu di tepi jembatan. Joko mengelus kepalanya lembut penuh kasih sayang, sambil berkata, "Teman maaf ya, lagi-lagi, malam ini. Kamu harus makan-makanan sisa yang aku dapat dari tong sampah lagi. Doakan aku menjadi kaya dan tampan kalau bisa kuat juga. Aku ingin membalas perlakuan orang-orang yang menghinaku.

Meong, meong, meong,

Kucing oren menatap Joko sambil tersenyum kecil di gendongan Joko. Seolah ia mengerti akan kesediaan tuannya. Selalu tersenyum lucu untuk menghilangkan kesedihan tuannya itu.

Lanjut membaca
Lanjut membaca