Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Dendam Ahli Sihir Terakhir

Dendam Ahli Sihir Terakhir

Sarah Aksara | Bersambung
Jumlah kata
55.9K
Popular
210
Subscribe
62
Novel / Dendam Ahli Sihir Terakhir
Dendam Ahli Sihir Terakhir

Dendam Ahli Sihir Terakhir

Sarah Aksara| Bersambung
Jumlah Kata
55.9K
Popular
210
Subscribe
62
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalSpiritualBalas DendamMonster
Api itu belum padam. Sepuluh tahun lalu, Galuh hanya bisa berdiri dan melihat keluarganya dibakar hidup-hidup. Dia tidak bisa bergerak. Tidak bisa menolong. Hanya mengingat. Dan sekarang, dia kembali. Satu simbol. Satu jejak. Satu tujuan. Balas dendam.
Malam Pembasmian

Galuh terbangun di dalam ruangan sempit dan gelap. Bau asap memenuhi ruangan gelap itu. Hawa panas membuat dirinya meringis.

"Aaargh. Sakit!" Galuh berteriak. Dia mulai menangis karena luka di sekujur tubuhnya semakin perih akibat hawa panas yang menyengat.

Galuh terduduk meringkuk di sudut ruangan di depan pintu keluar. Dia menggedor pintu berharap ada yang mengeluarkannya.

"Kenapa panas sekali? Tolong!" Suara Galuh serak. Ia belum minum, dan sekarang tenggorokannya mengering karena menghirup asap.

Asap itu sudah kian memenuhi ruangan. Galuh mulai sesak dan kehabisan napasnya. Dia menangis sangat keras.

"Kenapa aku harus kesakitan begini, Ibu? Bapak? Tolong Galuh! Galuh janji bakal mengikuti setiap aturan dan pelajaran dengan baik," air mata terus meleleh di pipinya.

Bibirnya sudah pecah dan kering. Kepalanya sudah mulai pusing. Tetapi, tangan kecilnya masih berusaha menggedor pintu.

Dug dug dug

"To…long…"

Hampir saja Galuh kehilangan kesadarannya. Terdengar suara pintu terbuka. Seorang wanita awal tiga puluh tahunan memasuki ruangan. Dirinya menggendong Galuh keluar dengan cepat.

Saat keluar dari gedung, Galuh samar melihat jalan yang tidak pernah dia lewati.

Ini kemana?

Galuh masih lemas. Tetapi, dia tetap menjaga kesadarannya. Ia takut, kalau sampai Ibu dan Bapaknya melihat dirinya jatuh pingsan lagi, dia kembali menerima hukuman yang menakutkan. Galuh tidak mau Ibu dan Bapaknya kecewa.

Matanya tertutup dan terbuka dengan lemah. Di tengah perjalanan evakuasi, dia mendengar suara riuh orang-orang. Seperti sedang mengutuk.

"Bakar!"

"Basmi semua pengguna sihir hitam!"

Galuh ketakutan. Ia memegang erat pelukan di bahu perempuan itu.

Seakan tahu ketakutan Galuh, wanita itu menenangkannya. "Nak, jangan khawatir. Kamu aman. Kamu tutup mata dan jangan dengarkan hal lain," suara itu menenangkannya.

Galuh merasa nyaman karena wanita yang menggendongnya adalah ibu asuhnya, Bu Ratna. Wanita yang selalu menenangkannya ketika dirinya dihukum dan di masa-masa sulit Galuh.

Setelah merasa tenang, Galuh mulai merasa ngantuk yang luar biasa. Matanya sudah sangat berat. Tubuhnya sudah merasa lelah. Pandangannya langsung gelap.

***

"Mati! Mati kalian!" teriak salah seorang wanita. Dari suaranya, terdengar wanita itu sudah tua. Bukan hanya wanita tua itu saja yang berteriak. Banyak orang baik pria maupun wanita, ada juga anak kecil sampai orang yang sudah tua, berteriak mengutuk seseorang.

Galuh terkesiap dengan napas terengah-engah. Ia menoleh ke sekelilingnya. Tempat itu adalah kamar tempat dia biasa diobati Bu Ratna setelah proses pelajaran dan hukuman dari Ibu dan Bapaknya. Galuh kecil mulai menenangkan diri.

Suara teriakan di luar rumah itu masih terus terdengar. Bau asap dan hawa panas masih terasa. Galuh tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Sampai Bu Ratna memasuki kamarnya dengan membawa minuman herbal.

Bu Ratna melihat Galuh duduk terdiam. Ia bergegas mendekati Galuh, "Ada apa, Nak? Tiduran lagi saja dulu." Bu Ratna membantu merebahkan Galuh kembali.

"Bu.. kenapa berisik sekali di luar? Ada apa, Bu?" Galuh menggenggam kedua tangan Bu Ratna dengan gelisah, lalu ia ingat dengan orang tuanya. "Ibuu.. Ibu dan Bapak bagaimana, Bu? Mereka selamat?" Dia menggoyang-goyang kedua tangan Bu Ratna. Raut muka Galuh mulai dipenuhi dengan ketakutan.

Bu Ratna hanya diam. Seperti sedang menyusun kata-katanya.

Apa yang harus kukatakan pada anak umur sepuluh tahun ini?

Bu Ratna menggigit bibir bawahnya. Ia menunduk. Tidak bersuara. Tubuhnya kembali diguncang oleh Galuh.

"Bu! Jawab Galuh, Bu?! Galuh mau ketemu Ibu dan Bapak! Galuh mau minta maaf kemarin tidak berlatih dengan baik. Mereka pasti kecewa dengan Galuh. Mereka gak kenapa-napa, kan, Bu?"

Masih tidak ada jawaban.

Suara riuh makin terdengar. Cahaya-cahaya melewati depan jendela rumah Bu Ratna. Terlihat seperti ada pawai obor. Orang-orang berbondong-bondong membawa obor. Masih dengan teriakan mengutuk.

Galuh berlari mendekati jendela. Bu Ratna bangkit dengan cepat. Menarik Galuh ke pelukannya. "Nak, jangan.." Suaranya bergetar.

"Kenapa, Bu?"

"Kamu harus bersembunyi di sini. Kamu.. kamu harus aman. Harus.. selamat," jelas Bu Ratna dengan gelisah. Terlihat dirinya mengintip jendela dengan hati-hati. Lalu dengan cepat dirinya menutup rapat tirai jendelanya.

Semoga tidak ada yang sadar.

Galuh membiarkan dirinya di dalam pelukan Bu Ratna. Dirinya masih mencerna ada apa. Lalu, Galuh mulai mengerti.

"Bu.."

"Ya, Nak Galuh?" jawab Bu Ratna berbisik. Seakan takut ada yang mendengar percakapan mereka.

"Ibu… dan Bapak… dalam bahaya, ya Bu?" tanya Galuh dengan menundukkan kepalanya. Tangannya menggenggam erat baju Bu Ratna. Ia menahan nangisnya sekuat mungkin.

Bu Ratna memeluk Galuh dengan erat. "Sssh Nak.. Jangan khawatir. Ibu dan Bapak berpesan pada Ibu, Nak Galuh harus selamat. Jangan sampai ada yang tahu keberadaanmu, Nak," jelas Bu Ratna masih dengan berbisik. Suaranya sedikit tercekat karena rasa sakit melihat anak di depannya itu.

"Bu.. kenapa di luar ribut? Siapa yang disuruh mati? Apa itu Ibu dan Bapak?" Galuh tahu itu, tetapi dirinya tetap ingin mendengar jawaban dari Bu Ratna. Ada sedikit harapan, agar pikirannya salah.

Tetapi, melihat respon Bu Ratna yang tiba-tiba menangis, sudah menjawab pertanyaan itu. Galuh pun menangis dengan kuat di pelukan Bu Ratna.

Cukup lama Galuh menangis. Napasnya tersenggal-senggal. Galuh perlahan melepaskan pelukan Bu Ratna. Matanya merah dan bengkak. Napasnya tidak teratur. Ia menoleh ke arah jendela yang tertutup rapat.

Bayangan api tiba-tiba memenuhi kepalanya.

Teriakan, bau daging terbakar. Galuh menggigit bibirnya sampai berdarah. Dia mengingat perlakuan ibu dan bapaknya selama ini.

Ia selalu menerima pelatihan-pelatihan menyakitkan. Ia akan dihukum jika tidak bisa melewatinya dengan baik. Rasa sakit luka-luka itu kembali terasa.

Tetapi.. dibalik rasa sakit luka dari perlakuan orangtuanya, Ia tahu bahwa mereka menyayangi dirinya.

"Bu.. Kalau Ibu dan Bapak gak ada.. siapa yang mau ajarin Galuh biar lebih kuat? Ibu bilang kalau Galuh harus kuat, supaya bisa bertahan hidup. Makanya Bapak selalu kasih Galuh pelatihan-pelatihan itu, kan?"

Bu Ratna hanya menggenggam tangan Galuh. Ia mengelus punggung tangan Galuh dengan lembut. Dirinya menahan diri agar tidak menangis di depan anak itu.

"Bu.. Galuh seneng, gak ada lagi hukuman," ucapnya menunduk. "Tapi, kalau itu berarti Ibu dan Bapak gak ada di dunia lagi, Galuh lebih sedih, Bu.." Air mata mulai menggenang kembali di pelupuk matanya.

Suara-suara di luar rumah itu perlahan berubah di telinganya. Bukan lagi sekadar teriakan warga.

Melainkan, suara orang-orang yang telah merenggut keluarganya.

Tangan kecil Galuh mengepal. Tubuhnya masih gemetar. Tetapi, tatapannya perlahan berubah.

Kosong. Dingin.

"Aku… benci mereka."

Bu Ratna langsung menunduk melihat Galuh.

"Nak…"

"Mereka jahat." suara Galuh serak. "Mereka jahat, Bu…"

Galuh mengangkat kepalanya perlahan. Air matanya masih mengalir, tetapi matanya tidak lagi hanya dipenuhi kesedihan. Ada dendam yang mulai tumbuh di sana.

"Keluargaku dibunuh…"

Suara riuh di luar kembali terdengar.

"Bakar!"

"Habisi semuanya!"

Rahang Galuh mengeras. Dirinya berdiri dan berlari ke arah kerumunan warga itu. Dibalut selimut, dirinya berlari dengan nekat. Bu Ratna mencoba mencegahnya. Tetapi, Galuh mendorong Bu Ratna.

Galuh, menoleh sesaat merasa bersalah. Tetapi, dia kembali berlari ke arah tempat orangtuanya dieksekusi. Sambil menangis, dia menguatkan diri ke arah suara teriakan warga yang mengutuk orangtuanya itu.

Udara malam langsung menerpa wajahnya. Panas. Bau asap memenuhi desa. Suara warga menggema di mana-mana.

"Bakar!"

"Habisi mereka!"

"Jangan biarkan ada yang lolos!"

Tubuh Galuh gemetar. Namun, kakinya tetap bergerak. Ia berlari melewati gang-gang kecil desa sambil menahan tangisnya.

Berkali-kali ia hampir terjatuh karena langkahnya tidak stabil. Dadanya masih sakit akibat hukuman sebelumnya. Tenggorokannya perih karena asap.

Tetapi pikirannya hanya satu. Ibu dan Bapak.

Galuh memperlambat langkahnya ketika mulai mendengar suara api yang membesar. Orang-orang berkumpul di lapangan batu dekat tebing. Jumlahnya banyak. Mereka membawa obor, parang, dan batu.

Wajah-wajah yang dikenali Galuh sejak kecil. Orang-orang yang dulu tersenyum saat bertemu dengannya. Kini berteriak seperti kerasukan.

Galuh bersembunyi di balik gerobak kayu tua. Napasnya memburu. Tubuh kecilnya meringkuk ketakutan. Namun matanya tetap memandang ke depan. Dan saat itulah dunia Galuh runtuh.

Barisan manusia berlutut di tengah lapangan. Tangan dan kaki mereka diikat. Karung putih menutupi kepala mereka. Tubuh mereka disiram sesuatu. Bau bensin pun tercium.

Galuh terus memandangi pemandangan kejam di depannya. Galuh langsung mengenali pakaian salah satu dari mereka. Tubuhnya membeku.

Itu… Ibu.

"Ibu…" suaranya pecah.

Air mata langsung mengalir deras. Ia hampir berdiri. Hampir berlari ke sana. Namun seseorang menariknya cepat ke belakang gerobak.

"Jangan, Nak!" bisik Bu Ratna panik sambil memeluk tubuh Galuh dari belakang. "Kalau ketahuan, kamu gak akan selamat!"

Tubuh Galuh bergetar hebat. Matanya tidak bisa lepas dari lapangan itu.

"Dasar pemuja iblis!"

"Pembawa bencana!"

"Bakar semuanya!"

Salah satu warga melempar obor. Api langsung membesar. Jeritan menggema malam itu. Galuh memaksakan dirinya untuk terus melihat ke depan. Tubuhnya terasa dingin.

Ia melihat keluarganya dibakar hidup-hidup, sementara warga di sekeliling bersorak. Suara tawa menghiasi malam itu. Ada yang melempar batu, ada juga yang meludah.

Di tengah riuh itu..

Ia melihat ada barisan pasukan berjubah putih, masing-masing orang itu menutupi kepalanya dengan tudung. Mereka menghadap orang-orang yang sedang dibakar dan dilempar batu. Terlihat motif api di bagian punggung tengah jubahnya.

Dan.. Ada seseorang yang sepertinya merupakan pemimpin mereka menghadap para warga.

"Terima kasih, atas bantuan para warga semua. Kami dapat memberantas musuh masyarakat ini. Mereka sudah melakukan hal-hal kejam selama ini. Kalian sudah membantu proses pembasmian musuh itu. Kalian semua adalah.. pahlawan," teriak pemimpin itu.

Mukanya terlihat sedikit di balik tudungnya.

Rahang tajam, hidung yang melengkung sempurna. Rambut panjangnya dikepang. Tangannya mengarah ke langit. Seolah telah melakukan hal besar.

"Saat ini, negeri kita akan bersih dari penjahat-penjahat ini! Kita bisa kembali tenang. Tidak ada lagi nyawa tidak bersalah mati di tangan mereka! Seluruh pengguna dan keturunannya tidak bersisa. Semua akan selesai malam ini!"

Disambut dengan eluan warga. "Hidup Para Pembasmi Sihir Hitam!"

"Hidup Mahapatih!"

Mata Galuh perih karena memaksakan diri membuka mata di tengah asap mengepul. Ia menggigit tangannya sendiri keras-keras agar tidak berteriak. Darah mengalir dari bekas gigitannya. Namun rasa sakit itu kalah jauh dibanding apa yang ada di depan matanya.

Air matanya jatuh tanpa henti. Ia mengingat semua hal tentang keluarganya. Suara Ibunya. Latihan bersama Ayahnya.

Tetapi, semua habis di depan matanya. Dan yang lebih menghancurkan, tidak ada satu pun orang di sana yang merasa bersalah. Mereka menikmati semuanya.

Saat itulah sesuatu di dalam diri Galuh perlahan berubah. Bukan hanya sedih dan takut, tetapi dendam.

Galuh menatap satu per satu wajah warga yang berdiri di sekitar api.

Ia mengingat mereka.

Menghafal mereka.

Dan di tengah tangis yang tertahan itu, sebuah pikiran muncul di kepalanya.

Suatu hari nanti…

ia akan membalas mereka.

Lanjut membaca
Lanjut membaca