

Lantai sekolah yang licin terasa dingin di pipinya. Kepalanya terasa berputar tapi tak ada lagi bau anyir darah yang terakhir kali ia ingat, hingga terdengar teriakan lantang yang entah datang dari mana.
"Bangun Samudra! Jangan pura-pura mati!"
Suara teriakan itu memantul di antara dinding beton, tajam dan memekakkan telinga. Mendengar itu panglima Arka menggerakkan jemarinya.
Sensasi pertama yang ia rasakan adalah kekosongan yang mengerikan. Tak ada berat zirah Astra yang biasa membebani bahunya. Tak ada hawa panas dari pedang mustika yang selalu bergetar di pinggangnya, membuat tubuhnya terasa ringan.
Terlalu ringan, seolah-olah ia hanya terdiri dari tulang muda dan kulit tipis tanpa otot baja hasil peperangan selama dua dekade. Panglima Arka mencoba menarik napas, namun paru-parunya terasa sempit dan dipenuhi polusi, bukan udara murni pegunungan Arkapada.
Ia merasakan denyut nadi yang cepat dan tidak beraturan di lehernya. Sebuah tanda kelemahan yang memuakkan bagi seorang panglima besar.
"Ini bukan tubuhku, dan ini bukan di medan perang," gumamnya yang mulai sadar.
Panglima Arka semakin sadar. Aroma karat yang memenuhi indera penciumannya berasal dari pagar besi yang keropos, bukan dari ribuan tombak yang bersimbah darah. Ia juga bisa merasakan kalau beton basah di dekatnya tidak memiliki jejak sihir sama sekali. Semuanya terasa hambar, sunyi, dan sangat asing.
Panglima Arka akhirnya memaksa kelopak matanya terbuka. Langit yang menyambutnya bukan lagi berwarna merah saga dengan dua bulan yang menggantung, melainkan langit abu-abu mendung yang dipenuhi kabel-kabel hitam melintang.
Belum sempat penglihatannya fokus sepenuhnya pada sosok yang berdiri di depannya, sebuah bayangan bergerak cepat dan,
BUGH ....
Satu pukulan mendarat telak di rahang kirinya. Seketika kepalanya tersentak ke samping. Rasa asin darah segar memenuhi mulutnya, tapi itu bukan darah musuh, melainkan darahnya sendiri. Rasa sakit itu nyata, berdenyut, dan sangat manusiawi.
Bagi seorang panglima yang biasa menangkis serangan naga, pukulan ini secara teknis sangat amatir, namun tubuh barunya yang ringkih ini tidak memiliki refleks untuk menghindar.
"Masih mau diam saja Samudra?!"
Suara ejekan itu kembali terdengar, disusul tawa renyah di sekelilingnya.
Panglima Arka pun meludah ke lantai dengan kepala yang perlahan menoleh, menatap sosok remaja berseragam putih abu-abu yang berdiri dengan kepalan tangan siap meninjunya.
Sialnya, sorot matanya yang biasa memancarkan wibawa kematian kini justru berkilat dengan rasa takut dan kebingungan.
"Kau .... " Arka berbisik pelan. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri, tapi kali ini ia tak peduli karena merasa tak terima mendapatkan tatapan remeh dari pria-pria muda di hadapannya.
Dengan lantang ia lalu berteriak, "Kaliaann ... berani-beraninya memukul seorang panglima!!"
Seketika suara tawa terdengar riuh, memecah kesunyian di lantai teratas sekolah yang suram. Sialnya, itu bukan tawa penuh hormat seperti yang biasa Arka dengar dari para prajuritnya, tapi itu adalah tawa mengejek yang merendahkan. Jenis tawa yang biasanya hanya diberikan anak buahnya pada badut istana.
"Panglima?"
Lelaki muda di depannya, yang mengenakan jas almamater berwarna hitam dengan logo sekolah, masih terus tertawa hingga membungkuk sambil memegangi perutnya. Dua orang lain di belakangnya juga terus terpingkal-pingkal.
"Apa kalian dengar itu? Samudra bilang dia adalah panglima! Wah, kayaknya pukulan gue barusan bikin otaknya geser sampai ke zaman kerajaan!" ucap salah satu dari mereka yang terlihat paling bengis diantara yang lain.
Puas mengejek, lelaki muda itu melangkah maju, memangkas jarak hingga Arka bisa mencium bau rokok murahan dari napasnya. Tangannya menepuk-nepuk pipi Arka dengan kasar, gerakan yang bagi Arka adalah penghinaan paling fatal bagi seorang ksatria.
"Bangun dari mimpi lo Samudra!" hardiknya, tawanya mendadak hilang digantikan kilat kebencian yang menusuk.
"Lo dengar baik-baik, lo itu cuma sampah di dunia ini. Lo bukan panglima, tapi lo adalah sansak tinju gue!"
"Halah, paling dia kebanyakan main game, sampai ngayal jadi panglima," timpal salah seorang lagi sambil memainkan pemantik api.
"Panglima katanya? Panglima tukang bersih-bersih wc sekolah maksudnya?"
Mendengar semua ucapan itu membuat Arka merasakan panas yang aneh menjalar dari ulu hatinya. Itu bukan sihir api, melainkan amarah murni yang terasa begitu sesak di dada.
Bagi Arka, ditertawakan saat bicara tentang kehormatan adalah dosa yang hanya bisa dibayar dengan duel sampai mati. Ia segera mencoba bangkit, tapi lututnya terasa gemetar. Tubuh manusia bernama 'Samudra' ini seolah menolak perintah dari otaknya.
Ada memori ketakutan yang tertanam begitu dalam pada saraf-saraf di otaknya dan juga trauma berat yang membuat sel-sel otot tubuh ini menjadi sangat lemah sehingga kakinya terasa lemas tak berdaya.
"Pengecut ... jadi tubuh ini adalah milik seorang pengecut," batin Arka dengan geram dan itu membuat orang-orang di depannya semakin merasa besar kepala. Ketidak berdayaannya adalah tontonan yang sepertinya sangat menarik untuk dinikmati.
"Kenapa diam? Mana pedang lo, Wahai Panglima?" ujar si pemilik rambut bergelombang yang ternyata adalah pemimpin geng mereka. Mendengar itu ingin rasanya Arka menendang kakinya hingga patah, sayangnya saat ini ia benar-benar tak berdaya hingga salah satu dari mereka dengan sengaja meludahi sepatu miliknya yang sudah bolong di bagian ujungnya.
"Ayo panglima Samudra ... tunjukin kekuatan lo sebelum gue bikin lo pingsan lagi!"
Arka tidak menjawab dengan kata-kata. Ia perlahan mengepalkan tangan. Sebuah gerakan yang canggung karena ia tidak merasakan gagang pedang di jari-jarinya, tapi di saat yang sama tatapan matanya berubah.
Ketajaman mata seorang pembantai kini menatap lurus ke dalam pupil mata si perundung.
"Tertawalah selagi kau bisa, karena di duniaku, lidah yang menghina seorang panglima biasanya berakhir di ujung belati," desis Arka. Suaranya kini terdengar rendah dan dingin, tanpa ada nada gemetar sedikit pun, tapi yang ada, satu tendangan kembali mendarat di rusuknya.
Sebuah tendangan yang lemah bagi seseorang yang pernah menahan hujaman tombak di jantungnya. Tendangan itu harusnya tak lebih seperti gigitan serangga, tapi tubuh sosok Samudra yang ia tempati benar-benar bergetar hebat.
Paru-parunya menyempit dan rasa sakitnya terasa memalukan. Panglima Arka, Sang Elang Padang Utara, kini telah terperangkap dalam raga seorang pecundang bernama Samudra. Seorang remaja 17 tahun yang lemah dan miskin.
Samudra adalah anak yatim piatu yang tinggal dengan neneknya, tapi satu hal yang menjadi kelebihannya. Otaknya sangat cerdas. Di tengah keterbatasan ia bahkan mampu mempertahankan beasiswa berprestasi di sekolahnya.
Sayangnya, beasiswa itu terancam hilang karena berbagai perundungan yang ia alami menggoncang mentalnya, dan hari ini pemukulan kembali terjadi. Bahkan setelah jiwanya melebur menjadi satu dengan jiwa milik seorang panglima. Perundungan masih belum usai. Tawa ejekan itu masih terdengar hingga akhirnya tatapan elang benar-benar memancar dari kedua matanya.