Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Saga Arda: Dominasi Sang Pemangsa

Saga Arda: Dominasi Sang Pemangsa

Red Inferno | Bersambung
Jumlah kata
90.3K
Popular
641
Subscribe
180
Novel / Saga Arda: Dominasi Sang Pemangsa
Saga Arda: Dominasi Sang Pemangsa

Saga Arda: Dominasi Sang Pemangsa

Red Inferno| Bersambung
Jumlah Kata
90.3K
Popular
641
Subscribe
180
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalSpiritualBalas DendamZero To Hero
Dunia ini tidak butuh orang baik yang lemah. Dunia ini hanya menunduk pada pemangsa yang paling buas." ​Bagi Arda, menjadi pria yang jujur dan pekerja keras hanyalah sebuah kutukan. Di hari yang sama, ia kehilangan segalanya: dicampakkan oleh Siska—wanita yang dijaganya selama lima tahun—demi anak Kepala Desa yang kaya raya, diusir oleh ibunya sendiri, dan rumah warisan ayahnya bersiap disita oleh bank. Di titik terendah dalam hidupnya, saat ia menelan habis semua ludah dan hinaan dari orang-orang yang merendahkannya, takdir Arda berubah di bawah bayangan pohon beringin tua. ​Seorang kakek misterius menanamkan Mustika Lintah Emas tepat di jantungnya. ​Sebuah pusaka kuno yang hidup dengan memangsa energi negatif. Berbekal pusaka tersebut, Arda mampu menyedot segala jenis penyakit mematikan, santet, hingga kutukan klenik tingkat tinggi dari tubuh seseorang. Sebagai gantinya, energi kotor itu dikonversi menjadi penyempurnaan anatomi tubuh yang absolut. Semakin besar santet yang ia hisap, semakin tegap, berotot, dan mematikan fisik serta instingnya. ​Kini, Arda bukan lagi kuli pasar yang menunduk saat ditindas. Dengan kedok sebagai ahli pengobatan herbal dan syaraf, ia mulai membangun kerajaannya sendiri dari titik nol. ​Dari seorang janda kembang yang rela menyerahkan segalanya, putri juragan sombong yang gengsinya dihancurkan hingga tunduk merayap, hingga CEO wanita berdarah dingin dari ibukota yang rela menukar seluruh hartanya demi setetes kewarasan. Wanita-wanita yang berkuasa ini menemukan diri mereka terikat, bergantung, dan terobsesi secara mutlak pada sang penyelamat yang dingin dan tak tersentuh. ​Ini bukan kisah tentang pahlawan yang menyelamatkan dunia. Ini adalah kisah tentang seorang pria yang bangkit dari lumpur kemiskinan, mencengkeram takdir dengan tangannya sendiri, dan memaksa orang-orang yang dulu menertawakannya untuk berlutut memohon ampunan. ​Di hadapan Arda, hanya ada dua pilihan: Tunduk, atau hancur.
Bab 1 - Petuah Mustika Menemukan Inangnya

Suara dentuman sound system hajatan dari seberang jalan terasa seperti godam yang menghantam dada Arda berkali-kali. Bass-nya sampai bikin kaca jendela gubuk reotnya bergetar.

Di seberang sana, tenda biru megah berdiri gagah. Janur kuning melengkung dengan tulisan besar: "Selamat Menempuh Hidup Baru, Siska & Bayu".

Arda cuma bisa duduk mematung di teras gubuknya, memandangi rintik gerimis yang mulai turun. Tangannya mengepal keras. Dia nggak ngerokok, dia juga nggak pernah nyentuh alkohol seumur hidupnya, jadi nggak ada pelarian instan buat ngilangin rasa sesak di dadanya sekarang. Dia cuma pemuda desa lurus yang kerja serabutan dari pagi sampai malam demi ngumpulin rupiah.

"Bagus ya tendanya, Da?"

Suara itu bikin Arda mendongak. Siska. Perempuan yang lima tahun dipacarinya, yang ditemaninya dari zaman masih naik sepeda ontel, sekarang berdiri di depannya. Siska memakai kebaya mahal berwarna emas, dipayungi oleh salah satu panitia hajatan. Wajahnya di-makeup tebal, kelihatan cantik, tapi tatapannya penuh belas kasihan yang merendahkan.

"Kamu ngapain ke sini, Sis? Belum cukup Mas Bayu nyewa sound system paling gede buat dipamerin depan rumahku?" suara Arda serak, berusaha menahan emosi.

Siska menghela napas panjang, bersedekap dada. "Kamu tuh jangan suuzon terus to, Da. Aku ke sini cuma mau mastiin kamu baik-baik aja. Mas Bayu itu orangnya baik, dia malah nawarin kamu buat bantu-bantu cuci piring di belakang kalau kamu mau uang saku tambahan."

Dada Arda rasanya mau meledak. "Cuci piring? Hajatan mantan pacarku sendiri?"

"Ya wis, kalau nggak mau, nggak usah ngegas!" Siska mendelik. "Aku cuma kasihan sama kamu, Da. Coba kamu ngaca. Sampai kapan kamu mau hidup blangsak begini? Kerja cuma kuli panggul pasar, boro-boro beli motor NMAX kayak janjimu dulu, benerin genteng rumah aja kamu nggak mampu. Wajar to aku milih Mas Bayu? Dia anak Kades, masa depanku terjamin."

"Aku kerja keras buat nabung modal nikah kita, Sis!" tekan Arda, suaranya bergetar.

"Kerja keras kalau miskin ya miskin aja, Da! Wis lah, aku mau balik ke tenda. Nanti malam acara puncaknya, kalau kamu lapar, ambil aja sisa katering di belakang. Jangan kelaparan, nanti aku yang dituduh tetangga nggak peduli sama tetangga miskinnya." Siska membalikkan badan, berjalan pergi meninggalkannya tanpa menoleh lagi.

Arda menggigit bibir bawahnya sampai berdarah. Harga dirinya diinjak-injak sampai rata dengan tanah.

Belum sempat dia mencerna rasa sakitnya, ponsel butut di saku celananya berdering. Layarnya retak-retak, menampilkan nama: Ibu. Ibu Arda bekerja sebagai buruh cuci di kota kecamatan, sementara Arda menjaga rumah peninggalan almarhum ayahnya.

Arda menarik napas panjang, menekan tombol hijau. "Halo, Bu—"

"Da! Kamu ini gimana to?!" Suara ibunya melengking dari seberang telepon, penuh isak tangis dan amarah. "Orang bank baru aja nelpon Ibu! Jatuh tempo utang bapakmu itu minggu depan! Kalau nggak ada uang sepuluh juta, rumah itu disita!"

"Bu, Arda lagi usahain. Bos kuli di pasar janji mau—"

"Halah! Usaha apa?! Kamu itu lanang (laki-laki) kok nggak ada gunanya sama sekali! Lihat itu anak tetangga, merantau bawa pulang mobil! Lha kamu? Jagain rumah aja sampai mau disita! Pacar aja diambil orang karena kamu melarat!"

Jleb. Kata-kata ibunya lebih tajam dari pisau.

"Ibu tahu aku kerja dari subuh sampai isya, Bu..." suara Arda memelan, kepalanya tertunduk.

"Wis, Ibu capek! Kalau minggu depan kamu nggak bisa nebus rumah itu, kamu minggat aja sekalian! Nggak usah anggap aku Ibumu lagi. Dasar anak bikin susah!"

Tut... Tut... Tut...

Sambungan diputus. Arda mematung. Hujan mulai turun makin deras, menyamarkan air mata yang akhirnya jebol dari pelupuk matanya. Mantan pacar mengkhianati dan menghina, keluarga sendiri membuangnya. Finansialnya minus. Hutang menumpuk.

"Asu..." desis Arda pelan. "Dunia asu!"

Arda berdiri. Tanpa payung, tanpa jaket, dia melangkah menembus hujan deras. Dia nggak peduli arah. Dia cuma berlari dan terus berlari menjauhi dentuman musik dangdut yang seolah menertawakan kemiskinannya.

Langkah kakinya membawanya ke ujung desa, ke area kuburan lama yang ditumbuhi pohon beringin raksasa. Tempat itu gelap gulita, angker, dan nggak pernah dilewati orang kalau malam. Petir menyambar terang, memperlihatkan akar-akar beringin yang menjuntai seperti tentakel raksasa.

Arda jatuh berlutut di tanah berlumpur tepat di bawah pohon itu. Tangannya meninju tanah berkali-kali sampai berdarah.

"Apa salahku?! Aku nggak pernah nipu orang! Aku nggak mabuk-mabukan! Aku kerja halal! Kenapa nasibku begini?!" teriak Arda ke arah langit yang gelap.

Rasa putus asanya sudah di ujung tanduk. Matanya menatap akar beringin yang kuat dan tebal di atasnya. Mungkin... kalau dia mengakhiri semuanya di sini, rasa sakitnya bakal hilang. Buat apa hidup jadi orang baik kalau ujung-ujungnya cuma jadi keset buat orang kaya?

"Hehehehe... Kekehkehkeh...."

Suara tawa serak, parau, dan basah tiba-tiba terdengar dari sela-sela akar beringin.

Arda tersentak. Dia menoleh ke belakang. Di atas salah satu akar yang melintang, duduk seorang kakek tua renta. Pakaiannya compang-camping seperti gembel, rambutnya putih panjang gimbal, dan matanya buta sebelah. Bau anyir darah dan kemenyan menguar kuat dari tubuh si kakek.

"Si... siapa kamu, Mbah?" Arda mundur selangkah, jantungnya berdebar kencang. Setan? Jin penunggu beringin?

Kakek itu melompat turun dengan gerakan yang terlalu lincah untuk orang seusianya. Dia berjalan mendekati Arda, menyeringai memamerkan giginya yang hitam dan keropos.

"Bocah lanang kok gembeng (laki-laki kok cengeng)," ejek si kakek, suaranya berat dan bergema di tengah hujan. "Nggak ngerokok, nggak mabuk, kerja halal... hahaha! Terus kamu bangga jadi orang baik? Lihat hasilnya, Le. Pacarmu dikeloni anak orang kaya, rumahmu mau disita, ibumu membuangmu. Orang baik di dunia ini cuma diciptakan buat jadi budak orang jahat."

"Nggak usah ngurusin urusan orang, Mbah!" geram Arda, meski tubuhnya gemetar kedinginan. "Kalau Mbah mau nakut-nakutin, mending pergi. Aku udah nggak peduli sama hidupku."

"Oh, mau mati kamu?" Kakek itu meludah ke tanah berlumpur. "Silakan. Sana gantung diri. Besok pagi mayatmu cuma jadi tontonan, mantanmu bakal ketawa, ibumu makin malu. Mati sebagai pecundang yang miskin."

Kata-kata itu menampar kewarasan Arda. Tangannya mengepal lagi. Benar. Kalau dia mati sekarang, Siska dan Bayu yang akan menang.

"Terus aku harus apa?!" teriak Arda frustrasi. "Aku nggak punya uang! Aku nggak punya backing-an! Di dunia ini yang berkuasa itu uang dan jabatan!"

Kakek itu tersenyum lebar. Sangat lebar, sampai sudut bibirnya nyaris robek. "Akhirnya kamu sadar, Le. Di dunia ini, hukumnya cuma satu: yang kuat memangsa yang lemah. Kalau kamu nggak mau dimangsa, kamu harus jadi pemangsa yang paling buas."

Si kakek tiba-tiba terbatuk hebat. Batuknya basah dan panjang. Dia memegangi dadanya, lalu memuntahkan darah hitam pekat ke telapak tangannya sendiri.

Arda mundur, ngeri. Tapi matanya terbelalak saat melihat apa yang ada di telapak tangan si kakek. Di tengah genangan darah hitam itu, ada sebuah batu akik sebesar ibu jari. Warnanya merah keemasan, dan benda itu... berdenyut. Bergerak perlahan layaknya lintah yang kehausan.

Ada aura panas dan mistis yang memancar dari batu itu, membuat air hujan yang menyentuhnya langsung menguap jadi asap.

"Ini... Mustika Lintah Emas," desis si kakek, napasnya mulai tersengal, seakan waktunya di dunia sudah hampir habis. "Pusaka leluhur yang mencari inang baru yang penuh dendam. Benda ini bisa menyedot segala penyakit, kutukan, santet, dan kesialan orang lain... lalu mengubahnya jadi energi murni untukmu."

Arda menelan ludah. "Untuk apa Mbah ngasih itu ke aku?"

"Karena aku sudah mau mampus, dan aku mencium bau dendam yang sangat sedap dari hatimu," kekeh si kakek. Mata sebelah yang masih normal menatap tajam ke mata Arda. "Ingat, Le. Benda ini nggak butuh orang baik. Benda ini butuh orang yang egois, yang rela menginjak kepala orang lain demi kekuasaan. Sembuhkan penyakit kaum elit, sedot kesombongan mereka, dan jadikan mereka anjing peliharaanmu! Mau kamu?!"

Arda terdiam. Hujan turun membasahi wajahnya. Bayangan senyum merendahkan Siska, tawa sombong Bayu, dan bentakan kasar ibunya melintas di kepalanya seperti kaset rusak.

Persetan dengan jadi orang baik. Persetan dengan moral.

"Aku mau," jawab Arda. Suaranya nggak lagi bergetar. Dingin. Mantap.

"Bagus..."

Tanpa aba-aba, si kakek menerjang maju dengan kecepatan kilat. Tangan keriputnya mencengkeram kerah baju Arda, lalu dengan kasar dia menghantamkan batu Mustika Lintah Emas itu tepat ke tengah dada Arda.

"AARRRGGGHHH!!!"

Arda menjerit sejadi-jadinya. Rasanya seperti ada besi panas membara yang menembus kulit, daging, dan tulang rusuknya. Batu itu bergerak, merobek dadanya, memaksa masuk dan menempel langsung di jantungnya.

Tubuh Arda terpental ke belakang, menabrak akar beringin. Urat-urat di leher dan tangannya menonjol, berubah warna menjadi kehitaman lalu keemasan secara bergantian.

"Sedot semuanya, Le! Jadilah lintah yang paling serakah di dunia ini! Hahahahaha!"

Suara tawa kakek itu perlahan memudar, bersamaan dengan wujudnya yang hancur menjadi debu hitam, tersapu oleh badai hujan.

Di bawah pohon beringin, Arda masih kejang-kejang. Energi dari mustika itu membanjiri sel-sel tubuhnya, menghancurkan yang lemah dan menggantinya dengan sesuatu yang jauh lebih buas, lebih kuat, dan mengerikan. Rasa sakitnya terlalu luar biasa. Pandangan Arda perlahan menggelap.

Sebelum kesadarannya benar-benar hilang, satu kalimat terukir jelas di benak Arda yang kini tak lagi sama.

Tunggu pembalasanku, Siska.

Lalu, semuanya gelap.

Lanjut membaca
Lanjut membaca