

Rio terbangun dengan napas berat, seolah paru-parunya baru saja dipaksa menelan udara yang terlalu dingin.
Beberapa detik pertama terasa kabur. Pandangannya tertahan di langit-langit kamar yang pucat, sementara sisa mimpi masih menempel di kepalanya seperti bau logam yang enggan hilang. Ia tidak langsung bergerak. Tubuhnya kaku, pikirannya masih terjebak di antara dua dunia.
Darah. Teriakan. Dan sepasang mata yang menatapnya tanpa emosi.
Rio menutup mata sejenak, lalu mengusap wajahnya dengan kasar, mencoba menyingkirkan bayangan itu. Namun semakin ia berusaha melupakan, semakin jelas detailnya muncul kembali, seolah mimpi itu bukan sekadar bunga tidur, melainkan potongan sesuatu yang benar-benar terjadi di tempat lain.
“Kenapa lagi…” gumamnya pelan.
Ia akhirnya bangkit dan duduk di tepi kasur. Kipas angin di sudut ruangan berputar pelan, mengaduk udara malam yang lembap. Jam dinding menunjukkan lewat pukul dua. Waktu yang aneh untuk terjaga, tetapi juga terlalu dini untuk berharap bisa tidur kembali dengan tenang.
Dari luar, kota masih berdenyut. Suara kendaraan sesekali melintas, diselingi tawa orang-orang yang pulang larut. Ada kehidupan di sana, biasa dan wajar, seakan dunia tidak menyimpan apa pun yang patut dicurigai.
Tok.
Suara itu datang begitu halus hingga Rio hampir mengabaikannya.
Ia mengernyit, menoleh ke arah jendela. Tirai tipis bergoyang pelan, meski tidak ada angin yang masuk. Rio diam, mencoba memastikan apakah ia benar-benar mendengar sesuatu atau hanya sisa ilusi dari mimpi.
Tok.
Kali ini lebih jelas. Tidak keras, tetapi cukup untuk mengusik kewaspadaan.
Rio berdiri perlahan. Ada keraguan dalam langkahnya, tetapi rasa penasaran mendorongnya untuk mendekat. Jarak antara kasur dan jendela terasa lebih panjang dari biasanya, seolah ruang itu meregang tanpa ia sadari.
Ia berhenti tepat di depan tirai, menahan napas sejenak sebelum menariknya ke samping.
Lorong sempit di luar tampak biasa saja. Dinding kusam, pipa air yang menetes pelan, dan lampu jalan yang memancarkan cahaya redup. Tidak ada sosok mencurigakan, tidak ada gerakan yang aneh.
Rio mengembuskan napas, setengah lega, setengah kesal pada dirinya sendiri.
“Mungkin cuma suara pipa…”
Ia berbalik, berniat kembali ke kasur, ketika suara itu terdengar lagi.
Tok.
Kali ini tidak berasal dari luar.
Melainkan dari dalam.
Tubuh Rio menegang. Ia tidak langsung menoleh. Ada jeda singkat, seolah instingnya mencoba menunda kenyataan yang tidak ingin ia hadapi.
Perlahan, ia memutar kepala.
Seorang gadis berdiri di dalam kamarnya.
Rio mundur refleks, jantungnya berdegup lebih cepat. Jarak mereka tidak terlalu jauh. Gadis itu berada dekat jendela, seolah ia memang sudah ada di sana sejak tadi, hanya saja baru terlihat sekarang.
Rambutnya panjang dan gelap, jatuh lurus tanpa berantakan. Wajahnya pucat, tetapi bukan pucat karena lemah. Lebih seperti warna yang tidak tersentuh matahari dalam waktu lama. Yang paling mengganggu adalah matanya—tenang, terlalu tenang, tanpa gelombang emosi yang jelas.
Rio mencoba menemukan penjelasan yang masuk akal.
“...Kamu masuk dari mana?”
Tidak ada jawaban.
Gadis itu hanya menatapnya, seolah pertanyaan itu tidak penting. Sikapnya membuat suasana semakin ganjil, karena tidak ada rasa panik, tidak ada usaha menjelaskan, bahkan tidak ada tanda bahwa ia merasa bersalah telah muncul begitu saja di kamar orang lain.
Rio menarik napas, mencoba menenangkan diri.
“Kalau ini lelucon, sudah cukup. Aku nggak tahu kamu teman siapa, tapi ini bukan cara yang lucu.”
Gadis itu bergerak satu langkah mendekat.
Rio langsung mengangkat tangan, menghentikannya. “Jangan dekat dulu.”
Langkah itu berhenti. Hening kembali jatuh di antara mereka, cukup lama hingga suara kipas angin kembali terdengar jelas di telinga Rio.
Akhirnya, gadis itu membuka suara.
“Jangan keluar malam ini.”
Nada suaranya datar, tanpa tekanan, tetapi justru itu yang membuat kalimatnya terasa berat.
Rio mengernyit. “Apa maksudnya?”
“Kalau kamu keluar,” lanjutnya tanpa mengubah ekspresi, “kamu akan mati.”
Kalimat itu meluncur begitu saja, seolah ia sedang menyampaikan sesuatu yang sudah pasti terjadi.
Rio menatapnya beberapa detik, lalu mengeluarkan tawa pendek yang terdengar dipaksakan. “Oke. Serius? Kamu masuk ke kamar orang, terus langsung ngomong begitu?”
Tidak ada perubahan di wajah gadis itu.
Tawa Rio perlahan mereda.
Ada sesuatu yang tidak beres. Bukan karena ucapannya, tetapi karena cara ia mengatakannya. Terlalu tenang untuk sebuah ancaman. Terlalu yakin untuk sebuah tebakan.
“Siapa mereka?” tanya Rio, kali ini lebih hati-hati.
Gadis itu tidak langsung menjawab. Ia menoleh ke arah pintu kamar, dan untuk pertama kalinya, ekspresinya sedikit berubah. Bukan takut, melainkan waspada.
“Sudah dekat,” katanya pelan.
Udara di dalam ruangan terasa berbeda. Lebih berat, seolah ruang itu tiba-tiba penuh oleh sesuatu yang tidak terlihat.
Rio ikut menoleh ke arah pintu. Tidak ada yang berubah secara kasat mata, tetapi perasaannya mengatakan sebaliknya.
Kemudian, tanpa peringatan—
Pintu kamar terbuka dengan keras.
Suara benturannya memantul di dinding sempit. Rio tersentak, refleks mundur.
Sosok tinggi berdiri di ambang pintu.
Cahaya dari lorong tidak benar-benar menerangi tubuhnya. Justru sebaliknya, seolah cahaya itu diserap, menyisakan siluet yang tidak jelas bentuknya. Rio berusaha memfokuskan pandangan, tetapi semakin ia mencoba, semakin sulit ia menangkap detailnya.
Hanya ada satu hal yang pasti.
Sosok itu tidak seharusnya ada di sana.
“Ini… apa?” suara Rio melemah tanpa ia sadari.
Makhluk itu melangkah masuk. Gerakannya tidak tergesa, tetapi setiap langkahnya membawa tekanan yang membuat napas Rio terasa berat.
“Diam,” ujar gadis di belakangnya.
Rio ingin bertanya, tetapi kata-katanya tertahan. Ada sesuatu dalam suasana itu yang membuatnya memilih untuk menuruti, meski ia sendiri tidak sepenuhnya mengerti kenapa.
Makhluk itu mengangkat kepalanya.
Dan untuk sesaat, Rio melihat matanya.
Gelap. Dalam. Tidak memantulkan apa pun.
Seolah tidak ada kehidupan di sana.
Tubuh Rio langsung menegang. Ia ingin mundur, ingin berlari, tetapi otot-ototnya menolak perintah. Ketakutan itu tidak datang sebagai ledakan, melainkan sebagai tekanan perlahan yang mengunci tubuhnya dari dalam.
“Kenapa… aku nggak bisa gerak…” bisiknya.
“Karena dia melihatmu,” jawab gadis itu.
Nada suaranya tetap tenang, tetapi lebih tegas.
Makhluk itu mendekat, memperpendek jarak dengan langkah yang sama lambatnya. Lengan panjangnya mulai terangkat, jari-jarinya tampak tidak wajar, terlalu kurus dan memanjang seperti ranting kering.
Rio menelan ludah, memaksa dirinya tetap sadar.
“Kalau aku diam… dia bakal pergi?”
Tidak ada jawaban.
Pertanyaan itu menggantung di udara, sementara jarak di antara mereka semakin tipis.
Lalu suara itu datang lagi.
“Sekarang.”
Nada gadis itu berubah, tajam dan tanpa ragu.
“Lari.”
Seolah sesuatu di dalam tubuh Rio tiba-tiba terlepas, kendali atas dirinya kembali. Ia langsung bergerak, menyamping dengan langkah yang nyaris terpeleset.
Makhluk itu merespons seketika.
Gerakannya jauh lebih cepat dari yang terlihat. Bayangan gelap melesat ke arah Rio, dan benturan keras menghantam lengannya sebelum ia sempat menghindar sepenuhnya.
Rasa sakit menjalar cepat, membuatnya kehilangan keseimbangan. Tubuhnya terlempar ke samping, menabrak meja kecil hingga jatuh berantakan.
Rio meringis, tetapi tidak punya waktu untuk memikirkan rasa sakit itu.
“Keluar!” teriak gadis itu.
Rio bangkit setengah tersandung, lalu berlari ke arah pintu. Lorong di luar terasa gelap, tetapi entah kenapa jauh lebih nyata dibandingkan apa yang baru saja ia tinggalkan.
Ia menuruni tangga dengan langkah kacau, hampir kehilangan pijakan beberapa kali. Napasnya memburu, jantungnya berdetak keras hingga terasa di telinga.
Di belakangnya, suara benturan terdengar lagi, diikuti sesuatu yang tidak bisa ia kenali.
Rio tidak menoleh.
Ia terus berlari sampai keluar dari bangunan.
Udara malam menyambutnya dengan dingin yang menyadarkan. Ia berhenti di trotoar, membungkuk sambil mencoba mengatur napas. Dunia di sekitarnya tampak normal—lampu jalan, kendaraan yang lewat, orang-orang yang tidak tahu apa pun.
Seolah semua yang terjadi barusan hanya mimpi buruk yang terbawa ke dunia nyata.
Rio mengangkat kepala, menatap ke arah lantai tiga.
Kamarnya gelap.
Sunyi.
Tidak ada tanda-tanda kekacauan.
“Belum selesai.”
Rio menoleh cepat.
Gadis itu berdiri di bawah lampu jalan, wajahnya kini terlihat lebih jelas. Ada kelelahan di sana, tipis tetapi nyata.
“Mereka sudah menemukanmu,” katanya.
Rio menatapnya lama, masih berusaha mengejar napasnya sendiri. “Siapa sebenarnya kamu?”
Gadis itu tidak langsung menjawab. Ia melangkah mendekat, berhenti dalam jarak yang cukup dekat hingga Rio bisa merasakan kehadirannya tanpa harus melihat.
“Kalau kamu mau hidup,” ujarnya pelan, “mulai sekarang, kamu harus ikut denganku.”
Rio tidak langsung menjawab. Namun di dalam hatinya, ia sudah tahu. Malam ini bukan awal dari sesuatu yang bisa ia hindari.
Dan apa pun yang menunggunya setelah ini… Tidak akan memberi pilihan yang mudah.