

Hujan gerimis turun lambat, membasahi aspal gang buntu yang berbau pesing dan asap rokok. Cahaya lampu jalan yang berkedip menyorot ban motor custom yang melaju pelan membelah genangan air.
Dewa Mahendra menarik tuas rem. Laju motornya terhenti. Lima bayangan memanjang di dinding bata lembab, menghalangi satu-satunya jalan keluar dari gang sempit tersebut.
Sebagai kurir jalur bawah tanah, malam seperti ini bukan hal baru. Ia bukan pengantar paket biasa. Tidak ada seragam resmi atau bukti pengiriman. Jas hitam rapi di balik jaket hujannya adalah satu-satunya identitas.
Tugasnya hanya memindahkan barang-barang yang tidak boleh tercatat oleh hukum, entah itu obat eksperimental, berlian selundupan, atau chip data rahasia dari satu titik gelap ke titik gelap lain di kota ini.
"Ini jalan buntu, kurir."
Seorang lelaki berjaket kulit penuh noda melangkah maju. Ada bekas luka memanjang di pipi kirinya. Empat lelaki lain menyebar, mengepung Dewa dan motornya dari sisi kiri dan kanan.
Pipa besi dan balok kayu terseret bergesekan dengan aspal.
Dewa diam. Tangan kanannya turun dari stang motor, meraba tas kulit di sisi kiri kendaraannya, memastikan kotak kayu seukuran telapak tangan masih berada di sana.
"Gua cuma numpang lewat buat nganter barang, Bang," suara Dewa datar, menembus rintik hujan.
Pemimpin preman itu tertawa. Suaranya parau, diikuti kekehan merendahkan dari empat rekannya.
"Lu nggak ngerti, ya?" Lelaki berwajah codet itu mengetuk-ngetukkan pipa besi ke telapak tangannya sendiri. "Ini wilayah Macan Hitam. Nggak ada tikus yang boleh lewat tanpa bayar pajak."
"Gua nggak bawa uang, Bang."
"Kita nggak butuh uang lu." Pipa besi itu diacungkan tepat ke wajah Dewa. "Kita butuh kotak di motor lu itu. Serahin, dan mungkin lu bisa pulang dengan dua kaki masih utuh."
Dewa menurunkan standar motornya. Ia turun perlahan, menimbang celah untuk menerobos kepungan.
Sebuah ayunan balok kayu tiba-tiba menghantam punggungnya dari titik buta. Dewa terhuyung, berlutut keras di aspal basah. Tubuhnya menabrak sisi motor hingga kendaraan itu miring hampir tumbang.
"Udah gua bilang, serahin!"
Satu tendangan keras mendarat di ulu hatinya. Dewa tersungkur. Napasnya tercekat di tenggorokan. Air berlumpur meresap masuk, mengotori kemeja dan jas hitamnya.
Dua preman lain maju, membongkar paksa tas pelana motornya dan melempar kotak kayu itu ke tanah.
Lelaki berwajah codet berjongkok. Tangannya yang kasar mencengkeram kerah jas Dewa, menariknya paksa hingga wajah mereka berdekatan. Bau alkohol yang tajam menguar dari mulut lelaki itu.
"Lihat diri lu, kurir, " bisiknya penuh hinaan. "Jas hitam, rambut rapi. Lu pikir pakaian murah itu bikin lu kelihatan kayak petinggi dunia bawah, hah? Lu cuma kurir ilegal. Sampah yang bisa diinjak kapan aja."
Dewa terbatuk. Darah segar menetes dari sudut bibirnya.
"Buka kotaknya," perintah sang pemimpin.
Salah satu preman menginjak kotak kayu itu hingga hancur berantakan. Isinya hanya beberapa botol kecil berisi cairan bening yang kini pecah bercampur air hujan.
"Cuma ini?" Lelaki berwajah codet meludah tepat di samping wajah Dewa. "Kerjaan lu nggak ada harganya sama sekali."
Ia menghempaskan tubuh Dewa kembali ke genangan air. "Periksa saku jasnya. Siapa tahu tikus ini nyembunyiin barang berharga."
Dua lelaki merangsek maju. Mereka menekan kedua lengan Dewa ke tanah menggunakan lutut. Satu tangan kotor merogoh saku dalam jas hitam yang robek itu.
Tangan tersebut menarik keluar sebuah lipatan kertas tebal. Selembar foto usang yang pinggirannya sudah menguning.
Mata Dewa membelalak. Tubuhnya yang sedari tadi tidak melawan, tiba-tiba menegang keras.
"Balikin." Suara Dewa serak.
Preman yang memegang foto itu mengangkatnya tinggi-tinggi ke arah lampu jalan yang temaram. "Siapa nih? Ibu lu? Adik lu? Wah, manis juga."
"Gua bilang balikin." Urat di leher Dewa menonjol. Napasnya memburu.
Lelaki berwajah codet merampas foto tersebut dari rekannya. Ia menatap Dewa, lalu menatap foto itu bergantian. Sebuah senyum miring terbentuk di wajahnya.
"Penting banget rupanya foto ini ya."
Tangan lelaki itu bergerak. Foto itu terkoyak menjadi dua bagian.
"Brengsek, jangan!"
Tangan itu bergerak lagi. Potongan kertas itu kembali robek. Menjadi serpihan-serpihan kecil yang tak lagi berbentuk.
Sang pemimpin membuka telapak tangannya, membiarkan serpihan kertas itu jatuh berhamburan ke genangan air lumpur.
Sepatu botnya yang kotor menginjak sisa-sisa kenangan itu, memutarnya perlahan, menggilasnya hingga hancur menyatu dengan kotoran jalanan.
"Ambil sendiri sana."
Hening.
Suara hujan seolah menguap dari pendengaran.
Tubuh Dewa berhenti meronta. Kepalanya tertunduk rapat menyentuh aspal. Dadanya berhenti naik-turun.
"Kenapa lu diam? Udah mati?"
Salah satu preman menendang rusuk Dewa.
Tidak ada rintihan.
Tidak ada reaksi.
Di dalam kepala Dewa, pintu baja yang selama ini ia gembok rapat-rapat, hancur berkeping-keping. Bau aspal basah tergantikan oleh bau karat darah. Suara hujan tergantikan oleh sorak-sorai penonton arena bawah tanah di masa lalunya.
Insting membunuh yang ia tidurkan paksa untuk menjadi lelaki biasa, kini membuka matanya lebar-lebar.
"Bangun, kurir. Gua belum selesai sama lu."
Dewa perlahan mengangkat wajahnya. Darah dari pelipisnya menetes, membelah garis rahangnya. Matanya kosong.
"Lu harusnya ambil paket itu dan pergi." Suara Dewa tidak lagi serak. Sangat datar. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja dikeroyok.
Lelaki berwajah codet mematung. Sesuatu dari tatapan Dewa membuat napasnya tiba-tiba sesak. Namun gengsinya lebih besar dari rasa takutnya.
"Hah? Apa lu bi-"
Gerakan Dewa memutus kalimat itu. Tubuhnya melenting dari aspal seperti pegas mematikan.
Tangan kirinya menangkis lengan musuh yang memegang pipa besi, sementara punggung tangan kanannya menghantam tepat di tulang rawan tenggorokan sang pemimpin.
Lelaki berwajah codet terhuyung mundur, menjatuhkan senjatanya. Kedua tangannya mencengkeram lehernya sendiri, matanya melotot mencari udara yang tak kunjung masuk, diiringi suara napas yang tersumbat cairan.
"Habisi dia!" teriak preman yang lain, panik.
Tiga lelaki menyerbu serentak.
Dewa tidak mundur. Ia melangkah maju menyambut mereka.
Satu ayunan balok kayu mengarah ke kepalanya. Dewa menunduk, menyelinap mulus ke bawah lengan musuh, lalu menyikut rusuk lelaki itu dengan seluruh putaran pinggulnya.
Lelaki itu jatuh tanpa suara, kehilangan kesadaran seketika sebelum tubuhnya menyentuh tanah.
Preman ketiga menusukkan pisau lipat ke perutnya. Dewa memiringkan tubuh, membiarkan mata pisau merobek sisi kemejanya, lalu menangkap pergelangan tangan musuh. Satu pelintiran cepat ke arah luar membuat sendi pergelangan tangan musuh bergeser paksa.
Pisau jatuh berdenting di aspal. Jeritan melengking memecah rintik hujan. Belum sempat jeritan itu selesai, Dewa menendang sisi luar lutut musuh hingga sendi itu patah ke arah yang berlawanan.
Hanya tersisa satu preman berdiri di dekat sang pemimpin yang masih tersedak darahnya sendiri. Tubuh preman terakhir itu gemetar hebat. Ia melangkah mundur, kakinya tersandung botol kosong.
"Lu monster," bisik preman itu. Ia berbalik dan lari terbirit-birit, ditelan kegelapan malam.
Dewa membiarkannya pergi. Ia melangkah pelan, ketukan sepatunya teratur, menuju lelaki berwajah codet yang kini jatuh berlutut di atas aspal.
Lelaki itu menatap Dewa dengan mata terbelalak lebar. Wajahnya pucat pasi.
"Tu-tunggu. Jangan," Suara pemimpin itu serak, dipenuhi darah di kerongkongannya. Ia mengangkat sebelah tangannya yang gemetar. "Kita nggak tahu ..."
Dewa diam. Ujung sepatu kulitnya berhenti tepat di depan lutut lelaki itu.
"Maafin gua, Bang. Gua mohon."
"Nggak ada maaf buat yang udah ngelewatin batas."
Satu sentakan kilat. Dewa menangkap lengan lelaki yang memohon itu, menahannya kuat-kuat di lutut, lalu mematahkannya dengan satu tekanan telak tanpa ragu.
Sendi siku itu hancur.
Jeritan histeris memenuhi ujung gang. Lelaki itu jatuh tersungkur, bergulingan di genangan air sambil memegangi lengannya yang kini bengkok mengerikan.
Dewa menunduk. Jari-jarinya yang berlumuran darah memungut sisa-sisa robekan foto di dekat sepatunya. Ia membersihkan lumpurnya dengan sangat pelan, lalu memasukkannya kembali ke saku dalam jasnya.
Ia berjalan pelan menuju motornya, mendirikan kembali kendaraan tersebut. Ia berdiri tegak, memperbaiki kerah jas hitamnya yang robek dengan ekspresi datar. Ia tidak sudi menoleh lagi pada tubuh-tubuh yang mengerang di sekitarnya.
Di ujung gang buntu itu, di batas antara gelapnya jalanan dan terangnya lampu kota, sebuah sedan mewah berwarna hitam mengkilap berhenti perlahan.
Kaca jendela belakang turun tanpa suara.