

Malam Jumat Kliwon selalu memiliki reputasi sendiri di tanah Jawa. Angin berembus lebih dingin, membawa aroma tanah basah dan melati yang samar. Merambat pelan bersama silir angin berbau anyir darah.
Namun, bagi keluarga Sanjaya, malam itu seharusnya menjadi malam yang hangat dan penuh kasih.
Terletak di sebuah kawasan elite yang terisolasi dari bisingnya kota. Berdiri sebuah rumah megah dengan arsitektur modern minimalis yang didominasi kaca dan marmer mahal. Baskoro Sanjaya, seorang pria berusia awal tiga puluhan yang menjabat sebagai salah satu direktur utama di perusahaan multinasional. Baru saja menyelesaikan laporan pekerjaannya di ruang kerja pribadi. Ia adalah sosok penting, wajahnya sering menghiasi majalah bisnis dan pengaruhnya menjangkau hingga ke jajaran pemerintahan.
Baskoro melangkah masuk ke kamar utama. Tampak bak bidadari di sana, istrinya, Elena Sanjaya, sedang merapikan selimut bayi laki-laki mereka yang baru berusia enam bulan. Elena adalah definisi kecantikan yang sempurna, kulitnya putih bersih, rambutnya hitam legam tergerai, dan matanya selalu memancarkan kelembutan.
"Jaka sudah tidur?" bisik Baskoro sambil memeluk pinggang istrinya dari belakang.
Elena menoleh, memberikan senyum manis yang sanggup meluluhkan beban kerja suaminya seharian, "Baru saja. Dia sangat tenang malam ini."
Keheningan malam itu seolah menjadi undangan. Sebagai pasangan muda yang harmonis, malam Jumat adalah waktu bagi mereka untuk merayakan kedekatan. Dengan gerakan lembut namun penuh gairah, Elena memulai rutinitas wajib mereka. Pakaian jatuh satu demi satu ke lantai marmer yang dingin.
Hingga tak ada lagi sehelai benang pun yang menghalangi kulit mereka. Bawah temaram lampu tidur, mereka menyatu dalam kasih sayang, tidak menyadari bahwa maut sedang mengintip dari balik tirai. Merambat pelan berbaur bersama kabut tipis dan berdansa bersama rerumputan balik jendela.
Tampak samar-samar di luar rumah di sebuah sudut gelap yang merupakan ruang kosong antara jendela kamar utama dan pagar pembatas tinggi yang ditumbuhi tanaman merambat. Udara tiba-tiba berdesis, ruang dan waktu seolah terlipat secara paksa. Menciptakan hawa dingin pekat sedingin kutub selatan.
Sebuah garis cahaya ungu kehitaman muncul di udara. Melebar membentuk celah oval yang memancarkan aura dingin yang menusuk tulang. Itu adalah Gerbang Astral, sebuah pintu gaib antar dimensi yang menghubungkan dunia manusia dengan dunia Antah Berantah.
Dari dalam celah tersebut, keluar lima sosok pria bertubuh tegap dengan pakaian kulit hitam yang aneh. Mata mereka memancarkan cahaya merah redup, tanda bahwa mereka bukan manusia biasa, melainkan praktisi ilmu hitam yang telah menjual jiwa. Tak hanya mereka, dua ekor makhluk serupa serigala namun dengan kulit bersisik dan taring yang mengeluarkan lendir hijau ikut merangkak keluar. Itu adalah Hellhound makhluk peliharaan dari dimensi bawah.
"Target ada di dalam, habisi laki-lakinya, ambil bayinya. Darah keturunan Sanjaya adalah kunci terakhir untuk membangkitkan Raja kita, dia adalah kunci pembuka portal poneglib emas," bisik pria yang tampaknya adalah ketua kelompok tersebut.
Seorang pria dengan bekas luka bakar di separuh wajahnya bernama Jagad. Dengan gerakan secepat kilat, mereka meloncati pagar tanpa suara. Makhluk-makhluk astral itu seolah-olah menyatu dengan bayangan. Menghilang cepat tanpa jejak, menuju sasaran yang telah terkunci. Menyatu bersama gelap malam.
Brak!
Jendela kaca tebal yang seharusnya kedap suara itu hancur berkeping-keping dalam satu hantaman energi gelap. Baskoro dan Elena yang tengah berada dalam puncak keintiman terperanjat hebat. Namun, sebelum Baskoro sempat meraih ponsel atau senjata di laci meja. Sebuah tangan dengan kuku-kuku hitam panjang sudah mencengkeram lehernya.
"Ugh...!" Baskoro mengerang hebat. Tubuhnya yang atletis terangkat ke udara seolah beratnya tak lebih dari sehelai bulu. Ia meronta, kakinya menendang udara, tapi cengkeraman Jagad terlalu kuat. Energi hitam mengalir dari tangan Jagad, mengunci aliran napas dan tenaga dalam Baskoro.
Elena menjerit histeris, mencoba menutupi tubuhnya dengan selimut yang tersisa, namun salah satu anak buah Jagad dengan kasar menarik selimut itu. Mata Jagad berkilat melihat kecantikan Elena yang luar biasa di bawah sinar bulan yang masuk melalui jendela pecah. Nafsu bejat muncul di sela-sela misi berdarahnya.
"Kau punya istri yang sangat cantik, Sanjaya," geram Jagad sambil terus mengangkat tubuh Baskoro yang mulai membiru, "Sayang sekali jika keindahan ini terbuang sia-sia sebelum kau mati."
Jagad kemudian melempar Baskoro ke sudut ruangan hingga menghantam lemari kaca. Belum sempat Baskoro bangkit, dua anak buah Jagad sudah mengunci tangannya ke lantai. Membuat Baskoro tak bisa berkutik lagi, walau seluruh tenaga ia kerahkan untuk melepaskan kuncian. Mereka bukan manusia biasa terasa percuma usaha Baskoro kini.
"Tidak! Tolong jangan!" teriak Elena meratap.
Namun, rintihan itu justru menjadi pemantik bagi nafsu para iblis berwujud manusia ini. Jagad langsung menindih Elena dengan kasar. Di depan mata Baskoro yang dipaksa terbuka, istrinya dilecehkan secara brutal. Kebiadaban itu dilakukan bergantian oleh para anggota kelompok tersebut seolah Elena bukanlah manusia, melainkan barang rampasan.
Baskoro hanya bisa mengeluarkan suara parau, air mata darah mengalir dari matanya melihat penderitaan istrinya. Elena, yang jiwanya hancur dan tubuhnya disiksa tanpa henti, akhirnya mengembuskan napas terakhirnya karena gagal jantung dan tekanan energi astral yang merusak organ dalamnya. Matanya tetap terbuka, menatap langit-langit dengan kekosongan yang memilukan.
"Cih, sudah mati?" Jagad berdiri, membenahi pakaiannya dengan dingin. Ia kemudian berjalan ke arah Baskoro yang sudah tak berdaya. Tanpa kata, Jagad menghunjamkan telapak tangannya yang diselimuti energi hitam tepat ke jantung Baskoro.
Jleb!
Baskoro tewas seketika dengan mata yang masih menatap jasad istrinya. Malam itu tragedi maut di satu gang rumah mewah tak pernah terdeteksi. Bahkan tak ada orang tahu kejadian mengerikan di dalam kamar kediaman Sanjaya itu. Tapi ada satu hal yang luput dari perhitungan Jagat. Di sekitar rumah mewah masih ada seorang jago yang nanti akan mengubah jalan cerita.
Beberapa ratus meter dari kediaman Sanjaya, tiga orang pria sedang berjalan menyusuri trotoar kompleks. Dua di antaranya adalah satpam lingkungan berseragam lengkap, sementara satu orang lagi adalah seorang lelaki tua dengan sarung tersampir di bahu dan kaos oblong sederhana.
Lelaki tua itu bernama Ki Ageng Wiratama. Bagi warga sekitar, ia hanyalah warga senior yang rajin ikut ronda. Namun, di balik penampilannya yang bersahaja, ia adalah seorang Empu, ahli kultivasi arwah tingkat tinggi yang sudah puluhan tahun menyembunyikan identitasnya.
Langkah Ki Ageng tiba-tiba terhenti. Ia memejamkan mata, bulu kuduknya berdiri. Udara yang tadinya biasa saja kini terasa sangat berat, seperti ada ribuan ton air yang menekan dadanya.
"Ada apa, Mbah?" tanya salah satu satpam heran.
Ki Ageng menghirup udara dalam-dalam, "Bau anyir... dan hawa busuk dari dimensi lain. Sangat kuat. Bau sebuah pembantaian kejam dari alam arwah."
Ia melihat ke arah rumah mewah di ujung jalan. Aura hitam pekat tampak membubung tinggi ke langit, membelah awan mendung malam itu, "Kalian berdua, lanjutkan patroli ke arah gerbang depan. Jangan mendekat ke sana, apa pun yang kalian dengar," perintah Ki Ageng dengan nada yang sangat berwibawa, berbeda dari biasanya.
"Tapi, Mbah—"
"Pergi sekarang!" bentak Ki Ageng.
Tanpa menunggu jawaban, tubuh Ki Ageng tiba-tiba kabur, lalu menghilang dari pandangan kedua satpam tersebut. Ia bergerak menggunakan teknik Langkah Bayangan Arwah, berpindah dari satu bayangan gelap ke bayangan lainnya dengan kecepatan yang tak masuk akal bagi manusia biasa.
Di dalam kamar utama, suasana sangat mencekam. Para pembunuh itu masih menertawakan kebiadaban mereka. Beberapa di antaranya bahkan masih menyentuh jasad Elena dengan jijik.
Jagad berjalan menuju ranjang bayi di pojok ruangan. Jaka, bayi mungil itu, baru saja terbangun karena kebisingan. Ia tidak menangis, matanya yang bulat justru menatap Jagad dengan polos.
"Ini dia... bibit yang akan menjadi persembahan luar biasa," ucap Jagad sambil mengangkat Arka dengan satu tangan. Ia mengeluarkan sebuah belati berwarna ungu gelap yang berdenyut seperti jantung manusia, "Darahmu akan membuka gerbang abadi bagi kaum kami."
Saat belati itu hendak diayunkan, sebuah ledakan energi putih perak menghantam pintu kamar hingga hancur berkeping-keping. Membuat makhluk-makhluk peliharaan Jagad mengeram ketakutan.
BOOM!
"Hentikan, wahai makhluk-makhluk terkutuk!" Suara bariton Ki Ageng menggelegar, menggetarkan seluruh ruangan bahkan meretakkan kaca-kaca yang tersisa.
Jagad terkejut, ia menoleh dan melihat seorang pria tua berdiri dengan aura putih yang menyilaukan mata, "Siapa kau?! Berani sekali mencampuri urusan Ordo Bayangan!"
Ki Ageng tidak banyak bicara. Ia melihat pemandangan tragis di depannya, jasad Baskoro dan Elena. Amarah yang dingin membakar jiwanya, "Kalian telah melanggar hukum alam. Manusia yang bersekutu dengan Antah Berantah tidak pantas menginjak bumi ini."
Ki Ageng merapalkan mantra dalam hati. Dari balik punggungnya, muncul bayangan samar sosok raksasa putih yang membawa gada. Itu adalah Spirit Guardian miliknya.
"Cepat bunuh dia!" teriak Jagad pada anak buahnya dan kedua serigala astral.
Makhluk-makhluk itu melompat ke arah Ki Ageng. Namun, dengan satu gerakan tangan yang anggun, Ki Ageng mengentakkan kakinya. Gelombang kejut energi murni terpental keluar, menghancurkan tubuh kedua Hellhound hingga menjadi abu hitam seketika. Jagad yang melihat kekuatannya tidak tandingi segera memutuskan untuk menghabisi bayi itu terlebih dahulu.
"Kalau aku tidak bisa memilikinya, maka dunia ini juga tidak boleh!"
Belati itu turun dengan cepat ke arah dada Jaka. Namun, Ki Ageng jauh lebih cepat. Ia menggunakan teknik puncak Perpindahan Dimensi Kilat. Dalam sekejap mata bahkan sebelum mata Jagad bisa menangkap pergerakannya. Ki Ageng sudah berdiri tepat di depan Jagad. Tangannya yang keriput namun sekeras baja menangkap pergelangan tangan Jagad, sementara tangan lainnya dengan lembut menyambar bayi Jaka dari dekapan sang pembunuh.
Krak!
Ki Ageng mematahkan tangan Jagad hanya dengan satu tekanan jempol. Jagad melolong kesakitan, "Bayi ini bukan milik kegelapan," ucap Ki Ageng dingin.
Sebelum para pembunuh lain sempat mengepung, Ki Ageng sudah menyelimuti tubuhnya dan bayi Jaka dengan cahaya perak yang menyilaukan.
"Sialan! Tangkap dia!" raung Jagad.
Namun terlambat. Cahaya itu meledak kecil, dan ketika penglihatan para pembunuh itu kembali normal, ruangan itu sudah kosong. Ki Ageng dan bayi Arka telah menghilang tanpa jejak.
Di tengah malam yang terkutuk itu, di dalam kamar yang penuh lumuran darah, Jagad meraung frustrasi. Rencananya yang telah disusun bertahun-tahun hancur hanya dalam hitungan detik oleh seorang tua misterius. Sementara itu, di sebuah bukit sunyi jauh dari kota, Ki Ageng berdiri menatap bayi di pelukannya.
"Oh namamu Jaka Sanjaya ya," ucap Ki Ageng yang melihat nama Jaka di gelang perak di pergelangan tangan kananya.
"Namamu akan menjadi pembalasan bagi mereka, Nak," bisik Ki Ageng sambil mengusap kening Jaka, "Mulai hari ini, kau adalah putraku. Dan dunia Antah Berantah akan gemetar mendengar namamu suatu hari nanti."
Malam itu, di bawah perlindungan segel arwah Ki Ageng, Jaka Sanjaya sang bayi yang selamat, memulai takdir barunya sebagai calon penakluk dimensi. Dimanah suatu hari nanti ia akan membalik keadaan yang diburu akan mulai berburu.