Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Malam Jum'at Keliwon

Malam Jum'at Keliwon

MAUlll | Bersambung
Jumlah kata
31.8K
Popular
100
Subscribe
1
Novel / Malam Jum'at Keliwon
Malam Jum'at Keliwon

Malam Jum'at Keliwon

MAUlll| Bersambung
Jumlah Kata
31.8K
Popular
100
Subscribe
1
Sinopsis
HorrorHorrorMisteriDunia GaibSpiritual
Sebuah desa yang damai tiba-tiba diguncang kejadian mengerikan setiap kali bulan purnama bertepatan dengan malam Jumat Kliwon. Legenda lama yang selama ini dianggap mitos, ternyata benar-benar terjadi dan meminta korban jiwa.
BAB 1 Desa yang Sunyi

Debu jalanan berterbangan saat mobil tua yang kutumpangi melaju membelah pedesaan yang mulai gelap. Jarak dari kota besar sudah cukup jauh, sinyal ponsel pun sudah hilang tertelan rimbunnya pepohonan di kiri dan kanan jalan. Aku, Raka, akhirnya kembali ke tempat kelahiranku setelah bertahun-tahun lamanya.

Desa Karangwangi.

Dulu, tempat ini hanya ada di ingatan masa kecil yang samar. Sekarang, saat aku melihatnya lagi, ada sesuatu yang aneh. Walaupun matahari baru saja tenggelam, suasana terasa lebih gelap dan lebih dingin dari seharusnya. Udara terasa berat, seolah menekan dada. Tidak ada hiruk-pikuk seperti di kota, hanya ada suara jangkrik yang sesekali berbunyi, dan suara mesin mobilku sendiri yang menderu.

Aku berhenti di depan sebuah rumah kayu besar yang tampak angker dan sudah lama tidak dihuni. Ini rumah peninggalan Kakek. Rumah yang menjadi alasan aku pulang. Orang tuaku memintaku untuk mengecek kondisi rumah ini, mungkin nanti akan dijual atau direnovasi. Tapi melihat kondisi bangunan yang tampak kokoh namun menyimpan jutaan cerita kelam itu, jujur saja, ada rasa tak nyawaan yang mulai menjalar di ulu hati.

"Mas Raka?" suara seseorang memanggil dari gerbang. Suaranya pelan namun terdengar jelas di tengah kesunyian.

Aku menoleh. Seorang pria tua dengan pakaian koko hitam dan sorot mata yang tajam berdiri di sana. Tubuhnya bungkuk, tapi auranya kuat, seolah memiliki wibawa yang tak bisa dipandang sebelah mata. Rambut dan jenggotnya sudah memutih seluruhnya, namun posturnya tetap tegap.

"Mbah Slamet?" tebakku. Aku pernah mendengar nama itu dari orang tua dulu. Beliau adalah tetua desa yang paling dihormati, bahkan ditakuti.

"Betul, Le. Sudah lama tidak melihatmu. Besar sekali sekarang," sapanya pelan, tapi suaranya terasa menggema. Ia berjalan mendekat dengan langkah tertatih. "Kamu sendirian?"

"Iya, Mbah. Orang tua saya masih ada urusan di kota. Saya yang ditugasi mengurus rumah ini," jawabku santai sambil turun dari mobil. "Rumahnya agak berantakan ya, Mbah? Debu di mana-mana."

Mbah Slamet tidak langsung menjawab. Ia menatap rumah kayu itu lama, tatapannya dalam, seolah sedang berkomunikasi dengan dinding-dinding tua itu. Lalu matanya beralih menatap langit yang mulai gelap pekat. Awan tampak menggumpal tebal, meski tidak ada tanda-tanda akan hujan.

"Rumah ini sudah lama kosong, Le. Tapi... jangan anggap remeh tempat ini. Banyak yang tinggal di sini selain manusia," ucapnya dengan nada berat, membuat bulu kudukku sedikit meremang.

Aku hanya tersenyum tipis. Sebagai orang yang tumbuh di kota dan terbiasa dengan logika serta ilmu pengetahuan, omongan seperti itu hanya masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Takhayul, pikirku. Orang desa memang selalu begitu, segala sesuatu yang tidak bisa dijelaskan pasti dikaitkan dengan hal gaib.

"Mbah ngomong apa sih. Paling-paling cuma tikus atau kucing liar yang numpang tinggal," candaku berusaha mencairkan suasana yang tiba-tiba jadi mencekam itu. Aku mulai membuka bagasi mobil untuk mengambil barang-barang.

Mbah Slamet tidak ikut tertawa. Wajahnya justru semakin serius, kerutan di dahinya semakin dalam. "Besok lusa, Le. Besok lusa adalah Malam Jumat Keliwon. Bulan purnama tepat bertepatan dengan hari itu. Di desa kami, itu bukan malam biasa."

"Oh, ya? Saya tidak tahu," jawabku acuh tak acuh. "Memangnya ada apa, Mbah? Ada ritual apa-apa gitu?"

"Bukan ritual, Le. Itu malam penebusan. Malam di mana 'mereka' bebas berkeliaran dan mencari apa yang menjadi hak mereka," ujar Mbah Slamet. Ia melangkah mendekat, lalu tangannya yang keriput dan dingin mencengkeram lenganku cukup kuat. "Dengarkan pesan Mbah baik-baik. Jangan keluar rumah setelah Magrib, Raka. Siapapun yang memanggil atau mengetuk pintu, jangan dibuka. Warga desa pun semua akan mengunci rapat pintu rumah mereka, menutup jendela, dan tidak berani mengeluarkan suara. Itu aturan mutlak di sini."

Ia menatap mataku lekat-lekat. "Terutama di rumah ini. Rumah Kakekmu ini berdiri di atas tanah yang punya sejarah panjang. Jaga dirimu baik-baik."

Aku mengangguk pasrah hanya untuk menghormatinya, tapi dalam hati aku tertawa. Jumat Keliwon? Mitos apa lagi itu? Cuma perhitungan kalender Jawa doang kok, Mbah.

"Siap, Mbah. Saya mengerti. Nanti saya kunci pintu rapat-rapat," jawabku basa-basi.

Mbah Slamet menghela napas panjang, seolah ingin mengatakan sesuatu lagi tapi urung. "Ya sudah, Mbah pulang dulu. Istirahatlah, Le." Ia pun berjalan perlahan meninggalkanku, menghilang di balik kabut tipis yang mulai turun.

Setelah Mbah Slamet pergi, aku berjalan memasuki halaman rumah. Pintu utamanya terbuka sedikit, seolah mengundang masuk. Bau kayu tua, bau kapur barus yang sudah menguap, dan bau tanah basah langsung menyeruak memenuhi indra penciumanku. Aroma yang khas, aroma tempat yang lama tak tersentuh manusia.

Saat aku melangkah masuk, angin malam tiba-tiba bertiup kencang dari arah belakang rumah, membuat daun pintu berderit nyaring. Kreeeeeek... Suaranya panjang dan memekakkan telinga.

Aku menoleh ke belakang. Tidak ada siapa-siapa. Hanya pohon-pohon besar yang bergoyang diterpa angin, ranting-rantingnya beradu menciptakan bayangan aneh di dinding luar rumah.

"Angin saja," gumamku pada diri sendiri, berusaha menenangkan hati yang tiba-tiba berdebar tak jelas. Entah kenapa, rasanya ada sepasang mata yang mengawasiku dari balik kegelapan.

Aku menyalakan senter di HP-ku dan mulai menjelajahi ruangan demi ruangan. Rumah ini luas sekali. Ruang tamu yang besar dengan perabotan kayu jati yang sudah lapuk, dapur yang jauh di belakang, dan lorong panjang yang mengarah ke kamar-kamar di lantai atas.

Aku memutuskan untuk membersihkan salah satu kamar di depan agar bisa digunakan untuk tidur malam ini. Sambil menyapu lantai dan membersihkan debu, pikiranku melayang pada Kakek. Beliau meninggal di rumah ini sekitar lima tahun lalu secara mendadak. Katanya sih serangan jantung, tapi aku ingat saat itu ada desas-desus aneh dari warga desa. Mereka bilang Kakek ditemukan dengan wajah ketakutan luar biasa, mata melotot seolah melihat sesuatu yang sangat mengerikan sebelum ajal menjemputnya.

"Omong kosong," gerutuku. Pasti karena shock atau apa.

Malam semakin larut. Aku sudah menyalakan genset kecil yang ada di gudang belakang, sehingga lampu-lampu rumah akhirnya menyala. Cahaya kuning pucat itu sedikit banyak mengusir rasa takut, tapi tidak dengan suasananya. Rumah ini terlalu sunyi. Sunyi sampai aku bisa mendengar suara detak jarum jam dinding yang sangat jelas. Tik... tok... tik... tok...

Tiba-tiba, dari arah belakang rumah, aku mendengar suara lain.

Prang!

Seperti suara piring atau gelas yang jatuh dan pecah.

Jantungku seakan berhenti berdetak sepersekian detik. Aku menegakkan punggung. "Saha Eta?" teriakku memberanikan diri.

Tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang menjawab.

"Mana mungkin ada orang masuk. Paling kucing atau tikus," ujarku lagi, berusaha meyakinkan diri sendiri. Tapi suaraku sendiri terdengar bergetar. Aku mengambil sapu lidi sebagai persiapan berjaga-jaga, lalu berjalan pelan menuju sumber suara itu.

Langit-langit rumah kayu itu berbunyi krek... krek... di setiap injakanku. Semakin aku berjalan ke arah dapur, semakin terasa hawa dingin yang menusuk tulang. Padahal aku sudah memakai jaket tebal.

Sampai di dapur, aku menyinari ruangan itu dengan HP. Semuanya tampak biasa saja. Piring dan gelas masih tersusun rapi di atas meja. Tidak ada yang pecah.

"Aneh," gumamku bingung. "Tadi jelas dengar suara pecahan kaca."

Aku memutar badan hendak kembali ke kamar, tapi saat itulah senter HP-ku menangkap sesuatu di lantai, tepat di dekat kaki tungku.

Ada jejak kaki.

Jejak kaki basah, meninggalkan noda air keruh di lantai kayu yang kering. Dan yang paling mengerikan, jejak itu bukan berbentuk kaki manusia. Jari-jarinya panjang, melengkung, dan jumlahnya lebih dari lima.

Jejak itu berhenti tepat di belakang tempatku berdiri sekarang.

Darahku seakan berhenti mengalir. Pelan-pelan, dengan rasa takut yang luar biasa, aku menurunkan HP-ku dan melihat ke lantai tepat di depan kakinya sendiri. Jejak itu ada di sana, basah, dan mengeluarkan bau anyir seperti bau tanah kuburan.

Dan jejak itu... baru saja dibuat. Masih basah.

Dengan tangan gemetar, aku perlahan mengangkat kepala dan menyorotkan cahaya ke arah sudut ruangan yang paling gelap.

Di sana, di balik gorden kain belacu yang sudah menguning karena usia, aku melihat sebuah bayangan. Bayangan tubuh yang sangat tinggi besar, kepalanya hampir menyentuh langit-langit, dan posturnya bungkuk. Sosok itu berdiri diam mematung.

"Halo...?" suaraku tercekat di tenggorokan.

Tiba-tiba, bayangan itu bergerak. Sangat cepat!

Wush!

Dalam sekejap sosok itu hilang entah ke mana. Hanya tertinggal angin kencang yang menerpa wajahku, membawa bau amis yang sangat menyengat.

Aku tidak peduli lagi. Aku berlari sekencang-kencangnya kembali ke kamar depan, mengunci pintu kamar dari dalam, memindahkan lemari besar untuk menahan pintu, lalu menarik selimut sampai menutupi kepala. Tubuhku gemetar hebat. Jantungku berdegup kencang seperti hendak copot.

"Aku cuma bermimpi... aku cuma lelah... itu cuma bayangan," bisikku berulang-ulang.

Tapi di balik selimut yang tebal itu, aku masih bisa mendengarnya. Suara langkah kaki yang berat berjalan mondar-mandir di luar pintu kamarku. Jedag... jedug... jedag... jedug... Jederrrrr...

Dan sebuah suara desisan halus, seperti bisikan wanita yang sedang menangis, terdengar sangat dekat di telingaku.

"Kaa... kau... da... tang..."

Aku memejamkan mata erat-erat. Saat itu aku sadar, omongan Mbah Slamet bukanlah takhayul. Dan rumah ini memang tidak kosong.

Malam ini baru hari Rabu.

Masih dua malam lagi menuju Jumat Keliwon.

Dan aku terjebak di sini, sendirian, bersama sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh akal sehat.

Lanjut membaca
Lanjut membaca