Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Kevin Sang Miliarder

Kevin Sang Miliarder

qalamnovel | Bersambung
Jumlah kata
69.6K
Popular
891
Subscribe
187
Novel / Kevin Sang Miliarder
Kevin Sang Miliarder

Kevin Sang Miliarder

qalamnovel| Bersambung
Jumlah Kata
69.6K
Popular
891
Subscribe
187
Sinopsis
PerkotaanSupernaturalMiliarderKonglomeratMengubah Nasib
Dihina, dipukuli, dan dianggap bodoh sejak kecil, Kevin hanyalah penggembala kambing miskin. Sampai sebuah mimpi membawanya pada harta karun yang mengubah segalanya. Dari desa hingga kota, Kevin bangkit menjadi miliarder… yang menguasai desa dan Kota, dan membalas semua yang pernah merendahkannya.
Bab 1

Pagi di Desa Sukamaju belum sepenuhnya terang ketika Kevin sudah berdiri di tengah padang rumput yang luas, dikelilingi puluhan kambing milik kepala desa, Pak Darto. Kabut tipis masih menggantung di udara, namun suara bentakan sudah lebih dulu memecah suasana tenang itu. “Kevin! Kau ini tuli atau bodoh?!” teriak Bento dari kejauhan sambil berjalan cepat mendekat, bento adalah anak kesayangan kepala desa. Wajahnya penuh amarah tanpa alasan yang jelas.

Kevin menoleh pelan, tangannya masih memegang tongkat kayu sederhana yang biasa ia gunakan untuk menggiring kambing. Wajahnya datar seperti biasa, tidak menunjukkan rasa takut ataupun panik, meskipun ia tahu… kedatangan Bento tidak pernah membawa hal baik. “Ada apa?” jawabnya singkat, suaranya tenang namun tidak menantang.

Bento berhenti tepat di depan Kevin, lalu langsung mendorong bahunya tanpa basa-basi. “Kau tanya ada apa?!” bentaknya keras. “Dua kambing hilang dari kandang semalam! Dan kau yang jaga!” Suaranya sengaja dikeraskan agar didengar oleh beberapa warga yang mulai melintas di sekitar ladang.

Kevin sedikit mengernyit. “Aku sudah hitung tadi pagi… semua masih lengkap,” jawabnya jujur. Ia tidak asal bicara, karena setiap hari ia selalu memastikan jumlah kambing tidak berubah. Itu satu-satunya pekerjaan yang ia jaga dengan serius.

Namun jawaban itu justru membuat Bento tertawa sinis. “Kau berani membantah?” ucapnya pelan, tapi penuh tekanan. Tanpa peringatan, tangan Bento langsung melayang, menampar wajah Kevin dengan keras hingga kepalanya sedikit terhempas ke samping. “Dasar tidak tahu diri! Sudah miskin, masih berani sok benar!”

Beberapa warga yang melihat hanya diam, sebagian bahkan tersenyum kecil seolah itu hal biasa. Paijo yang sejak tadi berdiri di belakang langsung ikut maju sambil tertawa. “Sudah jelas dia yang salah, masih saja pura-pura tidak tahu. Dasar otak kosong,” ejeknya sambil menepuk pundak Bento.

Kevin tetap berdiri. Tangannya mengepal pelan, tapi ia tidak membalas. Matanya sempat menatap Bento, tajam dan dalam, namun hanya sesaat sebelum kembali meredup. Ia menahan sesuatu yang lebih besar dari sekadar rasa sakit. “Aku tidak mencuri,” ucapnya pelan.

“Diam!” bentak Bento sambil menendang perut Kevin dengan keras. Tubuh Kevin langsung terjatuh ke tanah, debu beterbangan di sekitarnya. “Kalau bukan kau, siapa lagi?! Kau satu-satunya yang jaga kambing-kambing itu!” Nada suaranya penuh tekanan, bukan mencari kebenaran… tapi mencari alasan untuk menghukum.

Kevin tidak langsung bangkit. Ia menahan sakit di perutnya, napasnya sedikit terputus, namun wajahnya tetap berusaha tenang. Ia tahu… melawan hanya akan memperburuk keadaan. “Aku tidak mengambilnya,” ulangnya pelan.

Bento tersenyum dingin. “Tidak masalah kau ambil atau tidak,” katanya sambil sedikit menunduk, menatap Kevin yang masih di tanah. “Yang penting… kau yang tanggung jawab.” Ia berdiri tegak kembali, lalu berkata dengan suara keras, “Dua kambing itu harganya sepuluh juta! Dan kau harus ganti!”

Suasana langsung berubah. Beberapa warga mulai berbisik, angka itu jelas besar, apalagi untuk seseorang seperti Kevin.

“Sepuluh juta…?”

“Mana mungkin dia punya…”

“Habislah dia…”

Kevin perlahan bangkit, meskipun tubuhnya masih terasa sakit. “Sepuluh juta terlalu besar,” ucapnya pelan. Bukan membantah… tapi mencoba masuk akal.

Namun Bento langsung tertawa keras. “Terlalu besar?” ulangnya. “Itu harga murah! Atau kau pikir hidupmu lebih murah dari itu?” Ia mendekat lagi, wajahnya kini hanya beberapa centimeter dari Kevin. “Kalau tidak bisa bayar… kau dan kakekmu keluar dari desa ini.”

Kalimat itu membuat Kevin sedikit menegang.

Bukan karena ancaman untuk dirinya.

Tapi karena kakeknya.

Di pinggir ladang, Airin berdiri sejak tadi, menyaksikan semuanya dengan wajah cemas. Ia menggenggam tangannya erat, jelas ingin bicara tapi menahan diri. Namun saat mendengar ancaman itu, ia tidak bisa diam lagi. “Bento, ini tidak adil,” ucapnya pelan tapi tegas.

Semua mata langsung tertuju padanya.

Bento menoleh, lalu tersenyum miring. “Oh… kau lagi,” ucapnya santai. “Bela dia terus, ya? Jangan-jangan kau suka sama dia?” katanya dengan nada mengejek.

Airin mengabaikan ejekan itu. “Kevin tidak mungkin mencuri. Semua orang tahu dia—”

“Diam!” potong Bento tajam. “Aku tidak butuh pendapatmu.”

Suasana kembali hening.

Kevin menatap Airin sekilas, lalu kembali menatap ke depan. “Aku butuh waktu,” ucapnya akhirnya.

Bento mengangkat alis. “Waktu?” ulangnya.

Kevin mengangguk pelan. “Aku akan ganti.”

Kalimat itu membuat semua orang terdiam sejenak.

Bento lalu tersenyum perlahan. “Baiklah…” katanya santai. “Aku beri kau waktu sampai besok pagi.” Ia berhenti sejenak, lalu menatap Kevin dengan dingin. “Kalau tidak bisa bayar… kau tahu akibatnya.”

Kevin tidak menjawab.

Ia hanya berdiri diam, menahan semua tekanan yang datang.

Bento dan Paijo akhirnya pergi sambil tertawa kecil, diikuti beberapa warga yang mulai bubar. Namun tatapan mereka kini berbeda—bukan sekadar merendahkan, tapi juga menunggu… menunggu Kevin jatuh.

Kevin berdiri sendirian di tengah ladang.

Sepuluh juta.

Angka yang bahkan tidak pernah ia bayangkan.

Ia menatap ke arah desa dari kejauhan, wajahnya tetap tenang… tapi di dalam dirinya, sesuatu mulai bergerak.

---

Langit mulai berubah warna ketika Kevin menggiring kambing-kambing itu kembali ke kandang milik Pak Darto di pinggir desa. Sinar matahari sore menyinari tanah kering yang ia pijak, namun suasana di dalam dirinya justru semakin berat. Sepanjang perjalanan, kata-kata Bento terus terngiang di kepalanya—sepuluh juta. Bukan angka kecil, bukan sesuatu yang bisa ia dapatkan dengan kerja biasa. Bahkan untuk makan sehari-hari saja, ia dan kakeknya harus berhemat.

Sesampainya di kandang, Kevin langsung bekerja seperti biasa. Ia menghitung satu per satu kambing dengan teliti, memastikan semuanya lengkap. Tangannya bergerak cepat, matanya fokus, seolah ingin membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia tidak salah. “Satu… dua… tiga…” gumamnya pelan. Hingga hitungan terakhir, jumlahnya tetap sama seperti pagi tadi. Tidak ada yang hilang.

Kevin berhenti sejenak. Dahinya sedikit berkerut. Ini bukan pertama kali ia dituduh tanpa alasan, tapi kali ini berbeda. Tuduhan ini bukan sekadar hinaan—ini jebakan. Ia menoleh ke arah rumah besar milik Pak Darto yang berdiri tidak jauh dari kandang. Rumah itu tampak megah dibanding rumah-rumah lain di desa, dengan pagar tinggi dan halaman luas. Di sanalah semua keputusan dibuat… termasuk keputusan yang bisa menghancurkan hidupnya.

“Jadi… kau masih pura-pura tidak tahu?” suara itu tiba-tiba terdengar dari belakang.

Kevin menoleh. Bento berdiri di sana bersama Paijo, keduanya bersandar santai di pagar kandang, seolah sudah menunggu sejak tadi. Wajah mereka tidak lagi marah seperti pagi tadi, tapi justru terlihat lebih santai… terlalu santai untuk situasi seperti ini.

“Kambingnya lengkap,” kata Kevin singkat.

Paijo tertawa kecil. “Lengkap menurut siapa? Menurutmu?” ejeknya sambil melangkah masuk ke dalam kandang. Ia pura-pura melihat-lihat, lalu berkata, “Ah, mungkin kau salah hitung. Namanya juga tidak sekolah.”

Bento menyeringai. “Atau… kau sudah menjualnya diam-diam?” tambahnya dengan nada ringan, tapi penuh makna.

Kevin tidak menjawab. Ia hanya menatap mereka, mencoba membaca sesuatu dari sikap mereka. Dan saat itulah ia mulai sadar… ini bukan soal kambing.

Ini sengaja dibuat.

“Kalau kau tidak bisa bayar…” lanjut Bento sambil mendekat perlahan, “aku akan bicara langsung ke ayahku. Dan kau tahu sendiri… keputusan beliau tidak pernah main-main.”

Kevin tetap diam.

Bento berhenti tepat di depannya, lalu menepuk pelan bahu Kevin, tapi tekanan di balik sentuhan itu jelas terasa. “Dan kali ini… bukan cuma kau yang kena,” bisiknya pelan. “Kakekmu juga.”

Kalimat itu membuat Kevin sedikit menegang.

Namun wajahnya tetap datar.

“Besok pagi,” kata Kevin singkat.

Bento tersenyum tipis. “Kita lihat saja,” jawabnya santai, lalu berbalik pergi bersama Paijo.

Suasana kembali sepi.

Kevin berdiri beberapa saat di dalam kandang, lalu perlahan keluar. Ia tidak langsung pulang. Langkahnya justru terhenti di tengah jalan, menatap kosong ke arah tanah. Pikirannya mulai menyusun sesuatu. Ini bukan pertama kali ia diperlakukan tidak adil… tapi ini pertama kalinya ia benar-benar didorong ke titik tanpa pilihan.

Ketika akhirnya ia sampai di rumah kecilnya di ujung desa, matahari sudah hampir tenggelam. Rumah itu tampak sederhana, dinding kayunya sudah mulai lapuk, tapi tetap berdiri kokoh. Di depan rumah, kakeknya duduk di kursi kayu seperti biasa, napasnya terdengar berat, tapi wajahnya tetap tenang.

“Kau pulang,” ucap kakeknya pelan.

Kevin mengangguk, lalu duduk di sampingnya. Ia tidak langsung bicara. Beberapa detik ia hanya diam, mencoba menahan semua yang ada di dalam kepalanya. Namun akhirnya ia berkata juga. “Aku harus bayar sepuluh juta besok.”

Kakeknya terdiam.

Angin sore berhembus pelan, membawa suasana yang tiba-tiba terasa lebih sunyi.

“Sepuluh juta…” ulang kakeknya pelan, suaranya hampir seperti bisikan. Ia menunduk sebentar, lalu tersenyum tipis, tapi senyum itu terasa berat. “Mereka benar-benar tidak ingin kita tinggal di sini…”

Kevin tidak menjawab.

“Dan kau?” tanya kakeknya pelan. “Apa yang akan kau lakukan?”

Kevin menatap ke depan. “Aku akan cari cara.”

Jawaban itu sederhana, tapi kali ini… berbeda.

Kakeknya menoleh, menatap Kevin lebih dalam. “Kau mulai berubah,” ucapnya pelan.

Kevin tidak menoleh. “Aku hanya tidak ingin kalah lagi.”

Beberapa detik hening.

Kakeknya menghela napas panjang. “Ingat satu hal…” katanya dengan suara yang semakin lemah. “Kekuatan yang kau punya… bukan untuk balas dendam.”

Kevin sedikit mengepalkan tangannya. “Aku tahu.”

Namun kali ini… nadanya tidak seyakin sebelumnya.

Malam mulai turun perlahan. Kevin membantu kakeknya masuk ke dalam rumah, lalu menyiapkan makanan seadanya. Setelah memastikan kakeknya berbaring, ia duduk di dekat pintu, menatap gelap di luar. Desa mulai sunyi, hanya suara jangkrik yang terdengar.

Sepuluh juta.

Batas waktu besok pagi.

Dan tidak ada jalan keluar.

Namun semakin lama ia duduk, semakin jelas satu hal di pikirannya.

Ia tidak bisa terus seperti ini.

Perlahan, Kevin berdiri. Ia menoleh ke arah kakeknya yang sudah terlelap, lalu melangkah keluar tanpa suara. Langkahnya mengarah ke hutan, ke tempat yang selama ini hanya ia jadikan tempat latihan.

Namun malam ini…

ia tidak datang untuk latihan.

Ia datang… untuk mencari jawaban.

Pohon beringin itu berdiri seperti biasa di tengah kebun kecilnya. Kevin berhenti di depannya, menatap akar-akar besar yang mencuat dari tanah. Angin malam berembus pelan, membuat suasana terasa lebih dalam, lebih sunyi.

Ia tidak tahu kenapa… tapi hatinya terasa tertarik ke tempat itu.

Seolah-olah…

ada sesuatu yang menunggunya di sana.

Kevin akhirnya duduk di bawah pohon itu, bersandar pada batangnya, matanya menatap ke atas. Rasa lelah dan tekanan membuat pikirannya perlahan mengabur.

Dan tanpa ia sadari…

malam itu bukan sekadar malam biasa.

Melainkan awal dari sesuatu yang akan mengubah seluruh hidupnya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca