Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Ojol Sakti Penagih Hutang

Ojol Sakti Penagih Hutang

Cacavip | Bersambung
Jumlah kata
118.1K
Popular
1.8K
Subscribe
306
Novel / Ojol Sakti Penagih Hutang
Ojol Sakti Penagih Hutang

Ojol Sakti Penagih Hutang

Cacavip| Bersambung
Jumlah Kata
118.1K
Popular
1.8K
Subscribe
306
Sinopsis
PerkotaanSupernaturalBalas DendamPria MiskinSupernatural
Banu yang berprofesi sebagai ojeg online, dianggap menantu hina tidak berguna oleh mertuanya. Ketika Kinanti—istrinya jatuh sakit dan membutuhkan banyak biaya pengobatan, Banu justru diusir dan diminta untuk menceraikan Kinanti agar perempuan itu bisa bebss dari kemiskinan. Banu yang sangat mencintai Kinanti, berjanji akan membawa banyak uang untuk menyembuhkan sang istri. Namun, sebuah tragedi justru menimpanya—membuat Banu tiba-tiba bertemu dengan sang kakek buyut yang ternyata seorang penagih hutang nyawa dari neraka. Banu dianggap keturunan yang murni, dia diminta meneruskan tugas sang kakek buyut—menagih hutang pada manusia yang jatah nyawanya sudah habis, dengan imbalan; harta dan kekuatan setiap berhasil menagih hutang. Dalam lima bulan, Banu harus menagih hutang pada lima orang manusia berpengaruh di negaranya. Jika dia berhasil, kekuatan dan hartanya kekal. Namun, jika Banu gagal, sebuah konsekuensi akan diterimanya!
Bagian 1

​Plak!

​"Kamu menantu paling tidak becus yang pernah saya punya, Banu!" teriak Vania dengan suara melengking, air mata kemarahan menggenang di sudut matanya yang dilapisi riasan mahal.

"Gara-gara hidup miskin sama kamu, Kinanti jadi menderita! Dia dulu cantik, terawat, dan terhormat. Sekarang? Dia terbaring lemah di sana karena ketidakbecusan kamu!”

Banu perlahan mengangkat wajahnya yang tertunduk. Dia menatap Vania dengan raut wajah penuh penyesalan yang mendalam. Di matanya yang lelah, terpancar cinta sekaligus rasa bersalah yang besar terhadap wanita yang tengah berjuang antara hidup dan mati di balik pintu ruang ICU tersebut.

“Maafkan saya, Bu. Saya janji akan segera mendapatkan uang untuk biaya pengobatan Kinanti.”

​Tawa sinis meledak dari samping Vania. Ardhan, ayah mertua Banu, melangkah maju dengan tangan bersedekap. Dia menatap Banu dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan meremehkan, seolah sedang melihat kotoran yang menempel di sepatunya.

​"Cari uang? Pakai apa, Banu? Pakai jaket ojol kamu yang sudah kusam itu?" Ardhan mencemooh, suaranya berat dan penuh tekanan. "Biaya pengobatan Kinanti bukan sejuta atau dua juta. Operasi dan perawatan intensifnya butuh ratusan juta! Kamu mau dapat uang dari mana? Narik ojek sampai kaki kamu copot pun, uang itu enggak akan pernah terkumpul!"

​Ardhan menghela napas panjang, wajahnya mengeras. "Kalau dulu Kinanti enggak mengancam akan kabur, enggak sudi saya menikahkan kamu sama dia.”

Setiap kata yang keluar dari mulut Ardhan terasa seperti sembilu yang menyayat jantungnya. Namun, cintanya pada Kinanti memberinya sedikit keberanian untuk tetap berdiri.

​"Saya akan mengusahakan kesembuhan Kinanti, bagaimanapun caranya, Pak.”

​"Kalau kamu mau yang terbaik buat Kinanti, kamu lebih baik ceraikan dia dan biarkan dia menikah dengan saya."

​Kalimat itu memotong ucapan Banu. Banu menoleh dengan cepat. Bima melangkah mendekat dengan langkah yang angkuh. Setelan jas rapinya yang licin dan jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya, sangat kontras dengan jaket ojol Banu yang berdebu. Bima bukanlah orang asing, dia adalah pengusaha muda yang selama beberapa bulan terakhir gencar dijodohkan dengan Kinanti oleh Vania dan Ardhan.

​Banu mendesis, giginya gemeretak. "Kamu jangan ikut campur. Ini urusan rumah tangga saya dan Kinanti."

​"Rumah tangga? Rumah tangga yang mana, Banu?" Vania justru menyela, dia berpindah posisi ke samping Bima seolah sedang mencari perlindungan. "Bima sudah bersedia melunasi semua biaya rumah sakit Kinanti saat ini juga. Dia punya masa depan, punya harga diri, dan yang terpenting dia punya uang! Enggak kaya kamu!"

​"Benar!" Ardhan menimpali. "Cukup sudah drama ini. Kamu hanya penghalang bagi kesembuhan putri saya. Pergi dari sini!"

​"Tapi saya suaminya, Pak! Saya berhak mendampingi istri saya!" Banu melawan, suaranya meninggi karena frustasi.

​"Suami macam apa yang membiarkan istrinya sekarat karena tidak punya uang?" Bima tersenyum tipis, sebuah senyum kemenangan yang sangat memuakkan.

​"Satpam! Usir pria ini!" teriak Vania histeris.

​Dua petugas keamanan bertubuh besar langsung mencengkram lengan Banu. Banu mencoba berontak, tapi tenaganya yang terkuras habis karena kurang tidur, tidak mampu melawan. Dia diseret paksa di sepanjang lorong rumah sakit, sebelum akhirnya dibuang ke pelataran parkir seperti sampah yang tidak berharga.

​Banu jatuh terduduk di aspal yang panas. Dia mengatur napasnya yang memburu. Saat dia melihat bayangan gedung rumah sakit, tekadnya kembali mengeras. Dia berjalan gontai menuju motor matic miliknya lalu tancap gas meninggalkan parkiran.

​Banu memacu motornya dengan kencang. Pikirannya berputar liar. Ke mana dia harus pergi? Siapa yang mau meminjamkan uang ratusan juta kepada seorang sopir ojek online tanpa jaminan? Dia mulai memikirkan setiap kenalannya, setiap aplikasi pinjaman, bahkan terpikir untuk menjual organ tubuhnya jika perlu.

​Lamunannya begitu dalam hingga dia tidak menyadari bahwa dia telah memacu motornya terlalu kencang di jalur yang salah. Suara klakson truk yang menggelegar menyentaknya kembali ke kenyataan.

​Sebuah truk kontainer raksasa melaju kencang dari arah depan. Banu terbelalak. Refleksnya mengambil alih, dia membanting stang motornya ke arah kiri dengan sisa tenaga yang ada. Motornya tergelincir, Banu terpelanting ke udara sebelum akhirnya menghantam tanah dengan keras. Dunia terasa berputar. Hal terakhir yang dia rasakan adalah hantaman keras di kepalanya saat membentur sebongkah batu besar di pinggir jalan.

Kegelapan total menelannya.

​Di tengah ketidaksadaran yang sunyi itu, sebuah suara muncul. Bukan suara manusia, melainkan suara yang berat, dalam, dan bergema seolah datang dari dasar bumi yang paling dalam.

​"Selamat datang keturunanku, akhirnya kamu datang juga."

​Banu membuka matanya secara perlahan. Namun, dia tidak melihat langit biru atau lampu putih rumah sakit. Dia justru terbangun di sebuah tempat yang asing dan mengerikan. Tanah di bawahnya terasa panas, dan sejauh mata memandang, tempat itu dikelilingi oleh kobaran api yang menari-nari tanpa asap. Langit di atasnya berwarna merah darah yang pekat.

​Banu tersentak bangkit. Di depannya, berdiri sesosok pria tinggi besar yang mengenakan jubah hitam legam, seolah terbuat dari bayangan cair. Di tangannya, pria itu memegang sebuah tongkat panjang yang ujungnya bercabang tiga seperti garpu besar—sebuah trisula neraka. Aura yang dipancarkannya begitu menekan hingga Banu sulit untuk sekadar bernapas.

Wajah Banu pucat, perlahan dia bergerak mundur lalu dengan sisa keberanian yang tersisa, sebuah tanya coba dia lontarkan dengan suara yang gagap.

​"K—kamu siapa? Di mana saya? Dan kenapa saya bisa ada di sini?”

Lanjut membaca
Lanjut membaca