

"Lihat itu paman, kupu kupunya banyak sekali." Ucap seorang anak laki-laki kecil berusia sekitar 6 tahunan yang tampak duduk di atas kuda memandangi kupu-kupu yang berlalu lalang dan hinggap di bunga.
Ia tak lain adalah Cakrawala Dirga Samudra.
Seorang pria dengan zirah besi terlihat berdiri di bawah kuda itu, ia adalah Kerta Sena paman dari Samudra.
Di sekeliling mereka juga terdapat pasukan Hierarki atau pasukan khusus dari kerajaan yang memiliki penampilan sangat misterius pakaian tempur hitam ketat dengan rompi besi, dan bertopeng Garuda. Setiap dari mereka membawa senjata yang beragam, ada yang membawa pedang, tombak, belati dan sebagainya.
Pasukan Hierarki ini di pimpin oleh seorang komandan wanita bernama Niskala.
Kerta Sena hanya tersenyum mendengar celotehan dari Samudra.
Samudra kemudian menatap kerumunan lalat yang mengerubungi rusa hasil perburuan mereka sebelum ini.
"Paman, mengapa lalat tidak suka bunga? Dan mengapa mereka lebih suka bangkai, sampah atau hal hal yang berbau busuk?" Tanya Samudra polos.
Kerta Sena tersenyum, "karena secara biologis mereka memang menyukai aroma busuk yang menyengat, dan itu juga merupakan makanan mereka. Berbeda dengan lebah dan kupu kupu yang menyukai bunga karena mereka membutuhkan nektar dan serbuk sari sebagai makanan mereka." Ujar Kerta Sena.
Samudra mengangguk paham, "artinya itu makanan mereka."
Samudra memang lebih dekat dan akrab dengan paman dan komandan Niskala, itu semua karena ayahnya terlalu sibuk dengan urusan kerajaan sedangkan ibu kandung Samudra sudah lama tewas.
"Pangeran, ada peribahasa yang unik tentang lalat dan bunga yaitu 'sulit meyakini lalat bahwa bunga lebih indah dari pada sampah' artinya betapa sulitnya merubah pandangan atau keyakinan seseorang yang sudah terlanjur terjerumus ke dalam hal buruk. Seperti orang yang mabuk, pejudi, seberapa keraspun pangeran mencoba memperingati mereka untuk berhenti mereka akan tetap melakukannya walaupun mereka sudah tau resiko dari mabuk dan judi itu semua karena sudah menjadi kebiasaan mereka dan itu sangat sulit untuk di rubah itulah arti dari peribahasa tersebut." Jelas Kerta Sena.
Samudra tampak kebingungan, "kak Niskala, apakah kakak paham ucapan paman?" Tanya Samudra pada Niskala.
"Paham Pangeran, Pangeran sulit memahaminya karena umur Pangeran belum cukup, ketika Pangeran sudah dewasa Pangeran juga pasti akan paham dengan sendirinya." Jawab Niskala.
"Sihir api hujan anak panah api!"
Wus...
Wus...
Wus....
Rentetan hujan panah api tiba tiba melesat dari barat daya dan menuju ke arah mereka.
"Ada yang menyerang! Lindungi Pangeran!" Teriak Kerta Sena.
Seluruh Pasukan Hierarki membuat barisan dan segel tangan yang sama.
Sihir tanah dinding tanah...
Tek! Tek! Tek!
Blaarrr!!
Rentetan anak panah api itu menancap di dinding tanah dan membakarnya begitu saja.
"Ayo kabur! Kita tidak mungkin melawan mereka, prioritaskan keselamatan Pangeran!" Ucap Kerta Sena.
Niskala dan seluruh pasukan Hierarki menganggukan kepalanya.
Dengan cepat Kerta Sena menggendong Samudra dan terbang menggunakan sihir angin milikknya, begitu pula dengan Niskala dan para pasukan Hierarki.
Dari balik kegelapan hutan siluet mata merah menyala tampak terlihat.
Srek.. srek... srek...
Langkah kaki perlahan yang menginjak dedaunan terdengar jelas. Sesosok wanita cantik dengan jubah hitam gelap dan tongkat kayu akhirnya muncul, di belakangnya tampak puluhan pasukan Hierarki.
"Seberapa jauh pun kalian lari, kalian tidak akan lolos. Aku pasti akan membunuhmu Samudra agar Arya menjadi satu satunya pewaris kerajaan Nirlata." Ucap wanita itu. Ya! Ia tidak lain adalah Permaisuri Senja ibu tiri dari Samudra.
Ia dahulu adalah Selir dari Raja Kala Dewangga atau ayah dari Samudra, namun karena kematian Dyah Suhita atau ibu kandung dari Samudra membuat Senja kini menjadi Permaisuri.
"Wirata! Habisi seluruh pasukan Hierarki yang mengawal Samudra, termasuk Niskala aku tidak ingin ada saksi mata!" Ucap Permaisuri Senja.
Seorang pria gondrong dengan kapak besar terlihat berdiri di samping Senja, ia adalah Wirata salah satu komandan yang memimpin pasukan Hierarki selain Niskala.
"Baik baginda Ratu." Ucap Wirata.
"Penyihir Sensor, pimpin jalan!"
"Siap komandan!"
Wus...
Wus..
Wus...
Dengan cepat para penyihir Sensor melesat di susul Wirata dan para pasukan Hierarki di belakangnya yang jumlahnya jauh lebih banyak di banding pasukan Hierarki yang mengawal Samudra.
Penyihir tipe Sensor adalah penyihir yang memiliki kemampuan khusus untuk melacak keberadaan orang lain dengan merasakan hawa energi sihir mereka.
***
Di kedalaman hutan tampak Kerta Sena yang menggendong Samudra terus terbang menjauh dengan sihir anginnya di susul oleh Niskala dan para pasukan Hierarki.
"Komandan, aku merasakan energi sihir orang yang mengejar kita terasa tak asing. Dan anak panah api itu, itu adalah jurus yang sering menjadi andalan para pasukan Hierarki di bawa pimpinan komandan Wirata." Ucap Pasukan Hierarki di samping Niskala.
Niskala menatapnya sesaat, "aku juga berpikir demikian, apakah mereka berkhianat? Namun untuk apa? Apakah mereka tidak mengetahui bagaimana hukuman bagi penghianat?"
"Mereka juga mampu melacak keberadaan kita Komandan, tidak salah lagi mereka juga membawa para penyihir sensor."
"Sialan! Kita mungkin bisa lolos dari jangkauan sensor para penyihir sensor itu, namun Pangeran! Energi sihir dia dapat di rasakan dengan mudah oleh mereka. Kita tidak punya pilihan lain kita hadang mereka, ingat prioritas kita adalah keselamatan Pangeran! Sebagai prajurit kita di takdirkan untuk melindungi!"
"Semuanya berbalik! Kita hadang Wirata dan para pasukannya."
"Baik komandan!"
Kerta Sena terdiam, senyuman tipis tiba tiba terukir di sudut mulutnya.
"Apa ada penjahat yang menyerang paman?" Tanya Samudra yang berada di pelukan Kerta Sena.
"Di mana penjahatnya paman?"
"Di depanmu Samudra, aku adalah penjahatnya... hahahaha..." ucap Kerta Sena.
Samudra semakin kebingungan, ia menganggap itu hanya lelucon dari pamannya karena Samudra sudah terlalu akrab dengan pamannya.
Tidak mungkin orang yang sangat akbrab dengannya bisa menjadi penjahat, pikir Samudra.
"Kita mau kemana, paman? Ini sudah terlalu jauh dari Negara Garuda." Tanya Samudra.
"Ke tempat kematianmu!"
Hap!
Kerta Sena tiba tiba mendarat di tepi jurang dan tanpa basa basi ia langsung melemparkan Samudra begitu saja.
"Aarrrgggh!!" Samudra berteriak, ia belum terjatuh, kedua tangannya berhasil meraih tepi jurang.
"Paman? Apa yang Paman lakukan?" Ucap Samudra panik sambil menatap ke bawah terlihat sangat gelap seolah jurang itu tidak ada dasarnya.
"Kenapa Paman melakukan ini? Bukankah Paman orang baik? Kenapa orang baik melakukan ini?"
"Kau masih belum memahaminya ya Samudra? Ternyata kau tidak sejenius Arya. Aku tekankah sekali lagi, aku bukan orang baik aku adalah penjahat di hidupmu!"
Slash!
Kerta Sena mencabut belatinya dan menggores mata kiri Samudra.
"Arrrrggghhh...!! Sakit..." Samudra merintih kesakitan, ia menutup mata kirinya yang terus mengeluarkan darah dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya masih memegangi tepi tebing..
"Sekarang kamu sudah paham bukan? Aku adalah penjahat di hidupmu. Datang dan balas dendam padaku jika kau masih mampu bertahan hidup! Hahaha..."
Bug!
Kerta Sena menginjak tangan kanan Samudra yang memegang tepi tebing. Seketika itu juga Samudra terjatuh ke dalam tebing, hal terakhir yang dia lihat sebelum jatuh adalah senyuman manis pamannya yang penuh dengan tipuan muslihat.